Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Ding !
Xu Tian berdiri di tempat yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kerumunan murid dan hiruk sekte. Tubuhnya masih terasa nyeri, setiap sendi menjerit perlahan saat ia menarik napas.
Luka-luka dari duel dan pengusiran belum sepenuhnya sembuh. Namun yang lebih berat dari rasa sakit fisik adalah kesunyian yang melingkupi malam di sekitar gerbang Sekte Awan Giok.
Angin senja berhembus, dingin namun membawa aroma kebebasan yang aneh. Bayangan gerbang yang megah menjorok ke tanah seperti penjaga terakhir dunia lama yang telah memusnahkannya.
Xu Tian menatapnya lama. Semua yang pernah ia ketahui, cintai, dan harapkan dari dunia lama itu, kini hanyalah bayangan yang membeku di belakangnya.
Tubuhnya lemah, namun hatinya tidak lagi tunduk pada rasa sakit. Sebaliknya, ada sesuatu yang mulai menyala perlahan, sebuah energi halus yang mengalir di dalam dada dan tengkoraknya.
Ia merasakan denyutan yang aneh, seperti detak jantung yang bergandengan dengan sesuatu yang lebih dari dirinya. Sekejap, terdengar suara samar di telinganya—“Ding!”
Xu Tian menegakkan tubuh, mata terbelalak. Suara itu bukan nyata, bukan dari dunia luar. Itu… dari dalam dirinya sendiri.
Ia menekan tangan ke dadanya, merasakan getaran yang tidak biasa, seperti gelombang energi yang berusaha menembus kulit dan masuk ke setiap sel tubuhnya.
“Apa… ini?” batinnya. “Apakah aku masih hidup? Atau ini… mimpi?”
Rasa sakit fisik masih ada, namun getaran misterius itu terasa lebih nyata, lebih kuat. Luka-luka di tubuhnya mulai terasa hangat, bukan karena sembuh, tetapi seolah energi baru menembus setiap jaringan, memberikan sensasi aneh yang membangkitkan naluri bertahan.
Xu Tian mengangkat kepala, menatap bayangan gerbang yang kini tampak berbeda. Cahaya redup senja memantul dari ukiran batu, tapi ada sesuatu yang lain—percikan cahaya tipis, seperti titik-titik energi yang menari di udara di sekelilingnya, mengikuti napas dan gerakan tubuhnya.
“Tidak… ini nyata…” gumamnya. Rasa takut dan penasaran bergabung menjadi satu. Tubuhnya yang lemah terasa di luar kendali, namun pikirannya tetap jernih. “Aku… aku tidak akan menyerah!”
Angin malam berdesir lebih kencang, seakan merespons sumpah yang baru saja ia ucapkan di gerbang.
Suara angin bergabung dengan denyutan energi di dadanya, menciptakan simfoni halus yang aneh namun menenangkan.
Xu Tian menelan ludah, merasakan detak jantungnya semakin seirama dengan denyutan misterius itu.
Setiap langkah napasnya membawa sensasi baru: hangat, kuat, meski tubuhnya tetap lelah. Ia menekankan satu hal dalam hati—tidak ada dunia lama, tidak ada sekte, tidak ada yang bisa menahannya. Yang tersisa hanyalah dirinya, sumpahnya, dan sesuatu yang lebih besar yang baru mulai terbentuk di dalamnya.
Xu Tian menundukkan kepala sejenak, menekan kedua tangannya di dada. Getaran semakin kuat, dan suara “Ding!” terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih keras.
Tubuhnya menggigil, tapi bukan karena dingin. Ada sensasi aneh di dalam diri, seolah hukum alamnya sendiri sedang digeser sedikit demi sedikit.
Ia membuka mata, menatap gelap malam di sekelilingnya. Bayangan gerbang tampak seperti bergetar, garis-garis ukirannya seakan menari perlahan mengikuti denyutan energi yang mengalir dalam tubuhnya.
Xu Tian menelan ludah. Ada sesuatu yang muncul, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya.
“Ini… kekuatan dari sumpahku?” pikirnya dengan hati-hati. Ada campuran rasa takut, kagum, dan penasaran di dalam dada. Tubuh yang lemah terasa hangat, stabil, dan anehnya… kuat. Setiap napas yang ia tarik membawa energi baru yang tidak dapat dijelaskan.
Sementara itu, udara di sekelilingnya mulai bergetar, dan percikan cahaya kecil muncul di antara bayangan gerbang dan tanah.
Percikan itu seperti titisan energi murni, menandai bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi, sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh Xu Tian sendiri.
Ia menundukkan kepala, menatap kedua tangannya. Cahaya tipis menari di ujung jari-jari, menyusup ke tubuhnya. Hatinya berdebar, campuran antara rasa penasaran dan kegembiraan yang aneh.
Semua rasa sakit, semua kehancuran, semua hinaan dari dunia lama, kini terasa seperti bahan bakar untuk sesuatu yang lebih besar.
“Ini… ini baru permulaan,” batinnya. Suara di dalam kepalanya—getaran, cahaya, dan energi—menciptakan satu kesadaran baru.
Dunia lama menolak aku, tapi aku tidak lagi lemah. Aku masih berdiri. Aku masih hidup. Dan sesuatu di dalam diriku… mulai berubah.
Percikan energi itu semakin jelas. Dalam sekejap, di hadapan matanya, sebuah panel muncul—sederhana, tapi nyata. Sebuah bingkai bercahaya tipis, terawang di udara di depan dadanya. Di tengahnya, tulisan samar muncul:
“Sistem Sekte Terkuat – Aktivasi Awal”
Xu Tian terpaku. Mata terbuka lebar, wajahnya campur takut dan kagum. Tubuhnya yang lemah kini terasa berat oleh potensi yang belum ia pahami sepenuhnya.
Energi berdenyut di dadanya, cahaya berpendar di sekelilingnya, dan suara “Ding!” terdengar lagi, kali ini nyaring, menembus kesunyian malam.
Panel itu menampilkan indikator kosong, seperti menunggu sesuatu untuk diisi. Semua masih misterius, semua masih samar.
Namun satu hal jelas: nasib Xu Tian akan berubah. Dunia lama, Sekte Awan Giok, dan semua yang menindasnya, kini berada di luar kendalinya.
Xu Tian menatap panel itu dengan mata menyala, wajahnya tegang, penuh energi baru. Suara angin malam dan bisikan misterius di udara menegaskan satu hal: hidupnya tidak lagi sama.
Dan dari titik itu, perjalanan menuju kebangkitan, kekuatan, dan Sekte Terkuat dimulai.
Getaran di dada Xu Tian semakin nyata. Tubuhnya yang lemah kini terasa hangat, seolah darahnya sendiri mengalir lebih deras, membawa energi yang belum ia kenal.
Suara “Ding!” terdengar lagi, lebih jelas, menembus kesunyian malam, menggetarkan setiap saraf dalam tubuhnya. Setiap denyut membuat pikirannya fokus, membangkitkan sensasi aneh antara ketakutan dan keheranan.
Panel misterius di depan dadanya mulai berpendar lebih terang.
Sekilas ia dapat melihat garis-garis cahaya tipis membentuk bingkai, sementara indikator kosong di dalamnya bergetar samar. Kata-kata “Sistem Sekte Terkuat – Aktivasi Awal” semakin jelas, seolah menegaskan bahwa sesuatu yang lebih besar sedang dimulai.
Xu Tian menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang mulai bersinar samar. Cahaya tipis menari di ujung jari, menyusup ke dalam kulit dan menembus jaringan, memberi sensasi hangat dan kuat yang aneh.
Tubuhnya yang lemah kini terasa stabil, setiap otot seakan tersusun ulang oleh energi misterius yang mengalir.
“Ini… benar-benar nyata,” batinnya. Suara batin itu penuh campuran takut, penasaran, dan semangat.
Ia bisa merasakan sesuatu telah berubah secara fundamental dalam dirinya. Tubuhnya tidak lagi lemah; kekuatan baru berdenyut di setiap sel, menunggu untuk diarahkan.
Angin malam berhembus lebih kencang, menambah nuansa dramatis di sekitar gerbang.
Bayangan gerbang tampak bergetar halus, seolah ikut merespons energi yang kini bersumber dari Xu Tian.
Setiap tarikan napas membawa gelombang energi ke seluruh tubuhnya, membuatnya sadar bahwa dunia di sekitarnya sedang diamati oleh sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Panel sistem bergetar lagi, kali ini indikator kosong berkedip samar.
Sebuah suara mekanis dan lembut terdengar di kepalanya, “Ding!” Kali ini bukan samar—suara itu seolah menegaskan satu fakta: aktivasi sistem telah selesai, meski baru permulaan.
Xu Tian menelan ludah, matanya menatap panel dengan takjub. Dalam benaknya, ia mulai merasakan konsep baru: aturan, data, potensi yang bisa ia ukur dan gunakan.
Meski masih samar, ia menyadari bahwa kemampuan untuk berkembang, untuk membalas dendam, untuk menaklukkan dunia, kini bukan lagi sekadar impian.
Ia punya instrumen, alat baru yang siap membantunya mengubah nasib.
Tubuhnya masih terasa sakit, namun rasa sakit itu kini bukan beban melumpuhkan.
Sebaliknya, rasa sakit menjadi pengingat bahwa hidupnya yang lama telah mati, dan tubuhnya yang baru kini menunggu untuk ditempa.
Denyut energi di dada dan cahaya tipis di sekelilingnya memberikan sensasi seolah setiap luka menjadi peluang, setiap kelemahan menjadi titik awal transformasi.
Xu Tian menarik napas panjang, merasakan kehangatan energi itu menyebar hingga ke ujung jari kaki. Tubuhnya mulai terasa ringan, namun kuat.
Ia menundukkan kepala sekali lagi, menatap panel yang kini memantulkan cahaya di wajahnya, menegaskan satu hal: tidak ada jalan mundur. Sumpahnya, tekadnya, dan sistem yang baru muncul kini adalah fondasi hidupnya yang baru.
“Ini… hanyalah permulaan,” gumamnya. Suara itu keras, pasti, penuh determinasi. Ia merasakan otak dan tubuhnya selaras dengan energi yang mengalir, setiap getaran, setiap kilatan cahaya, memberi tahu bahwa kekuatan baru sedang terbentuk, siap dipanggil, siap digunakan.
Panel itu bergerak perlahan di udara, indikator kosong berkedip samar, menunggu input, menunggu komando dari Xu Tian.
Mata Xu Tian menatapnya lebar, wajahnya campur takut dan kagum, namun tekadnya sudah bulat. Dunia lama telah menolaknya, Sekte Awan Giok telah menghancurkannya, dan murid-murid yang menertawakannya kini hanyalah bayangan masa lalu.
Dengan satu tarikan napas panjang, Xu Tian merasakan kesadaran baru meresap ke seluruh tubuhnya.
Ia bukan lagi anak murid yang lemah. Ia bukan lagi korban yang tersingkir.
Ia berdiri di ambang kekuatan yang belum ia pahami sepenuhnya, namun sudah cukup untuk mengubah hidupnya selamanya.
Dari panel sistem, sebuah kilatan cahaya muncul. Sekejap, muncul suara mekanis halus di kepalanya:
“Level Awal Tercatat. Status: Pemula. Potensi: Tak Terbatas.”
Xu Tian menelan ludah, matanya terbuka lebar. Tubuhnya bergetar oleh sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—campuran antara kekuatan, harapan, dan misteri yang mendalam. Mata dan ekspresinya berubah, wajah yang tadinya lelah kini bersinar dengan tekad yang tak bisa digoyahkan.
Langit malam menyelimuti gerbang Sekte Awan Giok, namun di depan Xu Tian, dunia terasa terbuka.
Setiap bayangan, setiap angin malam, seakan mengumumkan: hidupnya tidak lagi sama. Sebuah era baru telah dimulai.
Sistem Sekte Terkuat, meski masih misterius, telah memanggilnya, dan jalan kebangkitan yang luar biasa kini terbentang luas di depannya.
Xu Tian menatap panel, kemudian menatap ke depan, langkahnya mantap.
Cahaya tipis energi yang mengelilinginya berdenyut mengikuti detak jantungnya, menegaskan satu fakta: dari kehancuran total lahirlah awal yang baru.
Dengan tubuh yang lemah tapi mata yang menyala, Xu Tian menatap masa depan yang luas dan penuh kemungkinan.