Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Kutukan dan Keajaiban Langit
Kesadaran Doni Salman kini berada di ambang batas yang paling rapuh.
Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh wibawa telah digerogoti oleh lingkaran kegelapan yang kian menyempit, menyisakan sebuah lubang kecil di tengah yang hanya dipenuhi oleh bayangan merah pekat dari pembuluh darah matanya yang pecah.
Di sela-sela kegelapan itu, ia masih bisa melihat siluet Amanda dan Andreas yang perlahan melangkah mundur, membelakanginya seolah-olah dirinya hanyalah seonggok sampah yang telah selesai diperas kegunaannya.
"Mari kita pergi, Andreas."
"Bau darah dan anggur ini mulai membuatku mual,"
ujar Amanda sambil mengibaskan tangan kirinya yang halus, menghindari cipratan darah yang sempat menyembur dari mulut Doni.
"Tentu, Sayang."
"Biarkan sang raja mati di atas takhtanya yang kesepian,"
balas Andreas dengan nada suara yang begitu santai.
Sebelum melangkah pergi, ia sempat berbalik sekilas, memberikan sebuah hormat militer tiruan yang penuh dengan ejekan kasar ke arah Doni.
"Selamat tinggal, Pak Doni Salman."
"Terima kasih atas Salman Group."
"Saya berjanji akan menjaga aset perbankan, logistik, dan kontainer Anda... bersama istri Anda."
Suara langkah kaki mereka yang teratur di atas lantai marmer Carrara berangsur-angsur menjauh, diikuti oleh suara pintu kayu jati tebal yang tertutup rapat dan mengunci secara otomatis dari luar.
Klik. Suara kunci itu terdengar bagai dentang lonceng kematian yang final di telinga Doni.
Kini, ruangan penthouse megah di lantai lima puluh Menara Salman itu kembali sunyi senyap.
Hanya ada helaan napas Doni yang kian pendek, parau, dan berbunyi mencicit tragis. Udara di dalam paru-parunya telah habis total. Jantungnya berdenyut dalam ritme yang sangat lambat dan menyakitkan, seolah-olah organ vital itu sedang diputar dan diremas oleh sepasang tangan besi yang tak kasat mata.
Namun, di saat tubuh fisiknya hancur membeku oleh kelumpuhan racun saraf VX, jiwa Doni justru berkobar dengan api yang mahadahsyat.
Jiwanya menolak untuk mati dalam kepasrahan.
Pengkhianatan Amanda, kelicikan Andreas, fakta bahwa Robby adalah darah daging musuhnya, dan yang paling mengoyak batinnya kematian tragis Zahra yang diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda semuanya menyatu menjadi satu pusaran energi kebencian yang belum pernah ada sebelumnya di dunia ini.
Di dalam dadanya yang kaku, di dalam batinnya yang menjerit tanpa suara, Doni menggalang sisa-sisa kesadarannya untuk merapal sebuah kutukan yang terlahir dari dasar neraka paling dalam.
'Jika ada keadilan di alam semesta ini... Jika Tuhan, alam, atau kekuatan apa pun mendengar jeritan jiwaku yang teraniaya ini... Demi setiap tetes air mata dan darah Zahra yang tumpah, demi setiap jengkal keringatku yang mereka rampas secara jahanam... Aku mengutuk kalian!
Aku bersumpah tidak akan pernah melangkah ke alam kubur dengan tenang! Berikan aku kesempatan... Berikan aku satu saja kesempatan!
Aku bersumpah akan kembali, merangkak keluar dari kegelapan, dan menyeret kalian semua Keluarga Santoso, Devan, Amanda, Andreas ke dalam penderitaan yang sejuta kali lebih mengerikan dari apa yang aku rasakan malam ini! Aku akan menghancurkan takhta kalian, membusukkan nama kalian, dan mencabik-cabik setiap helai kesombongan kalian hingga tak tersisa!'
Tepat ketika detak jantung terakhir Doni Salman berhenti di usia 46 tahun, sebuah fenomena aneh dan mengerikan terjadi di luar Menara Salman.
Jakarta yang malam itu semula cerah tanpa awan mendadak dicekam oleh perubahan atmosfer yang drastis.
Tekanan udara merosot tajam dalam hitungan detik. Angin badai berkekuatan raksasa tiba-tiba berembus entah dari mana, melolong kencang memutari gedung-gedung pencakar langit dan menumbangkan pepohonan di sepanjang jalan protokol.
Langit malam yang hitam pekat mendadak bergulung-gulung, membentuk sebuah pusaran awan hitam yang masif tepat di atas atap Menara Salman.
BOOOMMMM!!!
Sebuah kilatan petir raksasa berwarna perak keunguan, dengan diameter yang begitu besar hingga menerangi seluruh penjuru kota, menyambar jatuh dari langit.
Petir itu menghantam puncak Menara Salman dengan suara menggelegar yang teramat dahsyat, getarannya sanggup meretakkan kaca-kaca tebal di lantai lima puluh dan membuat seluruh sistem kelistrikan di pusat kota padam total dalam sekejap.
Di dalam ruangan yang gelap gulita itu, keajaiban langit terjadi.
Jiwa Doni Salman yang baru saja terlepas dari raga kasarnya tidak berjalan menuju gerbang kematian.
Alih-alih melayang naik, jiwa yang dipenuhi oleh kepekatan dendam dan kutukan itu justru ditarik paksa oleh sebuah pusaran energi perak yang memancar dari sambaran petir tadi.
Doni merasakan jiwanya seperti dilempar ke dalam sebuah lubang hitam tanpa dasar. Sensasinya luar biasa menyakitkan, jauh lebih menyiksa daripada efek racun VX.
Jiwanya diputar, ditarik, dan diperas melewati lorong waktu yang melengkung dengan kecepatan yang melampaui cahaya.
Kenangan-kenangan hidupnya berputar terbalik di depan matanya bagai pita seluloid yang diputar cepat: wajah Robby yang mengejek, wajah Amanda yang kejam, rapat-rapat korporat Salman Group, momen pernikahan peraknya... semuanya bergerak mundur dengan kecepatan gila.
Hingga akhirnya, pusaran itu berhenti secara mendadak dengan satu hantaman keras yang membuat kesadaran Doni terhentak hebat.
Uhuk! Uhuk!
Doni tersedak.
Paru-parunya mendadak dipenuhi oleh pasokan oksigen yang nyata, kasar, dan terasa sangat dingin.
Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang sangat kencang, namun bukan karena racun, melainkan karena pacuan adrenalin yang luar biasa.
Rasa sakit yang membakar organ dalamnya lenyap. Kelumpuhan sarafnya hilang.
Doni mengerjapkan matanya berulang kali secara refleks.
Pandangan matanya yang semula buram kini kembali sangat jernih, bahkan terlalu jernih. Namun, bau yang pertama kali dihirup oleh indra penciumannya bukan lagi wangi melati yang mahal atau pelitur kayu mahoni.
Bau yang menyengat hidungnya malam ini adalah bau minyak solar, debu jalanan yang pengap, aroma mie instan seduh yang murahan, dan pengapnya sebuah ruangan sempit berpintu triplek.
Doni tersentak, ia langsung menegakkan tubuhnya dari posisi berbaring. Ia melihat kedua tangannya.
Tangan itu... tidak lagi dihiasi oleh kerutan tipis pria usia 46 tahun.
Kulit tangannya tampak lebih kencang, sedikit kasar karena kerja fisik, namun penuh dengan energi muda yang bergolak.
Di pergelangan tangannya, tidak ada jam tangan Rolex emas pemberian Andreas.
Yang ada hanyalah sebuah jam tangan digital murah berbahan karet hitam yang kacanya sudah sedikit tergores.
Ia menoleh ke sekeliling ruangan. Ini adalah sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah kipas angin plastik kecil yang berputar dengan suara berisik, sebuah meja kayu triplek berisi tumpukan berkas manifes pengiriman barang, dan sebuah kalender dinding yang lusuh.
Doni merangkak dengan cepat menuju kalender dinding tersebut, jantungnya bertalu-talu seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menatap angka tahun yang tertera di kalender tersebut dengan mata membelalak sempurna.
JUNI 2006.
Doni Salman, sang penguasa Salman Group yang baru saja mati tragis dikhianati di usia 46 tahun, kini terlempar kembali ke masa lalu.
Jiwanya menempati tubuhnya sendiri saat ia masih berusia 26 tahun.
Masa di mana ia hanyalah seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan logistik swasta kecil, masa di mana usahanya belum merintis, dan yang paling penting... masa di mana Zahra, cinta sejatinya, masih hidup di dunia ini.
Sebuah senyuman dingin, penuh dengan aura mistis dan dendam yang mengerikan, perlahan terukir di wajah muda Doni Salman.
Langit telah mengabulkan kutukannya.
Perang berdarah ini baru saja dimulai kembali, dan kali ini, sang singa memegang semua kartu as di tangannya.