NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 4

​Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden kamar tidak mampu mengusir rasa dingin yang telanjur membeku di dada Siska. Semalam dia hampir tidak memejamkan mata sama sekali. Setiap kali dia mencoba menutup mata, bayangan dua titik cahaya merah di bawah boks bayi dan bisikan aneh Mbak Selfi selalu kembali terngiang-ngiang di kepalanya.

​Dengan langkah lemah dan wajah yang sangat lelah, Siska turun ke lantai bawah. Dia berharap kejadian semalam hanyalah mimpi buruk akibat dia terlalu banyak melamun karena kelelahan setelah pindahan.

​Namun, begitu sampai di ruang tengah, dia melihat Ferdi sedang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan. Sementara Selfi duduk di sofa sambil mengelus perut buncitnya dengan ekspresi yang jauh lebih tenang, seolah-olah tidak terjadi apa pun semalam.

​"Pagi, Siska. Kok mukanya lesu banget? Kurang tidur ya?" tanya Ferdi ramah sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat di atas meja.

​Siska berusaha tersenyum alami, menyembunyikan badai di dalam kepalanya. "Iya, Mas. Agak susah nyenyak semalam. Mungkin masih penyesuaian sama kasur baru."

​Siska kemudian melirik ke arah Selfi. Kakak iparnya itu memakai daster kuning cerah. Tangan kanannya kini disembunyikan di bawah lipatan kain handuk kecil yang diletakkan di atas pangkuannya.

​"Mbak Selfi merasa enakan pagi ini?" tanya Siska hati-hati, mencoba memancing reaksi.

​Selfi menoleh, matanya terlihat agak sayu namun senyumnya tetap terkembang. "Alhamdulillah enakan, Sis. Cuma ini, perut Mbak dari subuh tadi rasanya agak melilit. Tapi hilang timbul, kok. Kata bidan kemarin, mungkin itu cuma kontraksi palsu karena sudah dekat bulannya."

​Mendengar hal itu, Ferdi langsung mendekat dengan wajah cemas. Dia berlutut di depan istrinya dan memegangi tangan kiri Selfi. "Beneran nggak apa-apa, Sel? Apa kita ke rumah sakit sekarang saja? Mas bisa izin kerja hari ini kalau kamu merasa nggak nyaman."

​Selfi terkekeh pelan, mengusap pipi suaminya dengan tangan kiri. "Nggak usah berlebihan, Mas. Mas kerja saja dulu. Kan hari senin besok Mas sudah mulai cuti total. Di rumah juga ada Siska yang nemenin aku."

​Ferdi mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan hatinya sendiri. "Ya sudah. Tapi kalau melilitnya makin sering dan makin sakit, kamu harus langsung kabari Mas, ya."

​Setelah menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru, Ferdi berpamitan. Siska mengantar kakaknya sampai ke depan pagar rumah. Saat Ferdi sedang memanaskan mesin sepeda motornya, pintu rumah sebelah terbuka.

​Pak Cahyo keluar dari rumahnya. Pria paruh baya itu mengenakan pakaian rapi, sepertinya hendak pergi ke pasar atau warung depan lorong. Dia menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Ferdi dan Siska.

​"Mau berangkat kerja, Mas?" sapa Pak Cahyo dengan suara seraknya yang khas, menyapa sewajarnya seperti tetangga pada umumnya.

​"Iya, Pak Cahyo. Mari, Pak, duluan," jawab Ferdi sopan sambil mengenakan helmnya.

​Pak Cahyo hanya mengangguk pelan tanpa senyuman, lalu berjalan melewati pagar halaman mereka dengan langkah santai. Matanya sempat melirik ke arah Siska selama satu atau dua detik—tatapan datar yang kaku khas bapak-bapak pendiam—sebelum akhirnya dia berjalan terus menuju ujung gang. Tidak ada bisikan misterius, tidak ada peringatan apa pun dari mulutnya. Sikap diam Pak Cahyo justru membuat Siska merasa semakin terisolasi dalam ketakutannya sendiri.

​Setelah Ferdi benar-benar hilang dari pandangan, Siska kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan rapat-rapat. Dia memutuskan untuk tidak membiarkan Selfi lepas dari pandangannya hari ini. Sepanjang siang, Siska terus menemani Selfi di ruang tengah. Mereka menonton televisi bersama, meskipun pikiran Siska sama sekali tidak tertuju pada layar kaca di depannya.

​Keanehan demi keanehan kecil mulai terlihat lagi pada diri Selfi. Setiap satu jam sekali, Selfi selalu mengusap-usap sesuatu di balik handuk kecil yang menutupi tangan kanannya. Siska juga menyadari bahwa setiap kali Selfi berbicara, gerakan tubuhnya terasa agak lambat, seolah-olah wanita hamil itu sedang menahan rasa sakit atau pikirannya sedang melayang ke tempat lain.

​Pukul dua siang, cuaca yang tadinya terik mendadak berubah menjadi mendung gelap. Angin kencang mulai bertiup dari arah luar, membuat dahan-dahan pohon di sekitar rumah bergoyang hebat. Suasana di dalam ruang tengah berubah menjadi remang-remang karena cahaya matahari terhalang awan hitam yang tebal.

​Tiba-tiba, Selfi merintih pelan. Wadah air minum plastik yang sedang dipegangnya terlepas dari tangan kiri dan jatuh ke lantai, menumpahkan isinya ke atas karpet.

​"Aduhh..." Selfi memegangi perut bagian bawahnya dengan kedua tangan. Wajahnya seketika dibanjiri keringat dingin, dan bibirnya memucat dalam sekejap.

​Siska langsung panik. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai di samping kakak iparnya. "Mbak? Mbak Selfi kenapa? Sakit lagi perutnya?"

​"Sis... ini... ini beda, Sis. Sakit banget... rasanya seperti diremas-remas dari dalam," rintih Selfi dengan suara terputus-putus. Kain daster bagian bawahnya mulai terlihat basah oleh aliran cairan bening yang keluar deras, merembes hingga ke lantai. Air ketubannya telah pecah.

​"Mbak Selfi mau melahirkan sekarang! Sebentar, Mbak, Siska telepon Mas Ferdi dulu!" kata Siska dengan tangan yang gemetar hebat saat meraba kantong celananya untuk mengambil ponsel.

​Namun, belum sempat Siska menekan tombol panggil pada nomor kakaknya, sebuah suara ketukan yang sangat keras mendadak terdengar dari arah pintu depan.

​TOK! TOK! TOK!

​Ketukan itu begitu kuat dan beruntun, hingga membuat daun pintu kayu yang kokoh itu bergetar hebat. Siska terlonjak kaget di tempatnya duduk. Siapa yang datang mengetuk sekeras itu di tengah cuaca buruk dan situasi darurat seperti ini? Apakah Mas Ferdi punya firasat buruk lalu memutuskan pulang cepat?

​"Sebentar, Mbak! Siska buka pintu dulu!"

​Siska berlari setengah berteriak menuju pintu depan dengan harapan besar mendapatkan pertolongan. Tangannya yang basah oleh keringat dingin mencengkeram grendel pintu, lalu membukanya lebar-lebar.

​Namun, begitu pintu terbuka, halaman depan rumah mereka kosong melompong.

​Tidak ada sepeda motor Ferdi, tidak ada Pak Cahyo, tidak ada siapa pun di sana. Pagar besi depan pun masih tertutup rapat. Hanya ada embusan angin kencang yang menusuk kulit, membawa bau anyir yang sangat busuk—bau tengik yang persis sama dengan bau yang tercium Siska dari arah bawah boks bayi semalam.

​Saat Siska berdiri terpaku di ambang pintu dengan perasaan bingung bercampur bulu kuduk yang meremang, dari arah ruang tengah di belakangnya, terdengar jeritan histeris Selfi yang membelah keheningan rumah.

​"SISKAAA!!! TOLONGGG!!!"

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!