Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bunga Api di Balai Dansa
Malam terakhir di Solaria seharusnya menjadi perayaan perdamaian, namun bagi Aethela, atmosfer di balai dansa agung itu terasa lebih mirip dengan perjamuan sebelum eksekusi. Cahaya dari ribuan lilin kristal yang menggantung di langit-langit memantul pada lantai marmer yang dipoles hingga mengilap, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang berjalan di atas air yang membeku. Musik harpa dan biola mengalun, berusaha menciptakan suasana romantis yang dipaksakan, namun Aethela hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seperti genderang perang yang ditabuh di kejauhan.
Ia berdiri di balkon dalam, menatap ke arah kerumunan bangsawan yang berpakaian warna-warni. Di sudut ruangan, para ksatria Solaria menatap dengan kebencian yang nyaris tidak tertutup pada pengawal Obsidiana yang berdiri kaku dengan zirah hitam mereka. Ketegangan itu nyata, seolah-olah satu percikan api saja bisa membakar seluruh istana ini menjadi abu.
Ia merasa sangat lelah. Gaun yang ia kenakan malam ini adalah mahakarya dari sutra tengah malam, disulam dengan benang perak yang membentuk rasi bintang. Namun, gaun itu terasa berat, seolah-olah setiap jahitan adalah beban tanggung jawab yang menindih bahunya. Ia merasa seperti boneka yang dipajang untuk meyakinkan rakyatnya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal ia sendiri merasa dunianya sedang runtuh.
"Putri, Anda harus tersenyum," bisik ibunya, Ratu Solaria, yang berdiri di sampingnya. "Rakyat perlu melihat bahwa Anda tidak takut pada calon suami Anda."
"Bagaimana aku bisa tersenyum, Ibu, jika aku merasa sedang menyerahkan leherku pada pedang?" sahut Aethela dengan nada rendah yang sarat dengan kepahitan.
"Ini bukan tentang perasaanmu, Aethela. Ini tentang kelangsungan hidup kita semua," jawab sang Ratu, suaranya tenang namun tajam seperti sembilu.
Pernyataan itu adalah kenyataan pahit yang sudah lama ia telan. Cinta adalah kemewahan yang tidak pernah diizinkan baginya. Sebelum ia sempat membalas, pengumuman resmi menggema di aula.
"Yang Mulia, Pangeran Valerius Nightshade dari Kerajaan Obsidiana!"
Pintu aula terbuka, dan Valerius masuk. Malam ini, ia telah menanggalkan zirah tempurnya dan menggantinya dengan tunik hitam formal yang dihiasi dengan sulaman naga emas di kerahnya. Namun, pakaian sipil itu tidak mengurangi sedikit pun kesan berbahayanya. Ia masih terlihat seperti badai yang terbungkus dalam kulit manusia.
Valerius berjalan lurus ke arahnya, melewati kerumunan yang terbelah seperti air laut. Setiap langkahnya penuh dengan dominasi. Saat ia sampai di depan Aethela, ia membungkuk sedikit—sebuah gerakan yang lebih menyerupai tantangan daripada penghormatan.
"Putri Aethela," suaranya yang rendah membuat bulu kuduk Aethela berdiri. "Apakah Anda bersedia memberikan dansa pertama malam ini?"
Aethela menatap tangan Valerius yang terulur. Ia tahu mata semua orang tertuju pada mereka. Jika ia menolak, ia akan memicu insiden diplomatik. Jika ia menerima, ia harus membiarkan pria ini masuk ke ruang pribadinya.
Dengan gerakan yang anggun namun penuh keterpaksaan, ia meletakkan tangannya di atas tangan Valerius. "Dengan senang hati, Pangeran."
Saat jemari Aethela menyentuh telapak tangannya, Valerius harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tidak tersentak. Resonansi sihir itu kembali terjadi—lebih kuat dari sebelumnya. Rasanya seperti menyentuh arus listrik yang murni. Sihir bulan wanita ini bukan hanya sekadar cahaya; itu adalah kekuatan yang hidup, dingin, dan sangat haus akan keseimbangan.
Ia membimbing Aethela ke tengah lantai dansa. Musik berubah menjadi waltz yang lambat dan menghantui. Valerius meletakkan satu tangan di pinggang Aethela, sementara tangan lainnya menggenggam jemarinya. Kedekatan ini sangat tidak nyaman baginya. Ia terbiasa menjaga jarak dengan semua orang, terutama dengan manusia yang ia anggap rapuh.
Namun, Aethela tidak terasa rapuh. Tubuhnya tegang dan kuat di bawah tangannya.
Mereka mulai bergerak mengikuti irama musik. Wajah mereka begitu dekat hingga Valerius bisa mencium aroma melati dan hujan yang menempel pada kulit Aethela. Mata ungu wanita itu menatapnya dengan tajam, seolah sedang mencoba membedah pikirannya.
"Kau berdansa dengan sangat baik untuk seseorang yang lebih suka memegang pedang, Pangeran," ujar Aethela, suaranya penuh dengan nada sindiran.
"Perang juga merupakan jenis tarian, Putri," jawab Valerius datar. "Hanya saja, kesalahan di sana berujung pada kematian, bukan sekadar memar di kaki."
"Dan apa yang kau harapkan dari tarian ini? Apakah kau mencoba membuktikan bahwa kau bisa menjinakkan 'aset' barumu ini?"
Valerius mempererat pegangannya di pinggang Aethela, menariknya sedikit lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Ia bisa merasakan jantung Aethela yang berdegup kencang—bukan karena romansa, melainkan karena adrenalin dan kemarahan.
"Aku tidak tertarik untuk menjinakkanmu," bisik Valerius tepat di telinganya, membuat napas hangatnya menyentuh kulit Aethela. "Aku hanya butuh kau untuk tetap hidup dan berfungsi. Obsidiana sedang membeku, Aethela. Sihirmu adalah matahari yang tidak kami miliki. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti porselen rapuh."
Ia merasakan dorongan protektif yang aneh sekaligus mengganggu. Ia ingin membenci wanita ini karena ia membutuhkannya, namun ia juga merasa terpesona oleh cara Aethela menatapnya tanpa rasa takut—sesuatu yang jarang ia temukan bahkan di antara prajuritnya sendiri.
Bisikan Valerius mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Ia bukan lagi seorang putri yang ketakutan; ia adalah seorang pejuang yang sedang mengukur lawan.
"Jika aku adalah mataharimu, ingatlah ini, Valerius: matahari juga bisa membakar siapa pun yang mencoba menggenggamnya terlalu erat," balas Aethela, suaranya tetap tenang namun sarat dengan ancaman.
Saat musik mencapai puncaknya, sihir di dalam diri Aethela mulai merembes keluar tanpa kendali. Percikan cahaya perak kecil muncul di sekitar mereka, seperti kunang-kunang yang menari di tengah kegelapan. Para tamu undangan berdecak kagum, mengira itu adalah efek sihir buatan untuk mempercantik dansa. Namun, Valerius tahu kebenarannya.
Ia merasakan sihir itu mencoba menembus pertahanan bayangannya. Sebagai respons, aura kegelapan halus mulai menyelimuti kaki Valerius, menelan percikan perak tersebut. Pertarungan sihir yang sunyi terjadi di antara mereka di tengah lantai dansa yang riuh.
Ia merasa sangat terpikat sekaligus jijik. Ada sesuatu yang sangat akrab pada kegelapan Valerius—sesuatu yang seolah-olah memanggil sihir bulannya untuk menyatu. Ia membenci perasaan itu. Ia tidak ingin memiliki kesamaan apa pun dengan pria ini.
Dansa berakhir dengan pose yang dramatis. Valerius membungkuk, matanya tidak pernah lepas dari mata Aethela.
"Terima kasih atas tariannya, Putri," kata Valerius, suaranya kini terdengar lebih lembut, namun tetap dingin. "Bersiaplah. Kita berangkat saat fajar. Obsidiana tidak suka menunggu."
Aethela melepaskan tangannya seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api. Ia membungkuk hormat, namun dagunya tetap terangkat tinggi.
"Aku akan siap, Pangeran. Pastikan saja kudamu bisa mengimbangi langkahku."
Saat Valerius berbalik dan pergi, Aethela berdiri mematung di tengah lantai dansa. Tangannya yang baru saja digenggam Valerius terasa panas. Ia tahu bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan meninggalkan cahaya Solaria menuju kegelapan abadi di Utara. Dan di sana, di tengah salju dan bayangan, ia harus menemukan cara untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga agar tidak kehilangan dirinya sendiri pada pria yang baru saja merenggut napasnya.
Rasa kesepian yang mendalam mulai menyelinap. Di tengah keramaian ini, ia merasa menjadi orang paling asing di dunianya sendiri. Namun, di balik rasa takut itu, ada api kecil yang mulai menyala—api pembangkangan yang berjanji bahwa ia tidak akan hancur semudah yang dikira Valerius.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...