Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 6
Hari ini weekend, dan sesuai janji Reyhan akan mengajak sang putra untuk ketaman bersama Rani
Dengan sepeda motornya Reyhan datang ke alamat yang sudah Rani berikan, wanita cantik itu juga telah menunggu disana
Begitu tiba, Reyhan dapat melihat jika sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu berada disana
"Hay Arlo!" Sapa Rani pada anak dari sahabatnya itu
"Hay Tante Rani!"
"Udah lama nunggunya Ran?" Tanya Reyhan
"Belum kok"
Ketiganya lalu berjalan ketengah taman dimana terdapat beberapa wahana permainan membuat Arlo kegirangan
"Arlo main disana ya Pah!" Bocah enam tahun itu menunjuk sebuah perosotan dimana beberapa anak-anak seusianya juga bermain
"Iya sayang! Papa tunggu disini yaa!"
Reyhan dan Rani duduk disebuah kursi panjang, disana juga ada beberapa orang tua yang juga menemani buah hatinya
"Nganterin anak main juga ya mas?" Tanya seorang wanita pada Reyhan, usianya mungkin tak jauh berbeda dari nya
"Iya mbak" jawab Reyhan
"Kalian keliatan serasi, masnya ganteng mbaknya juga cantik banget" canda wanita tersebut
"Terima kasih mbak" Reyhan sepertinya tak berniat untuk meluruskan kesalahpahaman itu, pria itu lebih memilih untuk mengiyakan saja
"Kenapa gak disangkal?" Bisik Rani pada pria yang duduk disampingnya
"Biar cepet aja"
Seharian Reyhan dan Rani menemani Arlo bermain, ketiganya terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Bahkan kini mereka tengah menikmati eskrim dikursi taman
"Gimana rencana pernikahan kamu?" Tanya Reyhan tiba-tiba
"Kita baru tunangan, Revan juga masih sibuk sama pekerjaannya. Jadi, pernikahannya masih beberapa bulan lagi" jawab Rani, Reyhan dapat melihat jika wanita itu tak terlihat antusias pada pernikahan nya
"Kamu bahagia sama Revan?"
Rani menoleh, ia tak tau kenapa Reyhan tiba-tiba bertanya hal itu
"Tentu saja, Revan baik. Dia juga udah deket banget sama ibu sama ayah" Jawab Rani
"Aku ikut seneng kalau kamu bahagia!" Keduanya tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan taman
***
Satu Minggu lamanya Reya berada di Milan, dan hari ini ia kembali menginjakkan kakinya di tanah air
Reya melambaikan tangannya, disana sang suami telah menunggu kedatangannya dengan senyuman khasnya
"Makasih ya udah jemput!" Reya lebih dulu memeluk tubuh suaminya
"Udah tanggung jawab aku kan?" Reyhan membantu memasukkan koper milik istrinya kedalam mobil
"Gimana show-nya?" Tanya Reyhan, kini keduanya telah berada didalam mobil yang melaju meninggalkan bandara
Reya mengangguk " Semuanya lancar. Aku bahagia banget, aku juga beli banyak oleh-oleh untuk kamu sama Arlo"
"Aku bangga sama kamu!" Reya tersenyum, ia peluk lengan suaminya lalu merebahkan kepalanya diatas bahu lebar pria yang ia cintai itu
"Kalau kamu ada disana pasti lebih seru!"
"Maaf yaa!" Reyhan tahu jika istrinya itu pasti merasa kecewa karena ia tidak hadir disana
"Gak pa-pa, aku ngerti kok"
Reya memejamkan matanya, rasanya benar-benar rindu pada pemilik tubuh tegap itu
***
Setelah sekitar satu jam, mobil tersebut masuk kedalam halaman rumah bergaya minimalis itu
Reya masuk lebih dulu sementara Reyhan menurunkan dua koper milik istrinya
"Mama" Arlo terlihat kegirangan saat melihat sang Mama memasuki rumah
"Sayangnya Mama!" Reya memeluk tubuh putra semata wayangnya itu dengan erat
"Mama bawah oleh-oleh kan?"
"Tentu saja, nanti kita bongkar yaa!" Bocah tampan itu mengangguk antusias
Malam harinya sepasang suami istri itu tengah berada di kamar mereka, Reya baru saja selesai dengan ritual malamnya
Begitu ia keluar, sang suami tengah berdiri sembari menatap keluar jendela. Reya mendekat, wanita cantik dengan tubuh bak gitar spanyol itu memeluk sang suami dari belakang, jemarinya menari lembut diatas dada bidang pria itu, membuat gambar-gambar abstrak
"Aku kangen!" Bisik Reya, suaranya terdengar sensual
Reyhan berbalik, ia tatap wajah cantik istrinya dengan senyum manisnya
"Emm.. aku pengen.." jemari lentik dengan kuku berwarna merah itu bergerak nakal diatas dada bidang Reyhan
Reyhan memegang lengan istrinya "Kamu pasti capek, sebaiknya istirahat dulu, Reya!"
Wajah Reya berubah kecut, bibirnya maju beberapa senti "Kamu gak kangen ya sama aku?"
"Aku kangen Reya, tapi kamu juga capek"
Wanita cantik itu menghela napasnya panjang, Reya melangkah mendekati ranjang lalu berbaring disana
"Kamu marah?" Reyhan mendekat, memeluk tubuh istrinya dari belakang karena Reya berbaring membelakanginya
"Aku cuma ngerasa kamu berubah" suara Reya terdengar sedih
"Aku gak berubah, aku ngerti kalau perjalanan dari Milan kesini itu jauh sayang, jadi lebih baik kamu istirahat!" Lanjut Reyhan "Lagian kita punya waktu seumur hidup untuk melakukan itu, kan?"
Reya tersenyum, ia membalik tubuhnya hingga kini menghadap suaminya. Entah kenapa hatinya menghangat mendengar apa yang Reyhan ucapakan
"Aku cinta kamu!" Reya mengecup sekilas bibir tebal suaminya, setelahnya ia menyamankan dirinya dalam dekapan pria tampan yang ia cintai itu
Reyhan diam, pelukan pada tubuh sang istri ia eratkan lalu keduanya memejamkan mata
***
"Selamat pagi sayang!" Reya mengecup sebelah pipi sang putra yang telah rapi dengan pakaian sekolahnya
"Selamat pagi mama"
"Gimana sekolahnya?"
"Baik, aku udah mau SD kan?" Ucap Arlo dengan gemas
"Iya, Arlo kan udah besar!" Jawab Reya
"Oh iya, selama mama gak ada, Arlo ngapain aja?" Tanya Reya disela-sela sarapan mereka, Reyhan hanya mendengarkan saja sembari menikmati sarapannya
"Emmm" bocah tampan itu terlihat berpikir "Sekolah, terus main sepeda sama kak Riska, terus belajar"
Reya terkekeh, ia usap lembut kepala putra semata wayangnya itu
"Oh iya, Arlo juga main di taman sama Papa sama Tante Rani" Celetuk Arlo
Reyhan tersedak, ucapan spontan anaknya jelas akan membuat Reya bertanya
Reya mengerutkan keningnya, ia tatap wajah tampan suaminya lalu kembali pada sang putra
"Tante Rani?" Arlo mengangguk
"Tante Rani itu temennya Papa" Jawab Arlo
Reya mengalihkan pandangannya pada sang suami "Temen kamu yang mana, Rey?"
"Emmm.. itu" Reyhan terlihat gugup "Rani tunangannya Revan, temen kamu itu"
"Kok bisa kalian jalan di taman?"
"Emm.. kita gak sengaja ketemu!" Jawab Reyhan asal "Aku sama Arlo mau jalan-jalan ke taman, terus gak sengaja ketemu Rani, dia juga lagi di taman"
Reya mengangguk saja, dari tatapannya jelas jika dia curiga dan Reyhan sadar itu
Ucapan sang putra terus terngiang di telinga Reya, sepanjang hari ia memikirkan, bagaimana bisa suami serta putranya jalan bersama Rani?
"Kok Reyhan bisa deket sama Rani? waktu makan malam itu, dia bilang gak kenal"
Reya memilih untuk mengabaikan, ia berpikir. Rasanya tidak mungkin pria seperti Reyhan selingkuh
***
"Selamat siang calon istri aku!"
"Revan? Kamu ngagetin aja tau gak!" Wajah Rani terlihat kesal
"Makin cantik aja sih" godanya, Rani hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali bekerja