NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Langkah kaki Sheila terasa sangat berat, menyeret rasa sakit yang luar biasa di bagian intimnya yang baru saja dirampas secara paksa dan kasar. Setiap gesekan kain gaunnya menimbulkan sensasi perih yang seolah terus mengingatkannya pada kejadian menjijikkan beberapa menit lalu.

​"Stttsss... hiks... hiks..." ringis Sheila sambil memegangi perutnya yang terasa mual. Ia bersandar pada dinding dingin koridor apartemen, mencoba menopang tubuhnya yang lemas. Air mata terus mengalir deras, melunturkan maskara dan riasan yang tadi siang ia poles dengan penuh kebahagiaan palsu.

​Sheila menyeka air matanya dengan kasar hingga pipinya memerah. Di benaknya, wajah Devano yang tadi terlihat seperti malaikat kini berubah menjadi sosok iblis yang paling menakutkan. Ia menatap uang ratusan ribu yang masih ia genggam erat—bukan karena ia membutuhkannya, tapi karena uang itu adalah bukti betapa rendah dirinya di mata Devano.

​Saat ia melewati unit 202, suara gelak tawa keras meledak dari dalam. Itu suara Indra dan Bayu.

​"Gila! Motor sport baru bakal parkir di garasi kita, Bro! Devano emang master kalau soal jinakkin cewek bar-bar!" seru Indra yang terdengar sangat jelas hingga ke luar ruangan.

​Sheila menutup kedua telinganya dengan rapat, namun suara itu tetap masuk menusuk jantungnya. Ia mempercepat langkahnya meskipun kakinya terasa akan patah. Rasa malu yang luar biasa membuatnya merasa ingin menghilang dari muka bumi. Ia menyadari bahwa ia bukan hanya kehilangan kehormatannya, tapi juga menjadi bahan lelucon bagi sekelompok laki-laki yang ia anggap hebat.

​Sesampainya di dalam lift, Sheila terpuruk di sudut ruangan sempit itu. Ia menangis histeris tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Pantulan dirinya di cermin lift menunjukkan sosok gadis yang hancur, berantakan, dan tak lagi memiliki harga diri.

​"Kenapa aku begitu bodoh? Hiks... maafin aku Risma... Bunda..." bisik Sheila di tengah isak tangisnya. Kata-kata peringatan Risma tentang 'jebakan' dan 'iblis berwajah tampan' kini menghujam benaknya seperti ribuan jarum.

​Sheila sadar, mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Sifatnya yang bar-bar dan ceria telah dibunuh oleh ego dan nafsu seorang Devano Narendra. Ia keluar dari lobi apartemen dengan pandangan kosong, berjalan menembus dinginnya malam kota tanpa tahu ke mana harus melangkah dengan tubuh yang telah tercela.

​Jalanan kota malam itu terasa begitu luas dan menakutkan bagi Sheila. Cahaya lampu merkuri yang temaram memantulkan bayangan tubuhnya yang berjalan terhuyung-huyung di atas trotoar. Ia tidak tahu sudah berapa jauh ia berjalan meninggalkan apartemen terkutuk itu. Rasa perih di antara kedua kakinya kini terasa kebas, tergantikan oleh rasa kosong yang menghisap seluruh kesadarannya.

​"Kenapa... hiks... kenapa harus aku?" gumam Sheila dengan suara yang nyaris tak terdengar. Pandangannya kabur oleh air mata yang terus merebak. Setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah Devano yang sedang menyeringai puas dan suara tawa Indra serta Bayu kembali menghantamnya seperti palu godam.

​Pikiran Sheila benar-benar hancur. Ia merasa seperti sampah yang dibuang di pinggir jalan. Gaun indah yang ia pilih dengan penuh harapan kini terasa seperti jubah kehinaan yang membungkus tubuhnya yang telah tercela.

​Sheila berhenti di atas sebuah jembatan penyeberangan yang sepi. Ia mencengkeram besi pembatas yang dingin, menatap arus kendaraan di bawahnya yang bergerak cepat. Terlintas pikiran gelap di benaknya; jika ia melompat sekarang, mungkin rasa malu dan sakit ini akan berakhir. Dunia tidak akan pernah tahu betapa bodohnya gadis bernama Sheila ini.

​Namun, saat ia mencondongkan tubuhnya, bayangan wajah bundanya yang sedang tersenyum hangat tiba-tiba melintas. Ia teringat bagaimana bundanya selalu membanggakan dirinya. Tangis Sheila semakin pecah.

​"Bunda... maafin Sheila... Sheila kotor, Bunda... hiks... hiks..." Ia merosot ke lantai jembatan, memeluk lututnya sendiri sambil terisak histeris. Kesunyian malam menjadi saksi betapa hancurnya seorang gadis yang tadinya begitu ceria dan bar-bar, kini hanyalah sisa-sisa manusia yang kehilangan arah.

​Tiba-tiba, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Sheila merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Layar ponsel menampilkan nama "Risma". Sudah ada 20 panggilan tak terjawab dan puluhan pesan singkat sejak tadi.

​"Sheil, kamu di mana? Perasaanku nggak enak banget. Tolong angkat, Sheil! Aku di depan rumah kamu, tapi Bunda bilang kamu belum pulang. Tolong kasih kabar!"

​Membaca pesan itu, Sheila merasa oksigen kembali masuk ke paru-parunya meskipun terasa sesak. Di dunia yang kejam ini, ternyata masih ada satu orang yang menunggu dan mencemaskannya. Namun, muncul ketakutan baru: bagaimana ia harus menatap mata Risma? Bagaimana ia harus mengakui bahwa sahabatnya benar dan dirinya terlalu buta karena cinta?

​Tangan Sheila bergetar hebat saat jari-jemarinya menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Begitu sambungan terhubung, keheningan malam di atas jembatan itu terpecah oleh suara Risma yang terdengar sangat panik dan nyaris menangis.

​"Sheila?! Astaga, Sheila! Kamu di mana? Kenapa baru angkat?! Aku sudah di depan rumahmu sejak satu jam lalu!" seru Risma dari seberang telepon.

​Sheila terpaku. Ia mencoba membuka suaranya, namun yang keluar hanyalah isak tangis yang tercekik. "R-ris... hiks... Risma..."

​Mendengar suara Sheila yang begitu parau dan penuh penderitaan, nada bicara Risma seketika berubah menjadi lembut namun penuh ketakutan. "Sheil? Kamu menangis? Katakan di mana kamu sekarang, aku akan menjemputmu. Tolong jangan diam saja, Sheil!"

​"Aku... aku di jembatan penyeberangan dekat apartemen Vano, Ris... hiks... kamu benar, Ris... aku bodoh... hiks... aku benar-benar kotor..." ucap Sheila sambil merosot semakin dalam ke lantai jembatan yang dingin. Seluruh pertahanannya runtuh. Ia tidak lagi bisa menyembunyikan trauma yang baru saja ia alami.

​Risma tercekat sejenak. Ia tahu apa yang dimaksud oleh sahabatnya. Rasa marah dan sedih bercampur menjadi satu di dalam dadanya. "Jangan pergi ke mana-mana! Tetap di sana, Sheila! Aku akan ke sana sekarang pakai motor kakakku. Jangan matikan teleponnya, tolong!"

​Sekitar sepuluh menit kemudian, suara deru motor berhenti di bawah jembatan. Risma berlari menaiki anak tangga jembatan dengan napas tersengal. Matanya langsung menangkap siluet gadis yang sedang meringkuk malu di sudut gelap.

​"Sheila!" Risma langsung menghambur dan memeluk tubuh Sheila dengan sangat erat.

​Sheila tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menumpahkan seluruh tangisnya di bahu Risma. Gaunnya yang berantakan dan tubuhnya yang masih terasa perih menjadi saksi bisu betapa kejamnya Devano malam ini.

​"Dia... dia cuma jadiin aku taruhan, Ris... hiks... dia buang aku setelah semuanya dia ambil... hiks... eungghhh..." rintih Sheila sambil mencengkeram jaket Risma.

​Risma mengelus rambut Sheila dengan air mata yang turut mengalir. Ia merasakan tubuh sahabatnya yang menggigil hebat karena trauma dan kedinginan. "Ssttt... sudah Sheil, sudah. Kamu gak sendiri. Aku di sini. Kita pulang ya? Kita beresin semuanya."

​"Tapi Bunda, Ris... aku takut Bunda tahu aku sudah gak suci lagi... hiks..."

​"Kita akan cari jalan keluar sama-sama. Tapi sekarang, kamu harus jauh dari sini. Devano dan teman-temannya akan mendapat balasannya, aku janji!" tegas Risma dengan tatapan mata yang kini penuh dengan tekad untuk melindungi Sheila.

1
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!