Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
Suasana meja makan pagi itu terasa mencekam. Theo menunduk sambil mengaduk telur dadarnya. Elang pura-pura fokus pada ponselnya. Sedangkan, Alya sibuk minum jus jeruk seolah tidak terjadi apa-apa.
Nathan duduk di ujung meja. Tatapannya bergantian mengarah kepada ketiga anaknya.
"Tidak ada yang mau menjelaskan sesuatu?"
Theo berdehem pelan dan Elang memilih melihat ke luar jendela. Alya malah tersenyum manis. Nathan meletakkan tiga lembar kertas di atas meja.
Ketiganya refleks menoleh.
"Surat pelanggaran sekolah Theo." Theo langsung menelan ludah.
Nathan menggeser kertas kedua. "Laporan revisi skripsi Elang."
Elang memijat pelipis, Nathan menggeser kertas terakhir.
"Dan laporan absensi Alya."
Senyum Alya perlahan menghilang. Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Menarik sekali..."
Tidak ada yang berani menjawab.
"Satu anak balapan liar."
Theo langsung menunduk.
"Satu anak tidak kunjung lulus kuliah."
Elang ikut menghela napas.
"Dan satu anak lagi suka bolos sekolah."
Alya ikut menunduk, Nathan mengangguk pelan.
"Luar biasa sekali kalian."
Ketiganya langsung merinding, mereka tahu semakin tenang Nathan berbicara, semakin berbahaya situasinya.
"Ayah..." Theo mencoba membuka suara.
"Diam!"
Theo langsung menutup mulut. Nathan menatap ketiga anaknya satu per satu.
"Ayah bekerja siang malam membangun semuanya untuk kalian."
Tidak ada jawaban. "Tapi sepertinya kalian terlalu nyaman hidup menggunakan nama belakang Anderson."
Tatapan Nathan menjadi dingin. "Sampai lupa bagaimana cara bertanggung jawab.
Ketiga bersaudara itu hanya bisa menunduk saat Nathan menatap mereka dengan wajah datar. Wajah yang justru jauh lebih menakutkan daripada saat pria itu berteriak.
"Ayah sudah terlalu memanjakan kalian..." Nathan berdiri dari kursinya. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas meja makan.
"Ayah memberi kalian kebebasan." Tatapannya beralih kepada Elang.
"Kamu, kuliah di universitas terbaik."
Lalu kepada Theo. "Kamu, fasilitas lengkap."
Kemudian kepada Alya. "Dan kamu ... apa pun yang kamu minta hampir selalu Ayah penuhi."
Ketiganya terdiam.
"Tapi hasilnya?" Nathan tertawa miris.
"Kalian tumbuh menjadi anak-anak yang tidak tahu tanggung jawab."
"Ayah—"
"Diam, Theo!"
Lagi-lagi Theo langsung menutup mulutnya. Nathan menarik napas panjang. Keputusan itu sebenarnya sudah lama ada di kepalanya. Namun, pagi ini menjadi titik terakhir kesabarannya.
"Mulai hari ini kartu-kartu kalian akan dibatasi."
Ketiganya langsung menoleh bersamaan.
"Apa?!"
Nathan tidak peduli. "Mobil Theo disita sementara."
Theo hampir tersedak. "Ayah!"
"Mobil Elang juga."
Elang yang biasanya tenang langsung mengangkat kepala. "Tunggu dulu..."
"Dan Alya tidak akan mendapat uang jajan tambahan selama satu bulan."
Alya membelalakkan mata. "Itu kejam!"
Nathan menatap putrinya datar.
"Bolos sekolah lebih kejam."
Alya langsung terdiam, Nathan kembali duduk. Wajahnya terlihat lelah. Selama bertahun-tahun sejak istrinya meninggal, ia berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Namun, ternyata itu tidak cukup Nathan memijat pelipisnya.
"Ayah rasa kalian membutuhkan seseorang."
Ketiga anak itu saling pandang. Entah kenapa mereka tidak menyukai arah pembicaraan ini.
"Seseorang?" tanya Elang.
Nathan mengangguk. "Seseorang yang bisa mengurus rumah ini."
Theo mengernyit. "Kita sudah punya puluhan asisten rumah tangga."
"Bukan itu!" Nathan menatap mereka satu per satu.
"Kalian membutuhkan seorang ibu."
"Apa?!" Suara ketiganya menggema bersamaan.
Nathan bahkan tidak berkedip, Theo berdiri paling dulu.
"Tidak!"
Alya ikut bangkit. "Aku menolak!"
Bahkan, Elang yang biasanya paling tenang terlihat syok.
"Ayah serius?"
Nathan menatap putranya. "Sangat serius."
Theo memegang dadanya.eolah baru saja mendengar kabar kiamat.
"Ayah mau menikah lagi?"
"Ya." Jawabnya tegas.
"Tidak boleh!"
Nathan menaikkan sebelah alis. "Kenapa?"
"Karena ibu tiri itu jahat!"
Alya langsung mengangguk kuat-kuat.
"Benar!"
Nathan menghela napas.
"Lalu?"
"Mereka suka menyiksa anak-anak."
Nathan memandang putrinya. "Kamu tahu dari mana?"
"Dari drama."
Nathan memejamkan mata.
"Dari novel juga!" tambah Theo.
"Film juga!" sahut Alya.
Nathan mulai merasa pusing, Elang akhirnya ikut bicara.
"Ayah..."
Nathan menoleh.
"Kami tidak butuh ibu tiri."
"Kalian butuh."
"Tidak!"
"Kalian butuh!"
"Tidak, Ayah!"
Nathan menatap putra sulungnya tanpa ekspresi. Elang balas menatap tanpa berkedip. Pertarungan dingin antara ayah dan anak itu berlangsung beberapa detik.
Sampai akhirnya Nathan berkata, "Keputusan Ayah sudah bulat."
Theo langsung panik. "Tidak, tidak, tidak!"
Alya bahkan hampir menangis.
"Kalau Ayah menikah, nanti wanita itu akan mengambil kamar Mama!"
Nathan terdiam sesaat, mendengar nama mendiang istrinya memang selalu membuat suasana berubah. Namun, keputusan ini tetap harus dilakukan.
"Ayah tidak akan menggantikan Mama." Suara Nathan lebih lembut.
"Tidak akan pernah."
Ketiga anak itu terdiam.
"Tapi rumah ini membutuhkan sosok yang bisa mengurus kalian."
Theo langsung menggeleng keras.
"Kami bisa mengurus diri sendiri."
Nathan tertawa pendek. "Benarkah?"
Lalu ia mengeluarkan surat pelanggaran Theo.
Theo langsung diam, kemudian laporan skripsi Elang, dan Elang ikut diam.
Lalu laporan absensi Alya tetapi Alya menunduk, Nathan menyilangkan tangan.
"Kalau itu namanya mengurus diri sendiri, Ayah khawatir kalian tidak akan bertahan seminggu tanpa bantuan orang lain."
Theo langsung protes. "Itu tidak adil!"
Nathan berdiri. "Mulai hari ini Ayah akan mencari calon istri."
"Ayah!" teriak Theo frustrasi.
"Dan calon ibu tiri untuk kalian."
"Ayah!" ketiganya berteriak keras saat melihat Nathan tak peduli pada protes mereka.
Nathan berjalan meninggalkan ruang makan. Sementara di belakangnya terdengar suara panik ketiga anaknya. Begitu Nathan menghilang dari pandangan, Theo langsung memukul meja.
"Kita dalam bahaya."
Alya mengangguk cepat. "Bahaya besar."
Elang menghela napas panjang. Ketiga bersaudara itu memiliki musuh yang sama, calon ibu tiri mereka. Dan siapa pun wanita malang yang akan dipilih Nathan nanti. Mereka bertiga sepakat akan melakukan segala cara untuk membuat wanita itu kabur dari rumah Anderson.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.
Di kursi belakang, Nathan Pradipta Anderson duduk dengan mata terpejam. Sementara Mohan, asisten sekaligus sopir kepercayaannya selama bertahun-tahun, sesekali melirik ke kaca spion tengah.
Biasanya setelah memarahi ketiga anaknya, Nathan akan kembali fokus pada pekerjaan. Tapi pagi ini pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan itu membuat Mohan penasaran.
"Pak Nathan?"
Nathan membuka mata perlahan. "Hm?"
"Ada yang bisa saya bantu?"
Beberapa detik berlalu, Nathan menatap keluar jendela. Lalu menjawab dengan tenang.
"Ada."
Mohan langsung siaga. Sebagai asisten profesional, dia siap mencatat apa pun. Namun, jawaban berikutnya membuat otaknya berhenti bekerja.
"Saya butuh seorang ibu untuk anak-anak saya."
Mohan hampir menginjak rem, intung jalanan sedang lengang. Pria itu melotot ke arah kaca spion. Nathan masih terlihat tenang, seolah baru saja membicarakan cuaca. Sedangkan, Mohan merasa dunianya terguncang.
'Aku tadi dengar apa?'
"Saya ... mohon maaf, Pak."
Nathan mengangkat sebelah alis.
"Kenapa?"
"Saya rasa pendengaran saya bermasalah."
Nathan kembali menatap jendela.
"Saya bilang saya butuh seorang ibu untuk anak-anak saya."
Mohan benar-benar terdiam, dalam hati ia mulai bertanya-tanya.
'Tadi pagi matahari terbit dari timur, kan? Bukan dari barat? Hari ini tanggal normal, kan? Bukan hari kiamat?'
Selama bertahun-tahun mengenal Nathan, pria itu selalu menolak setiap kali ada yang menyinggung soal pernikahan. Bahkan, neneknya sendiri pernah mencoba menjodohkannya. Gagal, teman-temannya mencoba mengenalkan beberapa wanita.
Para relasi bisnis bahkan pernah diam-diam mengatur pertemuan, dan menjodohkan anak mereka dengan salah satu putri mereka, tetapi Nathan masih mempertimbangkan nya.
Pria itu tiba-tiba bilang ingin mencari istri. Mohan merasa perlu memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
"Pak."
"Hm?"
"Pak Nathan yang asli, kan?"
Nathan menoleh perlahan. Tatapan dinginnya langsung membuat Mohan ingin menampar dirinya sendiri.
"Maaf, Pak."
"Kamu aneh."
"Saya hanya terkejut."
Nathan kembali melihat ke luar jendela.
"Saya serius."
Mohan menghela napas panjang. Nathan Pradipta Anderson benar-benar ingin menikah lagi. Berita ini saja sudah cukup membuat seluruh kota gempar.
"Kalau boleh tahu alasannya, Pak?"
Nathan terdiam cukup lama, kemudian menjawab, "Saya lelah."
Mohan mengangguk pelan. Itu jawaban yang tidak pernah ia duga. Nathan memijat pelipisnya.
"Setiap minggu ada aja masalah baru."
Mohan langsung teringat ketiga anak bosnya.
"Mereka membuat masalah lagi?"
Nathan tertawa pendek. "Tanya saja siapa yang tidak membuat masalah."
Mohan menahan senyum.
"Itu juga benar..."
Nathan menghela napas. "Elang belum lulus."
"Ya."
"Theo hampir dikeluarkan dari sekolah."
"Ya."
"Alya bolos sekolah lagi."
"Ya."
Nathan menoleh ke arah Mohan melalui kaca spion.
"Saya butuh bantuan."
Untuk pertama kalinya selama bekerja dengannya, Mohan melihat kelelahan yang nyata di mata Nathan. Bukan kelelahan karena pekerjaan. Melainkan kelelahan sebagai seorang ayah. Dan tiba-tiba Mohan merasa sedikit kasihan. Namun, rasa kasihan itu hanya bertahan beberapa detik.
Stelahnya muncul pertanyaan lain yang jauh lebih penting.
"Kalau begitu..."
Nathan menunggu.
"Bapak mau saya carikan kandidat?"
Nathan mengangguk singkat. Mohan hampir tersedak ludahnya sendiri, ini benar-benar terjadi. Bosnya benar-benar serius.
"Bapak punya kriteria?"
Nathan berpikir sejenak.
"Lajang."
Mohan mengangguk. "Tentu, Pak. Tidak mungkin istri orang," dia tertawa kecil, Nathan menatapnya tajam.
"Sabar."
"Ya."
"Tidak materialistis."
"Baik."
"Menyukai anak-anak."
Mohan mencatat dalam pikirannya. Masih normal, sampai Nathan menambahkan,
"Dan mampu menghadapi Elang, Theo, serta Alya."
Mohan langsung menoleh. "Pak..."
"Hm?"
"Itu bukan kriteria."
Nathan mengangkat alis. "Lalu?"
"Itu misi bunuh diri."
Sudut bibir Nathan terangkat tipis. Sementara Mohan hanya bisa menggeleng dalam hati. Entah wanita seperti apa yang nantinya akan masuk ke rumah Anderson. Tapi satu hal yang pasti. Wanita itu harus memiliki kesabaran setinggi langit. Menghadapi Nathan saja sudah sulit. Apa lagi menghadapi ketiga anaknya. Itu level yang jauh lebih mengerikan.
'Sepertinya harus mencari perempuan dari gunung sakti, karena keluarga ini sangat susah ditebak apa maunya. Dan sulit di atasi,' Mohan menghela napas beratnya.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣