Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam Suka
Di ruangan sebelah yang hanya disekat kaca—yang memiskannya dengan ruangan Max, Cassia duduk di mejanya setelah menyelesaikan semua tugas.
Dia sudah tak melihat Maxence sejak pukul empat sore tadi. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Ruangan mulai sepi.
Cassia membuka laci mejanya, mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi galeri, masuk ke folder yang terkunci dengan kata sandi, lalu mengamati beberapa foto yang dia koleksi selama satu tahun terakhir.
Foto Maxence Kingsford. Bukan foto dari profesional. Cassia memotretnya diam-diam saat ada kesempatan.
Ada foto ketika Maxence sedang berbicara di telepon di balkon kantor. Ketika pria itu fokus dengan laptopnya.
Ada juga foto ketika Max makan pagi di kantor karena tak sempat sarapan di rumah.
Pria itu tidak menyadari kamera ponsel yang diarahkan ke arahnya dari balik kaca. Wajahnya selalu tampan dalam posisi apa pun, rahang tegasnya mengeras saat bicara, tangan kirinya memegang dagu ketika sedang serius berpikir.
Cassia menatap foto itu dalam diam. Dia tahu bahwa dia tidak pernah menarik di mata Maxence Kingsford.
Dengan penampilannya yang biasa-biasa saja, tidak akan pernah membuat pria itu menoleh dua kali.
Tapi perasaan tidak pernah memilih. Dulu, saat pertama kali melamar di Kingsford Corp, Cassia hanya ingin pekerjaan, agar bisa hidup mandiri tanpa bantuan bulanan dari ayahnya lagi.
Tidak lebih. Tapi kemudian hari pertama kerja, dia melihat Maxence Kingsford memasuki gedung dengan setelan jas hitam, dibantu asisten pribadinya yang membukakan pintu, dan berjalan melewati lobi utama.
Cassia sedang berdiri di dekat meja resepsionis saat itu. Mata Maxence melintas sekilas ke arahnya—tidak lebih dari setengah detik.
Tidak ada pengakuan. Tidak ada sapaan. Hanya pandangan datar seorang CEO pada bawahannya yang paling tidak menarik. Kemudian pria itu masuk lift eksklusif, dan pintu kaca menutup.
Tapi bagi Cassia, setengah detik itu terasa seperti kilat. Ada sesuatu yang dirasakan di dadanya. Mungkin karena ketampanannya. Mungkin karena karismanya. Mungkin karena cara dia berjalan dengan penuh percaya diri dan wibawa.
Sejak hari itu, Cassia mulai menyimpan foto Max.
Dia tidak berani mengambil foto secara terang-terangan. Tidak akan pernah.
Dia hanya memanfaatkan momen-momen tertentu—saat rapat besar atau acara perusahaan—untuk mengarahkan kameranya ke arah pria itu, lalu menjadikannya koleksi pribadi yang tidak akan pernah dilihat orang lain.
"Kau bodoh, Cassia," bisiknya pada layar ponsel. "Dia tidak akan pernah tahu keberadaanmu. Dan bahkan jika dia tahu ... dia tidak akan peduli. Atau yang terburuk—dia akan merasa terganggu dan mungkin saja kau akan dipecat karena telah berani menyukai bosmu."
Namun Cassia tidak bisa berhenti. Bukan karena dia berharap. Dia sudah menyerah pada harapan itu sejak awal. Biarlah ini hanya menjadi rahasia hatinya, di mana tak ada yang tahu tentang ini.
Cassia selalu melayani Maxence dengan profesional. Dia mengerjakan semua tugas yang diberikan. Dia mencatat semua perubahan jadwal, memastikan semua laporan tepat waktu, dan selalu menjadi yang terakhir pulang agar jika ada dokumen mendadak, dia siap membantu.
Tapi Cassia tidak pernah terluka. Dia tidak berhak terluka. Karena untuk terluka, seseorang harus memiliki harapan. Dan Cassia tidak lagi memiliki harapan semenjak foto pertama Max dia simpan.
Malam itu, Cassia tak langsung pulang ke rumah, melainkan ke butik di mana dia akan membeli gaun pesta untuk dipakainya minggu depan bersama Max.
*
*
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭