NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 kesurupan?

Bercerai!

Sepanjang tiga puluh tahun hidupnya, Nyonya Mu tidak pernah sekali pun mendengar kata itu terucap langsung di depannya. Kalimat Nara benar-benar membuatnya syok dan tidak habis pikir.

Nyonya Mu adalah wanita kuno yang sangat tradisional. Di keluarga besarnya dulu, dia adalah anak tengah yang memiliki dua kakak laki-laki, satu adik laki-laki, dan satu adik perempuan.

Memiliki banyak saudara membuat Nyonya Mu selalu diabaikan oleh orang tuanya sejak kecil. Ibunya hanya menyayangi anak tertua dan si bungsu, sementara Nyonya Mu selalu diminta untuk mengalah.

Jika dia berani mengeluh sedikit saja, omelan dan pukulan dari ibunya sudah pasti langsung mendarat di tubuhnya.

Hal itu membentuk kepribadian Nyonya Mu menjadi wanita yang sangat pendiam dan penurut. Di keluarganya dulu, hanya mendiang ayahnya yang tulus menyayanginya, tapi sayang beliau meninggal di usia muda.

Setelah ayahnya tiada, posisi Nyonya Mu di keluarga asalnya makin tidak dianggap. Ditambah lagi setelah menikah dia malah melahirkan Nara yang berjari enam.

Keluarga kandungnya sendiri ikut merasa malu dan memandang rendah dirinya. Hubungan mereka pun perlahan merenggang, bahkan hampir seperti sudah putus tali saudara.

Sudah tiga atau empat tahun ini Nyonya Mu tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya, dan tidak ada satu pun saudaranya yang datang berkunjung. Mereka memperlakukannya seperti orang asing, benar-benar seperti air yang sudah tumpah dari wadahnya.

Karena itulah, Nyonya Mu tidak pernah berani memikirkan kata cerai. Seburuk apa pun perlakuan Keluarga Yan padanya, tempat ini adalah satu-satunya rumah yang dia punya untuk berteduh.

"Jangan pernah bahas masalah ini lagi ya. Ibu dan ayahmu sudah tua, sekarang kami cuma menjalani hidup yang tersisa aja," kata Nyonya Mu dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Ara, Ning, kalian harus ingat baik-baik. Orang yang tidak punya rumah itu hidupnya bakal telantar, seperti eceng gondok yang tidak punya akar," lanjut Nyonya Mu menasihati kedua putrinya.

"Ibu..." Nara mencoba menyela.

"Sudah, jangan diteruskan lagi. Kalau sampai orang lain dengar, bisa panjang urusannya," potong Nyonya Mu cepat.

"Kalian berdua istirahat aja di kamar. Ibu mau ke kebun belakang dulu buat menggemburkan tanah," sambung Nyonya Mu lalu bergegas melangkah keluar dari kamar.

Kini di dalam Kamar Barat hanya tersisa Nara dan Yan Ning. Yan Ning menatap kakaknya dengan pandangan penasaran. "Kak, kenapa Kakak kepikiran sampai ke sana?"

"Memangnya kamu betah tinggal di rumah yang penuh orang jahat ini?" Nara balik bertanya.

Yan Ning langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja tidak! Ke mana pun Kakak dan Ibu pergi, aku pasti ikut."

Nara tersenyum lembut lalu mengusap kepala adiknya. "Tenang aja, Kakak janji bakal membuat kehidupan kita jauh lebih baik nanti."

Yan Ning mengangguk mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. Sejak kakaknya nekat memotong jari tambahannya, sikap Nara berubah jadi jauh lebih berani dan percaya diri.

Yan Ning senang melihat perubahan ini, kakaknya tidak lagi penakut seperti burung puyuh yang selalu bersembunyi ketakutan.

Nara tersenyum tipis. Dari dalam kamar, dia samar-samar bisa mendengar suara Nenek Lou yang sedang memberikan perintah dengan nada galak kepada Nyonya Mu di luar rumah.

Nara memutar otak, memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengubah cara pandang ibunya yang terlalu pasrah dan lemah itu.

Sementara itu di Kamar Timur, Han Ruo sedang meluapkan amarahnya. Dia mengempaskan tubuhnya ke kasur lalu memukul-mukul ranjang dengan kesal sambil terus memaki.

Yan Ran yang berada di sampingnya berusaha menenangkan ibunya yang sedang naik pitam itu.

"Nara itu cuma anak cacat yang sial! Istri sah apaan si Mu itu? Cuma ayam betina yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki, cih!" umpat Han Ruo dengan wajah memerah menahan dongkol.

"Wanita tua itu juga bodoh sekali, gampang dihasut sama omongan manis anak sialan itu sampai kehilangan arah," lanjut Han Ruo merutuk kesal.

"Lihat saja si Yan Ling itu, gaya bicaranya tinggi sekali seolah-olah besok sudah pasti dinikahi orang kaya. Sadar diri dong, mimpi saja terus!" cerocosnya panjang lebar.

"Ibu, pelankan suaramu!" bisik Yan Ran panik sambil mencoba membekap mulut ibunya. "Kalau sampai Nenek dengar dari luar, urusannya bisa gawat."

Han Ruo melotot tajam lalu menepis tangan anaknya dengan kasar. "Kamu ini mau membuat ibumu mati lemas, ya?!"

Walaupun kesal, Han Ruo tetap menurunkan nada suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar kamar.

"Ibu rasa nenekmu itu sudah mulai pikun. Ibu kan sudah melahirkan dua anak laki-laki buat keluarga ini, tapi dia malah menyuruh Ibu mencuci piring kotor!" keluh Han Ruo dengan napas memburu.

"Sekali dibiarkan, wanita tua itu pasti bakal terus-terusan menyuruh Ibu kerja kasar di dapur ke depannya," sambung Han Ruo makin jengkel.

"Ini semua pasti gara-gara hasutan Nara si pembawa sial itu, Bu," timpal Yan Ran memanas-manasi ibunya.

"Benar banget!" Han Ruo langsung memperbaiki posisi duduknya di atas kasur sambil menggertakkan gigi.

"Semua ini gara-gara anak pembawa sial itu! Ibu sampai heran, sejak kapan mulut anak cacat itu berubah jadi tajam dan pintar memojokkan orang begitu?" gumam Han Ruo penuh curiga.

Yan Ran terdiam sejenak, ikut memikirkan perubahan drastis pada diri kakak tirinya belakangan ini.

Tiba-tiba sebuah pikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat matanya seketika membelalak lebar. "Bu, jangan-jangan... si Nara itu lagi kerasukan hantu?"

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!