NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Menuju Jantung Keterangan

Dengan enam permata yang sudah terkumpul dan menyatu dalam satu aliran energi yang seimbang, perasaan aman namun juga penuh kewaspadaan menyelimuti seluruh rombongan. Sekarang mereka tahu persis ke mana harus melangkah: menuju Pegunungan Utara, dan tepat di jantungnya terletak Gua Kedalaman — tempat di mana Morgrath dikurung, dan di mana tersimpan permata ketujuh sekaligus kunci akhir dari seluruh perjalanan ini.

Perjalanan kembali ke utara terasa lebih ringan dari sebelumnya. Tanah yang tadinya keras dan gersang kini perlahan memulihkan kesuburannya, sungai mengalir jernih, dan udara kembali segar, seolah alam sendiri memberi dukungan pada langkah mereka. Namun semakin dekat ke pegunungan, tekanan energi kembali terasa, kali ini bukan lagi sekadar rasa dingin atau takut, melainkan getaran kuat yang seolah berdebar selaras dengan detak jantung tempat itu sendiri.

“Semakin dekat kita, semakin terasa bahwa semua yang kita lalui mengarah ke satu titik ini saja,” kata Valerius sambil memandang ke puncak gunung yang menjulang tinggi tertutup kabut tebal. “Selama ratusan tahun, leluhur kita hanya menjaga kurungan itu, tapi tidak pernah menyatukan kembali ketujuh permata sepenuhnya. Kini, hanya kita yang memiliki kesempatan itu.”

Elara berjalan di sampingnya, merasakan denyutan lembut dari energi keenam permata yang mengalir di dalam dirinya. Ia semakin sadar bahwa ini bukan sekadar pencarian benda pusaka — ini adalah perjalanan untuk memahami keseimbangan sejati antara segala kekuatan yang ada.

Setelah mendaki selama dua hari penuh melewati jalur yang kini sudah tidak lagi penuh jebakan berbahaya, mereka tiba di mulut gua yang tersembunyi di balik air terjun raksasa. Berbeda dengan sebelumnya, pintu masuk ini tidak lagi diselimuti energi penghalang yang kuat — justru terbuka lebar, seolah sengaja menunggu kedatangan mereka.

“Jalan ini terbuka,” gumam Kaelen sambil mengamati dengan hati-hati. “Ini bukan pertanda baik. Ia tahu kita akan datang.”

Mereka melangkah masuk dengan hati-hati. Di dalam gua, cahaya yang memancar dari enam permata itu menjadi satu sumber penerangan utama, menerangi lorong panjang yang turun semakin curam ke dalam perut bumi. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran kuno yang menceritakan sejarah peristiwa lama: bagaimana kekuatan kegelapan itu muncul, bagaimana tujuh pahlawan bersatu menghentikannya, dan bagaimana mereka membagi kekuatan itu menjadi tujuh bagian agar tidak ada satu pun yang memegang kendali penuh.

Setelah berjalan selama berjam-jam, lorong itu melebar dan membuka ke sebuah ruangan raksasa yang luas sekali. Di tengah ruangan itu, terlihat sebuah pagar cahaya berputar membentuk sel penjara raksasa, dan di baliknya terbaring sosok raksasa yang terikat oleh rantai energi bercahaya — itulah Morgrath.

Ia terlihat jauh lebih besar dan mengerikan dibanding manifestasi yang mereka temui sebelumnya. Tubuhnya terbuat dari kabut hitam pekat yang terus bergerak, matanya menyala merah menyala, dan setiap kali ia bergerak, seluruh ruangan berguncang hebat. Namun yang paling menarik perhatian mereka adalah tepat di atas pusat pagar cahaya itu: tergantung sebuah permata besar berwarna putih keemasan yang memancarkan sinar yang menahan seluruh struktur kurungan itu — Permata Persatuan, permata ketujuh yang mereka cari.

Begitu mereka melangkah masuk sepenuhnya, Morgrath mengangkat kepalanya perlahan, dan senyum sinis tergambar di wajahnya yang kabut.

“Ah… akhirnya sampai juga. Aku sudah menunggu cukup lama,” ucapnya dengan suara yang bergema memenuhi seluruh ruangan, tidak lagi terdengar marah, melainkan penuh rasa yakin dan sedikit mengejek. “Lihatlah apa yang telah kalian capai. Enam permata sudah di tangan, dan yang terakhir tergantung tepat di depan mata kalian. Kalian pikir dengan mengambilnya, semuanya akan selesai dengan bahagia?”

Valerius melangkah maju sambil memegang erat kotak pelindung berisi permata. “Itulah tujuan kami. Menyatukan kembali seluruh kekuatan agar keseimbangan pulih dan dunia ini aman kembali.”

Morgrath tertawa keras, membuat debu beterbangan dari langit-langit gua.

“Tujuan yang mulia… tapi apakah kalian tahu mengapa tujuh pahlawan itu tidak pernah menyatukan kembali permata-permata ini selamanya? Mengapa mereka membaginya dan menyembunyikannya di tempat yang berbeda?”

Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah Elara dan Valerius.

“Karena menyatukan mereka kembali tidak hanya akan memperkuat kurungan — ia juga akan mengungkapkan kebenaran yang telah disembunyikan selama ratusan tahun. Aku bukanlah makhluk jahat yang datang untuk menghancurkan secara sembarangan. Dahulu kala, aku adalah salah satu dari mereka, salah satu penjaga keseimbangan, sama seperti permata-permata ini.”

Kata-kata itu membuat semua orang tertegun. Elara merasakan ada sesuatu yang beresonansi dalam hatinya, seolah apa yang dikatakan itu mengandung kebenaran yang selama ini tersembunyi.

“Kekuatan itu terbagi karena perselisihan,” lanjut Morgrath, suaranya kini berubah menjadi lebih berat dan penuh penyesalan. “Sebagian dari kami ingin memegang kendali mutlak, menentukan apa yang baik dan apa yang buruk menurut keinginan sendiri. Aku menentangnya, dan dalam pertarungan itu, energi keseimbangan terpecah. Aku dikurung dan dicap sebagai penjahat, sementara versi sejarah yang dispreadkan hanyalah cerita yang menguntungkan pihak yang menang.”

Ia menunjuk ke arah Permata Persatuan yang tergantung di atasnya.

“Permata itu bukan hanya kunci untuk mengunciku lebih erat — ia adalah jembatan untuk menyatukan kembali semua kekuatan yang terpecah, termasuk diriku sendiri. Jika kalian mengambilnya dan menyatukannya dengan yang lain, kalian tidak hanya akan mengurungku selamanya… atau membebaskanku. Kalian akan memutuskan bentuk keseimbangan seperti apa yang akan ada di dunia ini selamanya.”

Mendengar itu, keraguan kembali mulai menyelinap masuk, namun kali ini bukan keraguan yang berusaha memecah belah — melainkan keraguan yang muncul karena mulai melihat sisi lain dari kebenaran. Apakah selama ini mereka hanya mendengar satu sisi cerita saja? Apakah apa yang dianggap baik dan jahat itu benar-benar hitam dan putih semata?

Valerius menoleh ke arah Elara, dan mereka saling bertukar pandangan. Dalam tatapan itu, mereka mengingat semua yang telah mereka lalui: bagaimana setiap ujian mengajarkan mereka untuk melihat segala sesuatu secara utuh, bukan hanya dari satu sudut pandang.

“Kami mengerti sekarang,” kata Elara dengan suara tenang namun mantap. “Selama ini kami mencari cara untuk menghentikanmu, tapi yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah mengalahkan atau mengurung, tapi menyatukan kembali apa yang telah terpisah.”

Valerius mengangguk, lalu melangkah lebih dekat ke pagar cahaya itu. “Kami tidak datang untuk memenangkan pertarungan, Morgrath. Kami datang untuk memulihkan apa yang rusak. Jika kebenaran menunjukkan bahwa keseimbangan bisa tercapai dengan cara yang lebih baik daripada sekadar mengunci satu pihak selamanya, maka itulah yang akan kami pilih.”

Mendengar ucapan itu, ekspresi Morgrath berubah — rasa marah dan penasaran perlahan menghilang, digantikan oleh rasa terkejut dan harapan yang sudah lama padam.

“Jadi… kalian tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti mereka di masa lalu?” tanyanya pelan.

“Tidak,” jawab Valerius tegas. “Kami akan menyatukan semuanya, dan membiarkan keseimbangan bekerja sebagaimana mestinya — terang dan gelap, kebebasan dan batasan, semua berjalan dalam harmoni tanpa ada yang ditekan secara paksa.”

Dengan keputusan yang sudah bulat, Valerius mengangkat kotak pelindung berisi enam permata. Satu per satu, mereka melayang keluar dari tempatnya, bersinar dengan cahaya yang semakin terang, lalu melayang menuju ke atas tempat Permata Persatuan tergantung.

Saat mereka mulai mendekat satu sama lain, seluruh ruangan dipenuhi cahaya yang menyilaukan, dan suara dengungan yang merdu terdengar, seolah seluruh alam bernapas kembali dengan utuh. Rahasia besar akan segera terungkap, dan nasib Aetheris akan ditentukan pada momen ini juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!