NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Peluru Mulai Mengenal Namaku

Latihan terpisah dimulai lebih cepat dari yang Bella Shofie bayangkan.

Ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat pagi pada Cella atau gadis-gadis lain. Saat aula utama masih dipenuhi suara sepatu balet menghantam lantai kayu, napas yang diatur perlahan, dan instruksi dasar yang diulang tanpa emosi, Bella sudah dibawa turun ke ruang latihan bawah.

Ruang itu berbeda.

Lebih sempit.

Lebih gelap.

Lebih jujur.

Langit-langitnya rendah, membuat setiap suara tembakan nanti akan memantul lebih dekat ke kepala. Dindingnya kasar, penuh bekas goresan dan lubang kecil yang tidak pernah ditutup. Tidak ada cermin. Tidak ada bar balet. Tidak ada apa pun yang bisa memantulkan wajahmu kembali saat kau melakukan kesalahan.

Target di ruangan ini tidak diam.

Papan kayu tergantung dengan tali besi, berayun pelan seperti tubuh yang digantung menunggu eksekusi. Beberapa target lain bergerak naik turun dengan ritme yang tidak beraturan, seolah menolak untuk diprediksi. Ada yang bergerak cepat, lalu mendadak berhenti. Ada yang melambat, lalu tiba-tiba melesat.

Bella berdiri di tengah ruangan.

Madam Doss berada di sudut, bersandar pada dinding dengan sikap santai yang menipu. Tangannya menyilang di dada, matanya mengamati tanpa berkedip.

“Kau belajar cepat,” ucapnya tanpa basa-basi.

“Sekarang kita lihat apakah tubuhmu bisa mengikuti kecepatan pikiranmu.”

Bella menggenggam pistol di tangannya.

Tidak ada rasa takut. Tidak ada lonjakan adrenalin berlebihan. Yang ada hanya fokus yang tenang, dingin, dan tajam. Fokus yang tidak ia sadari telah tumbuh sejak malam ketika ia menarik pelatuk untuk pertama kalinya demi bertahan hidup.

“Balet mengajarkanmu menghafal ritme,” lanjut Madam Doss.

“Senjata mengajarkanmu memutuskan dalam sepersekian detik.”

Catherine melangkah maju dan melemparkan sabuk kulit ke arah Bella. Sabuk itu mendarat di udara dengan bunyi berat sebelum Bella menangkapnya.

“Pakai.”

Bella mengenakannya. Sabuk itu pas di pinggangnya, sedikit berat. Di sisi kanan dan kiri terselip magasin tambahan. Berat yang asing, namun tidak mengganggu keseimbangannya.

“Kau akan bergerak,” kata Madam Doss.

“Berhenti berarti mati.”

Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Peluit ditiup.

Target-target mulai bergerak.

Papan kayu di depan Bella berayun ke kiri, lalu ke kanan. Target lain naik perlahan, lalu turun tiba-tiba. Ritmenya kacau, seperti detak jantung orang yang sedang panik.

Bella melangkah.

Ke kiri.

Ke kanan.

Kakinya ringan. Tubuhnya lentur. Gerakannya mengalir alami, seperti saat ia menari. Namun kali ini, tidak ada musik. Tidak ada kostum. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya tarikan napas dan berat senjata di tangannya.

Dor!

Peluru pertama meleset tipis, hanya menggores sisi papan kayu.

Madam Doss tidak bereaksi.

Dor!

Peluru kedua mengenai sisi target, cukup dalam namun belum memuaskan.

“Jangan kejar target,” kata Madam Doss dingin.

“Biarkan target masuk ke duniamu.”

Bella berhenti sejenak.

Bukan berhenti bergerak, melainkan berhenti berpikir dengan cara lama.

Ia menarik napas, panjang dan terkontrol. Seperti sebelum melakukan pirouette. Seperti sebelum melompat.

Ia berhenti mencoba menyesuaikan diri dengan target.

Ia menciptakan ritmenya sendiri.

Langkahnya berubah. Lebih halus. Lebih teratur. Ia tidak lagi bereaksi terhadap gerakan target, melainkan menunggu momen saat gerakan itu bertabrakan dengan ruang yang telah ia kuasai.

Dor!

Dor!

Dua peluru dilepaskan hampir bersamaan.

Keduanya mengenai sasaran.

Catherine yang sedari tadi menulis catatan berhenti sejenak. Ujung pulpennya menggantung di udara.

Madam Doss menyipitkan mata.

“Kau tidak berpikir,” ucapnya.

“Kau mengingat.”

Bella terus bergerak, namun kali ini lebih pelan. Ia menyelesaikan rangkaian langkahnya, lalu berhenti di tengah ruangan.

“Balet mengajarkanku itu,” jawab Bella tenang.

“Mengingat tubuh.”

Madam Doss mendekat.

Langkahnya pelan, tapi tekanannya terasa nyata. Ia berdiri tepat di depan Bella, jarak mereka sangat dekat.

“Tidak,” katanya pelan.

“Balet tidak mengajarkan anak seusiamu untuk tetap tenang setelah menembak.”

Tatapan mereka bertemu.

“Apa yang kau sembunyikan?”

Bella tidak mengalihkan pandangannya. Ia tidak menunduk. Tidak pula membantah.

“Tidak semua luka perlu diceritakan,” ucapnya.

Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak Bella berada di tempat itu, Madam Doss tersenyum. Bukan senyum tipis penuh ejekan, melainkan senyum kecil yang tulus dan berbahaya.

“Bagus,” katanya.

“Di tempat ini, rahasia adalah senjata.”

Latihan berlanjut.

Target bergerak lebih cepat. Jarak diperpendek. Waktu reaksi dipangkas. Tangan Bella mulai terasa berat. Otot lengannya menegang. Keringat mengalir di pelipisnya, turun ke leher, membasahi kerah bajunya.

Namun pikirannya tetap jernih.

Setiap peluru dilepaskan dengan kesadaran penuh. Tidak terburu-buru. Tidak emosional. Seperti tarian yang telah dihafal hingga ke sumsum tulang.

Peluru terakhir mengenai pusat target.

Madam Doss mengangkat tangannya.

“Cukup.”

Bella menurunkan pistol. Tangannya sedikit gemetar sekarang, bukan karena takut, melainkan kelelahan yang tertunda.

“Kau tidak seperti mereka,” ucap Madam Doss.

“Dan itu membuatmu berbahaya.”

Ia menoleh ke Catherine.

“Awasi dia.”

Catherine mengangguk pelan.

Saat Bella berjalan keluar ruangan, langkahnya tetap tenang. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Tidak ada rasa bangga yang berlebihan. Namun di dadanya, sesuatu bergerak pelan.

Bukan takut.

Bukan juga bahagia.

Sebuah kesadaran.

Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya ingin menjadi penari balet.

Di BALLERINA MURDERER,

tarian dan kematian mulai menyatu dalam dirinya.

Setiap langkah memiliki arah.

Setiap gerakan memiliki konsekuensi.

Dan Bella Shofie tahu,

jalan ini tidak akan memberinya pilihan untuk kembali.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!