BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Otak Encer sang Elang
Ketegangan di dalam kamar tidur utama perlahan mereda setelah Bu Siska akhirnya keluar dengan dengusan kaku, meski matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan yang mendalam. Begitu pintu kamar tertutup, Rani langsung menjauhkan tubuhnya dari Riko. Dia duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan kikuk, berusaha keras menyembunyikan detak jantungnya yang masih berpacu gila akibat pelukan darurat tadi.
"Terima kasih," gumam Rani lirih, matanya menatap lantai marmer. "Tentang... pembelaanmu di depan ibuku tadi."
Riko turun dari ranjang, mengambil kemejanya yang tersampir di sofa. "Aku tidak sedang membelamu, Rani. Aku hanya sedang membela harga diriku sendiri. Aku menolak disebut parasit oleh siapa pun, termasuk ibumu."
Riko menoleh dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. "Dan bersiaplah. Ibumu belum sepenuhnya menyerah. Dia menantang kita untuk makan malam bersama Paman Broto nanti malam di restoran hotel milik keluarga. Kamu tahu artinya, kan?"
Rani menghela napas berat, memijat pelipisnya. "Paman Broto... investor utama yang paling vokal di dewan komisaris Rani Group. Dia selalu mencari celah untuk menjatuhkanku. Makan malam ini bukan sekadar silaturahmi, Riko. Ini sidang eksekusi untuk kita."
Pukul tujuh malam, atmosfer di dalam ruang privat Restoran Amarta terasa begitu mencekam. Meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu dipenuhi hidangan kelas atas, namun tak satu pun dari empat orang yang duduk di sana berniat menyentuh sendok mereka.
Bu Siska duduk dengan anggun di ujung meja, sementara di sampingnya ada Paman Broto—pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas mahal dan senyuman meremehkan yang terus tersungging di bibirnya. Di hadapan mereka, Riko dan Rani duduk berdampingan, memasang wajah tenang terbaik mereka.
"Jadi, ini Riko Pratama?" Paman Broto membuka suara, memotong keheningan dengan nada merendah yang kentara. Dia memutar-mutar gelas anggurnya. "Kudengar dari desas-desus di bursa saham, Pratama Corp baru saja digugat oleh tiga vendor material karena gagal bayar. Tapi keponakanku yang hebat ini malah nekat menikahimu. Sungguh sebuah langkah romantis... atau mungkin, sangat bodoh untuk ukuran seorang CEO."
Rani mengepalkan tangannya di bawah meja. Jari-jarinya memutih, menahan amarah yang siap meledak. Sebagai Alpha Woman, dia paling tidak suka diremehkan, apalagi di depan ibunya sendiri. Namun, tepat sebelum Rani sempat melontarkan kalimat sarkasnya, sebuah tangan yang hangat dan besar kembali mendarat di atas pangkuannya, menggenggam jemarinya yang tegang dengan lembut namun penuh penekanan.
Riko memberinya kode lewat tatapan mata. Biar aku yang urus.
Riko meletakkan garpunya dengan tenang, tidak ada sedikit pun gurat kepanikan di wajah tegasnya. "Paman Broto, desas-desus di bursa saham sering kali digoreng oleh orang-orang yang tidak punya kuota untuk membaca data valid," ujar Riko dengan nada suara yang sangat tenang namun terdengar begitu dingin dan berwibawa.
Paman Broto menghentikan putaran gelasnya, alisnya bertaut. "Apa maksudmu?"
Riko menegakkan posisi duduknya, aura seorang pemimpin yang sempat redup kini memancar begitu pekat, mengintimidasi ruangan. "Gugatan dari tiga vendor itu adalah strategi restrukturisasi utang yang sengaja saya ambil untuk membersihkan parasit di dalam internal Pratama Corp. Dan jika Paman mengikuti perkembangan sore ini pukul empat tepat, bursa efek baru saja merilis data bahwa Pratama Corp telah mengakuisisi hak kelola jalur logistik sekunder di kawasan industri Cikarang."
Riko menopang kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam sepasang mata Paman Broto yang mulai gelisah. "Proyek Central District milik Rani Group saat ini sedang mandek di tahap suplai material karena boikot dari jaringan Hendra, bukan? Paman pasti pusing memikirkan margin keuntungan yang merosot dua persen setiap harinya."
Mendengar analisis Riko yang sangat akurat mengenai borok internal perusahaannya, Paman Broto tersentak. Bu Siska pun ikut menoleh menatap adiknya dengan wajah terkejut.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang boikot itu?" tanya Paman Broto dengan suara yang mulai meninggi, kehilangan ketenangannya.
"Saya adalah Riko Pratama, Paman. Saya membaca pasar seperti membaca telapak tangan saya sendiri," balas Riko dengan senyum sinis yang sarat akan kemenangan. "Jalur logistik sekunder yang baru saja dikuasai Pratama Corp adalah satu-satunya rute alternatif yang bisa menyuplai material ke proyek Central District tanpa melewati blokade vendor Hendra. Sore ini, proposal kerja sama taktis sudah saya kirimkan ke meja sekretaris Rani."
Riko menoleh menatap Rani, matanya berkilat penuh kemenangan, memberikan panggung pada istrinya. "Dengan metode efisiensi yang saya rancang, Rani Group bukan saja bisa keluar dari boikot, tapi kita bisa memotong biaya operasional hingga lima belas persen. Jadi, Paman Broto, apakah pernikahan kami masih terlihat seperti langkah yang bodoh di mata Anda? Atau justru sebuah merger taktis paling jenius tahun ini?"
Ruang privat itu seketika hening. Paman Broto bungkam seribu bahasa, wajahnya berubah merah padam karena skakmat yang diberikan oleh Riko di depan Bu Siska. Sementara Bu Siska sendiri hanya bisa bersandar di kursinya, tidak mampu lagi berkata-kata melihat bagaimana menantunya yang dikabarkan bangkrut justru memegang kartu as yang bisa menyelamatkan proyek terbesar putrinya.
Rani yang duduk di samping Riko terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat. Monolog batinnya menjeritkan rasa kagum yang luar biasa. Otak bisnis Riko benar-benar encer dan berbahaya. Pria ini tidak meminta bantuannya, tidak menggunakan uang kontraknya, melainkan memanfaatkan situasi krisis untuk menciptakan peluangnya sendiri sekaligus melindunginya dari serangan keluarga besarnya.
Di bawah meja makan yang mewah itu, Rani tidak lagi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Riko. Dia membiarkan jemari mereka tetap bertautan, merasakan kehangatan dan kekuatan nyata dari pria yang kini mulai dia sadari... bukan lagi sekadar suami di atas kertas kontrak. Tensi benci di hati Rani malam itu perlahan runtuh, digantikan oleh rasa hormat dan getaran asing yang kian sulit untuk dia pungkiri.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄