Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Bawah Langit Berdarah
Langit Kerajaan Li tidak lagi berwarna biru. Asap hitam dari lumbung pangan yang terbakar menyelimuti cakrawala, sementara di kejauhan, dentuman genderang perang dari aliansi tiga kerajaan terdengar seperti detak jantung kematian. Istana Cahaya yang dulunya adalah simbol harapan, kini terasa seperti penjara yang siap runtuh.
Li Hua berdiri di tengah aula yang porak-poranda. Ia mengenakan baju zirah perak yang telah lama ia simpan, namun di dadanya, ia mengikatkan sebuah kain sutra tebal yang menyangga Tian Shu dan Li Mei. Kedua bayi itu tidak menangis; mereka terdiam, seolah-olah aura ketegangan di udara telah mematikan insting kekanakan mereka.
"Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi," ucap kaisar Tian Long, suaranya parau. Darah mengalir dari luka kecil di pelipisnya. "Pasukan Kerajaan Bara sudah menembus tembok luar. Mereka tidak datang untuk berunding, Li Hua. Mereka datang untuk melakukan pembersihan."
Pengorbanan Sang Saudara
Saat mereka mencoba mencapai jalur rahasia di gerbang belakang, langkah mereka terhenti oleh ledakan sihir Nenek Shira yang meruntuhkan atap disekitar pintu utama kerajaan. Dari balik debu yang mengepul, muncul pasukan bertopeng serigala yang dipimpin langsung oleh Nenek Shira yang wajahnya kini separuh hangus dan mengerikan.
"Berikan anak-anak itu, atau aku akan meratakan istana ini dengan tanah!" teriaknya.
Mu Feng melangkah maju, menghalangi jalan. Ia menoleh ke arah Li Hua dan Tian Long. Matanya yang perak tidak lagi memancarkan kedinginan, melainkan sebuah tekad yang damai.
"Pergilah, Kakak. Bawa mereka ke Pegunungan Giok," ucap Mu Feng pelan.
"Mu Feng, jangan gila! Pasukan mereka terlalu banyak!" Li Hua mencoba menarik lengan adiknya.
Mu Feng tersenyum tipis,senyuman pertama yang tulus sejak ia menginjakkan kaki di istana. "Selama ini aku hidup sebagai senjata yang hanya tahu cara menghancurkan. Biarlah kali ini, aku hidup sebagai seorang paman yang tahu cara melindungi. Darah klan Mu di dalam tubuhku... akan kugunakan untuk menutup jalan ini selamanya."
Tanpa menunggu jawaban, Mu Feng menusukkan telapak tangannya ke lantai batu. Cahaya perak meledak dari tubuhnya, menciptakan dinding energi yang membeku menjadi kristal raksasa, menutup seluruh lorong gerbang belakang. Li Hua hanya bisa melihat wajah adiknya yang memudar di balik kristal yang semakin tebal, saat Mu Feng mulai bertarung sendirian melawan puluhan pembunuh bayaran di sisi lain.
"MU FENG!" jerit Li Hua, namun kaisar Tian Long menariknya menjauh.
"Kita harus pergi! Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia!"
Pelarian Menembus Badai
Mereka berlari menembus hutan pinus yang gelap, menuju kaki Pegunungan Giok. Namun, pengepungan tiga kerajaan sangatlah rapat. Di sebuah lembah sempit, mereka terkepung oleh pasukan kavaleri Kerajaan Angin. Ratusan anak panah api menghujani mereka. Kaisar Tian Long mengamuk seperti singa yang terluka. Pedang Naga Hitamnya menebas setiap musuh yang mendekat, menciptakan barikade mayat demi melindungi istri dan anak-anaknya. Namun, jumlah musuh tak ada habisnya.
Di saat kritis, Li Mei yang berada di dekapan Li Hua tiba-tiba membuka matanya yang abu-abu. Ia menatap ke arah tebing di atas mereka. "Jatuh... air... lari!" gumamnya pelan.
Li Hua segera mengerti. "yang mulia! Ke arah sungai! Li Mei melihat jalan keluar!"
Mereka melompat ke sungai yang berarus deras tepat saat tebing di atas mereka runtuh akibat guncangan energi, menimbun pasukan kavaleri musuh yang mengejar. Arus sungai membawa mereka jauh ke dalam jantung pegunungan, tempat yang belum pernah terjamah oleh peta mana pun.
Kebenaran yang Menyakitkan
Setelah berhasil menepi dalam keadaan basah kuyup dan menggigil, mereka menemukan sebuah kuil tua yang tersembunyi di balik air terjun abadi. Di sana, seorang wanita tua yang sangat mirip dengan Nenek Shira, namun dengan aura yang jauh lebih tenang, menunggu mereka.
"Kalian akhirnya datang," ucap wanita itu. Ia adalah Nenek Mayang, saudara kembar Nenek Shira yang selama ini mengasingkan diri.
Nenek Mayang menatap si kembar dengan iba. "Kalian mencari cara untuk menidurkan kekuatan mereka? Ketahuilah, alasan Nenek Shira begitu menginginkan anak-anak ini bukan hanya karena kekuatan mereka. Tapi karena silsilah yang kalian sembunyikan."
Nenek Mayang menatap kaisar Tian Long. "yang mulia, apakah kau tahu mengapa ayahmu, Kaisar terdahulu, begitu membenci klan Mu namun sangat terobsesi pada mereka? Itu karena Nenek Shira adalah kekasih pertama ayahmu yang ia khianati demi takhta. Anak-anak ini... mereka membawa darah rekonsiliasi yang sangat kuat, namun juga kutukan dari cinta yang dikhianati."
Tian Long terhuyung. Jadi, perang ini bukan hanya tentang politik, tapi tentang dendam pribadi seorang wanita yang sakit hati selama puluhan tahun?
Ritual di Ujung Tebing
"Hanya ada satu cara," ucap Nenek Mayang. "Kekuatan mereka harus disegel ke dalam dua buah giok surgawi sampai mereka berusia tujuh belas tahun. Namun, penyegelan ini membutuhkan pengorbanan dari sang ibu. Li Hua, kau harus menyerahkan seluruh sisa kekuatan Mata Emasmu. Kau akan menjadi manusia biasa kembali lemah, rentan, dan mungkin... penyakit lamamu akan kembali menyerang ragamu."
Li Hua menatap kedua anaknya yang kini mulai menggigil kedinginan. Ia lalu menatap Tian Long.
"Aku tidak pernah menginginkan Mata Emas ini, Tian Long," ucap Li Hua dengan air mata mengalir. "Aku hanya ingin menjadi ibu bagi mereka. Jika kecantikanku, kekuatanku, dan kesehatanku adalah harganya, maka ambillah. Biarkan aku hidup dalam rasa sakit, asal mereka bisa tumbuh dengan senyuman."
Ritual dimulai. Li Hua berlutut di tengah lingkaran sihir. Cahaya emas mulai keluar dari matanya, mengalir masuk ke dalam dua liontin giok yang dikalungkan di leher Tian Shu dan Li Mei.
Perlahan, rambut Li Hua yang hitam legam mulai menampakkan helai-helai putih karena kelelahan energi. Kulitnya yang mulus mulai menampakkan garis-garis kelelahan, dan rasa sakit menusuk di kakinya kembali terasa begitu hebat hingga ia nyaris pingsan.
Harapan di Tengah Kegelapan
Saat cahaya itu benar-benar padam, Li Hua jatuh ke pelukan Tian Long. Ia tampak jauh lebih tua dan rapuh, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah terlihat sebelumnya. Si kembar kini tertidur dengan tenang, kekuatan mereka tidak lagi meledak-ledak.
"Sudah selesai," bisik Li Hua lemah.
Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Dari kejauhan, suara ledakan kristal terdengar. Mu Feng telah jatuh, dan Nenek Shira berhasil menembus pertahanan pegunungan. Ia berdiri di puncak air terjun, menatap ke bawah dengan tawa kemenangan.
"Ritualnya sudah selesai, Li Hua! Sekarang giok itu adalah wadah kekuatan yang sempurna! Terima kasih telah menyiapkannya untukku!"
Tian Long berdiri, menghalangi pandangan Nenek Shira. "Kau tidak akan menyentuh keluargaku lagi, meskipun aku harus membakar jiwaku sendiri!"
Pertempuran terakhir di puncak Pegunungan Giok akan segera dimulai. Li Hua yang kini tak berdaya harus mengandalkan keberanian Tian Long dan rahasia terakhir yang disimpan oleh Nenek Mayang.