kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Jalur Terlarang
Info:
~KERAJAAN ATLAS ~
*ratu layla : kejam
-delta : panglima
-Penasehat: penyihir petir
-nama kerajaan : atlas
—pasukan : *minotaur : manusia banteng
*centaur : manusia kuda
*griffon :elang bertubuh singa
*naga api
~KERAJAAN ATLANTIS ~
*Ratu : siluman rubah
*Penasehat : penyihir tanah
*Panglima : manusia elang
—pasukan : *manusia serigala
*Puti duyung
*hydra
*Naga tanah
*ATLAS MELAWAN ATLANTIS*
Armada Kerajaan Atlas yang kini diperkuat oleh teknologi dari jembatan baru dan hasil jarahan sebelumnya, mulai membelah samudera. Kapal-kapal perang raksasa yang mengangkut legiun Minotaur, pemanah Centaur, dan kandang-kandang besi berisi Naga Api serta Griffon, bergerak seperti barisan monster kayu di atas air. Panglima Delta berdiri di haluan kapal utama, sementara Penasehat berada di menara pengintai, tangannya sesekali memercikkan kilat kecil untuk memantau arah angin.
Namun, samudera menuju Atlantis bukanlah wilayah yang ramah bagi mereka yang bernapas di udara. Segera setelah mereka melewati batas wilayah perairan dalam, laut mulai bergejolak tanpa adanya awan mendung. Di bawah permukaan air yang gelap, bayangan-bayangan raksasa mulai bermunculan. Serangan pertama datang dari monster air purba yang memiliki tentakel sepanjang kapal perang Atlas.
Tentakel berduri menghantam lambung kapal, mencoba menyeret prajurit Minotaur yang berat ke dalam kegelapan abadi. Para Minotaur meraung kemarahan, menghantamkan kapak raksasa mereka ke arah tentakel yang membelit, namun air laut yang asin justru membuat luka-luka di kulit mereka semakin perih.
Di tengah kekacauan itu, muncul serangan gerilya dari kawanan hiu raksasa yang dipandu oleh makhluk-makhluk setengah ikan yang ganas. Setiap kali pasukan Atlas mencoba membalas dengan panah-panah Centaur, monster-monster tersebut dengan cepat menyelam ke kedalaman yang tidak terjangkau.
Penasehat merapal mantra petir yang dihantarkan langsung ke air laut untuk menyetrum monster yang mendekat. Permukaan laut sempat dipenuhi oleh bangkai monster air yang hangus, namun jumlah mereka seolah tidak ada habisnya. Suasana di atas kapal menjadi mencekam karena setiap detik ada risiko kapal akan hancur atau prajurit akan ditarik ke dasar laut.
Setelah melewati rintangan monster laut yang mengerikan, armada Atlas akhirnya melihat cakrawala yang dipenuhi dengan kabut tebal yang menyelimuti wilayah Kerajaan Atlantis. Namun, sambutan yang mereka terima jauh lebih mematikan daripada monster air sebelumnya. Saat kapal-kapal Atlas mulai mendekati wilayah pesisir, laut di sekitar mereka tiba-tiba membeku,penyihir tanah memadatkan pasir di dasar laut hingga muncul ke permukaan sebagai pilar-pilar tajam.
Pertempuran sengit pun pecah. Ratu Atlantis, seorang siluman rubah dengan pesona yang mematikan dan kecerdasan taktik yang luar biasa, memerintahkan Panglima Elang-nya untuk memimpin serangan udara. Pertarungan di angkasa terjadi antara Griffon Atlas dan Manusia Elang Atlantis. Di daratan yang baru saja terbentuk dari sihir, unit Minotaur dan Centaur berhadapan langsung dengan keganasan Manusia Serigala. Penasehat Atlas mencoba melepaskan badai elektrik untuk melumpuhkan musuh, namun ia tiba-tiba diserang oleh Penasehat Atlantis, seorang penyihir tanah yang sangat kuat. Ledakan energi terjadi ketika petir menghantam perisai batu yang sangat tebal. Dalam sebuah duel sihir yang menghancurkan, Penasehat Atlas terkena hantaman proyektil batu runcing yang menembus bahunya, memaksanya jatuh berlutut dengan darah yang mengalir deras.
Keadaan semakin memburuk bagi Atlas. Naga Api yang menjadi kebanggaan mereka kesulitan bermanuver karena serangan Hydra milik Atlantis yang memiliki sembilan kepala dengan napas beracun. Tiga ekor Griffon pemimpin tewas tercabik-cabik oleh cakar Manusia Elang, sementara Naga Api menderita luka sobek di sayapnya akibat hantaman ekor Naga Tanah. Panglima Delta melihat barisannya mulai kocar-kacir; beberapa unit Minotaur terbaiknya tewas tertimbun reruntuhan batu sihir, dan para Centaur kehabisan anak panah karena musuh terlalu cepat berlindung di balik tembok tanah yang muncul tiba-tiba. Menyadari bahwa kekalahan total sudah di depan mata,
Delta meniup terompet mundur. Dengan sisa-sisa tenaga, mereka menarik kapal yang belum hancur untuk menjauh dari jangkauan sihir mematikan Atlantis,
Pelarian pasukan Atlas berakhir di sebuah pulau kecil yang tandus, tidak jauh dari wilayah perbatasan Atlantis. Kondisi pasukan sangat mengenaskan. Penasehat Atlas terbaring lemah dengan luka di bahu yang mulai menghitam akibat racun sihir tanah.Namun, sebagai penyihir tingkat tinggi, ia tidak menyerah. Di bawah pohon-pohon mati di pulau itu, ia mulai merapal mantra penyembuhan kuno yang menguras sisa energinya untuk menutup luka-luka para prajurit. Selama beberapa hari, pulau kecil itu menjadi kamp medis yang sunyi. Para Minotaur yang tersisa duduk dengan kepala tertunduk, sementara Naga Api yang terluka meringkuk di gua karang untuk memulihkan sayapnya. Delta menggunakan waktu ini untuk merancang serangan kejutan; ia menyadari bahwa menyerang Atlantis secara terbuka adalah bunuh diri, sehingga ia beralih ke strategi "pukul dan lari".
Setelah kondisi Penasehat mulai stabil dan kekuatan pasukan pulih berkat ramuan penguat, Delta memimpin serangan balik yang terencana. Alih-alih menyerang jantung kerajaan, mereka menyerang kamp-kamp luar Atlantis di mana terdapat banyak budak yang sedang bekerja mengumpulkan sumber daya laut. Serangan ini dilakukan saat fajar, saat kewaspadaan pasukan Atlantis menurun. Dengan koordinasi yang cepat, pasukan Atlas berhasil melumpuhkan penjaga Manusia Serigala dan merebut ratusan budak yang terdiri dari berbagai ras.
Dengan hasil tangkapan budak yang signifikan, Delta memerintahkan pasukannya segera berlayar kembali menuju Kerajaan Atlas,Sesampainya di dermaga Istana Atlas, mereka disambut dengan suasana yang dingin. Ratu Layla berdiri di ujung Jembatan Kesombongan-nya, menatap tajam ke arah pasukannya yang kini jauh lebih sedikit jumlahnya.
Ratu Layla hanya tersenyum tipis saat melihat rantai-rantai budak baru itu ditarik turun dari kapal,