Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Tanpa Hukum
Satu bulan berlalu dalam kedipan mata.
Di Sekte Awan Hijau, hari ini adalah hari keramat. Ratusan Murid Luar yang telah memenuhi syarat berkumpul di depan sebuah lembah tertutup kabut tebal di belakang gunung.
Lembah Kabut Hantu.
Ini adalah lokasi ujian kenaikan tingkat tahun ini. Berbeda dengan arena turnamen yang terbuka dan jujur, Lembah Kabut Hantu adalah ujian bertahan hidup murni. Di dalam sana, mata pengawas tidak bisa melihat segalanya.
Ren Zhaofeng berdiri di antara kerumunan peserta. Dia tidak lagi mengenakan jubah murid luar yang lusuh, melainkan jubah tempur biru tua yang pas di badan, dilengkapi pelindung lengan kulit.
Aura di sekelilingnya telah berubah.
Selama satu bulan terakhir, dengan bantuan sumber daya sekte dan resonansi Pedang Hitam, Zhaofeng berhasil menembus Penempaan Tubuh Tahap 5. Napasnya kini sangat panjang dan halus, detak jantungnya lambat namun bertenaga seperti gema drum perang.
"Peraturan ujian sederhana!" suara Tetua Pengawas bergema dari atas tebing. "Masuk ke lembah. Kumpulkan Token Giok yang disebar di sarang-sarang Hewan Roh, atau rebut dari peserta lain. Siapa pun yang keluar dengan 10 token dalam waktu tiga hari, lulus!"
"Satu hal lagi," tambah Tetua itu dengan nada peringatan. "Dilarang membunuh sesama murid. Jika ada yang mati... kami akan menganggapnya kecelakaan akibat Hewan Roh. Mengerti?"
Para peserta menyeringai. "Kecelakaan". Itu adalah kode rahasia bahwa di dalam sana, hukum rimba berlaku.
"Mulai!"
Gerbang lembah dibuka. Ratusan murid berhamburan masuk.
Zhaofeng tidak terburu-buru. Dia berjalan santai, membiarkan kerumunan mendahuluinya.
Saat dia melangkah melewati batas kabut, dunia suara berubah drastis.
Kelembapan tinggi di udara meredam suara langkah kaki. Pepohonan di sini tumbuh rapat dan bengkok, menciptakan labirin gema yang membingungkan.
Zhaofeng tersenyum tipis. "Kabut visual? Bagi orang buta, ini tidak ada bedanya."
Dia melompat ke atas dahan pohon, bergerak tanpa suara di antara dedaunan.
Baru sepuluh menit dia masuk, hidungnya mencium bau darah.
Di bawah sana, di balik semak belukar, tiga orang murid sedang mengepung satu murid lain.
"Serahkan tokenmu!" "Tolong! Aku baru masuk!"
Itu perampokan biasa. Zhaofeng tidak berniat ikut campur. Dia bukan pahlawan kesiangan.
Namun, langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara siulan aneh dari arah timur.
Siiittt... Siiittt...
Suara itu bukan suara burung. Itu adalah kode sandi. Iramanya mirip dengan desis ular.
Zhaofeng mengubah arah. Dia mengikuti suara siulan itu.
Dia sampai di sebuah area rawa berlumpur. Di sana, dia "melihat" lima orang murid sedang berkumpul. Mereka tidak saling menyerang. Mereka berdiri membentuk lingkaran, seolah sedang rapat.
Aneh. Ujian baru dimulai, kenapa sudah ada aliansi lima orang?
Zhaofeng menajamkan pendengarannya.
"...target sudah masuk," bisik salah satu dari mereka. "Ingat perintah Tuan Muda. Jangan bunuh dia langsung. Patahkan dulu kaki dan tangannya. Tuan Muda ingin 'bermain' dengannya di pusat lembah."
"Si Buta itu sekarang Tahap 5. Hati-hati."
"Tenang saja. Kita punya Racun Pelumpuh Syaraf. Oleskan di senjata kalian."
Darah Zhaofeng mendidih dingin.
Mereka bukan peserta ujian biasa. Mereka adalah agen Aliansi Ular Hitam yang menyamar. Dan target mereka jelas adalah dirinya.
Zhaofeng tidak menunggu mereka selesai rapat.
Dia mencabut Pedang Hitam-nya.
"Kalian mencariku?"
Zhaofeng melompat turun dari pohon, mendarat tepat di tengah lingkaran mereka.
BOOM!
Hentakan kakinya yang diperkuat Qi Tahap 5 menciptakan gelombang kejut di lumpur, memercikkan air kotor ke mata kelima penyusup itu.
"Siapa—?! Itu targetnya!"
Mereka panik sesaat, tapi profesionalisme mereka sebagai pembunuh segera mengambil alih. Mereka menghunus senjata—bukan pedang sekte, melainkan belati beracun dan rantai berduri.
"Serang bersamaan!"
Lima senjata menyerang dari lima arah.
Zhaofeng tidak bergerak dari posisinya. Dia memutar pedangnya dengan gerakan pergelangan tangan yang luwes.
Seni Pedang Tanpa Wujud: Lingkaran Gema.
Dia mengetukkan pedangnya ke senjata-senjata lawan yang datang.
Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!
Lima benturan terjadi dalam satu detik.
Setiap benturan mengirimkan getaran frekuensi tinggi ke lengan para penyerang.
"Argh! Tanganku!"
Tiga dari mereka menjatuhkan senjatanya karena saraf tangan mereka mati rasa seketika.
Zhaofeng tidak memberi ampun. Dia melangkah maju, pedangnya menebas mendatar.
SLASH!
Tiga kepala melayang ke udara.
Darah menyembur, mewarnai kabut putih menjadi merah.
Dua sisanya mundur dengan wajah pucat pasi. "I-Informasi salah! Dia bukan Tahap 5 biasa! Kekuatannya setara Tahap 7!"
Mereka berbalik hendak lari.
"Sudah kubilang, aku tidak suka tamu tak diundang," kata Zhaofeng dingin.
Dia menghentakkan kakinya. Langkah Pedang Hantu.
Tubuhnya menghilang, lalu muncul di depan salah satu pelari.
JLEB.
Tusukan tepat di jantung.
Pelari terakhir, yang tampaknya pemimpin regu kecil ini, jatuh terduduk di lumpur, gemetar ketakutan.
"Ja-jangan bunuh aku! Aku cuma disuruh!"
Zhaofeng menempelkan pedangnya yang berlumuran darah ke leher orang itu. Pedang Hitam itu berdenyut, meminum darah yang menempel di bilahnya dengan rakus.
"Di mana Tuan Mudamu?" tanya Zhaofeng.
"Di... di Gua Ular, pusat lembah. Dia... dia menyiapkan formasi jebakan di sana. Dia menunggu Kakak Ye Qingyu juga!"
Mata Zhaofeng menyipit. "Ye Qingyu?"
"Ya! Target utamanya adalah menangkap Ye Qingyu untuk dijadikan... wadah kultivasi. Kau cuma target sampingan!"
Zhaofeng terdiam. Jadi ini rencana mereka. Menggunakan ujian ini untuk melenyapkan dua ancaman terbesar sekaligus.
"Terima kasih infonya."
Sreeet.
Zhaofeng mengakhiri nyawa pembunuh itu. Dia tidak bisa membiarkan musuh hidup di belakang punggungnya.
Dia membiarkan pedangnya menyerap darah sampai bersih.
"Ye Qingyu dalam bahaya," gumam Zhaofeng.
Meskipun Ye Qingyu kuat (Pengumpulan Qi Tahap 1), dia menghadapi jebakan terencana dan mungkin musuh yang levelnya di atasnya. "Tuan Muda" yang disebut-sebut ini pasti bukan orang sembarangan.
Zhaofeng mengambil token ujian dari mayat-mayat itu. Lima token. Setengah jalan menuju kelulusan.
Tapi prioritasnya berubah.
Dia menoleh ke arah pusat lembah, tempat kabut paling tebal berkumpul.
"Bertahanlah, Kakak Senior," batin Zhaofeng. Dia melesat menembus hutan, meninggalkan jejak mayat di belakangnya.
Hutan ini memang tanpa hukum. Dan Zhaofeng baru saja menjadi hakimnya.
💪