NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOGIKA BISNIS SANG RATU

Target lima ratus juta rupiah dalam waktu tiga hari bagi anak SMA biasa adalah sebuah kemustahilan. Bagi faksi Reza, ini adalah cara paling bersih untuk mendepak Rina dari jajaran petinggi sekolah. Namun, di dalam ruang baca khusus OSIS sore itu, Rina justru menatap layar laptop Andi dengan ekspresi sedingin es. Di dalam otak dewasanya, angka lima ratus juta itu terlalu kecil untuk ukuran sebuah pergerakan strategis.

"Rin, ini gila," Andi berbisik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kacamata tebalnya hampir melorot saat dia melihat draf proposal yang baru saja diketik Rina. "Lo nggak mau masukin proposal ini ke perusahaan properti atau bank konvensional? Kenapa kita malah sasar Go-Venture? Mereka kan perusahaan rintisan teknologi yang baru dua tahun berdiri di Indonesia." [2, 10]

"Karena perusahaan konvensional akan melihat kita sebagai anak SMA yang sedang mengemis sumbangan, Andi," jawab Rina, suaranya terdengar sangat jernih dan berwibawa. "Sedangkan perusahaan rintisan teknologi di tahun 2016 sedang mengalami fase ekspansi agresif. Mereka punya dana jutaan dolar dari modal ventura yang harus segera dibakar untuk merebut pasar. Dan target pasar terbesar mereka yang paling organik saat ini adalah remaja usia sekolah menengah."

Rina mengetuk layar laptop, menampilkan analisis algoritma sederhana. "Mereka butuh data pengguna baru, dan kita memegang kunci akses ke seribu lima ratus siswa paling elite di Jakarta yang memiliki daya beli tertinggi. Ini bukan proposal permohonan sponsor, Andi. Ini adalah draf kemitraan akuisisi pasar."

Menggunakan ingatan masa depannya, Rina tahu persis bahwa pada kuartal kedua tahun 2016, Go-Venture sedang gencar meluncurkan fitur dompet digital baru mereka. Mereka butuh ekosistem sekolah elite sebagai proyek percontohan (pilot project) untuk memicu tren cashless di kalangan anak muda. Rina telah merancang sistem di mana seluruh transaksi kompetisi nasional nanti wajib menggunakan aplikasi mereka.

"Devan, bagaimana dengan proyeksi efisiensi modal yang aku minta?" Rina menoleh ke arah Devan yang duduk di ujung meja dengan tumpukan kertas kalkulasi finansial.

Devan mendongak, memberikan seulas senyuman tipis yang sangat langka di wajah introvertnya. "Selesai, Ketua. Jika Go-Venture menyetujui kontrak ini, mereka akan mendapatkan pertumbuhan pengguna aktif harian sebesar tiga ratus persen di wilayah Jakarta Selatan dalam waktu satu minggu. Nilai eksposur merek mereka setara dengan investasi iklan luar ruang senilai satu miliar rupiah. Kamu tidak cuma meminta uang, kamu sedang menjual keuntungan nyata pada mereka."

"Kerja bagus," desis Rina, matanya berkilat tajam. "Andi, cetak dokumen ini dengan format korporat. Besok siang, kita akan mendatangi kantor pusat mereka di kawasan SCBD."

------------------------------

Selasa siang, sebuah taksi reguler berhenti di depan menara pencakar langit yang megah di kawasan pusat bisnis Sudirman. Rina melangkah turun dengan setelan seragam Harapan Elite yang terpasang sangat rapi dan pas di tubuh proporsionalnya. Dia tidak membawa tas sekolah biasa, melainkan sebuah tas jinjing kulit minimalis yang berisi draf proposal hitam mereka. Di belakangnya, Andi berjalan dengan langkah gugup, memeluk laptopnya seolah benda itu adalah pelindung nyawanya.

Gedung kantor pusat Go-Venture memancarkan aura modernitas yang pekat—dinding kaca transparan, ruang terbuka dengan sofa-sofa penuh warna, dan lalu lalang para pekerja muda berkaos santai yang bergerak dengan ritme cepat.

"Maaf, Dek, kalau belum ada janji temu dengan pihak manajemen atau divisi marketing, proposalnya bisa dititipkan di meja resepsionis saja ya," ucap seorang resepsionis wanita dengan senyum formal yang ramah namun jelas bermaksud menolak secara halus.

Andi sudah mulai panik dan hendak menarik lengan seragam Rina untuk pulang. Namun, Rina tetap berdiri kokoh. Dia menatap mata resepsionis itu dengan pandangan yang sangat tenang, memancarkan karisma aristokrat yang membuat wanita di depannya mendadak merasa segan.

"Tolong hubungi sekretaris Pak kusuma, Direktur Pemasaran Regional," ucap Rina, suaranya rendah namun memiliki nada otoritas yang mutlak. "Katakan padanya bahwa perwakilan dari Komite Pengawas Harapan Elite membawa draf analisis konversi pengguna aktif harian untuk wilayah Jakarta Selatan sebesar tiga ratus persen. Saya beri waktu tiga menit. Jika beliau menolak, saya akan membawa data akuisisi pasar ini langsung ke kantor kompetitor mereka di seberang jalan."

Mendengar istilah "konversi pengguna aktif harian" dan nama kompetitor disebut dengan begitu dingin oleh seorang siswi SMA yang sangat cantik dan berwibawa, resepsionis itu menelan ludah dengan susah payah. Dia sadar gadis di depannya ini bukan anak sekolahan biasa yang sedang mencari dana pensi. Dengan tangan agak gemetar, dia langsung menekan tombol interkom teleponnya.

Kurang dari dua menit kemudian, seorang wanita muda dengan pakaian kerja modis berlari kecil menghampiri mereka. "Mari ikut saya, Dek Rina. Pak Kusuma sedang ada waktu luang sepuluh menit di ruang rapat utama."

------------------------------

Ruang rapat utama itu berdinding kaca tebal, menampilkan pemandangan jalanan Jakarta dari ketinggian lantai dua puluh lima. Di balik meja kaca panjang, duduk Kusuma, seorang pria berusia awal tiga puluh tahun dengan kemeja flanel yang lengannya digulung. Wajahnya tampak lelah, namun sepasang matanya langsung menajam begitu Rina meletakkan map proposal hitamnya di atas meja dengan posisi yang sangat rapi.

"Saya punya waktu sepuluh menit sebelum rapat dengan dewan komisaris, Dek Rina," ucap Kusuma, menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada. "Katakan padaku, kenapa perusahaan rintisan bernilai jutaan dolar seperti kami harus mendanai kompetisi anak SMA sebesar lima ratus juta?"

"Kami tidak meminta lima ratus juta, Pak Kusuma," Rina membuka halaman pertama proposalnya, suaranya terdengar sangat jernih, mantap, dan berwibawa. "Kami menawarkan kontrak kemitraan eksklusif senilai satu miliar rupiah. Dan sebagai imbalannya, kami akan menyerahkan ekosistem Harapan Elite sebagai wilayah monopoli transaksi dompet digital Anda selama enam bulan ke depan."

Kusuma sedikit tertegun. Nilai satu miliar yang diminta Rina dua kali lipat dari target OSIS, namun pembawaan gadis di depannya ini sepenuhnya memotong kesan kekanak-kanakan. Kusuma menarik map tersebut, mulai membaca lembar demi lembar dengan kening berkerut dalam.

Setiap halaman yang dibukanya membuat mata pria itu melebar. Analisis penetrasi pasar, proyeksi pertumbuhan pengguna aktif berbasis alamat IP, hingga skema integrasi barcode pada gelang neon festival yang dirancang Rina dan timnya—semuanya disajikan dengan standar analisis korporat tingkat tinggi yang bahkan mengungguli draf dari agensi pemasaran profesional luar.

"Ini... kamu sendiri yang menyusun datanya?" tanya Kusuma, suaranya kini berubah menjadi sangat serius, kehilangan nada meremehkannya yang tadi.

"Saya dan tim analisis data saya," jawab Rina lurus, melirik Andi yang langsung menegakkan punggungnya. "Di tahun 2016, kompetitor Anda sedang gencar membakar uang di sektor transportasi. Jika Anda mengambil langkah taktis untuk menguasai sektor konsumsi remaja elite di Jakarta Selatan melalui kompetisi nasional kami, Anda akan mengunci loyalitas merek dari para calon pemegang kartu kredit masa depan ini sebelum kompetitor Anda sempat menyadarinya. Waktu sepuluh menit Anda sudah habis, Pak Kusuma. Apakah kita memiliki kesepakatan, atau saya harus mendatangi menara di seberang jalan?"

Kusuma terdiam selama beberapa detik yang panjang. Dia menatap Rina dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum yang luar biasa sekaligus horor. Gadis di depannya ini baru berusia enam belas tahun, namun insting bisnisnya begitu mematikan layaknya seorang CEO kawakan yang telah mengecap asam garam dunia industri selama puluhan tahun.

Kusuma mengambil sebuah pulpen mewah dari saku kemejanya, lalu dengan gerakan mantap menandatangani lembar persetujuan kontrak di halaman akhir proposal Rina. Dia membubuhkan stempel resmi perusahaan di atasnya.

"Satu miliar rupiah, bersih tanpa potongan pajak," ucap Kusuma sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Rina dengan rasa hormat yang setara. "Kalian mendapatkan kontraknya, Dek Rina. Saya akan mengutus tim legal untuk mengirimkan dana itu ke rekening resmi OSIS sore ini juga. Kamu... benar-benar luar biasa."

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Kusuma," Rina menerima jabat tangan itu dengan seulas senyuman tipis yang sangat menawan namun penuh kepuasan yang dingin.

Begitu mereka keluar dari lift gedung utama menuju lobi bawah, Andi langsung melompat kegirangan seperti anak kecil. "Rin! Satu miliar! Kita dapat satu miliar! Gila, si Reza pasti bakal copot jantungnya waktu lihat berkas ini besok pagi!"

Rina tidak merespons dengan kehebohan yang sama. Dia merapikan kembali tas jinjing kulitnya, menatap ke arah langit sore kawasan SCBD yang mulai meredup. Di dalam saku seragamnya, sebuah pesan teks masuk dari Kai Mahardika: “Tim audit yayasan mendeteksi adanya aliran dana masuk berskala besar ke rekening OSIS dari Go-Venture. Kamu benar-benar tidak pernah mengecewakanku, Ratuku.”

Rina tersenyum manis—sebuah senyuman kemenangan mutlak seorang ratu yang baru saja menjatuhkan pion besar lawan di atas meja bundar. Besok pagi, panggung sidang OSIS akan menjadi tempat eksekusi paling bersih untuk merebut kendali penuh atas seluruh hak kelola anggaran sekolah.

------------------------------

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!