siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyum Mona Lisa dan Penyamaran Haute Couture
Paris di musim semi seharusnya menjadi latar belakang untuk romansa yang manis, bukan untuk tiga wanita berstatus janda yang sedang mengendap-endap di terowongan bawah tanah yang berbau tikus dan sejarah.
"Bel, gue nggak tahan. Ini terowongan Catacombs atau tempat sampah sejarah sih? Aroma parfum gue yang harga tiga juta ini kalah telak sama bau lembap tulang belulang!" Maya Adinda mengeluh sambil mengangkat gaun daster barunya tinggi-tinggi.
Kali ini, Maya mengenakan The Parisian Nightshade, sebuah daster berbahan sutra Lyon yang telah disuntikkan teknologi bunglon. Daster itu bisa berubah motif dari corak bunga-bunga manis menjadi hitam legam yang menyerap cahaya, sangat berguna untuk misi infiltrasi malam hari. Di pergelangan tangannya, gelang mutiara yang ia pakai sebenarnya adalah rangkaian granat asap mini beraroma lavender.
Bella Damayanti sedang fokus menatap layar holografik dari jam tangannya. Ia mengenakan setelan jas taktis yang sangat ramping, membuatnya tampak seperti agen rahasia kelas dunia. "Sabar, May. Jalur bawah tanah ini adalah satu-satunya cara untuk masuk ke Museum Louvre tanpa memicu sensor biometrik di gerbang utama. The Empress of Silk sudah menanamkan malware di seluruh sistem keamanan Paris. Kalau kita lewat atas, kita bakal disergap satu batalyon pasukan khusus Prancis dalam dua menit."
Siska Paramita berjalan paling depan, membawa tas ransel yang dimodifikasi menjadi unit pendingin portabel. Di dalamnya terdapat "Senjata Rahasia" terbaru adonan kue macaron yang telah dicampur dengan bubuk magnetik dan zat penonaktif sensor laser. "Aku sudah siap. Kalau laser di ruang Mona Lisa aktif, aku tinggal lempar macaron ini. Sensornya bakal bingung milih antara mendeteksi penyusup atau mendeteksi gula darah tinggi."
Mereka keluar dari lubang ventilasi tepat di bawah piramida kaca Louvre yang ikonik. Suasana museum sangat sepi dan mencekam. Patung-patung marmer putih seolah menatap mereka dengan penuh kecurigaan.
"Target kita bukan lukisannya, tapi frame di balik kaca pelindung Mona Lisa," bisik Bella. "Data dari Great Weaver di Tokyo bilang bahwa ada mikrokip yang dijahit ke dalam serat kain kanvas tambahan di belakang lukisan itu. Kip itu berisi koordinat pabrik rahasia tempat The Empress of Silk memproduksi The Ghost Silk benang yang bisa membuat pemakainya tak terlihat secara fisik dan digital."
Saat mereka mencapai ruangan Salle des États, tempat Mona Lisa berada, tiba-tiba suhu ruangan turun drastis. Laser-laser pengaman berwarna merah muncul menyilang di seluruh ruangan, membentuk labirin cahaya yang mematikan.
"Siska! Macaron!" perintah Bella.
Siska melempar tiga buah macaron berwarna merah muda ke arah sensor utama. Begitu macaron itu pecah, serbuk magnetiknya menempel pada pemancar laser, menciptakan distorsi yang membuat laser tersebut berkedip dan padam selama 60 detik.
"Lari!" teriak Bella.
Bella menggunakan alat penyedot vakum untuk mengangkat kaca pelindung tanpa suara. Namun, saat tangannya hendak menyentuh bingkai lukisan, sebuah cambuk berbahan benang perak melesat dari kegelapan dan melilit pergelangan tangannya.
"Begitu kasar pada wanita yang paling banyak ditatap di dunia," sebuah suara dengan aksen Prancis yang kental terdengar.
Seorang wanita muncul dari balik pilar. Ia mengenakan gaun malam berwarna emas yang menyapu lantai, topeng renda hitam menutupi matanya. Itulah The Empress of Silk, pemimpin tertinggi Sindikat Benang Hitam.
"Hargai sedikit karya seni ini, Bella. Lagipula, Ayahmu dulu yang membantuku merancang sistem keamanan di sini," ujar sang Permaisuri sambil menarik cambuknya, membuat Bella terjerembap ke depan.
"Jangan bawa-bawah Ayah gue!" teriak Bella sambil menarik payung titaniumnya.
Maya segera bertindak. Ia melemparkan gelang mutiaranya ke lantai. POOF! Asap lavender memenuhi ruangan. "Siska! Ambil chip-nya! Aku dan Bella bakal tahan si Tante Topeng ini!"
Siska melompat ke arah lukisan, menggunakan sutil titaniumnya untuk mencongkel bagian belakang bingkai dengan presisi seorang ahli bedah. Sementara itu, Maya menggunakan fitur "Flash-Dazzle" dari dasternya, menciptakan kilatan cahaya yang mengganggu penglihatan The Empress.
The Empress of Silk ternyata bukan lawan sembarangan. Gaun emasnya terbuat dari The Ghost Silk yang sudah setengah jadi, membuatnya bisa bergerak sangat cepat hingga tampak seperti bayangan yang berpindah-pindah.
"Kalian janda-janda menyebalkan," desis The Empress. Ia menggerakkan tangannya, dan tiba-tiba benang-benang tipis yang hampir tak terlihat keluar dari dinding-dinding museum, mencoba melilit Maya dan Bella.
"Ini bukan benang biasa! Ini benang pemotong molekuler!" Bella memperingatkan. Ia membuka payungnya, memutarnya dengan kecepatan tinggi untuk menepis benang-benang tersebut.
Maya terjebak. Salah satu benang nyaris mengenai lehernya. Dalam keadaan panik, Maya menekan tombol di ikat pinggang dasternya. "Mode Haute Couture: Inflatable!"
Daster Maya tiba-tiba menggelembung menjadi seperti balon besar yang empuk namun antipeluru. Benang-benang laser itu memantul dari permukaan daster Maya yang elastis. "Wah! Aku jadi kayak boneka Michelin versi mewah!" seru Maya sambil memantul-mantul di lantai museum, menabrak beberapa pengawal The Empress yang baru muncul.
Siska berhasil mendapatkan mikrokipnya. "Dapet! Bella, kita harus pergi! Gedung ini bakal lockdown dalam 30 detik!"
Mereka berlari keluar melalui pintu darurat, menuju tepian sungai Seine di mana sebuah kapal cepat Bateau Mouche yang sudah dimodifikasi menunggu. The Empress tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia mengejar menggunakan motor air futuristik yang bisa meluncur di atas air tanpa suara.
"Siska, siapkan 'Bumbu Pelicin'!" perintah Bella sambil memegang kemudi kapal.
Siska membuka tangki di bagian belakang kapal dan menuangkan galon-galon minyak zaitun yang sudah dicampur dengan sabun cair pekat. Kapal The Empress yang mencoba mendekat langsung kehilangan traksi di atas permukaan air yang berminyak, membuatnya berputar-putar seperti gasing di tengah sungai Seine.
"Au revoir, Tante!" teriak Maya sambil melambaikan tangan dari belakang kapal.
Setelah berhasil mencapai tempat persembunyian di sebuah apartemen kecil di kawasan Montmartre, Bella langsung memasukkan mikrokip tersebut ke dalam tabletnya. Data yang muncul membuat mereka bertiga terdiam seribu bahasa.
"Ini bukan cuma soal daster," bisik Bella, wajahnya pucat.
"Ada apa, Bel?" tanya Siska khawatir.
"Alasan kenapa kita bertiga yang dipilih oleh Ayahku dan agensi... alasan kenapa kita bertiga yang selamat dari berbagai insiden di masa lalu... itu karena kita adalah bagian dari proyek The Weaving Gene."
Maya mengerutkan kening. "Gen apa? Kayak nama toko kain?"
"Bukan, May. Ayahku bereksperimen dengan teknologi genetik yang membuat syaraf kita bisa tersinkronisasi sempurna dengan serat-serat cerdas di daster-daster ini. Itulah kenapa orang lain nggak bisa pakai daster kita dengan maksimal. Kita... kita ini sebenernya adalah senjata yang sudah disiapkan sejak lama."
Maya duduk lemas di tempat tidur. "Jadi... aku bukan cuma guru TK yang beruntung? Aku ini... produk laboratorium?"
Siska memegang tangan Maya. "Nggak peduli apa yang mereka lakukan pada gen kita di masa lalu, May. Yang penting adalah apa yang kita lakukan sekarang. Kita nggak pakai kekuatan ini buat jahat, kita pakai buat nangkep orang-orang kayak The Empress."
Bella mengangguk, matanya kembali tajam. "Data ini menunjukkan bahwa pabrik utama The Ghost Silk ada di Menara Eiffel. Besok malam adalah malam puncaknya. The Empress mau menggunakan antena Menara Eiffel untuk menyebarkan sinyal yang akan mengaktifkan 'Benang Mikro' yang sudah ada di dalam pakaian setiap warga Paris. Dia mau mengendalikan gerakan fisik semua orang di kota ini seperti boneka marionette."
Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu Paris, ketiga janda itu tidak tidur. Mereka mempersiapkan peralatan terakhir mereka. Siska mengasah sutilnya sampai bisa memotong helai rambut di udara. Maya mengisi ulang semua lipstik granatnya. Dan Bella... Bella memandang foto ayahnya sekali lagi sebelum menghapusnya secara permanen dari perangkatnya.
"Besok adalah Bab 50 kita," kata Bella serius. "Pertempuran terakhir. Di puncak menara itu, semuanya berakhir."
"Atau semuanya baru saja dimulai," sahut Siska.
Maya berdiri, merapikan dasternya yang kini sudah kembali ke motif bunga-bunga. "Apapun yang terjadi, aku mau kita tetep bareng-bareng. Dan kalau dunia selamat, aku beneran mau belanja tas di Champs-Élysées. Pakai kartu kredit agensi!"
Bella tersenyum. "Kesepakatan yang bagus, May."
Fajar mulai menyingsing di atas Paris. Hari penentuan telah tiba. Tiga janda, tiga daster, dan satu misi terakhir untuk menyelamatkan dunia dari kendali benang-benang hitam.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣