“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Harsa duduk bersandar di kursi belakang dengan rahang yang masih mengeras. Napasnya memburu, sementara jemarinya mencengkeram lutut kuat-kuat. Bayangan Rania yang tertawa lepas bersama dokter berkacamata itu terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak, membakar habis sisa kesabarannya.
Melihat gejolak amarah yang nyata dari pria di sampingnya, Wulan tidak tinggal diam. Matanya melirik ke arah kursi depan, memastikan Gavin sudah duduk tenang di samping Pak Darto sembari asyik memandangi jalanan luar.
Keadaan ini menguntungkannya. Ia bisa bergerak dengan lebih leluasa tanpa perlu khawatir putranya akan banyak bertanya.
Dengan gerakan anggun dan penuh kehati-hatian, Wulan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan selembar saputangan kain berwarna putih bersih beraroma lavender lembut.
“Mas Harsa...” panggil Wulan dengan suara yang teramat lirih, sarat akan kecemasan yang nampak begitu tulus.
Harsa tidak menyahut. Ia tetap membuang mukanya ke arah jendela samping.
Wulan menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Ia memberanikan diri mengulurkan tangan, hendak mengusap sudut bibir Harsa yang pecah dan mengeluarkan sedikit darah segar akibat pukulan Bagas tadi.
“Jangan sentuh aku, Wulan,” desis Harsa dingin, langsung menepis pelan pergelangan tangan Wulan. Ia teringat kembali pada prinsipnya beberapa saat lalu di dalam mobil bahwa ia tidak suka disentuh oleh wanita lain selain istrinya.
Namun, Wulan tidak menyerah begitu saja.
Ia tidak memperlihatkan gertakan balik, melainkan memasang raut wajah yang teduh, seolah tindakannya murni karena rasa kemanusiaan seorang adik ipar.
“Aku mohon, Mas, sekali ini saja jangan keras kepala. Bibirmu berdarah cukup banyak. Kalau tidak segera dibersihkan, nanti bisa infeksi. Aku hanya ingin membersihkan lukanya, tidak lebih. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucap Wulan.
Harsa melirik sekilas ke arah saputangan di tangan Wulan, lalu beralih menatap wajah wanita itu yang nampak begitu pasrah. Mengingat rasa perih yang mulai menjalar di rahangnya dan rasa lelah yang teramat sangat, pertahanan Harsa perlahan mengendur.
Ia mengembuskan napas kasar lalu membiarkan tubuhnya tetap diam, menerima sentuhan itu. Padahal belum lama ini, ia dengan tegas menolak sentuhan yang sama. Egonya yang sedang terluka oleh Rania membuatnya mendadak butuh sedikit diredam.
Wulan tersenyum tipis di dalam hati, sebuah kemenangan kecil berhasil ia dapatkan. Dengan jemari yang telaten, ia mulai menepuk-nepuk pelan sudut bibir Harsa yang terluka dengan saputangannya.
“Dokter itu benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa seorang profesional di rumah sakit terpandang langsung main fisik seperti itu?” tutur Wulan membuka obrolan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti pembelaan, namun diam-diam menyimpan jarum yang siap memanasi hati Harsa.
“Tapi, kalau dipikir-pikir, sepertinya Dokter itu punya hubungan yang sangat dekat ya dengan mbak Rania? Sampai-sampai dia berani memukul Mas demi melindungi mbak Rania di depan umum.”
Mendengar kalimat itu, rahang Harsa kembali mengetat. “Aku tidak tahu siapa dia. Dan aku tidak peduli seberapa dekat mereka!”
Wulan menghentikan usapannya sejenak, menatap Harsa dengan pandangan mata yang sengaja dibuat penuh simpati yang dalam.
“Maaf ya, Mas... aku tidak bermaksud ikut campur atau menuduh mbak Rania yang tidak-tidak. Hanya saja, sebagai wanita, aku sedikit paham. Mbak Rania jarang sekali terlihat tertawa di rumah. Tapi tadi, di depan dokter itu, mbak Rania nampak sangat lepas. Aku hanya takut mbak Rania mencari pelarian di luar karena merasa Mas Harsa terlalu sibuk membantu menjaga Gavin dan aku.”
Pelarian?
Kata itu menghantam telinga Harsa dengan begitu telak. Kilat cemburu kembali membakar dadanya, membuat hatinya kian bergemuruh hebat oleh rasa tidak terima.
Apakah benar Rania sengaja ke rumah sakit untuk menemui pria lain?
“Cukup, Wulan. Jangan dibahas lagi” potong Harsa.
Wulan segera menarik kembali saputangannya, melipatnya dengan anggun lalu kembali duduk tegak di posisinya semula.
“Aku hanya terlalu mengkhawatirkan hubungan kalian. Aku tidak mau kehadiran aku dan Gavin malah menjadi alasan mbak Rania berpaling pada pria lain.”
Harsa tidak menyahut lagi. Pria itu kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca, mengunci rapat mulutnya. Meskipun hatinya kini benar-benar terbakar hebat oleh rasa cemburu dan amarah yang meradang, Harsa mencoba sekuat tenaga untuk tidak terpancing lebih jauh oleh kata-kata Wulan di dalam mobil. Ia masih memiliki harga diri yang tinggi.
“Nanti malam setelah urusan Gavin selesai, aku sendiri yang akan menuntut penjelasan langsung dari mulutmu, Rania,” batin Harsa sembari meringis menahan sakit.
Di balik wajah anggun dan teduhnya, jemari Wulan meremas saputangan di pangkuannya dengan amat kuat. Matanya melirik Harsa yang masih setia menatap kosong ke luar jendela.
“Sial! Aku gagal membuat mas Harsa mencurigai mbak Rania. Beruntung sekali wanita itu. Sudah mendapatkan cinta dan perhatian mas Harsa secara hukum, sekarang malah ada pria tampan dan gagah yang mengerubunginya di rumah sakit. Sementara aku? Sejak dulu nasibku hanya begini-begini saja. Menikahi Bima si miskin itu adalah kesialan terbesar dalam hidupku. Kalau saja dulu aku bisa memikat mas Harsa lebih dulu, pasti sekarang akulah yang menjadi nyonya besar di rumah itu,” gumam Wulan dalam hati, menahan dongkol yang amat sangat.
Wulan mengembuskan napas panjang, meratapi kecemburuannya yang kian membakar dada, sembari terus memasang topeng polosnya di samping Harsa.
*****
Sementara itu, di dalam mobil berbeda yang melaju tenang menjauhi area rumah sakit, keheningan sempat tercipta sebelum akhirnya Bagas membuka suara. Ia sesekali melirik Rania yang duduk di kursi penumpang dengan wajah sekuyu kertas.
“Ran... maaf ya, karena tadi aku sempat khilaf dan memukul suamimu. Aku benar-benar tidak bermaksud bertindak lancang begitu di depanmu. Nanti, jika ada waktu yang tepat, aku akan meminta maaf secara langsung padanya.”
Rania menoleh sedikit, lalu menggelengkan kepalanya lemah. Seulas senyum hambar terukir di bibirnya yang pucat.
“Nggak usah kamu pikirkan, Mas. Lagipula, itu bukan salahmu. Kamu hanya ingin melindungiku tadi. Sekarang, fokus saja pada jadwal kemoterapiku. Aku ingin cepat sembuh dan menyelesaikan semua ini.”
Bagas mengangguk paham. Ia menghargai keputusan Rania.
Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam milik Bagas perlahan melambat dan berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari gerbang rumah Rania agar tidak memancing kecurigaan warga sekitar.
“Terima kasih banyak ya, Mas, sudah mau repot-repot mengantarku pulang sampai sini. Maaf kalau aku selalu merepotkanmu sejak kita bertemu lagi,” tutur Rania tulus sembari bersiap membuka sabuk pengamannya.
“Sama-sama, Ran. Tapi ingat pesanku tadi. Kau harus punya alasan kuat untuk tetap hidup Lakukan ini demi dirimu sendiri, bukan demi orang lain. Lepaskan semua beban berat yang ada di pundakmu selama ini. Jangan terlalu dipaksakan jika memang hatimu sudah tidak kuat menahannya.”
Rania tertegun mendengar nasihat yang begitu menyentuh itu. Ia mengangguk pelan.
“Iya, Mas. Aku mengerti. Aku turun dulu.” Rania keluar dari mobil, lalu melambaikan tangannya singkat saat mobil Bagas mulai bergerak menjauh dan hilang di belokan jalan.
Dengan langkah kaki yang terasa berat dan tubuh yang masih menyisakan rasa lemas, Rania berjalan memasuki halaman rumahnya. Namun, baru saja ia mendorong pintu depan, sosok ibu mertuanya sudah berdiri di ruang tamu dengan berkacak pinggang dan wajah yang merah padam karena kesal.
“Bagus! Jam segini baru pulang! Kamu ini kerjaannya apa sih di luar, Rania?!” maki Ratna langsung menyemprot menantunya tanpa ampun. “Rumah berantakan, sarapan tidak ada, baju-baju Harsa belum disetrika! Istri macam apa kamu ini, keluyuran tidak jelas dari subuh!”
Rania sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ia mengabaikan makian itu, berjalan melewati Ratna begitu saja dengan wajah acuh, seolah-olah ibu mertuanya itu hanyalah angin lalu yang tidak berwujud.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu