di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.
tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.
Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis
hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.
> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <
> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA DI BALIK TEMBOK
Saat itu angin hangat bertiup dari arah taman istana membawa sebuah cinta yang perlahan membekas di jiwa, kedua pangeran duduk di samping kedua permaisuri satu bersandar hangat di samping sang ibu, satunya lagi sedang tertawa kecil bersama ibunya.
Di saat itu kedua pangeran tersebut memeras kasih sayang kepada ibunda mereka.
waktu terus berjalan dan angin musim gugur meniupkan kehangatan di lingkungan taman istana membawa kesejukan kepada kedua pangeran Laurent dan dua permaisuri.
____..____
Singkat cerita beberapa waktu kemudian, di dalam kediaman Kenzie, terlihat ia belajar di ruang pribadi miliknya. Kemudian berselang beberapa menit muncul seorang pria dewasa dengan rambut perak panjang menutupi bagian punggungnya, langkahnya begitu elegan, setiap ia melangkahkan kaki wibawanya masih terlihat, walaupun umurnya sudah menginjak usia 50 tahun tapi masih memberikan tekanan, ialah kaisar xuanzi Laurent, dirinya datang untuk memberikan sedikit arahan dan sebuah Amana pada anaknya Kenzie Laurent, dari dulu sampai sekarang ia terus datang mengunjungi anak sulungnya itu.
"kamu masih belum bisa menembus batasanmu... Apakah pagi tadi kau masih sama seperti sebelumnya, masih belum bisa menyeimbangi adimu?.." tanya kaisar pada Kenzie
Terkejut!.. Kenzie menoleh ke belakang dan menatap wajah ayahnya, lalu Kenzie kembali memalingkan wajahnya sambil menundukkan kepalanya dan ia pun berkata "maaf ayahanda, aku masih terlalu lemah dan tak berbakat..." ucapnya pada sang kaisar. "Tapi aku tak ingin membuat diriku lemah dan tertinggal jauh di belakang rein.. Dan aku akan terus berusaha agar bisa menjadi seorang Kaka yang kuat sehingga pantas untuk menjadi pelindung bagi rein" ucapnya kepada ayahnya dengan nada rendah dengan penuh ambisi
"bagus jika kamu berpikir demikian, ayah berharap kamu bisa menjadi pelindung bagi Rein, bukan Rein yang menjadi pelindungmu" ucap kaisar dengan nada berwibawa
di balik pintu Reinzie mengintip dari sela-sela lubang ia melihat ayahnya datang mengunjungi Kenzie.
Di balik pintu reinzie merasakan perasaan aneh, yang dimana ia kembali merasakan dirinya diabaikan dan tak dianggap oleh sang kaisar
Sementara itu, perhatian sang kaisar selalu saja tertuju pada kakaknya, ia yang terus melihat dari kejauhan merasa terabaikan dan hatinya kini terasa-sayat, sebab selama ini ayahnya tak pernah mendatanginya walaupun ia berusaha menjadi seseorang yang berbakat dan jenius, tapi hal tersebut tak juga membuat perhatian kaisar tertuju pada dirinya
dia telah melakukan semua upaya agar supaya bisa mendapatkan pengakuan dan perhatian ayahnya, tapi nihil jerih payahnya tak pernah membuahkan hasil untuk mengundang perhatian ayahnya, malah sebaliknya ia merasa semakin jauh dari kasih sayang ayahnya.
Selama ini Reinzie tak perna membenci siapapun termasuk kakanya sendiri walaupun ada sedikit perasaan aneh di dalam hatinya. Sebenarnya Reinzie selalu menyayangi kakaknya meskipun didalam hatinya ada sedikit perasaan iri terhadap kakanya yang selalu mendapatkan perhatian khusus dari ayah mereka.
Kembali Pada posisi reinzie saat dirinya berdiri di balik pintu yang mengutip dari sela sela lubang, dirinya kini tak lagi memiliki semangat dan pada saat itupun juga ia pergi meninggalkan kediaman kakanya dengan menundukkan kepalanya dan tatapan matanya kini tak mengeluarkan ekspresi sedikitpun, tatapannya saat berjalan sangat kosong.
Kembali ke ruang belajar Kenzie, kini dirinya berbicara dengan kaisar, ia mengeluarkan semua isi hatinya "ayahanda selama ini aku sangat menyayangi rein, akan tetapi aku takut berdiri di sampingnya kelak... sebab aku merasa hanya akan menjadi beban bagi pertumbuhannya dan akan menjadi rantai di dalam hidupnya" nada bicaranya begitu berat... dan iapun menolehkan wajahnya kearah ayahnya dengan tatapan sedih ia melihat wajah ayahnya yang begitu tenang.
Sementara itu ayahnya hanya memberikan respon biasa saja, dan ayahnya hanya menyuruh dirinya agar tetap terus belajar, berusaha sekuat tenaga dan tak menyerah walau kegagalan yang terus di dapatnya.
"teruslah berusaha...." ucap kaisar pada Kenzie dan ia kembali berkata "satu hal yang perlu kamu ketahui... Selama ini ayah tak pernah menghampiri adikmu rein dan ayah juga tak memberikan kasih sayang yang lebih padanya, sebab ayah takut dia akan menjadi seseorang yang sombong dan tak memiliki hati karena ia memiliki bakat dan kejeniusan, serta ayah melakukannya untuk membuat reinzie jauh dari kebusukan parah bangsawan yang ada di istana... ayah hanya berharap kasih sayang yang tak ayah berikan padanya, Kamu lah yang akan memberikannya, buat dirinya sadar bahwa hanya dirimu lah yang selalu memberikan kasih sayang yang lebih untuknya, " ucap sang kaisar pada Kenzie,
"tapi ayahanda..."
Kaisar memotong perkataan Kenzie "tak perlu kamu pertanyakan hal itu, ayah telah memiliki pertimbangan dengan semua hal tersebut, ayah tak mau reinzie dicelakai oleh orang yang tak di kenal" ucap sang kaisar dengan terus terang.
"yang harus kamu tau, teruslah lindungi adikmu, buat dirimu menjadi cukup kuat agar bisa terus menjaganya, karena ayah kedepannya tidak bisa lagi menjadi pelindung kalian" ujar kaisar seakan memberikan suatu peringatan
"apa maksud ayahanda, apakah aku..." sekali lagi kaisar memotong perkataan Kenzie
"teruslah berlatih dan buat dirimu menjadi seorang petarung sejati yang hebat agar kelak kau bisa melindungi orang yang kau sayangi. Para bangsawan itu terus menaruh harapan pada dirimu.. Dan satu hal lagi. mereka, para bangsawan itu tak pernah menerima kehadiran reinzie dan ibunya." ucap kaisar untuk yang terakhir kalinya, lalu pergi meninggalkan kediaman Kenzie.
Sore hari itu, saat hari mulai berganti malam, angin dari arah Utara bertiup lembut menyapu dedaunan musim gugur yang mulai gugur satu per satu. Langit berwarna oranye kemerahan menggantung di atas langit istana Kekaisaran Laurent.
Reinzie duduk sendiri di ujung taman istana, di bawah pohon sakura yang daunnya menguning. Angin membawa aroma teh dari gazebo tempat ia dan kakaknya tadi tertawa bersama ibunda mereka. namun suasana hatinya kini tak lagi sehangat pagi itu. Pandangannya kosong, dan jemarinya menggenggam erat ranting kering yang ia ambil dari tanah.
“Kalau aku jenius... kenapa aku tetap merasa kesepian...?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Langkah kaki yang ringan terdengar dari balik semak. Seseorang menghampirinya. Chelsea Louis gadis muda dari keluarga bangsawan yang juga sedang menjalani pelatihan di istana—berdiri di hadapannya dengan senyum tenang.
“Reinzie... kau terlihat seperti langit mendung,” ucap Chelsea sambil duduk di sampingnya. Rambut biru mudanya tertiup angin, dan matanya yang biru kehijauan menatapnya lembut. “Apa yang kau pikirkan?”
Reinzie menggeleng, mencoba menyembunyikan emosinya. “Tidak ada. Hanya terlalu banyak hal yang kupikirkan... tentang ayah... tentang kak Kenzie... dan tentang diriku sendiri.”
Chelsea tak menjawab, ia hanya menatap Reinzie, memberikan keheningan yang membuatnya nyaman. Setelah beberapa saat, Reinzie kembali berbicara, kali ini suaranya sedikit bergetar, seolah ia telah lama memendam semuanya.
“Ayah... tidak pernah menghampiriku dan mengajakku berbicara seperti kak Kenzie. Padahal aku sudah berlatih lebih keras, aku selalu berusaha menjadi sempurna. Tapi semua itu tetap... tidak cukup untuk membuat ayah memberi perhatian pada diriku”
Chelsea tersenyum lembut. “Reinzie, bukan karena kau kurang... tapi mungkin karena hatimu terlalu penuh dengan keinginan untuk diakui, kau jadi lupa bahwa pengakuan terbaik bukan dari orang lain, tapi dari dirimu sendiri.”
Reinzie menoleh, menatap Chelsea dengan sorot mata yang rapuh. “Kau terdengar seperti ibuku...”
Chelsea tersenyum geli. “Mungkin karena aku sering menghabiskan waktu bersamanya.”
Mereka berdua tertawa kecil, tapi tawa Reinzie masih terasa getir.
Sementara itu, di kediaman Kenzie, sang kakak tengah menatap langit dari balkon kamarnya. Ia memegang pedang kayu yang sudah mulai usang, pedang yang ia dan Reinzie gunakan saat mereka kecil. Bayangan pertarungan pagi tadi masih terngiang dalam kepalanya, tapi lebih dari itu... kata-kata ayahnya terus mengganggu pikirannya.
"Karena ayah kedepannya tidak bisa lagi menjadi pelindung kalian..."
Kenzie menatap langit senja dan bergumam: "Ayahanda telah memberikan kepercayaan kepada ku.. sesuatu yang mungkin tidak bisa ku lakukan!."
Ia menoleh ke arah taman, dan melihat sosok adiknya duduk bersama gadis berambut biru mudah di bawah pohon sakura. Pemandangan itu sedikit membuat dadanya tenang, namun juga menorehkan sebuah tekad baru dalam benaknya.
“Aku harus menjadi kuat… bukan hanya untuk diriku, tapi untuk Rein… dan untuk semua yang kusayangi.”
Walaupun ada sedikit perasaan aneh di dalam dirinya namun Kenzie tak perna memiliki perasaan iri pada adiknya, walaupun adiknya seseorang yang berbakat dan dianggap jenius mudah di generasinya.. ia tetap berusaha untuk menjadi kuat agar bisa menjadi orang yang bisa diandalkan.
Malam pun jatuh perlahan, menyelimuti istana dengan cahaya bulan yang lembut. Para penjaga mulai berpatroli, para pelayan menyiapkan lentera di sepanjang lorong, dan dari ruang meditasi yang sunyi, terdengar suara napas pelan Kenzie yang tengah mulai latihan malamnya. Ia mengayunkan pedangnya dengan lambat namun penuh ambisi yang kuat, mengikuti jurus dasar yang telah ia latih ribuan kali. Keringat mengalir, tapi ia tak berhenti.
Di sisi lain istana, Reinzie duduk termenung di balkon kamarnya. Ia menatap bintang-bintang di langit malam dan berbisik sendiri.
“Kak Kenzie… aku ingin kau tahu, meski aku iri… aku juga ingin kau tetap ada di sisiku.”
Namun jauh dari pengetahuan kedua pangeran itu, di puncak menara pengamat langit, seorang tetua istana memandangi langit dengan mata khawatir.
“Arah angin telah berubah… dan bintang utara bergerak lebih cepat dari biasanya…” gumamnya. Ia menggulung gulungan peta bintang dan menatap simbol Kaisar yang terukir di dinding.
“Takdir Kekaisaran Laurent… akan segera diuji.”