NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendatangi Kantor Pusat Huda Tex

#5

Karena terlalu sibuk dengan ponselnya, Miranda tak menyadari ada bola basket yang melayang ke arahnya. 

Namun, beruntung bagi Miranda, karena sesaat kemudian seseorang dengan gesit menarik lengannya, hingga ia terhindar dari hantaman bola. Namun, berakhir di pelukan pria yang menyelamatkannya. 

Kedua insan itu saling berpandangan, suasana di sekitar seolah terhenti sejenak. Namun, dengan cepat Biru mengurai pelukan. “Maaf, bukan bermaksud tak sopan, tapi tadi—” ucapnya, namun, dihentikan oleh Miranda. 

“Its okay, aku yang harusnya berterima kasih,” sela Miranda. 

Biru mengangguk sejenak, tak ingin berlama-lama di dekat Miranda Pria itu pun berlalu, memungut bola yang tadi hampir mengenai kepala Miranda. “Kira-kira, dong, kalo lempar bola,” tegur Biru pada teman-teman satu circle-nya. 

 

Namun, mereka hanya cengengesan tak jelas, dan makin meledek Biru yang biasanya jaim di hadapan para gadis. Padahal ia menjadi salah satu incaran para gadis muda, sebab parasnya yang rupawan. 

Sementara itu, Miranda akhirnya bisa bernafas leluasa, setelah Biru menjauh darinya. Aneh sekali, kenapa perasaannya tiba-tiba bergetar, hanya karena pelukan singkat seorang pria. Padahal biasanya ia juga berpelukan dengan kawan-kawan prianya bila bertemu, tapi dengan pria itu, kenapa rasanya berbeda? dalam hati ia bertanya-tanya. 

Mungkin karena pria itu berbeda, biasanya para pria yang baru pertama kali bertemu dengannya, selalu mengajak berkenalan, atau menciptakan modus agar bisa mendapatkan nomor ponselnya. 

Tapi dia, tak ada keinginan berkenalan, atau minta nomor telepon, malah minta maaf. Please! Miranda butuh penjelasan, berasal dari mana makhluk tampan itu? Kenapa lain daripada yang lain? Miranda menjerit dalam hatinya. 

Miranda membawa rasa penasarannya hingga ke kantor administrasi, sejenak ia menepis perasaannya, dan bisa mengurus segala sesuatunya berkenaan dengan tempat perkuliahannya yang baru dengan tenang dan santai. 

•••

Kembali ke tempat Ayu. 

Hingga beberapa saat setelah mengantar kepergian Biru untuk kuliah, Ayu masih tertegun menatap ruangan kosong yang ditinggalkan Biru. Kepulan asap dari motor Biru masih tertinggal, dan entah kenapa Ayu masih merasa berat walau hanya berpisah sejenak dengan sang buah hati yang kini telah beranjak menjadi pria dewasa. 

Waktu terasa cepat berlalu, Biru mungilnya dulu, kini telah bertransformasi menjadi pemuda dewasa. Bahkan lebih mengagumkan lagi, Biru berusaha membiayai kuliahnya sendiri, kendati Giana sudah mengatakan akan menjamin pendidikan Biru hingga ke jenjang paling tinggi. 

Sesaat lalu, Ayu sangat bahagia karena melihat Biru dengan lahap menyantap apapun yang Ayu suguhkan di piringnya. Biru tetaplah Biru si anak patuh, walau terlihat masih menjaga jarak, namun, Biru menghargai usaha Ayu untuk lebih dekat dengannya. Itu saja sudah membuat Ayu senang, dan di lain waktu ia berjanji akan masak hidangan istimewa bila Biru kembali datang. 

“Belum puas juga menatap piring kosong?” sindir Giana kala melihat Ayu masih termenung menatap piring kosong bekas alas makan Biru. 

Ayu tersipu malu, “Maklum, lah, Kak. Aku masih dikuasai euforia bahagia karena kembali jumpa dengan putraku.” 

Giana telah bersiap dengan pakaian kerjanya, “Kakak mau kemana?” tanya Ayu. 

“Bukan hanya aku, tapi kita berdua yang akan pergi.” 

“Oh, ya?” 

Giana mengangguk, “Aku akan membawamu ke tempat kerjaku. Dan bila kau berkenan, tempat itu juga akan menjadi tempat kerja kau.” 

Ayu mengerutkan kedua alisnya, ragu, tapi ia tak punya pilihan selain menurut. 

Bahkan Giana memilihkan pakaian formal untuk Ayu, lengkap dengan tas, dan ponsel baru. Benda yang menurut Ayu sangat ajaib, karena bisa melakukan apapun dengan benda tersebut, selain telepon dan berkirim pesan. 

Kali ini kepergian Giana dan Ayu diantar sopir pribadi, bukan lagi Mahardika, agar wibawa pria itu sebagai wakil direktur, tak di pandang rendah. 

Untuk kedua kalinya Ayu merasa benar-benar bahagia yang pertama ketika melahirkan Biru, dan sekarang karena ia tahu, bahwa dirinya memiliki keluarga selain puteranya. Keluarga sesungguhnya, walau tak lagi utuh, dan Ayu sangat bersyukur dengan kejutan yang Allah siapkan untuknya. 

Mereka tiba di pabrik tekstil Huda Tex, pabrik penghasil kain berkualitas tinggi yang pemasarannya telah mencapai luar negeri. 

Kedatangan Giana dan Ayu disambut ramah oleh mandor yang mengawasi gudang bahan baku, berlanjut dengan perkenalan singkat Ayu dengan Pak Hasan. Pak Hasan mengajak Giana dan Ayu berkeliling, memberi penjelasan, serta melihat secara langsung kegiatan para buruh pabrik yang sedang memilah bahan baku demi kualitas kain terbaik. 

Setelah puas berkeliling, Ayu dan Giana mendatangi tempat pengolahan bahan baku menjadi kain. Di tahap ini, kain sudah diproduksi dengan mesin berteknologi canggih, hingga tak banyak melibatkan tenaga manusia di dalamnya. 

Semuanya dikendalikan dari ruang kontrol utama, dan petugas bisa mengoperasikan mesin-mesin tersebut, hanya dengan menekan tombol-tombol yang hanya dipahami oleh para insinyur mesin yang bertugas di sana. 

Perjalanan berikutnya adalah ke kantor pusat, tempat Giana mengendalikan laju perusahaan. 

“Selamat Siang, Bu Giana.” 

Petugas yang berjaga di lobi depan menyapa Giana dengan sopan setelah membukakan pintu mobil untuknya. 

“Siang, Pak,” sahut Giana tak kalah ramah. 

Sementara di sisi Giana, Ayu tak henti berdecak kagum, rupanya sang kakak sepupu adalah wanita yang sangat keren. Sungguh sial bagi Gunawan karena menukar berlian se-indah Giana dengan batu dekil dari selokan seperti Anjani. 

“Kak—” ucap Ayu kala mereka berdua sudah berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke ruangan Direktur Utama. 

Giana tertawa gemas melihat ekspresi Ayu yang sangat polos itu. “Apa? Kau mau bilang apa?” 

“Kak, tolong katakan aku tidak sedang bermimpi.” Ayu mengulurkan lengannya agar Giana mencubit atau memukulnya, agar ia sadar tidak sedang bermimpi. 

“Nih, rasakan,” kata Giana seraya mencubit lengan Ayu. 

“Auch! Sakit,” keluh Ayu, namun bibirnya menyeringai. “Ternyata bukan mimpi. 

“Iya, ini bukanlah mimpi, dan ini adalah perusahaan yang Ayah bangun sebelum beliau wafat dalam kerinduan mendalam pada adik yang tak pernah lagi ia jumpai hingga akhir hayat.” 

Giana menggenggam tangan Ayu, “Kita harus bergenggaman tangan, saling mendukung dan menguatkan. Jika kau bahagia, maka aku lebih bahagia, karena berhasil menemukanmu dan Biru. Akhirnya Huda Tex memiliki penerus.” 

“Kenapa Kakak tidak menikah kembali?” 

“Aku pun bertanya demikian padamu, maukah kau menikah kembali?”

Ternyata jawaban dua wanita itu pun sama, mereka menggeleng dengan yakin. “Harapanku selama berada di penjara hanyalah, agar aku bisa hidup tenang tanpa gangguan bersama puteraku, itu saja.” 

“Aku pun tak akan membiarkan diriku bahagia, sebelum bisa melihat Gunawan dan Anjani mempertanggungjawabkan kejahatan mereka.” 

Lift berhenti tepat di lantai tempat ruangan Giana berada,  dan wanita itu segera menggiring Ayu masuk ke sebuah ruangan luas ada meja yang sangat luas, berjajar juga mesin jahit lengkap dengan penjahitnya di sana. 

“Kak, ruangan apa ini?” 

“Inilah, kantor LS Collection. Dan mereka semua adalah orang-orang yang mewujudkan imajinasimu menjadi bentuk yang nyata hingga bisa dipasarkan.” 

Ayu menganga tak percaya, setelah mendengar ucapan Giana, ia baru menyadari bahwa deretan pakaian modis yang berjajar di ruangan tersebut, adalah hasil rancangannya sendiri. 

“Selamat datang, Ibu Lembayung Senja,” ucap para pegawai bersamaan, seolah-olah sudah diatur sebelumnya. 

Giana tersenyum misterius, “Ini hanya permukaan, dan hidangan utamanya belum lagi di sajikan,” ujar Giana misterius. 

“Hidangan utama apa, Kak?” 

1
Siti Siti Saadah
siapapun yg hendak mencelakai biru semoga gagal dan berbalik Aamiin
Nar Sih
semoga biru ngk knpa,,yaa
Esther Lestari
kecelakaan yg disengaja ?
Berita soal Biru jangan2 sumbernya dari Tian
Patrick Khan
aduhhh apa lg ini
Aditya hp/ bunda Lia
waduh ... apa ini sengaja? kalo iyah ulah siapa? gunawan, Anjani apa si Tian ?
Nar Sih
moga aja bnr klau biru dan miranda saudara satu ayah biar mereka ngk pcran
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!