"Anak ku hilaaaaang, kemana anak ku pergi?"
Beberapa waktu terakhir ini banyak anak anak dan juga orang tua mati tenggelam, mereka di temukan bila sudah empat atau tiga hari di dalam air sehingga keadaan tubuh sudah mengembung.
Sebelum tenggelam ada yang bilang bahwa mereka berjalan dengan pandangan kosong, mereka tidak di makan buaya karena tidak ada gigitan di tubuh mereka.
Apa yang membawa mereka kedalam air?
mungkin kah ada sebuah misteri sehingga mereka semua meninggal di dalam air?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Nolan yang licik
Duka besar menyelimuti rumah Ria setelah mayat Maya di temukan oleh orang orang sini karena mereka memang langsung menuju Tanjung sembilan yang selama ini jadi pangkalan, terbukti Maya memang di temukan di sana dalam keadaan yang sangat memilukan sekali karena seluruh tubuh sudah membengkak dan ada jari tangan yang hilang.
Bagian hidung juga hanya tinggal lobang saja karena pasti para ikan memakan daging dari hidung itu, mau bagaimana pun bentuk nya maka keluarga harus lapang dada menerima ini semua dan isak tangis juga tidak bisa untuk di tahan, terutama Ria ketika melihat jenazah sang adik yang sudah mau rusak seperti itu.
Walau sekarang sudah di kubur tapi Ria masih tidak berhenti menangis karena sesak yang timbul di dalam hati ini, kini dia hanya tinggal seorang diri menjalani hidup nya karena memang mereka dulu tinggal berdua sehingga saling curhat walau Maya bisa di bilang masih kecil dan belum seberapa paham tentang beberapa masalah.
Air mata tidak berhenti turun dan malam ini juga hujan turun dengan sangat deras membasahi bumi, membuat Ria merasa sangat adik sangat kedinginan di dalam kubur, membayangkan juga bila tanah rembes dan jenazah sang adik pasti kebasahan juga sehingga sakit di hati gadis ini semakin menjadi saja sekarang.
"Dia meninggal di dalam air, sesak sekali dada ku membayangkan dia yang tidak bisa bernafas." keluh Ria.
"Maya pasti masuk surga, doakan dia terus ya." Sinta merangkul pundak Ria.
"Aku sekarang sendirian, kenapa Allah harus mengambil satu keluarga ku." isak Ria kian menjadi.
"Takdir Allah pasti selalu bagus walau kadang kita perlu air mata untuk menerima nya, kamu jangan menangis terus." ucap Sinta mengusap air mata Ria.
"Kasihan Maya, Sin." Ria masih tidak bisa menerima ini semua.
"Iya aku tau, semua memang kasihan sama dia kok." angguk Sinta yang menangis juga.
"Apa memang di terpeleset atau karena ada yang mendorong dia? aku masih tidak bisa berpikir jernih." Ria curiga ada yang mendorong sang adik.
"Tapi saat itu dia sendirian kok, Ria." Sinta sebagai saksi mata menjawab pelan.
Ria terdiam dengan air mata berderai karena dia sungguh tidak bisa untuk berpikir jernih sekarang, semua sesak sekali dan dia juga berusaha untuk mencari tau tentang kematian Maya.
Bisa di bilang belakangan ini banyak sekali orang yang mati tenggelam, padahal air tetap seperti biasa seolah tidak ada tambahan atau gelombang besar, tapi entah kenapa malah banyak memakan korban seperti ini dan terutama untuk warga pandan Arum sehingga sekarang semua orang mulai waspada terhadap ana dan keluarga.
Anak anak biasa nya setiap sore akan mandi dan berenang di sungai itu, tapi sekarang malah tidak ada yang berani lagi karena sudah di larang oleh orang tua mereka. tapi tetap saja untuk anak yang bandel maka dia tetap akan berenang, karena ada keseruan tersendiri mandi di sungai itu.
"Malam ini temani aku ya." pinta Ria karena dia tidak mau sendirian.
"Iya, aku pasti menemani kamu kok." angguk Sinta.
"Ya Allah deras sekali hujan nya, padahal sudah sejak tadi tapi tak kunjung berhenti." Ria mengintip dari jendela.
"Mana ada petir juga ya, gelombang laut besar sekali ini." Sinta juga mengintip dari jendela.
"Air sungai ini kalau di perhatikan kok agak seram ya, apa karena aku terbayang Maya?" Ria berkata lirih.
"Entah lah, tapi aku merasa memang air sungai ini mulai berbeda." Sinta juga setuju sambil memperhatikan air hujan yang menimpa sungai.
"Apa mungkin ada sesuatu ya? sebab sudah lima orang juga yang tenggelam." Ria sudah mulai berpikiran kemana mana.
Sinta menggeleng karena dia agak kurang percaya dengan hal mistis, jadi kalau Ria sudah mulai mengatakan hal itu maka pasti ada rasa tidak percaya di dalam hati karena takut nanti mereka malah berdebat akibat beda pendapat satu sama lain.
...****************...
"Vier kau lihat ini." Nolan mendatangi dewa iblis untuk membahas sesuatu.
"Apa yang kau bawa ini, waaaah dapat dari mana kau?!" Dewa iblis sangat semangat ketika melihat batu yang di bawa oleh Nolan.
"Tadi aku membantu warga dan menyelam di dasar sungai, lalu menemukan batu ini." jelas Nolan.
"Bagus sih ini, ya berkekuatan air dan bila siapa saja yang memiliki batu ini maka bisa bertahan di dalam air selama yang dia mau." jelas dewa iblis.
"Tapi kalau tanpa batu itu aku juga bisa bernapas di dalam air karena aku adalah ular." ujar Nolan.
"Ya sudah berarti ini tidak akan ada fungsi untuk kamu, biar untuk aku saja." dewa iblis malah ambil batu itu.
"Eiit tidak bisa!" Nolan cepat merampas batu tersebut karena dia tidak ingin rugi.
Dewa iblis tercengang karena dia tidak menyangka kalau ular satu ini sekarang sudah pintar dan bisa memanfaatkan keadaan dengan baik, mungkin saja masih ada rasa dendam di hati Nolan karena dia ketika akan mengambil batu milik dia dulu harus mencari janur yang tumbuh di malam hari.
Jadi sekarang tentu saja Nolan tidak akan memberikan batu itu secara cuma-cuma kepada Dewa iblis, setidaknya dia harus mendapat keuntungan juga karena selama ini dia sudah belajar dari banyak para member dan juga belajar dari Purnama agar tidak selalu di rugikan.
"Kalau kau mau batu ini maka tidak gratis." Nolan tersenyum licik.
"Ah kau sekarang sangat pintar mencari untung." kesal Xavier.
"Itu aku belajar dari kau karena kau selama ini sangat licik, padahal batu itu kemarin adalah milik aku sendiri tapi malah kau suruh pula aku mencari janur kuning yang sangat sulit." protes Nolan.
Dewa iblis nampak sedikit kesal namun dia tidak berani untuk berbicara banyak karena apa yang di katakan oleh Nolan adalah hal yang benar, salah dia sendiri karena selama ini selalu saja mengambil keuntungan dari para iblis lain karena dia harus mencari untung.
"Tapi kalau di lihat batu ini memang sangat bagus." Nolan memperhatikan batu yang bercahaya putih itu.
"Alah dia tidak sebagus itu jadi kau tidak usah begitu percaya diri." cibir dewa iblis.
"Ya sudah kalau memang tidak mau, nanti akan kuberikan saja kepada Andini karena dia memang memiliki kekuatan dari air." Nolan segera berlalu pergi.
Xavier ingin menahan langkah Nolan tapi dia merasa malu sehingga memutuskan untuk diam saja, nanti bila sudah ada di tangan Andini maka akan lebih mudah untuk di rundingkan karena wanita itu memiliki hati yang lembut dan tidak galak seperti siluman ular satu ini.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
aku jg setuju dgn ibu2 yg lain klo si kokop pindah dr desa pandan arum😌
udah di batai sama Purnama juga ga kapok...
apa perlu ya di bantai sama hantu air dulu baru dia kapok...
yang jadi suaminya aja sampai malu ya bang Thamrin...
lanjut mak... di Cileungsi lagi hujan lebat mak...
ap kopsah jdi ketua hantu air aja..cockk kayanya
udh insaf kan...
mantan kk ipar ku sekrang istriku...