Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta yang Mengintai
Pagi berikutnya membawa perubahan ritme yang nyata di dalam mansion Arisatya. Selepas badai yang menumbangkan Adrian dan Valencia, Xavier tampaknya tidak ingin memberi jeda bagi dunia untuk melupakan siapa Eli sebenarnya. Di atas meja rias elok bergaya victorian, sebuah kartu undangan tebal berwarna hitam pekat dengan ukiran tinta emas murni kini tergeletak anggun, bersanding dengan kotak perhiasan beludru
milik Eli.
The Arisatya Annual Gala.
"Ini adalah pesta tahunan terbesar keluarga kami, Nyonya," jelas Daniel yang berdiri beberapa langkah di belakang Eli dengan sikap takzim khasnya. "Tuan Xavier menginginkan kehadiran Anda secara resmi di hadapan seluruh jajaran komisaris, kolega internasional, dan para petinggi negeri. Ini bukan lagi sekadar konferensi pers darurat seperti kemarin. Ini adalah deklarasi takhta Anda."
Eli jemarinya menyentuh permukaan kartu undangan yang bertekstur mahal itu. Ada debar kecemasan baru yang merayap di dadanya. Jika kemarin dia hanya berhadapan dengan jurnalis yang bisa dikendalikan oleh Xavier, malam ini dia akan melangkah masuk ke dalam sarang hiu—lingkungan sosialita kelas atas yang dipenuhi oleh tatapan menilai, kepalsuan, dan wanita-wanita dari keluarga terpandang yang mungkin pernah mendambakan posisi yang kini dia tempati.
"Apakah anak-anak harus ikut?" tanya Eli, menoleh menatap Daniel.
"Tuan Besar memutuskan agar Tuan Muda Kenji dan Nona Kiana tetap berada di mansion bawah penjagaan penuh. Pesta malam ini terlalu melelahkan dan penuh intrik untuk anak-anak," jawab Daniel profesional.
Pintu kamar mandi utama terbuka, memutus percakapan mereka. Xavier melangkah keluar dengan handuk putih yang tersampir di leher tegapnya, menyisakan dada bidangnya yang masih basah oleh sisa air. Rambut hitamnya yang acak-acakan justru menambah kesan maskulin yang berbahaya dari dirinya. Daniel yang paham situasi segera membungkuk hormat dan undur diri dengan langkah tanpa suara, meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keheningan kamar yang intim.
Xavier berjalan mendekat, sepasang mata elangnya langsung mengunci pantulan wajah Eli di cermin. Dia berdiri di belakang istrinya, meletakkan kedua tangan besarnya di atas pundak Eli, lalu meremasnya pelan seolah sedang menyalurkan kekuatan tak kasatmata.
"Kamu mencemaskan sesuatu, Istriku?" bisik Xavier, suara baritonnya yang berat dan serak khas pagi hari bergetar rendah di dekat telinga Eli.
Eli menghela napas, bersandar sedikit pada kehangatan tubuh tegap di belakangnya. "Aku hanya berpikir... apakah aku akan sanggup menghadapi orang-orang di pesta itu nanti malam, Xavier? Mereka semua berasal dari kalangan yang berbeda denganku. Mereka tahu latar belakangku yang sempat menghilang, dan mereka pasti akan berbisik di belakangku."
Xavier mendengus rendah, sebuah suara yang sarat akan keangkuhan seorang penguasa mutlak. Dia membalikkan tubuh Eli dengan lembut agar wanita itu menatapnya secara langsung. Tatapan mata Xavier membara, seolah siap membakar siapa saja yang berani meragukan wanitanya.
"Biarkan mereka berbisik, Eli. Karena demi apa pun, bisikan mereka tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kamulah yang berdiri di sampingku," ucap Xavier tegas, jemari besarnya bergerak naik mengusap dagu Eli dengan posesif. "Malam ini, para wanita dari keluarga konglomerat itu akan menyadari bahwa perhiasan termahal yang mereka kenakan tidak akan pernah sebanding dengan gaun yang melekat di tubuhmu.
Tegakkan kepalamu. Ingat, kamu adalah pelindung dan ratu dari Arisatya. Siapa pun yang berani menatapmu dengan pandangan merendahkan, malam ini juga aku akan memastikan keluarga mereka kehilangan hak bisnis di kota ini."
Mendengar janji protektif yang begitu ekstrem namun nyata dari Xavier, Eli tidak bisa menahan senyum tipisnya. Sifat diktator suaminya ini terkadang memang menakutkan, namun di saat yang sama, terasa begitu menenangkan. Eli mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut basah Xavier yang jatuh di dahi pria itu.
"Baiklah, Tuan Arisatya yang terhormat. Aku akan mematuhimu malam ini," sahut Eli lembut.
Xavier tersenyum tipis, kepuasan absolut terpancar dari wajah tampannya. Dia menunduk, meraup bibir manis Eli dalam sebuah ciuman pagi yang hangat, menuntut, dan penuh gairah yang membakar, mengesahkan kepemilikannya sebelum mereka berdua bersiap menghadapi dunia luar yang penuh sandiwara.
Waktu berputar dengan cepat menuju pukul tujuh malam. Ruang dansa utama Hotel Grand Astaria—yang juga merupakan salah satu aset terbesar milik Arisatya Group—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan eksklusif. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang mewah, memantul di atas lantai marmer hitam yang mengkilap. Musik klasik dari orkestra ternama mengalun indah, mengiringi denting gelas sampanye dan tawa palsu para kaum borjuis.
Namun, di salah satu sudut ruang dansa, beberapa wanita paruh baya dan gadis-gadis muda dari keluarga konglomerat berkumpul, mata mereka sesekali melirik ke arah pintu masuk utama dengan tatapan sinis.
"Jadi benar rumor itu? Xavier menikahi wanita biasa yang sempat memiliki skandal enam tahun lalu?" bisik seorang wanita dengan kalung mutiara beruntai tiga di lehernya.
"Benar. Aku dengar dari orang dalam kejaksaan, mantan tunangan wanita itu baru saja dijebloskan ke penjara atas perintah Xavier dua hari lalu. Menjijikkan sekali, wanita itu pasti menggunakan anak-anaknya untuk menjebak Xavier agar bisa naik kasta," sahut gadis muda bergaun merah di sampingnya dengan nada cemburu yang kian kentara.
Mereka semua tidak rela posisi tertinggi sebagai Nyonya Arisatya jatuh ke tangan wanita yang bukan dari kalangan mereka.
Tepat pada pukul delapan, alunan musik orkestra mendadak berhenti. Suara pembawa acara bergema melalui pengeras suara, meminta perhatian dari seluruh hadirin.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut... Pemimpin Tertinggi Arisatya Group, Tuan Xavier Arisatya, beserta Nyonya Eli Arisatya."
Pintu ganda berlapis emas di puncak tangga megah ruang dansa terbuka lebar. Dua pengawal berjas hitam membuka jalan, dan sedetik kemudian, sosok Xavier dan Eli muncul di bawah sorotan lampu utama.
Seluruh ruangan seketika hening total, napas para tamu undangan seolah tercekat di tenggorokan mereka.
Xavier berdiri dengan kegagahan yang mutlak dalam setelan tuksedo hitam pekat dengan potongan sempurna. Namun, perhatian semua orang di ruangan itu tersedot sepenuhnya pada wanita yang menggandeng erat lengannya.
Eli tampil begitu memukau dalam balutan gaun malam berbahan beludru hitam pekat potongan off-shoulder yang mengekspos bahu indahnya dan leher jenjangnya yang putih bersih. Sebuah kalung berlian potongan marquise berukuran fantastis melingkar di lehernya—perhiasan turun-temurun keluarga Arisatya yang hanya boleh dikenakan oleh istri sah sang penguasa.
Rambut hitam Eli disanggul rapi dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang dirias dengan konsep bold yang elegan. Bibir merah meronanya mengukir senyum tipis yang sarat akan ketenangan dan harga diri yang tinggi.
Xavier melirik Eli sekilas, merasakan genggaman tangan istrinya yang semakin mantap di lengannya. Dengan langkah yang seirama, mereka berdua mulai menuruni tangga megah, melangkah masuk ke dalam ruang dansa bak sepasang raja dan ratu yang sedang memeriksa wilayah kekuasaan mereka.
Tatapan sinis dan bisikan merendahkan yang tadinya memenuhi ruangan seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa takjub dan ketakutan yang nyata saat sepasang mata elang Xavier menyapu seluruh ruangan, siap menerkam siapa saja yang berani mengusik ketenangan wanitanya.