Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu
"Kak Rania," ucap Clara.
Rania menghela napas panjang. Bahunya terasa berat, seolah seluruh lelah menumpuk di sana. Tubuh dan pikirannya sama-sama letih. Yang dia inginkan hanya satu: masuk kamar dan membersihkan diri.
"Minggir," ucap Rania singkat sambil berlalu.
Clara refleks menepi, masih terkejut melihat kehadiran mendadak kakak satu ibu itu.
Tanpa menoleh lagi, Rania langsung menaiki tangga menuju lantai dua—ke kamar yang telah ditinggalkannya beberapa minggu lalu. Begitu sampai, dia membanting pintu keras-keras. Bunyi hentakannya menggema di lorong, menjadi pelampiasan emosi yang tak sempat ia keluarkan sejak tadi. Ternyata, di balik kelelahan itu, tenaganya masih cukup untuk marah.
Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, bingung. Akhirnya gadis itu memilih kembali ke meja makan, bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Siapa?" tanya Ranti penasaran sambil mengangkat gelas ke bibirnya.
"Kak Rania," jawab Clara sekenanya, lalu menjatuhkan diri ke kursinya.
"Uhuk… uhuk… uhuk!"
Ranti tersedak, air di gelasnya hampir tumpah.
"Ya ampun, Mama," Clara spontan bangkit, menepuk-nepuk punggung wanita itu.
Adrian tetap diam, fokus menyelesaikan makan malamnya. Pria itu memang tidak terlalu ambil pusing soal anak sambungnya. Bukan karena tak peduli, tapi Rania sejak dulu memang sulit diatur dan terbiasa bertindak sesuka hati.
Datang dan pergi tanpa penjelasan sudah menjadi kebiasaan gadis itu. Karena itulah, Adrian memilih tidak bereaksi berlebihan.
"Pelan-pelan dong, Ma," ucap Clara.
Setelah napasnya kembali teratur, Ranti akhirnya bersuara, "Di mana kakak kamu?"
"Tadi datang-datang muka Kak Rania udah kayak martabak telur," jawab Clara ketus, bukannya langsung menjawab pertanyaan.
"Clara," suara Ranti meninggi, "Kakak kamu di mana sekarang?"
"Di kamar. Kak Rania langsung naik."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ranti berdiri. Makan malam yang bahkan belum sempat ia sentuh ditinggalkan begitu saja, dingin di atas meja. Dengan langkah cepat—sedikit tergesa, sedikit panik—ia menaiki anak tangga menuju kamar putri sulungnya.
Tok… tok… tok…
Tak ada jawaban.
Ranti mengetuk lagi, kali ini lebih pelan, seolah takut suaranya sendiri akan memperkeruh keadaan. Karena pintu terkunci dari dalam, ia terpaksa menunggu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya terdengar bunyi kunci diputar.
Pintu terbuka.
Rania berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, rambutnya sedikit berantakan. Tatapan mereka sempat bertemu—singkat, dingin—lalu Rania langsung berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.
Ia harus membersihkan diri sekarang. Kalau tidak, dadanya terasa seperti akan meledak.
"Say…"
Panggilan itu terucap lirih, hampir terdengar seperti permohonan.
Namun Rania tidak berhenti. Pintu kamar mandi tertutup, disusul bunyi kunci yang kembali diputar dari dalam.
Klik.
Suara kecil itu terasa jauh lebih keras di telinga Ranti.
Wanita itu berdiri mematung beberapa saat. Tangannya terangkat, lalu jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Ia menghela napas panjang, menahan sesuatu yang ingin keluar—entah amarah, entah rasa bersalah.
Akhirnya, Ranti melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur. Matanya menyapu kamar yang terlalu rapi untuk seseorang yang hatinya sedang kacau.
Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air mengalir.
"Rania…" panggil Ranti lagi, kali ini lebih pelan.
Tak ada jawaban.
Ranti menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan.
"Mama cuma mau ngomong," ucapnya lirih, nyaris berbisik.
Air masih terus mengalir. Tidak ada sahutan.
Ranti menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap duduk di sana, menunggu—karena pergi sekarang hanya akan membuat jarak di antara mereka semakin lebar.
Di dalam kamar mandi, Rania memilih berendam dengan air hangat bercampur wewangian aromaterapi. Ia benar-benar membutuhkannya—untuk menenangkan diri, untuk meredam sesak yang sejak tadi menekan dadanya.
Kurang lebih lima belas menit ia berdiam di sana, lalu membilas tubuhnya. Saat keluar, pikirannya terasa sedikit lebih ringan, meski tidak sepenuhnya tenang.
Klik
Suara kunci pintu diputar dari dalam. Di luar sana, Ranti menghela napas lega tanpa sadar.
Rania keluar mengenakan jubah mandi. Rambutnya basah, wajahnya datar. Ia mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambut, memilih diam seolah di ruangan itu hanya ada dirinya sendiri.
"Rania," panggil Ranti pelan.
Tak ada respons. Rania terus mengusap rambutnya.
"Rania," Ranti mencoba lagi.
Masih sama. Rania bersikap seakan kehadiran Ranti tidak berarti apa-apa.
"Rania!" bentak Ranti.
Suara itu akhirnya membuat Rania berhenti bergerak. Handuk di tangannya terkulai.
"Kamu mau marah sampai kapan?" tanya Ranti dengan napas memburu, menahan amarah yang nyaris meluap.
"Kenapa Mama nggak baca pesan dari aku?" balas Rania dengan suara tak kalah tinggi.
Ranti terdiam sejenak, lalu menjawab, "Mama nggak tahu kalau suaminya Candy itu pria yang kamu cintai. Kamu juga nggak pernah cerita apa-apa sama Mama."
Rania menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit kamar. Ada sesal yang terlambat ia sadari—ia memang salah karena tidak pernah bercerita.
"Kalau aja Mama baca pesan aku," ucapnya lirih namun penuh tekanan, "pernikahan itu pasti gagal."
Ranti menghela napas lelah. "Rania, kamu kira dengan Mama baca pesan itu, terus kamu berharap Mama langsung menggagalkan pernikahan?"
Rania diam.
"Kamu pikir akan semudah itu?" lanjut Ranti, suaranya mulai bergetar. "Mama rasa, sekalipun Mama pura-pura meninggal, satu orang pun di sana tidak akan peduli. Pernikahan itu tetap berjalan."
"Setidaknya Mama sudah mencoba," sahut Rania keras kepala.
Urat emosi di dada Ranti menegang. Matanya memerah. Menghadapi Rania seperti bercermin pada dirinya sendiri—keras kepala, tak mau mengalah. Ditambah lagi, dulu mendiang suaminya terlalu memanjakan Rania.
"Ini juga kesalahan kamu," ucap Ranti akhirnya.
Rania langsung duduk tegak. "Lho! Kenapa jadi salah aku?" Nada suaranya meninggi, tak terima.
*Kalau saja kamu nggak kabur dengan alasan mau lanjutin studi, Mama nggak perlu capek-capek maksa Candy buat gantiin kamu."
"Ya mana aku tahu, Ma, kalau Bara itu pria yang dijodohin ke aku!" balas Rania.
"Masa kamu nggak tahu apa-apa tentang Bara?"
"Semua informasi tentang dia hampir nggak ada. Aku pikir itu hal biasa karena dia tidak terlalu populer."
Hening sejenak. Lagi-lagi Ranti menghela napas. Mereka hanya saling melempar kesalahan tanpa ujung.
"Terus sekarang maunya kamu apa?" tanya Ranti akhirnya, mengalah.
Senyum tipis—licik—terbit di sudut bibir Rania.
"Aku mau Bara," ucapnya tegas.
Ranti mengernyit. "Maksud kamu?"
"Aku mau Bara, Ma," ulang Rania. "Nggak ada lelaki lain yang pantas jadi suami aku. Cuma Bara." Suaranya bergetar, menahan emosi yang bercampur amarah dan keinginan.
"Mereka baru menikah," balas Ranti cepat. "Nggak mungkin juga mereka bercerai dalam waktu dekat."
Rania tersenyum kecut. "Bukannya Candy juga nggak mau menikah dengan Bara?"
"Candy memang nggak mau," jawab Ranti, "tapi keluarga Luneth nggak akan membiarkan mereka berpisah. Mereka keluarga terpandang. Dari dulu nggak pernah ada berita miring tentang mereka. Jadi Mama rasa itu nggak mungkin."
"Mungkin saja," sahut Rania cepat. "Kalau Candy yang minta."
Hening.
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan berbahaya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang berdiri tak jauh dari sana—mendengar seluruh percakapan itu.
Nama Bara dan Candy berulang kali disebut dalam percakapan ibu dan anak itu. Ia tidak sepenuhnya memahami apa hubungan di antara semuanya, namun satu hal terasa jelas dan mengganggu: Rania menginginkan seorang pria bernama Bara—dan berniat menghancurkan pernikahan Candy.
Kepalanya berdenyut, berusaha menyusun potongan-potongan yang tidak seharusnya ia miliki.
Siapa Bara?
Dan apa hubungannya dengan pernikahan Candy?
Ia menelan ludah.
Lalu melangkah pergi, membawa sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar—dan pilihan sulit yang perlahan mulai menunggunya.