Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Konfrontasi Sang Penguasa (2)
"Satu gerakan bodoh lagi, dan jarum ini akan mengirimmu ke neraka dalam hitungan detik," bisik Meilin dingin di dekat telinga Long Feng.
Long Feng tertegun. Kecepatan gerakan wanita ini tidak didasari oleh kekuatan dalam (Qi), melainkan murni teknik pertempuran jarak dekat yang sangat efisien, mematikan, dan belum pernah ia lihat di seluruh daratan Dinasti Long. Aroma harum tubuh wanita itu bercampur dengan aroma herbal kering merasuk ke indra penciumannya, menciptakan kontras yang aneh dengan situasi mematikan ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kaisar Long Feng merasa sangat tertarik pada seorang wanita. Bukan karena kecantikannya, melainkan karena bahaya yang dipancarkannya.
"Teknik yang menarik," ujar Long Feng, suaranya tidak lagi penuh amarah, melainkan dipenuhi rasa penasaran yang mendalam. Ia tetap tenang meski jarum beracun menempel di lehernya. "Kau bukan wanita biasa. Siapa kau sebenarnya? Mengapa wanita dengan kemampuan sepertimu berada di tempat terpencil seperti ini?"
Meilin perlahan menarik kembali jarum peraknya, menyadari bahwa pria di depannya ini tidak lagi berniat menyerang secara membabi buta. Ia melangkah mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak aman.
"Aku adalah pemilik tempat ini. Dan kau adalah penyusup yang tidak diundang," jawab Meilin sambil merapikan jubah tidurnya yang sedikit berantakan. "Sekarang setelah racunmu dibersihkan, kau bisa pergi dari sini lewat tembok belakang yang runtuh. Aku tidak ingin ada masalah di tempat kediamanku."
Long Feng berdiri perlahan, memijat pergelangan tangannya yang tadi sempat dibuat baal oleh Meilin. Kekuatan dalamnya dengan cepat memulihkan aliran darah di titik saraf tersebut. Ia menatap sekeliling ruangan bawah tanah yang berdebu ini, lalu menatap wajah Meilin di bawah temaram cahaya obor tembok.
Wajah itu... Long Feng merasa tidak asing, namun ingatan di kepalanya terasa sangat samar. Sebagai seorang kaisar yang mengurusi ribuan urusan negara dan perang, ia hampir tidak pernah memperhatikan wajah para wanita di harem belakangnya, terutama wanita yang dibuang karena masalah sepele.
"Tempat kediamanmu?" Long Feng berjalan mendekati tangga kayu, menatap ke arah langit-langit. "Atap yang bocor, kayu yang lapuk, dan bau kemiskinan... ini adalah Istana Dingin."
Matanya kembali mengunci sosok Meilin dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jiwa. "Jadi, kau adalah salah satu wanita yang dibuang oleh Kaisar?"
"Kaisar yang kau maksud adalah pria bodoh yang tidak tahu cara membedakan batu kerikil dan permata," balas Meilin dengan nada ejekan yang sangat jelas. "Dia membuang permaisurinya sendiri hanya karena hasutan murah dari seorang selir licik. Pria seperti itu tidak lebih dari pion yang matanya ditutupi oleh kain sutra."
Deg.
Hati Long Feng bergetar hebat. Berani-beraninya wanita ini mengatai Kaisar—dirinya sendiri—sebagai 'pria bodoh' dan 'pion'? Di luar sana, siapa pun yang mengucapkan kata-kata penghinaan seperti itu akan langsung dipenggal kepalanya beserta sembilan generasi keluarganya. Namun, di tempat kotor ini, wanita di depannya mengucapkannya dengan ekspresi santai seolah sedang membicarakan cuaca buruk.
Bukannya marah, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terlihat justru muncul di sudut bibir tampan Long Feng. Rasa penasarannya kini berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya. Wanita ini tidak tahu siapa dirinya, dan itu membuat interaksi ini menjadi sangat murni tanpa ada kepura-puraan politik.
"Jika Kaisar mendengarmu, kepalamu akan terpisah dari lehermu," ujar Long Feng dengan nada memperingatkan yang setengah bercanda.
"Dia harus bisa menemukanku di sini terlebih dahulu," jawab Meilin acuh tak acuh. Ia kemudian melemparkan sebuah bungkusan kain berisi beberapa potong roti kering dan obat herbal kering ke arah dada Long Feng. Pria itu menangkapnya dengan refleks yang cepat.
"Makan itu dan pergilah sebelum pelayanku datang. Dan satu hal lagi," Meilin menatap mata Long Feng dengan tatapan penuh peringatan, "jika kau kembali lagi ke tempat ini dalam keadaan terluka dan mengotori lantaiku, aku sendiri yang akan memastikan racunmu tidak akan pernah mendapat penawar."
Long Feng menatap bungkusan di tangannya, lalu menatap kembali ke arah Meilin yang sudah berbalik memunggunginya untuk membersihkan pecahan mangkuk di lantai.
"Siapa namamu?" tanya Long Feng sebelum ia melesat pergi.
Meilin tidak menoleh. "Lin Meilin."
Long Feng tertegun sejenak mendengar nama itu. Lin Meilin? Permaisuri dari keluarga Jenderal Lin yang penakut itu? Nama itu sama, tetapi wanita yang berdiri di depannya ini sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan laporan yang ia terima tentang Permaisuri Lin yang selalu menangis memohon ampunan.
Tanpa mengucapkan kata lain, tubuh tinggi Long Feng bergerak secepat bayangan, melesat keluar dari ruang bawah tanah dan menghilang di balik kegelapan fajar istana belakang.
Meilin menghentikan gerakannya setelah memastikan pria itu benar-benar pergi. Ia menatap ke arah tangga dengan pandangan penuh perhitungan. Pria itu memiliki aura seorang penguasa mutlak. Cedera yang didapatnya pasti berkaitan dengan perebutan kekuasaan tingkat tinggi di istana ini.
Sebuah rencana baru mulai terbentuk di kepala cerdas sang agen rahasia. Jika ia bisa memanfaatkan pria misterius ini sebagai bidak catur dalam rencana balas dendamnya terhadap Selir Hua, maka perjalanannya keluar dari Istana Dingin ini akan jauh lebih cepat dari dugaan semula.
Dua hari setelah kepergian pria misterius itu, atmosfer di Istana Dingin mendadak berubah menjadi sangat tegang. Kai Mun dan Pelayan Liu datang ke paviliun utama dengan tubuh gemetar hebat dan wajah sepucat kertas. Mereka berlutut di depan Lin Meilin yang sedang menikmati teh krisan liar buatannya sendiri di tepi jendela.
"P-Permaisuri... celaka," bisik Pelayan Liu dengan suara yang hampir habis karena ketakutan. "Pelayan Cui Er... pelayan pribadi Selir Agung Hua, saat ini sedang berjalan menuju Istana Dingin bersama empat pengawal bersenjata. Dia ingin memeriksa langsung mengapa Anda... mengapa Anda belum juga mati."
Xiao Cui yang berdiri di samping Meilin langsung menjatuhkan kain lap yang dipegangnya. Wajah pelayan muda itu dipenuhi ketakutan. "Permaisuri! Apa yang harus kita lakukan? Jika Selir Hua tahu Anda selamat dari racun itu, dia pasti akan mencari cara lain yang lebih kejam untuk membunuh kita!"
Berbeda dengan kedua pelayan tua dan Xiao Cui yang panik, Meilin justru meletakkan cangkir tehnya dengan sangat tenang. Gerakannya begitu anggun, seolah kedatangan musuh besarnya hanyalah kunjungan tamu minum teh biasa. Sepasang mata elangnya berkilat dingin, memancarkan aura predator yang siap menerkam mangsa.
"Kenapa kalian takut?" Meilin bertanya, nadanya sangat datar namun dingin. "Bukankah ini yang kita tunggu? Ular itu akhirnya keluar dari sarangnya karena tidak sabar."
Meilin berdiri, merapikan jubah sutra pudar yang ia kenakan. Meskipun pakaiannya sederhana, postur tubuhnya yang tegak dan tatapan matanya yang tajam memberikan tekanan mental yang luar biasa bagi siapa pun yang melihatnya.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉