Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penginapan : 05
Nb : Nama Kencana disini orang baru ya, Kak.
Aku lupa kalau udah pernah ada di ritual Pujon Bayi. Jadi sekarang tak ganti jadi Tejo 🙏.
...----------------...
Meskipun cahaya tidak terlalu terang, Kanti masih bisa melihat jelas bangunan gaya arsitektur perpaduan Belanda dan lokal era kolonial – plafon tinggi, jendela besar dengan jalusi (krepyak), teras luas dan atap perisai.
“Ayo mari masuk!” Tejo mempersilahkan.
Akhh!
Ahwaya memekik dikarenakan terkejut melihat sosok wanita berdiri di teras seraya memegang lentera.
“Lilis, aku pulang bawa tamu. Mereka terjebak di jalur terlarang,” seru Tejo.
Wanita mengenakan baju terusan putih lengan sesiku, bawahan rok licin itu menelisik satu persatu para tamunya, sampai netra bulatnya berhenti di sosok mengenakan topi hitam.
Candra Kanti bergeming, wajahnya sedikit tertutup topi, ia coba menenangkan batin demi merasakan ada tidaknya aura magis. Hasilnya nihil.
“Lilis ini istri saya, maaf kalau kehadirannya membuat kalian kaget. Dia bisu, tapi dapat mendengar.” Pria si pemilik motor naik ke teras, merangkul pundak ringkih yang lebih pendek darinya.
Mayang berusaha beramah tamah, kendatipun menahan sakit, ia paksa untuk terlihat biasa-biasa saja. “Saya Mayang, Kak. Terima kasih sudah berkenan memberi kami tempat berteduh.”
Lilis melirik sebentar, lalu mengangguk samar. Dia berbalik membuat rangkulan sang suami terlepas.
“Ayo masuk dulu. Kalian pasti lapar dan lelah. Setelah makan, sebaiknya istirahat, besok pagi baru saya ceritakan yang tadi dijanjikan,” katanya ramah, berdiri ke sisi kiri, mempersilahkan Kanti serta lainnya.
“Ayo, Kanti!” ajak Aji Sardi, keempat temannya sudah lebih dulu masuk.
Candra Kanti mengangguk, mulai melangkahkan kaki memasuki bangunan bercahaya remang-remang kemerahan.
Dari luar seperti hunian biasa saja, terkesan suram, tapi dalamnya sangat besar, mewah.’ Kanti benar-benar memperhatikan interior rumah, dari sofa kayu, jam dinding lebih tinggi darinya, lalu lemari pajangan kaca yang diisi oleh deretan guci antik.
Mereka diarahkan ke meja makan pada ruangan bagian dalam. Tidak ada siapa-siapa disana selain Tejo, Lilis entah dimana keberadaannya.
Aji membantu Kanti menurunkan tas ranselnya, matanya terlihat awas, dan gesture tubuh waspada.
Raut Kanti selalu sama bila melihat sosok wanita mengenakan selendang tersampir pada pundak, ekspresi datar tanpa riak.
Lilis meletakkan tampah bulat di atas meja, lalu mengangkat mangkok besar berisi sayur bening bayam merah, dua piring daging panggang, nasih sebakul, serta lalapan Mentimun.
Tejo masuk ke dalam ruangan tidak berpintu yang sepertinya dapur, keluar lagi dengan baskom pada genggaman tangan – air untuk cuci tangan.
“Ayo dicicipi. Ini masakan istri saya, kebetulan tadi kami dapat hewan buruan terkenal dengan rasa lezatnya. Kalian wajib coba, dijamin ketagihan.” Dia menunjuk piring porselen lebar.
Uap dari daging panggang mengeluarkan harum membuat perut Abeer, Sambara, Mayang, Ahwaya langsung bereaksi. Tanpa sungkan mereka menarik kursi, lalu duduk, kemudian mencuci tangan.
Pencahayaan di ruang makan juga sama, mengandalkan cahaya langit kemerahan, adapun lampu damar tergantung pada dinding, tidak bisa mengalahkan sinar semesta.
Lilis menatap gadis yang enggan membuka topinya, dan Kanti merasa kalau sedang dipandangi – dia duduk disebelah Aji.
Suara piring diambil dari tumpukan benda kaca terdengar seperti bergema.
Pertama Abeer yang menyendok nasi masih mengepulkan uap, tidak tanggung-tanggung langsung empat centong sampai piring penuh.
Kemudian dia mencapit lima potong daging panggang, enggan mengambil sayur dan lalapan buah Mentimun.
Disusul Sambara, Ahwaya, dan Mayang – mereka juga memilih menu daging menggugah selera.
Tanpa basa-basi, mulai melahap. Baru kunyahan pertama sudah berdecak.
“Ini daging apa, rasanya lezat banget?” tanya Mayang, matanya sampai terpejam merasai tekstur kenyal tapi tidak keras.
“Rusa masih muda, jadi dagingnya belum alot. Syukurlah kalian suka, berarti masakan istri saya cocok di lidah anak kota,” katanya senang.
“Kanti ya kalau gak salah namamu, kenapa cuma menyendok sayur dan nasi? Itu dagingnya masih banyak, ada dua piring. Jangan sungkan-sungkan,” Tejo menawari.
“Saya vegetarian, tidak makan hewani,” jawab Kanti.
Aji melirik ke samping, merasa aneh dengan alasan yang diberikan Candra Kanti. “Saya juga tidak makan daging, cuma sayur mayur.”
“Oh, gitu … saya ambilkan lagi sayurnya di dapur. Biar kalian kenyang.” Tejo bergegas ke belakang, sedangkan Lilis berdiri tegak.
Kanti makan secukupnya, tidak seperti keempat orang yang menambah nasi, menghabiskan dua piring daging Rusa panggang.
Tak berapa lama, mereka sudah selesai makan, perut pun kenyang, hingga terdengar suara sendawa.
“Biarkan saja, jangan diangkat ke belakang. Kalian itu tamu, mana dari perjalanan jauh. Ayo saya antar ke kamar rumah samping, bisa dibilang penginapan bagi orang salah arah, tersesat.” Larang Tejo kala Candra Kanti mengangkat piring kotor.
“Berapa uang sewanya permalam, Pak?” tanya Kanti sopan, bersiap membayar.
“Gratis! Makanan tadi juga gak boleh dianggap membeli, warga disini sudah terbiasa berbagi,” tolak suaminya Lilis.
“Terima kasih, bapak baik sekali,” Abeer sumringah.
“Jangan dipikirkan sampai jadi beban, cuma bantuan kecil.” Tejo berjalan ke arah samping, membuka pintu kayu. Lilis mengikuti dari belakang.
Aji membawakan tas ransel Kanti, dia tidak jauh-jauh dari sang gadis, selalu berada dalam jangkauan.
Mereka digiring ke bangunan memanjang yang seperti indekos.
‘Kebetulan yang terasa janggal dihatiku? Rasanya aneh sebuah keluarga menyediakan hunian gratis, sama sekali tidak mau di bayar?’ Kanti tidak langsung masuk ke kamar yang tadi ditunjuk sebagai tempatnya bermalam.
Keenam mahasiswa dipisah tempat tidur mereka. Semua dapat kamar masing-masing. Memang tidak mewah, terkesan ketinggalan zaman dengan sebuah ranjang besi, kasur tilam, meja rias dan lemari kayu, belakang pintu terdapat tancapan paku untuk menggantung baju.
Candra Kanti memasuki kamarnya, menjatuhkan tas ransel pada lantai semen halus, dia berjongkok agar bisa mengintip kolong tempat tidur besi. Disaat pencahayaan tidak terlalu terang, diambilnya senter – bersih, bebas dari benda-benda dan debu.
Kemudian Kanti membuka lemari polos berpintu satu. ‘Pakaian siapa ini?’
Ada tumpukan kain, rasa penasarannya pun terpancing, diambil dan diletakkan di atas ranjang.
‘Kenapa dari keempat baju ini semuanya berwarna putih bersih?’ Kanti mencium gaun panjang, longgar. ‘Bau kapur barus, milik siapa?’
Putri sulung dari keluarga terpandang itu sangat hati-hati dalam bertindak, cukup membatin, daripada bergumam, sebab tempat baru ini sangat asing. Kejadian tadi juga masih terbayang-bayang.
Dikembalikannya lagi pakaian lebih mirip jubah, pintu lemari ditutup rapat.
‘Sebaiknya basuh badan yang terasa lengket ini.’ Kanti mencari peralatan mandi dalam tas ransel, lalu nekat keluar rumah pada malam hari.
Ya, tadi Tejo sudah menjelaskan kalau sekarang malam hari, tapi belum menjabarkan lebih detail tentang fenomena alam berwarna api menyala.
Tak perlu menggunakan penerangan, cukup mengandalkan cahaya langit kemerahan, Kanti berjalan ke bagian belakang bangunan rumah tingkat dua yang katanya letak kamar mandi di sana.
Srek … srek ….
Dia menahan napas, mengencangkan pelukan pakaian ganti. ‘Suara apa itu? Bukan seperti langkah kaki manusia?’
.
.
Bersambung.
lanjut Thor
ngeri kali