NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SIKSAAN DI GUDANG

#

Siang itu panas menyengat. Matahari kayak lagi marah—terik banget, bikin aspal sekolah ngepul uap panas. Dyon duduk di bawah pohon rindang di belakang kelas, sendirian. Andra lagi ada les tambahan matematika, Leonardo dipanggil ke ruang osis—ada rapat penting katanya.

Jadi... Dyon sendirian lagi.

Dia buka buku yang dipinjemin Ismi—"Kumpulan Kisah Sahabat Nabi". Halaman yang lagi dibaca: kisah Bilal bin Rabah waktu disiksa majikannya. Ditindih batu besar, kulitnya melepuh kena pasir gurun yang panas, tapi dia tetep bilang "Ahad... Ahad...".

Dyon ngerasain dadanya sesak. Bukan karena baca kisahnya. Tapi karena... dia ngerasa lemah. Bilal kuat. Bilal sabar. Sementara dia? Kemarin nangis cuma gara-gara dikhianatin sahabat.

Lemah.

"Dyon."

Suara dari belakang. Suara yang... familiar.

Dyon nengok cepat. Jantungnya langsung dag-dig-dug.

Sulaiman.

Berdiri di sana sendirian. Nggak ada Arman. Nggak ada Edward. Cuma dia. Mukanya... beda. Nggak sombong kayak tadi pagi. Malah... sedih?

"Man?" Dyon berdiri pelan. Buku ditutup, dipegang erat. "Ada apa?"

Sulaiman melangkah maju. Pelan. Matanya nunduk—nggak berani natap Dyon langsung. "Gue... gue mau minta maaf."

Deg.

Dyon nggak percaya telinganya. "Apa?"

"Gue... gue salah, Yon," suara Sulaiman gemetar. "Tadi pagi gue... gue keterlaluan. Gue nggak harusnya gitu. Lo... lo sahabat gue. Sahabat terbaik gue."

Air mata Sulaiman jatuh. Dia ngelap cepat pakai punggung tangan.

Dyon terdiam. Dadanya campur aduk—seneng, lega, tapi masih... sakit. Masih inget ludahan di sepatunya. Masih inget ketawa Sulaiman bareng Arman.

"Gue... gue diancam sama Arman," lanjut Sulaiman. "Bapak gue baru jadi partner bisnis bapaknya. Kalau gue nggak ikut mereka, deal bisnisnya bisa batal. Keluarga gue bisa jatuh lagi, Yon. Gue takut... gue takut balik jadi miskin lagi."

Dyon ngerti. Ngerti takutnya jadi miskin. Ngerti gimana rasanya nggak punya apa-apa.

Tapi... apa itu pembenaran?

"Man..." Dyon napas panjang. "Lo... lo nggak harus gitu. Lo bisa—"

"Gue tau, gue tau," Sulaiman potong. Dia ngedeketin Dyon, pegang bahunya. "Tapi gue udah sadar sekarang. Gue nggak mau kehilangan lo. Lo... lo satu-satunya yang ngerti gimana rasanya hidup susah. Lo sahabat gue."

Mata Sulaiman menatap Dyon—penuh penyesalan. Tulus. Kayak Sulaiman yang dulu. Sahabat masa kecil yang jujur, yang baik.

Dyon... percaya.

Bodoh. Tapi dia percaya.

"Oke," kata Dyon pelan. "Gue... gue maafin lo."

Sulaiman senyum lebar. Peluk Dyon—erat. "Makasih, Yon. Makasih banget. Lo... lo memang sahabat terbaik."

Dyon balas peluk. Dadanya lega. Mungkin... mungkin Sulaiman emang berubah pikiran. Mungkin dia masih punya hati nurani.

"Eh, Yon," kata Sulaiman sambil lepas pelukan. "Tadi gue liat ada komik bagus di perpustakaan. Lo suka komik kan? Yuk kita ke sana sebentar sebelum pulang."

Dyon ragu sebentar. "Emang... emang ada komik?"

"Ada lah! Baru masuk kemarin. Komik islami gitu, tentang kisah para nabi. Lo pasti suka!" Sulaiman nyengir—senyum yang kayak dulu. Hangat.

Dyon angguk. "Oke deh."

Mereka jalan bareng. Keluar dari bawah pohon, lewat koridor belakang yang sepi—jarang ada orang lewat sini, cuma ada kelas kosong sama... gudang tua.

Gudang penyimpanan alat olahraga yang udah nggak kepake. Pintunya kayu lapuk, cat biru udah ngelupas, ada tulisan "DILARANG MASUK" yang udah pudar.

Sulaiman berhenti di depan pintu gudang.

Dyon ikutan berhenti. "Man... ini... ini bukan jalan ke perpustakaan."

Sulaiman nggak jawab. Dia cuma senyum—tapi senyumnya berubah. Bukan senyum hangat lagi.

Tapi senyum... jahat.

"Man?" Dyon mundur satu langkah. "Lo—"

Pintu gudang kebuka. Tiba-tiba.

Arman keluar. Diikuti Edward. Senyum lebar di muka mereka berdua.

"Surprise," kata Edward sambil nyengir.

Dyon langsung mau lari—tapi terlambat. Sulaiman nangkep lengannya dari belakang, puter, kunci. Dyon teriak kesakitan.

"LEPAS! MAN, LEPAS!"

"Masukin," perintah Arman.

Sulaiman nyeret Dyon masuk ke gudang. Dyon ngelawan—nendang, berontak—tapi Sulaiman lebih kuat. Dia didorong keras sampe jatuh ke lantai gudang yang kotor, penuh debu sama sarang laba-laba.

Pintu ditutup.

Dikunci dari luar—bunyi gembok berbunyi nyaring.

Gelap. Cuma ada cahaya tipis dari celah-celah dinding kayu yang retak.

Dyon bangun cepat. Nafasnya ngos-ngosan. Matanya beradaptasi sama gelap—mulai keliatan siluet. Arman. Edward. Sulaiman. Mereka bertiga berdiri ngelilingin dia.

"Kenapa... kenapa lo lakuin ini?!" Dyon teriak ke Sulaiman. Suaranya gemetar—campuran marah, sedih, kecewa. "Lo bilang mau minta maaf! Lo bilang—"

Tamparan keras ke pipi kanan. Kepala Dyon miring, telinga berdenging.

Sulaiman yang nampar.

"Gue bohong, tolol," kata Sulaiman dingin. "Lo pikir gue beneran nyesel? Lo pikir gue peduli sama lo?"

Dyon ngelus pipinya yang panas. Matanya berkaca-kaca. "Tapi... tapi kita sahabat—"

"SAHABAT APAAN?!" Sulaiman teriak. Mukanya merah, urat di leher menonjol. "Gue udah bilang kan? Gue udah naik kelas! Gue nggak butuh sahabat sampah kayak lo!"

Tendangan keras ke perut. Dyon terlipat, jatuh ke lantai, pegang perut yang nyeri kayak ditusuk pisau.

Edward ketawa. "Wah, bagus Man! Lo belajar cepet!"

Arman nyamperin, injak punggung Dyon—tekan keras. "Gue emang hobi nyiksa anak ini. Selain miskin, mukanya nyebelin."

Dyon coba bangkit—tapi Edward nendang rusuknya. Bunyi kriyet pelan—tulang retak. Nyeri luar biasa menjalar ke seluruh dada.

"AAKH!" Dyon teriak. Air mata ngalir.

"Jangan teriak-teriak, Sampah," Edward berjongkok, pegang rambut Dyon, tarik ke atas—bikin kepala Dyon ngadep ke atas. "Lo teriak juga nggak ada yang denger. Gudang ini kedap suara. Kita udah sering pakek buat... kegiatan."

Arman nyengir. "Inget Rizky? Anak kelas sepuluh yang kabur dari sekolah bulan lalu? Dia juga kita siksa di sini. Sampe dia nggak tahan, nggak balik lagi ke sekolah."

Sulaiman ikutan ketawa. "Gue suka banget liat orang menderita. Apalagi... orang yang dulu gue anggap temen."

Dyon nggak percaya. Ini... ini bukan Sulaiman yang dia kenal. Bukan sahabatnya.

Atau... mungkin emang dia nggak pernah kenal Sulaiman yang sebenarnya.

Tendangan bertubi-tubi. Dari Arman. Dari Edward. Dari Sulaiman.

Ke perut. Ke rusuk. Ke punggung. Ke kepala.

Dyon cuma bisa ngelindungin kepala pakai tangan—tapi nggak cukup. Tendangan tetep masuk. Nyeri. Sakit. Darah keluar dari hidung, dari bibir yang pecah.

"STOP! KUMOHON!" Dyon berteriak. "GUE NGGAK SALAH APA-APA!"

"Lo salah lahir miskin!" Sulaiman nendang keras perut Dyon—berkali-kali. Mukanya penuh kebencian. "Lo salah jadi beban dunia! Lo harusnya mati aja bareng orang tua lo!"

Kata-kata itu... lebih sakit dari tendangan.

Dyon ngerasa tulang rusuknya patah—nyeri nyut-nyutan tiap kali napas. Matanya kabur. Kepala pusing. Darah ngalir dari pelipis—kena injakan sepatu Arman.

"Udah... udah cukup," kata Edward sambil ngos-ngosan. "Gue capek."

Arman ngangguk. "Iya, gue juga. Lagian dia udah setengah mati."

Sulaiman ludah—kena muka Dyon. "Sampah tetep sampah. Selamanya."

Mereka bertiga jalan ke pintu. Buka gembok. Keluar. Pintu ditutup lagi.

Dikunci.

Suara gembok berbunyi—final. Kayak suara peti mati ditutup.

Dyon tergeletak di lantai. Darah nggenang di bawah kepalanya—merah gelap, kental. Napasnya sesak—rusuk patah bikin sakit tiap kali napas.

Gelap. Sepi. Dingin.

Dia coba gerak—tangan gemetar, tapi nggak kuat angkat badan. Kakinya mati rasa.

Matanya merem. Terbuka. Merem lagi.

*Ya Allah... tolong aku.*

Nggak ada jawaban.

Cuma suara napasnya sendiri yang pelan—kayak nyawa yang mulai pergi.

*Aku pikir neraka itu di akhirat.*

Cahaya dari celah dinding makin redup. Matahari mulai tenggelam.

*Ternyata aku sudah tinggal di dalamnya.*

Gelap.

Semuanya gelap.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Dan di kegelapan itu, aku nggak tau—apakah besok masih ada untukku, atau ini akhir dari segalanya.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!