NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: KEHANGATAN YANG TAK TERDUGA

Sinar matahari pagi baru saja merekah di ufuk timur, menembus gorden tipis kamar Nazya. Burung-burung di taman belakang mulai bersahutan, menandakan hari baru telah dimulai. Namun, bagi Nazya, ketukan halus di pintu kamarnya sekitar pukul enam pagi terasa seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu menuju eksekusi. Jantungnya berdegup kencang ketika pintu kamar perlahan terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian kasual namun tetap terlihat sangat anggun dan berkelas.

Kinanti Mahardika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung mengembang di wajahnya yang masih awet muda. Di tangannya, terdapat sebuah nampan kayu kecil yang membawa semangkuk bubur ayam hangat dan segelas susu formula khusus tulang.

"Selamat pagi, Nazya sayang. Sudah bangun, Nak?" sapa Kinanti, suaranya mengalun lembut di dalam kamar yang sunyi itu.

Nazya refleks menegakkan duduknya di atas ranjang, tangannya dengan cepat merapikan selimut yang menutupi gips kaki kanannya. "P-pagi, Ibu..." jawab Nazya terbata-bata. Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku. Memori masa lalu saat mantan ibu mertuanya selalu datang subuh-subuh untuk memakinya karena dianggap malas langsung berputar di kepalanya. Nazya sudah bersiap untuk menerima sindiran atau perintah kasar.

Namun, Kinanti justru meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Nazya. Wanita kaya itu mengulurkan tangannya yang halus, mengusap lembut rambut hitam panjang Nazya yang sedikit berantakan. "Jangan panggil Ibu, sayang. Panggil Mami, ya? Mulai sekarang Mami adalah ibumu juga."

Sentuhan itu begitu hangat, sangat berbeda dengan bayangan mengerikan yang menari-nari di kepala Nazya sejak semalam. Nazya hanya bisa mengangguk kaku. "Baik... Mami."

"Dafa sudah berangkat ke kantor sejak subuh sekali karena ada rapat penting. Jadi, hari ini Mami yang akan menemanimu seharian. Mami tahu kamu pasti masih asing dengan rumah ini," ucap Kinanti sambil meraih mangkuk bubur ayam. "Mami sengaja membuatkan bubur ini sendiri di dapur bawah. Ayo, Mami suapi ya? Kamu harus banyak makan makanan bergizi agar tulang kakimu cepat menyambung."

Airmata Nazya nyaris menetes mendengar perhatian itu. Ia menatap sendok yang diulurkan Kinanti dengan pandangan tidak percaya. Di masa lalunya, ibu mertua adalah sosok yang paling lantang mencaci status sosialnya dan selalu membela kelakuan abusif anaknya. Melihat ketulusan di mata Kinanti, benteng pertahanan di hati Nazya perlahan retak sedikit demi sedikit. Dengan canggung, ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama itu.

Seharian penuh, Kinanti benar-benar membuktikan ucapannya. Wanita itu tidak membiarkan Nazya merasa kesepian atau telantar. Setelah sarapan, Kinanti meminta pelayan untuk mendorong kursi roda Nazya menuju ruang keluarga yang luas. Di sana, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan. Kinanti menceritakan banyak hal tentang masa kecil Dafa yang ternyata sangat kaku dan gila kerja sejak muda, membuat Nazya sesekali menyunggingkan senyum tipis—sebuah pemandangan langka yang membuat wajah pucatnya tampak jauh lebih hidup.

Tidak hanya menemani mengobrol, Kinanti juga memanggil dokter fisioterapi pribadi ke rumah siang itu. Dokter tersebut memeriksa kondisi gips pada kaki kanan Nazya dan mengajarkan beberapa gerakan ringan untuk melatih otot-otot kaki yang tidak terluka agar tidak mengalami atrofi atau penyusutan.

"Kondisi pasca-operasinya sangat bagus, Bu Kinanti. Jahitannya kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi," jelas dokter fisioterapi itu setelah selesai melakukan pemeriksaan. "Untuk satu bulan pertama ini, Mbak Nazya memang harus istirahat total dan tidak boleh menumpu beban sama sekali. Namun, dengan terapi rutin tiga kali seminggu, saya yakin proses pemulihannya akan berjalan lebih cepat dari perkiraan awal."

Kinanti mengangguk lega sambil menggenggam tangan Nazya. "Dengar itu, sayang? Kamu pasti sembuh. Mami akan pastikan kamu mendapatkan perawatan terbaik di sini."

Nazya menatap kaki kanannya yang terbungkus gips putih. Ada secercah harapan yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Ia ingin segera sembuh, ingin segera bisa berjalan kembali, agar ia tidak perlu terus-menerus bergantung pada kebaikan keluarga Mahardika yang terasa terlalu fana baginya. Di sudut hatinya, Nazya tetap menyimpan kecurigaan terkecil; ia takut semua kemewahan dan kebaikan ini adalah utang budi yang suatu saat harus ia bayar dengan harga yang sangat mahal.

Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, mobil Mercedes-Benz milik Dafa kembali memasuki pelataran rumah. Di dalam kamar, Nazya yang sudah berbaring di atas ranjang bisa mendengar suara deru mesin mobil yang perlahan mati di luar. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang tidak teratur. Aura dominan Dafa seolah langsung menembus dinding kamarnya, bahkan sebelum pria itu melangkah masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Nazya menahan napasnya saat pintu terbuka, menampilkan sosok Dafa yang tampak sangat lelah. Dasi jasnya sudah dilonggarkan, dan beberapa kancing teratas kemejanya sudah terbuka. Namun, sepasang mata elangnya langsung berbinar cerah begitu melihat Nazya yang belum tertidur.

Dafa melangkah masuk, menutup pintu dengan perlahan, lalu berjalan mendekati ranjang. "Bagaimana harimu? Mami tidak merepotkanmu, kan?" tanya Dafa, suaranya terdengar berat khas pria yang habis bekerja seharian.

Nazya menggeleng pelan, tangannya meremas pinggiran selimut. "Mami... sangat baik, Mas Dafa. Mami menemani saya seharian dan membuatkan makanan."

Dafa menyunggingkan senyum tipis, merasa sangat lega mendengarnya. Ia memilih untuk duduk di kursi besi yang ada di dekat meja nakas, menjaga jarak aman agar tidak membuat istrinya panik seperti malam-malam sebelumnya. "Baguslah kalau begitu. Aku sengaja meminta Mami ke sini agar kamu merasa nyaman."

Keheningan sempat menjatuhkan jeda di antara mereka berdua selama beberapa saat. Nazya menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri dengan ragu. Ada sebuah pertanyaan yang sejak kemarin mengusik pikirannya, sebuah ketakutan terbesar yang harus ia ketahui jawabannya sekarang juga.

"Mas Dafa..." panggil Nazya lirih, memecah kesunyian.

Dafa menegakkan duduknya, menatap lurus ke arah istrinya. "Ya? Ada apa, Nazya?"

Nazya menelan ludahnya yang terasa kelat, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. "Apakah... apakah orang-orang di luar sana tahu tentang pernikahan ini? Maksud saya... rekan bisnis Anda, atau orang-orang di kantor Anda?"

Dafa terdiam sesaat. Tatapan matanya berubah menjadi sangat dalam dan sulit diartikan. Sebenarnya, Dafa sengaja merahasiakan pernikahan siri ini dari publik dan dunia luar. Pertama, untuk melindungi privasi Nazya dari kejaran media yang pasti akan mengulik status janda mudanya secara kejam. Kedua, karena Dafa tahu pernikahan kilat ini akan memicu spekulasi liar di bursa saham perusahaannya.

"Tidak ada yang tahu, Nazya. Hanya keluarga intiku dan beberapa orang kepercayaan seperti Mikael yang mengetahui hal ini," jawab Dafa dengan nada yang tenang dan tegas. "Di mata publik dan orang luar, aku masih berstatus lajang. Kenapa kamu menanyakannya? Apakah itu mengganggumu?"

Nazya menggeleng cepat, ada rasa lega yang luar biasa besar yang mendadak menyusup ke dalam dadanya mendengar jawaban Dafa. Baguslah kalau tidak ada yang tahu, batin Nazya meratap penuh syukur. Baginya, merahasiakan pernikahan ini adalah berkah terbesar. Ia tidak ingin dunia luar tahu bahwa ia telah menikah lagi, karena ia takut dihina sebagai janda miskin yang memanfaatkan kecelakaan untuk menjerat seorang CEO kaya raya.

Namun, Nazya sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa keputusan Dafa untuk merahasiakan pernikahan ini dari seluruh karyawan kantornya adalah sebuah benang takdir yang salah. Nazya tidak tahu, bahwa di dalam gedung pencakar langit milik Mahardika Global Group tempat suaminya berkuasa, ada sesosok pria dari masa lalunya yang sedang bekerja di sana. Seorang pria yang memegang kunci atas seluruh luka traumanya, yang siap menghancurkan ketenangan hidupnya kembali suatu saat nanti.

Dafa berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya. "Sudah malam, beristirahatlah. Besok aku akan meminta pelayan untuk membantumu berjemur di taman belakang."

Nazya hanya mengangguk patuh, menatap punggung tegap Dafa yang berjalan keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Kamar kembali sunyi, meninggalkan Nazya dalam keheningan malam yang panjang, tanpa tahu badai besar sedang mengintip di balik dinding kantor suaminya.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!