NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Senjata Makan Tuan

Pagi hari di kawasan elite Menteng biasanya tenang, namun tidak dengan hari ini. Kediaman megah keluarga Alexander mendadak dikerumuni oleh tiga mobil hitam berlogo Direktorat Jenderal Pajak dan dikawal ketat oleh beberapa petugas kepolisian.

Rencana Gisella untuk menikmati secangkir kopi sembari melihat hancurnya reputasi Chelsea di media sosial seketika buyar saat pintu gerbang rumahnya diketuk paksa.

Di ruang tengah, Tuan Pramoedya Alexander—ayah Gisella—berdiri dengan wajah pucat pasi menghadapi surat perintah penyidikan dan penggeledahan atas dugaan penggelapan pajak serta pencucian uang luar negeri.

"Ini tidak mungkin! Keluarga kami selalu tertib administrasi! Siapa yang berani memfitnah kami?!" bentak Pramoedya, mencoba menggertak petugas dengan nama besarnya.

Sang ketua tim penyidik hanya menatapnya dengan pandangan datar. "Surat ini diterbitkan langsung berdasarkan bukti mutlak aliran dana fiktif dari Alexander Group ke beberapa bank cangkang di Swiss. Berkas ini diserahkan oleh pihak Kejaksaan Agung kemarin sore, Tuan Alexander. Mohon kooperatif."

Gisella yang baru saja turun dari tangga dengan gaun rumahannya seketika mematung. Ponsel di tangannya bergetar hebat. Saat ia membuka portal berita daring, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Tagar tentang skandal Chelsea Latief yang ia danai semalam telah lenyap tak bersisa dari daftar tren. Gantinya, sebuah berita penangkapan berskala besar menduduki posisi pertama:

BREAKING NEWS: Alexander Group Terindikasi Gelapkan Pajak 300 Miliar Rupiah, Petugas Gabungan Geledah Kediaman Pramoedya Alexander Pagi Ini!

Wartawan dari berbagai media—termasuk media yang awalnya disewa Gisella untuk menyerang Chelsea—kini justru berbalik arah, berkumpul di depan pagar rumahnya untuk menyiarkan secara langsung kejatuhan keluarga Alexander.

Sementara itu, di lantai teratas gedung Kirana-Latief Group, suasana justru terlampau tenang. Chelsea duduk di kursi kerjanya sembari menyaksikan siaran langsung penggeledahan rumah keluarga Alexander melalui layar televisi besar di dinding.

Tok, tok, tok.

Adrian melangkah masuk dengan senyuman lebar yang tidak bisa disembunyikan. "Nona Chelsea, efek dominonya luar biasa. Saham Alexander Group langsung anjlok lima belas persen dalam satu jam pertama pembukaan pasar saham pagi ini. Investor panik karena kasus ini melibatkan pembekuan aset operasional mereka."

Chelsea memutar gelas tehnya perlahan. "Gisella mengira media bisa dikendalikan hanya dengan uang. Dia lupa bahwa di dunia bisnis modern, data yang valid jauh lebih berkuasa daripada opini yang digiring."

Pintu ruang kerja Chelsea mendadak terbuka kembali. Reynald melangkah masuk dengan jubah wibawa yang pekat. Alih-alih terlihat marah seperti kemarin, sepasang mata elang pria itu kini memancarkan binar kepuasan yang teramat dalam. Ia berjalan mendekati meja Chelsea, lalu meletakkan sebuah dokumen kerja sama baru di atas meja marmer tersebut.

"Tuan Alexander baru saja menghubungiku melalui pengacara pribadinya sepuluh menit yang lalu," ucap Reynald, suara baritonnya terdengar berat dan sarat akan kemenangan. "Dia memohon agar Reynald Group menyuntikkan dana darurat untuk menyelamatkan saham mereka yang terjun bebas."

Chelsea menaikkan sebelah alisnya, menatap Reynald dengan senyuman miring. "Dan apa jawaban Anda, Tuan Tunangan?"

Reynald mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang kedua tangannya di atas meja kerja Chelsea hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Aku katakan pada mereka bahwa seluruh keputusan investasi Reynald Group saat ini harus melewati persetujuan tertulis dari Direktur Utama Kirana-Latief Group. Dengan kata lain... nasib hidup dan mati keluarga Alexander sekarang berada di bawah jemari lentikmu, Chelsea."

Chelsea terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang terdengar sangat seksi namun mematikan. Ia mengambil dokumen itu, lalu melemparkannya ke dalam mesin penghancur kertas di samping mejanya tanpa ragu sedikit pun.

Sreeet... sreeet...

Kertas dokumen itu seketika berubah menjadi potongan-potongan kecil yang tidak berharga.

"Aku tidak suka memelihara ular yang sudah mencoba menggigitku, Reynald," ucap Chelsea dingin sembari menatap potongan kertas tersebut. "Biarkan mereka hancur sampai ke akar-akarnya."

Reynald menarik dagu Chelsea dengan lembut, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang dipenuhi obsesi kepemilikan. "Jawaban yang sangat kejam. Dan itulah mengapa aku tidak akan pernah melepaskanmu, Chelsea Latief."

Sore harinya, sebuah mobil sedan hitam berhenti di lobi bawah gedung kantor Chelsea. Gisella Alexander melangkah keluar dengan kacamata hitam besar yang mencoba menyembunyikan matanya yang sembap. Tidak ada lagi keangkuhan bangsawan lama yang ia pamerkan di gala semalam. Yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang wanita yang dunianya baru saja runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Ia memaksa masuk ke dalam lift khusus direksi, mengabaikan teguran dari petugas keamanan, demi bisa menemui wanita yang selama ini ia remehkan.

Begitu pintu ruang kerja Chelsea terbuka, Gisella langsung melangkah masuk dengan napas memburu. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Chelsea yang sedang duduk dengan tenang membaca laporan berkas kerja sama Singapura.

"Chelsea Latief!" suara Gisella bergetar menahan amarah sekaligus kehancuran. "Kau yang melakukan semua ini, bukan?! Kau yang menyerahkan berkas-berkas itu ke Kejaksaan!"

Chelsea tidak langsung mendongak. Ia membalik halaman berkasnya secara perlahan, sengaja membiarkan keheningan yang menyiksa menguasai ruangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya menatap Gisella dengan pandangan sedingin es.

"Nona Gisella," sapa Chelsea dengan nada terlampau tenang. "Datang ke ruangan seorang direktur tanpa janji temu... sepertinya London tidak mengajarimu tata krama bisnis yang baik."

"Jangan berlagak bodoh!" teriak Gisella, air matanya mulai menetes. "Keluargaku hancur karena berkas itu! Apa salahku padamu sampai kau tega menghancurkan reputasi ayahku?!"

Chelsea berdiri dari kursinya, berjalan lambat-lambat memutari meja kerjanya hingga berdiri tepat dua langkah di depan Gisella. Aura intimidasi yang dikeluarkan Chelsea membuat Gisella secara tidak sadar melangkah mundur karena ketakutan.

"Salahmu?" Chelsea tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Gisella meremang. "Salahmu adalah karena kamu terlalu bodoh untuk menyadari dengan siapa kamu sedang bermain, Gisella. Kamu mengira bisa menginjak-injak namaku menggunakan media humas hitammu semalam? Ketahuilah... peluru opini yang kamu lepaskan semalam, baru saja berbalik arah dan menembus jantung perusahaannmu sendiri. Selamat menikmati kehancuranmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!