Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Umpan untuk Sang Tikus
Langkah kaki Nadia terasa jauh lebih ringan saat melangkah keluar dari gedung Reynald Group. Aliansi bisnis yang baru saja ia jalin dengan Reynald adalah tameng terbaiknya untuk saat ini. Setidaknya, sang pembunuh misterius tidak akan bisa bergerak gegabah jika mengetahui bahwa Chelsea berada di bawah perlindungan langsung dari pria paling berkuasa di kota ini.
Namun, Nadia tahu bahwa bertahan saja tidak cukup. Ia harus menyerang balik.
Begitu tiba kembali di mansion keluarga Latief, Nadia langsung memanggil seluruh pelayan inti yang memiliki akses ke lantai dua, terutama mereka yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman untuknya. Pertemuan itu diadakan di aula tengah yang megah, di bawah pendar lampu kristal yang mewah namun terasa dingin.
Nadia duduk di sofa tunggal berbahan beludru hitam, melipat kakinya dengan anggun sembari menatap tajam ke arah lima pelayan yang berdiri berbaris di hadapannya dengan kepala tertunduk. Di antara mereka, ada pelayan senior, juru masak, dan kepala pelayan mansion bernama Pak Haris.
"Saya mengumpulkan kalian di sini karena ada satu pengumuman penting," ucap Nadia, memecah keheningan ruangan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan penekanan.
Pak Haris, pria paruh baya yang telah bekerja belasan tahun di rumah itu, mendongak sedikit. "Ada yang bisa kami bantu, Nona Muda? Apakah ada pelayanan kami yang kurang memuaskan setelah Anda kembali dari rumah sakit?"
Nadia mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. "Tidak, justru pelayanan kalian terlalu... mengesankan. Terutama malam sebelum saya tidak sadarkan diri."
Mendengar kalimat itu, Nadia memperhatikan dengan seksama bahasa tubuh setiap orang di depannya. Matanya yang jeli menangkap sedikit kedutan di bahu seorang pelayan muda bernama Sita, yang bertugas mengantarkan susu hangat ke kamarnya malam itu.
Nadia mendeham pelan sebelum melanjutkan, "Mulai hari ini, Tuan Reynald telah memperketat pengamanan untuk saya. Atas perintahnya, semua makanan, minuman, bahkan obat-obatan yang masuk ke kamar saya harus diperiksa dan dicatat oleh tim medis pribadi yang dikirim langsung dari perusahaannya. Jika terjadi sesuatu yang ganjil pada kesehatan saya, Tuan Reynald sendiri yang akan turun tangan membawa polisi ke rumah ini."
Nadia sengaja membawa-bawa nama Reynald sebagai gertakan. Dan umpan itu bekerja dengan sempurna. Wajah Sita seketika memucat, dan jemarinya tampak saling meremas dengan gelisah di balik celemeknya.
"Kalian mengerti maksud saya, kan?" tanya Nadia dengan nada manis yang terdengar mengancam.
"K-kami mengerti, Nona Muda," jawab Pak Haris mewakili para pelayan, meskipun dahinya tampak sedikit berkerut heran dengan perubahan sikap Chelsea yang mendadak begitu tegas dan penuh perhitungan.
"Bagus. Kalian boleh kembali bekerja. Kecuali kamu, Sita. Tetap di sini," perintah Nadia dingin.
Satu per satu pelayan membubarkan diri dengan tergesa-gesa, menyisakan Sita yang kini berdiri gemetar sendirian di tengah aula. Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan mengintimidasi bagi pelayan muda tersebut.
Nadia bangkit dari sofanya, melangkah perlahan mendekati Sita. Suara ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur yang menegangkan bagi Sita. Nadia berhenti tepat di hadapan gadis itu, lalu membungkuk sedikit untuk menyamakan tinggi mereka.
"Sita," bisik Nadia lembut, namun matanya menatap tajam seperti pisau yang siap menguliti kebohongan. "Malam itu, siapa yang menyuruhmu mengantarkan susu hangat ke kamarku? Dan apa yang kamu masukkan ke dalamnya?"
"N-Nona Muda... saya tidak mengerti apa maksud Anda," suara Sita bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena ketakutan. "Saya hanya membuat susu seperti biasa atas perintah... perintah..." Sita mendadak menghentikan kalimatnya, ketakutan yang lebih besar tampaknya menahan lidahnya untuk berbicara.
"Perintah siapa, Sita? Katakan padaku, dan aku berjanji Tuan Reynald tidak akan menjebloskanmu ke penjara seumur hidup," desak Nadia, menekan psikologis gadis itu dengan memanfaatkan nama Reynald sekali lagi.
Sebelum Sita sempat menjawab, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk aula.
"Chelsea! Apa-apaan ini? Baru saja pulang dari rumah sakit, kamu sudah membuat keributan dan menuduh pelayan rumahmu sendiri?"
Nadia menegakkan tubuhnya kembali, berbalik ke arah sumber suara. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian bermerek mahal berjalan masuk dengan wajah yang dipenuhi kilat amarah. Dialah Hendra Latief, paman tiri Chelsea yang selama ini ikut mengelola sebagian kecil aset yayasan keluarga Latief sejak ayah Chelsea tiada.
Di belakang Hendra, tampak seorang gadis sebaya Chelsea yang berpakaian modis— keysha, sepupu tiri Chelsea yang selalu iri dengan status Chelsea sebagai pewaris tunggal.
Nadia menyipitkan matanya melihat kedatangan kedua orang itu. Melalui memori Chelsea, ia tahu bahwa Hendra selalu bersikap manis di depan kamera namun diam-diam sering memanfaatkan uang tunjangan Chelsea untuk menutupi utang judinya.
"Paman Hendra," sapa Nadia datar, tanpa ada nada rasa hormat sedikit pun. "Saya tidak membuat keributan. Saya hanya sedang menginterogasi pelayan yang hampir saja mengirim keponakanmu ini ke liang kubur."
Hendra tertegun sejenak melihat tatapan mata Chelsea yang begitu dingin dan menusuk, sangat berbeda dengan keponakannya yang biasanya manja dan mudah dibodohi. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.
"Jangan bicara sembarangan, Chelsea! Kamu overdosis karena depresi soal pertunanganmu dengan Reynald, jangan melimpahkan kesalahanmu pada orang lain!" bentak Hendra, sementara matanya sempat melirik sekilas ke arah Sita yang masih menangis. Isyarat lirikan mata itu tidak luput dari pengamatan Nadia.
Ah, jadi tikus besarnya sudah mulai menampakkan diri, batin Nadia dengan senyuman sinis yang tersembunyi.
"Oh, benarkah begitu, Paman?" Nadia berjalan mendekati meja, mengambil ponselnya dengan santai. "Kalau begitu, mari kita biarkan tim forensik dan pihak kepolisian yang menangani sisa serbuk racun yang saya temukan di laci meja rias saya. Kebetulan, Reynald baru saja mengatakan dia sangat tertarik untuk menyelidiki kasus ini sampai tuntas."
Mendengar kata 'serbuk racun' dan 'Reynald', ekspresi wajah Hendra langsung berubah drastis selama sepersekian detik sebelum kembali mengeras. "Cukup, Chelsea! Paman tidak ingin mendengar khayalanmu lagi. Keysha, bawa sepupumu masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dia sepertinya masih belum sehat benar setelah koma."
Keysha melangkah maju dengan senyum sinis yang dipaksakan. "Ayo, Kak Chelsea. Jangan membuat Paman marah. Lebih baik Kakak istirahat saja di kamar," ucap Keysha sembari mencoba meraih lengan Nadia.
Namun, sebelum tangan Keysha sempat menyentuhnya, Nadia menepisnya dengan kasar hingga Keysha terhuyung mundur.
Nadia menatap Hendra dan Keysha bergantian dengan pandangan penuh permusuhan yang terang-terangan. "Tidak perlu repot-repot. Mulai hari ini, tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menginjakkan kaki di lantai dua tanpa izin tertulis dari saya. Rumah ini adalah milik ayah saya, dan saya adalah pemilik sah tempat ini. Ingat itu baik-baik, Paman."
Tanpa menunggu jawaban dari pamannya yang kini mematung menahan amarah yang meledak-ledak, Nadia membalikkan tubuhnya dengan anggun dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Permainan di dalam mansion Latief kini telah resmi dimulai, dan Nadia baru saja mendeklarasikan perang terbuka terhadap mereka yang menginginkan kematiannya.