NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kitab yang Bernapas

Paviliun Kitab Suci Sekte Awan Hijau adalah sebuah bangunan pagoda lima lantai yang menjulang tinggi, terbuat dari kayu cendana kuno yang memancarkan aroma menenangkan. Ini adalah jantung pengetahuan sekte, tempat ribuan teknik bela diri tersimpan.

Pagi itu, Ren Zhaofeng berdiri di depan meja resepsionis lantai dasar. Dia meletakkan dua keping Batu Roh di atas meja—hasil penjualan Inti Monster dan kulit serigala di pasar gelap subuh tadi.

"Satu jam di Lantai Dasar," kata Zhaofeng sopan.

Penjaga perpustakaan, seorang murid senior berwajah bosan, menatap Zhaofeng dengan heran. "Murid Pelayan? Dan... buta?" Dia mendengus pelan. "Kau mau masuk ke dalam untuk apa? Mencium bau kertas tua? Kau tahu kau tidak bisa membawa buku keluar, kan? Kau harus membacanya di tempat."

"Saya tahu aturannya, Kakak Senior," jawab Zhaofeng tenang. "Saya hanya ingin merasakan aura pengetahuan para leluhur."

Penjaga itu menggelengkan kepala, menganggap Zhaofeng hanya orang bodoh yang membuang uang. "Terserah kau. Jangan merusak apa pun. Satu jam."

Zhaofeng melangkah masuk.

Suasana di dalam perpustakaan hening dan sejuk. Ribuan gulungan bambu dan buku tersusun rapi di rak-rak kayu yang menjulang sampai ke langit-langit. Puluhan murid terlihat duduk bersila, membaca dengan khusyuk.

Zhaofeng menutup matanya di balik kain. Dia menarik napas dalam.

Bagi orang lain, tempat ini adalah gudang tulisan. Bagi Zhaofeng, ini adalah kuburan "Niat".

Setiap manual bela diri tingkat tinggi ditulis oleh ahli yang menuangkan sedikit Qi dan pemahaman mereka ke dalam tinta. Meskipun manual di Lantai Dasar hanyalah salinan atau teknik tingkat rendah, sisa-sisa "jiwa" penulisnya masih tertinggal jika seseorang cukup peka untuk merasakannya.

Zhaofeng berjalan menyusuri lorong rak Teknik Pedang. Dia mengulurkan jarinya, menyentuh punggung buku satu per satu sambil berjalan perlahan.

Sentuh. (Hening. Tidak ada respon. Hanya kertas mati).

Sentuh. (Ada sedikit getaran hangat. Teknik Pedang Api? Terlalu kasar).

Sentuh. (Dingin. Teknik Pedang Es. Tapi strukturnya rapuh).

Zhaofeng terus berjalan. Sebagian besar buku di sini "bisu". Mereka hanyalah rangkaian kata tanpa jiwa, mungkin disalin oleh murid malas yang hanya ingin menyelesaikan tugas hukuman. Teknik seperti itu tidak berguna baginya.

Waktu terus berjalan. Tiga puluh menit berlalu.

Zhaofeng mulai cemas. Apakah dia terlalu berharap tinggi pada perpustakaan sekte pinggiran ini?

Dia sampai di sudut paling belakang perpustakaan. Area ini berdebu dan gelap, tempat buku-buku rusak atau teknik yang dianggap "tidak berguna" diletakkan.

Srek...

Kaki Zhaofeng menyenggol tumpukan gulungan yang jatuh di lantai.

Tiba-tiba, telinganya berdenging.

Hhhhuuuu...

Suara itu sangat lirih, seperti desah napas seseorang yang sedang sekarat di padang gurun yang sunyi. Suara itu penuh dengan kesepian, namun tajam seperti angin musim dingin.

Zhaofeng berlutut. Tangannya meraba tumpukan buku berdebu itu sampai jarinya menyentuh sebuah buku tipis yang sampulnya sudah dimakan rayap.

Saat kulitnya bersentuhan dengan buku itu, Zhaofeng tersentak.

Dia tidak melihat tulisan. Dia "mendengar" suara angin.

Di dalam kepalanya, dia melihat bayangan seorang pendekar tua berdiri di atas tebing, menebas angin hampa berulang kali dengan rasa frustrasi. Pendekar itu mencoba menangkap angin, tapi angin selalu lolos dari sela jari.

Zhaofeng membuka buku itu. Halamannya kuning dan rapuh. Dia meraba tekstur tintanya yang timbul.

Huruf-hurufnya ditulis dengan sapuan kuas yang liar dan terputus-putus. Penulisnya tidak menulis dengan tenang; dia menulis dengan kemarahan dan obsesi.

Zhaofeng menelusuri alur tinta itu dengan ujung jarinya. Getaran Qi sisa dari penulisnya merambat masuk ke jarinya, membentuk pola gerakan di benaknya.

"Tiga Langkah Pedang Hantu". Tingkat: Tidak Diketahui (Halaman terakhir hilang). Deskripsi: Pedang bukan untuk dilihat. Pedang adalah bayangan. Langkah pertama mengecoh mata, langkah kedua mengecoh telinga, langkah ketiga memotong nyawa.

"Ini dia..." bisik Zhaofeng, jantungnya berpacu.

Teknik ini tidak mengandalkan kekuatan benturan (seperti teknik Li Dong), melainkan ilusi gerak dan manipulasi suara. Ini sempurna untuknya. Penulisnya mungkin gagal menyempurnakan teknik ini semasa hidupnya, itulah kenapa buku ini dibuang di sudut. Tapi bagi Zhaofeng yang memiliki pendengaran absolut, dia bisa menyempurnakan apa yang gagal dilakukan penulis aslinya.

Dia memiliki sisa waktu dua puluh menit.

Zhaofeng tidak bisa membawa buku ini pulang. Dia harus menghafalnya sekarang juga.

Bukan menghafal kata-katanya. Dia buta huruf. Dia menghafal "Rasa"-nya.

Zhaofeng duduk bersila, meletakkan buku itu di pangkuannya. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas halaman terbuka. Dia membiarkan resonansi "Hati Pedang"-nya menyinkronkan diri dengan sisa niat penulis.

Di dalam dunia gelapnya, Zhaofeng mulai bergerak. Dia tidak menggerakkan tubuh fisiknya, tapi dia melakukan simulasi mental. Dia menjadi pendekar tua di atas tebing itu. Dia merasakan frustrasinya, dia merasakan alur anginnya.

Langkah Satu: Suara Palsu. (Menghentakkan kaki untuk menciptakan gema palsu). Langkah Dua: Bilah Senyap. (Memutar pergelangan tangan agar pedang membelah sisi tipis angin).

Keringat dingin mengucur di dahi Zhaofeng. "Membaca" dengan cara ini menguras mentalnya sepuluh kali lebih cepat daripada membaca biasa. Wajahnya memucat, napasnya memburu.

"Waktu habis!" seru penjaga perpustakaan dari depan.

Zhaofeng membuka matanya di balik kain. Dia menutup buku itu perlahan dan mengembalikannya ke tumpukan debu, seolah buku itu tidak berharga.

Dia berdiri, kakinya sedikit goyah. Tapi di bibirnya, ada senyum tipis.

Dia tidak membawa bukunya, tapi "hantu" teknik itu sudah pindah ke dalam otot dan tulangnya.

Zhaofeng berjalan keluar perpustakaan. Sinar matahari terasa menyengat setelah satu jam di dalam kegelapan.

Saat dia menuruni tangga paviliun, dia berpapasan dengan seseorang.

Aroma parfum bunga plum.

Liu Mei.

Gadis itu sedang menaiki tangga bersama dua pengikutnya, tertawa membicarakan gaun baru. Langkahnya terhenti saat melihat Zhaofeng.

"Kau lagi?" Liu Mei mengerutkan kening cantik. Dia menatap Zhaofeng dari atas tangga, posisi yang menunjukkan superioritas. "Sedang apa pelayan buta di sini? Jangan bilang kau mencoba belajar membaca?"

Para pengikutnya tertawa. "Mungkin dia cuma numpang tidur karena di dalam sejuk, Nona Muda."

Zhaofeng berhenti. Dia mendongak sedikit ke arah suara Liu Mei.

"Pengetahuan tidak membedakan mata, Kakak Senior," jawab Zhaofeng tenang. "Terkadang, mereka yang punya mata justru buta terhadap hal yang penting."

Wajah Liu Mei berubah dingin. "Kau semakin berani bicara ya. Ingat statusmu."

"Saya selalu ingat," Zhaofeng membungkuk sedikit, lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga, melewati Liu Mei tanpa rasa takut.

Saat bahu mereka sejajar, Liu Mei merasakan sesuatu yang aneh. Bulu kuduk di lehernya merinding, seolah ada bilah dingin yang baru saja lewat di dekat nadinya. Dia menoleh cepat, menatap punggung Zhaofeng yang menjauh.

Apa itu tadi? batin Liu Mei bingung. Kenapa aku merasa... terancam?

Zhaofeng berjalan kembali ke gubuknya. Dia tidak peduli dengan Liu Mei. Pikirannya penuh dengan bayangan langkah kaki hantu.

Sekarang dia punya senjata (Pedang Karat). Dia punya tenaga (Tahap 2). Dan sekarang dia punya teknik (Tiga Langkah Pedang Hantu).

Potongan puzzle untuk kelulusannya sudah lengkap. Sisa 28 hari akan dia habiskan untuk mengubah teori menjadi insting mematikan.

"Hutan Bambu Ungu..." gumam Zhaofeng. "Mulai besok, kau akan menjadi tempat latihanku."

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!