seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 1
"Kevin! Kamu itu kapan mau berubah? Kuliah sarjana mahal-mahal, kerjanya cuma melingkar di warkop dari pagi ketemu pagi! Itu anak mpok Lela baru lulus langsung kerja di SCBD, lah kamu? Minta uang rokok aja masih nodong Ibu!"
Suara lengkingan Ibu Kevin, Bu Sri, memantul di dinding rumah tipe 36 mereka di pinggiran Kota Depok.
Kevin Wijaya, 25 tahun, hanya bisa meringkuk di atas kasur busanya yang sudah kempes.
Dia menutup telinganya dengan bantal yang baunya sudah mirip apek keringat bercampur keputusasaan.
Apa yang dikatakan ibunya tidak salah. Dia adalah definisi beban keluarga sejati.
Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dari universitas swasta, tapi hobi utamanya adalah menganggur, mabar game MOBA, dan menjadi topik gibah nomor satu bagi ibu-ibu komplek saat tukang sayur lewat.
"Iya, Bu. Nanti Kevin cari lowongan lagi,"
sahut Kevin malas, kalimat template yang sudah dia ucapkan ratusan kali dalam dua tahun terakhir.
Setelah ibunya pergi ke pasar dengan omelan yang masih merembet, Kevin menghela napas panjang.
Dia berjalan keluar rumah menuju Warkop Berkah, tempat pelariannya. Di sana, dia memesan es teh manis modal utang dan sebatang rokok ketengan.
Nabila, anak pemilik warkop yang masih kuliah semester awal, mengantarkan minumannya dengan tatapan iba.
"Kak Kevin, jangan dipikirin banget omongan orang-orang. Kak Kevin pasti dapet kerja kok nanti," hiburnya manis.
Nabila adalah satu-satunya oase di gurun pasir kehidupan Kevin. Wajahnya yang polos khas gadis Depok selalu berhasil menenangkan Kevin.
"Makasih, Nab. Cuma kamu yang percaya sama calon orang sukses ini,"
gurau Kevin, mencoba menutupi rasa malunya.
Hari berlalu seperti biasa.
Gunjingan tetangga yang menatapnya sinis saat dia berjalan pulang sudah seperti angin lalu.
Kevin tidur lebih awal malam itu, merasa lelah dengan eksistensinya yang tidak berguna.
Namun, tepat di pukul 00:01, saat hari berganti menjadi Senin, sebuah suara mekanis yang dingin dan bergema langsung di dalam kepalanya membuat Kevin terlonjak kaget dari tidurnya.
Ding!
[Sistem Karir Mingguan Berhasil Diaktifkan!]
[Mendeteksi Pengguna: Kevin Wijaya. Status: Beban Keluarga Level Maksimal.]
"Siapa itu?! Malem-malem ada yang masang speaker di genteng?!"
Kevin celingukan, matanya membelalak menatap kamarnya yang gelap.
[Sistem bukan ilusi audio. Sistem adalah entitas multidimensi yang akan mengubah nasib Pengguna. Tanpa wawancara, tanpa lamaran kerja, Pengguna wajib menjalani profesi acak setiap minggunya.]
[Profesi Minggu 1: Driver Ojek Online (Ojol).]
[Fasilitas yang Diberikan:]
Satu unit motor Honda NMAX yang telah dimodifikasi dengan mesin Motor Balap MotoGP (Samaran Visual: Standar).
Saldo Dompet Digital Sistem: Tak Terbatas.
Kemampuan: Refleks Dewa Berkendara (Membuat Pengguna mampu bermanuver di kemacetan Margonda secepat kilat tanpa lecet).
[Misi Minggu 1: Selesaikan 100 orderan dengan rating bintang 5 dan gagalkan 3 tindak kriminalitas di jalanan Depok.]
[Hadiah Misi: Sertifikat Kepemilikan 1 Ruko Tiga Lantai di Jalan Raya Margonda (Bebas Pajak).]
Kevin mengerjapkan matanya berulang kali.
"Gue... gue fix gila. Kebanyakan dengerin knalpot brong nih."
Namun, saat dia melihat ke arah meja belajarnya, sebuah kunci motor dengan logo aneh bersinar redup di sana.
Di sampingnya, ada sebuah jaket hijau khas ojol dan helm yang terlihat sangat kokoh.
Kevin berjalan gemetar, mengambil kunci itu, dan mengintip dari jendela kamarnya ke arah teras rumah.
Di sana, terparkir sebuah motor NMAX berwarna hitam doff yang tampak biasa saja dari luar.
Namun, jika dilihat lebih dekat, getaran mesinnya meski mati seolah memancarkan aura predator jalanan.
Kevin menelan ludah. "Sistem... saldo tak terbatas itu beneran?"
Ding!
Sebuah notifikasi SMS masuk ke ponsel jadulnya.
[Rekening Anda telah terhubung dengan Sistem Pay. Saldo saat ini: Rp 999.999.999.999.000,-]
Seketika, lutut Kevin lemas. Dia terduduk di lantai kamarnya.
"Ibu... Kevin kayanya nggak usah kerja di SCBD deh..."
gumamnya dengan mata berbinar liar. Senin pagi ini, hidup sang beban keluarga tidak akan pernah sama lagi.