"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-empat.
Pagi itu, kebun di Pesantren Al-Hidayah diselimuti kabut tipis. Najwa berdiri di gerbang utama, sebuah koper kecil dan tas kain berisi mushaf ada di pelukannya. Ratusan santriwati berkumpul, mata mereka merah karena tangis perpisahan. Najwa, yang biasanya paling ceria, kali ini harus berjuang keras menahan air matanya agar tidak jatuh.
Di antara kerumunan itu, muncul Zora. Sebagai mantan sosialita yang dulu hidup penuh kepalsuan dan sandiwara saat di kota, tentu sangat tahu tentang peta kekuasaan di kota. Ia mendekati Najwa, menggenggam jemari gadis itu dengan sangat erat.
Zora menarik Najwa sedikit menjauh dari kerumunan, memastikan suaranya hanya terdengar oleh telinga Najwa.
Zora berbisik dengan suaranya yang terdengar sangat rendah namun penuh penekanan "Najwa, dengarkan aku baik-baik. Kamu akan masuk ke rumah yang dindingnya terbuat dari emas, tapi lantainya penuh dengan duri tak kasat mata. Keluarga Tuan Afkar... mereka bukan seperti keluarga di pesantren ini."
Najwa menatap Zora dengan serius "Apa maksud kak Zora? Bukankah Ayah sudah berjanji akan menjagaku?"
Zora tersenyum getir "Ayahmu memang punya wibawa, tapi dia punya kelemahan besar bernama Monica. Monica itu ular yang sangat cantik, Najwa. Dia tidak akan memukulmu dengan tangan, dia akan memukulmu dengan kata-kata dan situasi. Jangan pernah makan atau minum apa pun yang tidak disiapkan oleh orang yang kamu percayai sepenuhnya di sana...bila perlu,kau menyiapkan keperluan mu sendiri termasuk makan dan minum."
Najwa tertegun, namun ia mengangguk mantap.
"Tunjukkan pada mereka bahwa lulusan pesantren bukan berarti gadis desa yang dungu. Gunakan otakmu yang cemerlang itu. Ingat, Najwa... ibumu, Bunda Maryam, kalah karena dia hanya menggunakan hati. Kamu... kamu harus menggunakan keduanya. Jadilah mawar yang indah, tapi pastikan durimu cukup tajam untuk siapa pun yang mencoba memetikmu dengan paksa." tutur Zora penuh tekad.
Najwa kemudian berbalik menghadap teman-temannya. Ia tersenyum lebar, senyum matahari pagi yang akan sangat dirindukan oleh seluruh isi pesantren.
"Teman-teman... jangan menangis. Doakan aku agar hafalan ini tidak hilang tergerus mewah dunia. Aku pergi bukan untuk berubah, tapi untuk membuktikan bahwa pendidikan Kyai Rahman bisa bertahan di mana saja." ucap Najwa dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan lupakan kami, Najwa! Kalau rumah itu terlalu gelap, pulanglah ke sini. Kami selalu punya tempat untukmu!" balas teman-temannya.
Najwa memeluk mereka satu per satu. Saat mobil mewah milik Afkar mendekat, Najwa menarik napas panjang. Ia merapikan jilbabnya, menegakkan punggungnya, dan melangkah dengan dagu terangkat. Ia bukan lagi sekadar gadis yatim piatu, ia adalah seorang pejuang yang sedang menuju medan perang....
" sudah siap nak?" tanya Afkar penuh perhatian.
Najwa tersenyum mengangguk, lalu menaiki mobil mewah Ayahnya, meninggalkan pesantren yang membesarkannya....
Kyai Rahman dan sang istri tak kuasa menahan air matanya...bagi mereka, Najwa sudah seperti putri bungsu mereka.... mereka terus berdiri di depan gerbang pesantren santriwati, melihat mobil mewah yang membawa putri mereka sampai berbelok di persimpangan.
"apakah tidur ayah nyenyak semalam ?" tanya Najwa untuk memecah kecanggungan, ia tahu , saat ini Ayahnya Masi merasa sangat bersalah kepadanya, jadi ia harus lebih dulu memulai percakapannya.
Afkar menoleh sekilas, " Alhamdulillah.... semalam, tidur Ayah sangat nyenyak " balas Afkar tersenyum...semalam , setelah mengunjungi makam istri keduanya yang berada di belakang pesantren , ia merasakan ketenangan hidup yang sesungguhnya..., Afkar tidur di kamar Maryam yang selalu di tempati Najwa saat menginap di rumah kyai Rahman... semalaman ia terus memandangi foto almarhumah istrinya, sampai ia terlelap dengan sendirinya.
Perjalanan menuju kota terasa lebih santai dibandingkan saat ingin menjemput putrinya... apalagi, putri cantik yang ia sayangi duduk di kursi samping dirinya... ia merasa saat-saat seperti ini akan selalu ia rindukan...
beberapa jam kemudian, Afkar dan putrinya sampai di pelataran rumah mewah yang bernuansa Eropa... pilar-pilar menjulang tinggi, menambah kesan klasik dari bangunan megah tersebut....
Ciiiiiiit...
Mobil berhenti tepat di depan teras pintu rumah utama..., para penjaga mendekat,lalu membukakan pintu mobil mewah tersebut.
Afkar menoleh pada putrinya " sudah siap nak?" tanya Afkar tersenyum.
Najwa mengangguk " iya Ayah, insyaaAllah Najwa siap" balasnya mantap.
Afkar masuk dengan wajah penuh harapan, menuntun Najwa yang tampak begitu kecil di tengah kemegahan rumah itu. Najwa menunduk, tangannya memegang tas kain berisi mushaf Al-Qur'an dan koper kecil berisi baju muslim.
Monica langsung berlari keluar setelah melihat suami dan anak tirinya datang.... Ia berlari kecil menghampiri Najwa dengan wajah yang tampak sangat haru, bahkan seolah matanya berkaca-kaca.
Monica memeluk Najwa dengan hangat, namun Najwa bisa merasakan tubuh Monica yang kaku dan dingin..."Ya Allah... jadi ini Najwa? Cantik sekali, persis seperti yang Papa ceritakan. Selamat datang di rumah, Nak. Maafkan Mama ya, kalau selama ini kita terlambat menjemputmu." ucap Monica penuh kepalsuan... dalam hatinya ia merasa sangat benci, apalagi melihat wajah Najwa yang sangat cantik tanpa riasan apapun, itu membuat hatinya panas , ia teringat wajah Maryam yang sudah menjadi madunya.
Raisa pun merasakan hal yang sama, ia merasa iri dengan kecantikan alami Najwa... Raisa Ikut mendekat, memasang senyum palsu paling manis "Hai, Najwa! Aku Raisa. Kita seumuran, lho. Nanti aku tunjukkan kamarmu ya? Kita bisa jadi saudara sekaligus sahabat baik."
Najwa mendongak perlahan. Sebagai seorang hafidzah yang hatinya peka karena sering berinteraksi dengan ayat-ayat suci, ia merasakan sesuatu yang janggal. Ada aura gelap di balik senyum wanita di depannya, namun ia hanya diam dan membalas dengan santun.
"Terima kasih, Tante... dan..... " Najwa menghentikan ucapannya karena ia tidak tahu gadis di depannya...., Ayahnya hanya mengatakan , kalau ia hanya memiliki dua saudara laki-laki satu ayah tapi beda ibu...
Najwa menoleh pada Ayahnya....mencoba bertanya dengan bahasa matanya...
Namun sebelum Ayahnya menjawab, Monica menyela lebih dulu...
" perkenalkan sayang...dia adalah Raisa, adikmu...anak mama dan papa, kalian saudara sekarang...dan kalian seumuran...dan mulai saat ini , jangan panggil aku Tante, panggil aku mama seperti Raisa" timpal Monica tersenyum canggung.
Najwa tersenyum mengangguk " oh..baik ma..." lalu Najwa menoleh ke arah Raisa." Hai Raisa....Mohon bimbingannya, karena saya orang baru di sini."
Afkar yang melihat itu merasa sangat lega. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menggiring domba kecil yang suci ke dalam sarang serigala yang lapar...., ia kira istrinya tidak akan menerima kehadiran Najwa, tapi dirinya kini merasa sangat tenang, ketika istri dan anak angkat nya menerima Najwa dengan baik.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong