NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terasa Kosong

Arman duduk terpaku di kursinya. Dokumen-dokumen kerja bertumpuk di meja, tetapi tidak satu pun berhasil ia pahami. Kalimat-kalimat di layar komputer berpendar kabur. Yang terus muncul di kepalanya hanya satu kalimat pendek itu. “Gugatan cerai.”

Ia menautkan jemarinya, menghela napas berat. Bukan ancaman. Bukan emosi sesaat. Zizi betulan pergi… dan kali ini tidak menoleh.

“Bro, dari tadi bengong saja,” ujar Bisma yang berdiri di depan pintu, mengetuk pelan. “Kerjaan bisa numpuk kalau cuma ditatap.”

Arman tersentak kecil. Ia berusaha tersenyum, tapi bibirnya kaku. “Enggak apa-apa. Kurang tidur saja.”

Bisma memperhatikan sorot mata sahabat lamanya itu—mata yang tak pernah sepucat hari ini. “Zizi ya?”

Arman terdiam. Butuh beberapa detik sebelum ia mengangguk pelan. “Dia ajukan cerai.” Suaranya nyaris berbisik.

Bisma tidak langsung membalas. Ia hanya menepuk bahu Arman, lalu berkata pelan, “Apa yang kamu kejar selama ini, Man? Jangan sampai sadar ketika semuanya benar-benar hilang.”

Kalimat itu menggantung. Arman menoleh ke jendela. Kota ramai, klakson bersahut-sahutan, namun jiwanya seperti berada di tempat sunyi. Tiba-tiba ia teringat tatapan Zizi yang dingin saat terakhir mereka bicara, tatapan yang tidak lagi meminta dicintai, hanya memastikan kepergian.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mencubit hatinya.

Bukan karena ditinggalkan. Tapi karena tak pernah benar-benar mengenal perempuan yang menjadi istrinya sendiri.

Di rumah, suasana tak jauh berbeda: hampa, tapi lebih riuh oleh keluhan.

“Zizi! Zizi! Teh hangatku mana?” suara Anggun serak, tubuhnya menggigil. Hidungnya merah, keringat dingin membasahi pelipis. “Biasanya dia sudah siap dari subuh!”

Pembantu mendekat dengan langkah hati-hati. “Nyonya… Nyonya Zizi sudah tidak tinggal di sini.”

Anggun mengibaskan tangan tak sabar. “Omong apa kamu? Panggil saja, suruh ke kamar saya!”

“Nyonya,” ulang pembantu itu lirih, “Benar. Nyonya Zizi sudah pergi. Mengajukan cerai.”

Keheningan turun begitu saja.

Anggun menegang. Nafasnya terputus-putus, dada naik turun, bukan karena demam saja, tetapi karena kenyataan yang menamparnya.

Perempuan yang dulu sering ia bentak, yang selalu ia anggap tidak berguna itu…

Diam-diam pergi tanpa menoleh. Dan rumah ini langsung berantakan.

Obatnya tercecer. Pakaian tak terurus. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Tidak ada langkah pelan Zizi yang biasa mondar-mandir memastikan semua baik-baik saja. Hening yang tersisa justru memekakkan telinga. Pembantu ada tapi tidak pernah sebaik Zizi pengerjaannya.

Anggun menutup wajah dengan tangan gemetar. Ia ingin marah, tapi yang muncul justru rasa aneh yang selama ini tidak pernah ia akui: ketergantungan.

“Zi… Zizi…” panggilnya lirih, bukan lagi dengan nada memerintah.

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang menyelinap lewat jendela, membawa dingin yang menusuk tulang.

Di saat yang sama, ponsel Arman bergetar. Pesan singkat dari pengacara masuk, menegaskan jadwal sidang pertama. Ia menatap layar lama sekali, seolah huruf-huruf itu akan berubah jika ditunggu.

Namun tidak. Keputusan Zizi nyata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arman merasa… kosong. Rumahnya penuh, hidupnya mapan, tetapi ada sesuatu yang tercabut tanpa bisa ia tahan.

Seseorang yang dulu ia abaikan kini menjadi satu-satunya yang terus ia pikirkan.

Dan ia belum tahu, bahwa kepergian itu bukan sekadar menjauh. Melainkan permulaan dari janji dendam yang akan membalikkan seluruh hidupnya.

.

Arman duduk diam di ruang kerjanya. Tumpukan berkas terbuka di meja, namun tak satu pun benar-benar dia baca. Pikiran pria itu kembali pada satu kalimat pendek yang diterimanya beberapa hari lalu: Gugatan cerai. Zizi benar-benar melakukannya. Perempuan yang dulu tak pernah membantah, yang selalu menunduk dan menerima setiap kata tajam darinya, kali ini pergi tanpa menoleh.

Ia mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak, tapi ia menolak menyebut perasaan itu penyesalan. Menurutnya, Zizi hanya sedang bersikap berlebihan. Dia pasti kembali. Dia tidak bisa hidup tanpa keluarga ini, batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri namun keyakinan itu terasa rapuh.

Pintu diketuk pelan. Susan masuk dengan membawa dua cangkir kopi.

“Masih pusing?” tanyanya ringan. “Dari tadi kulihat kamu cuma menatap jendela.”

Arman tidak menjawab segera. “Sedikit. Ada urusan rumah.”

Susan duduk tanpa diminta. Ia sudah cukup dekat sebagai rekan kerja untuk memahami bahwa Arman tidak sedang baik-baik saja.

“Kalau mau cerita, aku dengar,” ucapnya lembut. “Kadang masalah baru terasa ringan kalau dibagi.”

Arman terdiam, lalu akhirnya berkata lirih, “Istriku… menggugat cerai.”

Susan mengangguk pelan. “Kamu kaget?”

“Tentu saja,” jawab Arman spontan. “Selama ini dia selalu diam. Aku pikir… dia tidak akan ke mana-mana.”

“Kebanyakan orang pergi justru setelah lama diam,” balas Susan pelan.

Kalimat itu menancap. Arman tak menyahut lagi. Susan menyentuh lengan bajunya sebentar, memberi isyarat dukungan.

“Kalau memang masih ingin mempertahankan, kejar,” katanya. “Tapi kalau kamu hanya takut kehilangan kebiasaan, bukan orangnya… pikirkan baik-baik.”

Arman kembali termenung. Apakah aku benar-benar kehilangan Zizi, atau hanya kehilangan seseorang yang selama ini mengurus segalanya untukku?

.

Di sisi lain kota, Zizi berdiri di depan cermin besar. Perban tipis masih melingkar di sebagian telapak tangannya, sisa luka yang tak sempat ia rawat karena lebih sibuk menyembunyikan rasa sakitnya.

Selama dua hari terakhir, ia menjauh dari rumah itu rumah yang dulu ia sebut rumah tangga. Ia tinggal di apartemen milik Danu sementara waktu, atas bujukan laki-laki itu pula ia berobat dan beristirahat.

“Kalau terus dipendam, kamu yang hancur,” kata Danu waktu itu.

Kini wajah di cermin tampak berbeda. Masih Zizi yang sama, tapi tatapannya lebih tegas. Ada rasa perih, ada sisa ketakutan, namun juga ada tekad yang mulai mengeras.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Danu.

Sudah makan? Jangan cuma mikir balas dendam, pulihkan dirimu dulu.

Zizi tersenyum tipis. Ia tahu jalannya akan panjang. Bukan sekadar menjatuhkan Arman, melainkan melepaskan dirinya dari masa lalu yang membelenggu.

Di rumah besar itu, suasana hampa menggantung. Anggun terbaring dengan selimut tebal, flu membuat tubuhnya lemas. Biasanya Zizi akan duduk di sisi ranjangnya, menyiapkan obat, bahkan memijat kakinya. Kali ini, tak ada siapa pun.

“Zi… Zizi!” teriak Anggun refleks.

Seorang pembantu masuk tergesa. “Nyonya, Bu Zizi sudah tidak tinggal di sini lagi…”

Kalimat itu membuat Anggun terdiam. Ia merengut, tak mau mengakui rasa kehilangan yang menyelinap. Rumah itu ternyata terlalu besar tanpa sosok yang selalu siap melayani tanpa suara.

Malam turun. Arman pulang lebih larut dari biasanya. Senyum yang tadi siang sempat mampir karena obrolan dengan Susan memudar. Ia berdiri lama di depan pintu rumah, memandang sepi yang menyambutnya.

Tak ada suara langkah Zizi. Tak ada aroma masakan kesukaannya. Yang ada hanya keheningan… dan ruang kosong yang selama ini tak pernah ia sadari keberadaannya.

Untuk pertama kalinya, Arman bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang sebenarnya sudah hilang dari hidupku?

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!