Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Yang Membawa Luka
6 Bulan Setelah Sidang Perceraian...
Raisa duduk bersantai di sofa empuk, matanya terpaku pada layar televisi. Di sampingnya, Adam, buah hatinya, tertawa riang menikmati kartun kesukaannya.
Mbok Inah, dengan telaten, menata sarapan di atas meja, aroma nasi kuning yang menggugah selera memenuhi udara.
"Bu, makan dulu, sudah siap," ucap Mbok Inah lembut.
"Adam, sayang, sarapan yuk," ajak Raisa sambil tersenyum, pandangannya penuh kasih sayang pada putranya.
"Tidak mau, Adam nggak lapar," sahut Adam tanpa menoleh, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada televisi.
Dengan lembut, Raisa mencium kening Adam, lalu beranjak menuju meja makan.
"Beli di mana ini, Mbok Nah? Kok enak banget," tanya Raisa di sela-sela makannya.
"Itu lho, Bu, yang deket Alfa Mart. Mbok coba langganan di situ, lumayan buat sarapan," celetuk Mbok Inah sambil terkekeh.
"Enak lho, Mbok," puji Raisa lagi, benar-benar menikmati setiap suapan.
"Mbok Nah udah makan?" tanya Raisa lagi,
"Sudah, Bu. Tadi sekalian masak, Mbok juga sarapan,"
Sepuluh menit berlalu dengan cepat.
"Mbok Nah, saya pergi dulu, ya,"
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," sahut Mbok Inah,
"Titip Adam, ya, Mbok," pesan Raisa lagi sambil tersenyum.
"Iya, Bu. Pasti Mbok jagain," Mbok Inah balas tersenyum.
Raisa melangkah keluar rumah, menikmati udara pagi yang segar. Namun, tiba-tiba saja, sebuah mobil hitam metalik berhenti tepat di depan rumahnya.
Raisa terdiam mematung, tubuhnya terasa kaku. Mobil itu adalah milik mantan suaminya.
Satu per satu, orang-orang yang ada di dalam mobil itu mulai turun.
Sosok Darma muncul pertama kali, diikuti oleh mantan ibu mertuanya, Mariana. Kemudian, Maudy dan Pratiwi.
"Mau pergi kerja?" tanya Darma pelan, suaranya terdengar ragu. Ia tak berani menatap Raisa lama, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Iya. Kalian mau bertemu Adam?" tanya Raisa, mencoba bersikap ramah.
"Adam ada di dalam, kalian bisa langsung masuk," kata Raisa lagi.
Darma berdeham, memecah keheningan yang mulai terasa canggung.
"Ada yang mau aku bicarakan," ungkap Darma akhirnya, suaranya pelan namun tegas.
"Ya, tapi aku mau pergi bekerja, Mas," sahut Raisa sambil melirik jam tangannya.
"Sebentar saja, ini penting," kata Mariana, menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah mendengar ucapan mantan mertuanya, Raisa membuka lebar pintu pagarnya dan mempersilakan mereka masuk.
"Silakan," ucap Raisa singkat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Ayah..." panggil Adam dengan nada riang, senyumnya merekah saat berada di dekat ayahnya.
Darma tersenyum, membalas pelukan Adam dengan erat. Ia mencium rambut putranya, merasakan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya.
"Adam sayang," ucap Darma lembut.
Sedang Raisa memberikan isyarat kepada Mbok Inah untuk membawakan mereka minum.
Mereka pun duduk di atas sofa, suasana hening seketika.
"Langsung saja ke intinya," kata Mariana, memecah keheningan. Ia menatap putranya, Darma, yang tampak sedang menikmati momen bersama Adam.
"Eugh, iya, Mah," sahut Darma, mengalihkan perhatiannya dari Adam.
"Begini, Raisa, aku akan menjual rumah ini," ungkap Darma tiba-tiba, membuat Raisa terkejut dan tak bisa berkata-kata.
"Lho, Mas, kesepakatannya kan rumah ini buat Adam," sahut Raisa akhirnya, suaranya bergetar menahan emosi.
"Lagi pula, Papah yang beli rumah ini sebagai hadiah pernikahan kita," kata Raisa lagi, mencoba mengingatkan Darma akan janjinya dulu.
"Euh..." Darma menunduk, tak berani menatap Raisa. Ia merasa bersalah, namun ada sesuatu yang memaksanya untuk melakukan ini. Kemudian, ia menatap ibunya, Mariana, seolah meminta dukungan.
"Enak saja, Darma juga punya hak atas rumah ini. Dia udah nafkahi kamu dan anakmu bertahun-tahun," kata Mariana dengan nada tinggi, membela putranya.
"Mas," panggil Raisa, terus menatap ke arah Darma, berharap ada penjelasan yang masuk akal.
"Mas, kamu udah janji," kata Raisa lagi dengan nada yang tegas, menuntut jawaban dari Darma.
Darma hanya menunduk lemas, tak bisa menjawab pertanyaan Raisa. Ia merasa terpojok, tak tahu harus berbuat apa.
"Itu saja yang mau kami sampaikan," ungkap Mariana sambil beranjak dari duduknya. Ia sontak menarik tangan Darma yang tampak tak bisa berkata-kata.
"Sebentar, Mah," ucap Darma masih memeluk Adam, enggan berpisah dari putranya.
"Ayo, Darma, semakin lama kamu di sini, semakin dia akan mempengaruhi kamu," kata Mariana lagi, kali ini menarik tangan Darma sedikit memaksa.
"Kamu punya waktu satu minggu untuk pergi dari rumah ini," celetuk Mariana lagi, menatap Raisa dengan tatapan sinis.
"Darma akan menikah, jadi uang rumah ini akan dia pakai untuk pesta pernikahannya dengan Tiwi," Mariana mulai nyerocos, mengungkapkan rencana Darma yang membuat hati Raisa hancur berkeping-keping.
Raisa yang mendengar hal itu hanya tertunduk lemah, air mata mulai membasahi pipinya.
"Ayah, Adam ikut," pinta Adam dengan polos, tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Berlahan, Darma melepaskan pelukan Adam, Adam tampak enggan melepaskan pelukannya, ia ingin selalu berada di dekat ayahnya.
"Nanti Ayah datang lagi, ya," ucap Darma lembut sambil mencium kening Adam, berusaha menenangkan putranya.
"Nggak, nggak mau, Adam mau sama Ayah," Adam tampak lengket, tak mau berpisah dari ayahnya.
Mariana yang merasa jengkel melihat tingkah Adam, kemudian menarik tangan Adam dengan kasar. Ia tak sabar ingin segera pergi dari rumah itu.
"Sudah, Ayahmu mau kerja," seraya menjauhkan Adam dari Darma, kemudian segera menarik Darma untuk beranjak dari tempat itu.
"Ayah..." Adam sontak tantrum, ia mengamuk dan menangis histeris. Raisa segera mendekap Adam, mencoba menenangkannya.
"Nanti Ayah ke sini lagi, ya," Darma hanya menoleh sejenak, kemudian melenggang pergi bersama Mariana ibunya, semakin menjauh.
Dan dalam sekejap, mereka masuk ke dalam mobil itu.
Brum... Brum...
Darma langsung tancap gas, melaju dengan mobilnya meninggalkan tempat itu.