NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:999
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenalan Yang Mengungkap Kemiripan

Cahaya lampu bohlam yang terpasang di sudut toko Wijaya Buku menerangi ruangan yang penuh dengan aroma kertas dan cat buku. Pak Joko masih memegang tangan Ridwan dengan erat, mata nya tetap terpaku pada cincin warisan keluarga yang bersinar di jari muda tersebut. Kemudian, dia mengangkat pandangannya ke wajah Ridwan, melihatnya dengan seksama dari atas ke bawah.

“Wahai Tuhan…” bisik Pak Joko dengan suara yang penuh dengan kagum dan kesedihan. Dia menarik tangan Ridwan lebih dekat, memiringkan wajahnya untuk melihat dengan lebih jelas. “Kamu sangat mirip dengan Dewi ketika dia masih muda. Dari bentuk alis, mata yang ekspresif, bahkan cara kamu berdiri—semuanya sama persis dengan dia.”

Ridwan merasa dada nya terasa sesak mendengar kata-kata tersebut. Ia pernah melihat foto ibunya yang tersimpan di dalam tasnya, tapi ini adalah pertama kalinya seseorang yang mengenal ibunya secara langsung mengatakan bahwa dia mirip dengan ibunya. “Pak Joko kenal ibuku dengan baik, ya?” tanya dia dengan suara yang lembut namun penuh dengan rasa ingin tahu.

Pak Joko mengangguk perlahan, melepaskan tangan Ridwan dan menunjukkan kursi kayu di belakang meja kasir. “Mari kita duduk dulu, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan perhatian. “Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, dan saya perlu memberitahu kamu segala sesuatu yang saya ketahui tentang Dewi dan tentang apa yang terjadi setelah dia tiada.”

Mereka duduk bersebelahan di belakang meja kecil yang penuh dengan tumpukan buku baru. Pak Joko mengambil gelas air dari bawah meja dan memberikannya kepada Ridwan sebelum mengambil satu untuk dirinya sendiri. “Saya pertama kali bertemu Dewi ketika kita masih bersekolah di SMA yang sama,” mulai dia dengan suara yang penuh dengan kenangan. “Dia adalah murid yang sangat cerdas dan berbakat, terutama dalam pelajaran biologi dan ilmu kesehatan. Saat itu saya sudah tahu bahwa dia akan menjadi orang yang besar kelak.”

Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ketika dia mendirikan PT. Dewi Santoso bersama suaminya, Budi Santoso, saya adalah salah satu karyawan pertama yang dia rekrut. Saya bekerja sebagai kepala bagian administrasi dan sering membantu dia mengelola dokumen-dokumen penting perusahaan. Saya melihat betapa keras dia bekerja untuk membangun perusahaan tersebut—dia selalu datang lebih awal dan pulang lebih larut hanya untuk memastikan bahwa segala sesuatu berjalan dengan baik.”

Ridwan mendengarkan dengan sangat cermat, tidak ingin melewatkan satu kata pun dari cerita Pak Joko tentang ibunya. “Apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku, Pak?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan tekad. “Mengapa dia harus meninggal begitu cepat, dan mengapa Ratna serta Budi bisa mengambil alih perusahaan dengan begitu mudah?”

Pak Joko menurunkan pandangannya ke gelas air yang dia pegang, wajahnya menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan. “Saya merasa sangat bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Dewi,” katanya dengan suara yang sedikit gemetar. “Saya mulai merasa tidak nyaman dengan perilaku Ratna semenjak dia mulai bekerja sebagai sekretaris perusahaan sekitar satu tahun sebelum Dewi sakit. Saya melihat dia sering mengakses ruang dokumen tanpa izin, berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal melalui telepon rahasia, dan sering memberikan senyum yang tidak bisa dipercaya setiap kali melihat Dewi atau kamu.”

Dia kemudian melihat langsung ke mata Ridwan dengan ekspresi yang sangat serius. “Saya mencurigai bahwa Ratna telah meracuni Dewi secara perlahan-lahan,” ujarnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Setiap kali Dewi minum obat yang diberikan oleh Ratna, kondisinya akan semakin memburuk. Saya pernah mencoba memberitahu Dewi tentang kecurigaan saya, tapi dia tidak bisa mempercayainya—dia merasa bahwa Ratna adalah teman yang bisa dipercaya dan telah membantu dia banyak hal dalam mengelola perusahaan.”

Ridwan merasa darahnya mulai mendidih dengan kemarahan. Semakin banyak orang yang memberitahunya tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Budi, semakin kuat tekadnya untuk memberikan keadilan bagi ibunya. “Kenapa Pak tidak melaporkan hal ini ke pihak berwenang atau ke keluarga Wijaya?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran.

Pak Joko menggeleng-geleng kepala dengan penuh kesedihan. “Saya ingin melakukannya, nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan ketakutan yang tersembunyi. “Tapi pada saat itu, Ratna dan Budi sudah memiliki kendali penuh atas perusahaan dan telah membayar banyak orang untuk bekerja dengan mereka. Mereka mengancam akan menyakiti keluarga saya jika saya memberitahu orang lain tentang apa yang saya ketahui. Saya tidak punya pilihan selain diam dan melihat mereka mengambil alih perusahaan serta menghapus segala sesuatu yang berkaitan dengan Dewi dan keluarga Wijaya.”

Dia kemudian mengambil sebuah kunci dari saku jasnya, membuka laci bawah meja kasir dan mengambil sebuah kotak kayu kecil. “Tetapi saya tidak tinggal diam saja, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Saya menyimpan semua bukti yang saya temukan tentang kejahatan yang mereka lakukan—catatan keuangan yang tidak sesuai, surat-surat antara Ratna dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya, serta rekaman percakapan yang menunjukkan bahwa mereka merencanakan untuk menghilangkan Dewi dan mengambil alih perusahaan.”

Dia membuka kotak kayu tersebut dan menunjukkan isi yang terdiri dari beberapa amplop kertas dan sebuah kaset rekaman kecil. “Saya menyimpan semua ini dengan sangat hati-hati selama delapan tahun terakhir,” lanjutnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Saya selalu berharap bahwa suatu hari nanti, kamu atau anggota keluarga Wijaya akan datang untuk mengambilnya dan menggunakan bukti-bukti ini untuk memberikan keadilan bagi Dewi.”

Ridwan menerima kotak kayu tersebut dengan hati-hati, merasakan beratnya bukan hanya dari isinya tetapi juga dari makna yang terkandung di dalamnya. “Terima kasih banyak, Pak Joko,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Ibu saya pasti akan sangat bangga dengan apa yang Pak lakukan untuknya.”

Pak Joko mengangguk perlahan, menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Dewi adalah orang yang sangat baik dan penuh dengan kasih sayang, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan penghormatan. “Dia selalu membantu orang lain yang membutuhkan dan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk membantunya mendapatkan keadilan yang dia pantaskan.”

Dia kemudian mengambil selembar kertas dari laci meja dan menuliskan sebuah alamat dengan tangan yang rapi. “Jika kamu ingin menemukan keluarga Wijaya, ini adalah alamat rumah mereka di kawasan Dago Atas,” katanya sambil memberikan kertas tersebut kepada Ridwan. “Pak Wijaya—ayah Dewi—sedang mencari kamu dengan sekuat tenaga. Dia sudah menyadari bahwa kematian Dewi tidak wajar dan telah membentuk tim khusus untuk mencari kamu dan mengumpulkan bukti terhadap Ratna serta Budi.”

Ridwan merasa hati-nya penuh dengan harapan mendengar kata-kata tersebut. Setelah delapan tahun hidup di hutan dan merasa sendirian, akhirnya dia akan bisa bertemu dengan keluarga ibunya yang sebenarnya. “Kapan saya bisa pergi menemui mereka, Pak?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan semangat.

“Segera mungkin, nak,” jawab Pak Joko dengan suara yang jelas dan tegas. “Saya akan menghubungi Pak Wijaya dan memberitahunya bahwa kamu telah ditemukan dan akan datang menemukannya besok pagi. Dengan bukti yang kamu miliki dan bukti tambahan dari saya, kita akan bisa membawa Ratna dan Budi ke pengadilan dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu.”

Malam sudah mulai menjelma di luar toko, membawa kegelapan yang lembut dan hawa yang sejuk ke sekitar kota Bandung. Ridwan berdiri dari kursinya, membawa tas kanvasnya dan kotak kayu berisi bukti-bukti penting dari Pak Joko. Dia merasa bahwa setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan ketidakpastian, akhirnya ada cahaya yang muncul di akhir terowongan—cahaya yang akan membantunya menemukan keluarga ibunya, memberikan keadilan bagi ibunya yang telah dicurangi, dan mengambil kembali haknya yang telah dirampas oleh orang-orang yang kejam.

“Terima kasih sekali lagi untuk semua yang Pak lakukan, Pak Joko,” ujar Ridwan dengan suara yang penuh dengan rasa hormat dan rasa syukur. “Saya tidak akan pernah melupakan bantuan yang Pak berikan padaku.”

Pak Joko hanya tersenyum lembut, berdiri dan mengantar Ridwan ke pintu toko. “Semoga perjalananmu lancar, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dewi akan selalu mengawasimu dari surga, dan saya tahu bahwa kamu akan berhasil dalam apa yang kamu lakukan. Kita akan bertemu lagi besok di rumah Pak Wijaya untuk menyelesaikan semua ini bersama-sama.”

Dengan langkah yang mantap dan penuh dengan tekad, Ridwan keluar dari toko Wijaya Buku dan menuju jalan yang ramai dengan lampu-lampu malam yang terang. Di tangannya, dia membawa alamat keluarga Wijaya dan bukti-bukti penting yang akan membantunya mendapatkan keadilan bagi ibunya. Di hatinya, dia membawa harapan baru dan tekad yang semakin kuat untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya dan untuk memastikan bahwa orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!