NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Arumi berusaha bertahan dari godaan Brian, meski tangan suaminya itu sudah mulai menyentuhnya. Rasa kesal masih membekas di hatinya karena melihat Brian begitu asyik mengobrol dengan wanita cantik di pesta pernikahan mereka tadi.

"Maria namanya. Maria itu teman kuliahku di London, mantan kekasih Reno," jelas Brian lembut sambil menangkup wajah Arumi, menatapnya dengan dalam. "Dia mencari Reno karena masih mencintai sahabatku itu. Aku memberitahunya kalau Reno sudah punya kekasih dan sedang tidak ada di Jakarta saat ini."

​ Arumi mencoba mencari celah kebohongan dari ucapan Brian. Namun, alih-alih menemukan dusta, dia justru kehilangan fokus karena terpesona pada ketampanan suaminya sendiri.

Brian menyatukan kening mereka, menatap Arumi dengan tatapan yang mampu meluluhkan pertahanan apa pun. "Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin kita menyatu tanpa ada benci, dendam, apalagi keterpaksaan," bisiknya parau.

"Aku mempercayaimu, Arumi, apa pun masa lalu mu. Jadi, aku ingin kau pun hanya mempercayai kata-kataku saja. Jika suatu saat aku mengkhianatimu, pergilah tanpa perlu menoleh lagi padaku. Aku berjanji," lanjut Brian sungguh-sungguh.

Detik berikutnya, Brian memiringkan wajahnya, mengecup bibir Arumi dengan lembut. Ciuman itu perlahan berubah menjadi tuntutan yang dalam dan penuh damba. Sambil terus memagut bibir istrinya, Brian menuntun Arumi melangkah perlahan menuju tempat tidur.

​Dalam gerakan yang intens, ia melepas jas dan kemejanya sendiri. Tangannya yang berurat mulai mencari pengait gaun pengantin Arumi, membiarkan kain mewah itu luruh ke lantai. Arumi berdiri terpaku, napasnya menderu saat melihat tatapan Brian yang penuh gairah memindai dirinya.

​"Aku milikmu malam ini," bisik Brian seraya menuntun jemari halus Arumi untuk merasakan ketegangan dan debaran di tubuhnya.

​Seolah terhipnotis , Arumi bergerak mengikuti instingnya. Ia memberikan perhatian yang sama besarnya, memberikan kecupan-kecupan lembut yang membuat Brian mendongak ke atas, mengerang saat sensasi dahsyat itu menyapu kesadarannya. Brian tak lagi bisa menahan diri. Ia mengangkat bahu Arumi, merebahkannya ke atas kasut yang empuk.

​Brian memanjakan setiap inci tubuh istrinya dengan penuh pengabdian, tanpa rasa enggan sedikit pun. Suara napas yang memburu dan decapan lembut memenuhi kamar pengantin itu, menciptakan simfoni gairah yang memabukkan.

​Saat mereka akhirnya menyatu, Brian memberikan entakan dalam yang membuat Arumi melengkungkan punggungnya, mendekap erat tubuh suaminya. Brian bergerak dengan ritme yang penuh perasaan, memberikan stimulasi di setiap titik sensitif istrinya, termasuk kecupan-kecupan hangat di dadanya. Malam itu, mereka tenggelam dalam lautan asmara yang membara, seolah hari esok taka akan pernah datang.

...***...

Lamborghini itu melesat dengan kecepatan tinggi, membelah keheningan malam di kota Bandung. Frans, yang sebelumnya menghilang dari pesta pernikahan Brian dan Arumi, terpaksa bergegas menuju cabang Hotel Aditama. Kabar buruk baru saja diterimanya. Manager hotel melaporkan adanya kasus pembunuhan di kamar 105.

Korbannya adalah seorang wanita muda yang tewas setelah diduga dipaksa meminum racun. Hal yang membuat rahang Frans mengeras adalah fakta bahwa wanita itu merupakan salah satu mata-matanya. Orang kepercayaannya yang bertugas mengendus dalang di balik pembunuhan Adrian.

​Saat melewati tikungan sepi, Frans menyadari ada sebuah mobil yang membuntutinya. Awalnya, ia mengira itu hanya pengendara biasa. Namun, mobil itu semakin mendekat dan mulai memepet kendaraannya secara provokatif.

​Frans segera siaga. Ia menginjak pedal gas sedalam mungkin. Kejar-kejaran sengit pun tak terhindarkan. Tiba-tiba, kaca mobil pengejar itu terbuka, menodongkan moncong pistol ke arah Frans yang tengah fokus mengemudi.

​Dor! Dor!

​Rentetan peluru menghantam kaca mobil Frans. Meski menggunakan kaca anti peluru khusus untuk jajaran tangan kanan keluarga Aditama, benturan keras itu mulai meninggalkan retakan tipis.

​"Sial! Apa maunya mereka?!" teriak Frans geram. Meski dalam posisi berbahaya, otaknya tetap bekerja cepat.

​Tanpa diduga, Frans menginjak rem dengan mendadak, melakukan manuver tajam dan memutar mobilnya melawan arah. Keberuntungan berpihak padanya, tak jauh dari sana, terlihat sebuah mobil patroli yang menyalakan sirene. Melihat kehadiran polisi, mobil penembak itu langsung melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tebal dan bekas ban yang terbakar di atas aspal.

​Frans menghentikan mobilnya di tepi jalan, napasnya memburu bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih. Ia memukul kemudi dengan keras. "Mereka sudah mulai bergerak terang-terangan," geramnya.

Ia segera mengambil ponsel, menghubungi tim keamanan internal Hotel Aditama. "Blokir semua akses keluar masuk hotel. Jangan biarkan polisi masuk ke kamar 105 sebelum aku tiba di sana. Amankan rekaman CCTV koridor."

Setelah memastikan semuanya terkendali, Frans menurunkan kaca jendela mobilnya perlahan saat seorang petugas kepolisian mengetuk pintu. Udara malam yang dingin segera menyusup masuk ke dalam kabin Lamborghini yang kacanya sudah retak.

​"Apa Anda baik-baik saja, Tuan? Bisa tunjukkan identitas Anda?" tanya polisi itu dengan nada tegas namun tetap sopan.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Frans mengambil kartu pengenal dari dompet kulitnya dan menyerahkannya. Polisi itu menerima kartu tersebut, membacanya sejenak, lalu melirik ke arah Frans dengan tatapan yang langsung berubah lebih hormat.

​"Anda salah satu orang kepercayaan keluarga Aditama?" Polisi itu memastikan sekali lagi. "Kebetulan Inspektur kami sedang menuju lokasi hotel karena ada laporan dari pihak manajemen Anda."

​Frans mengangguk singkat sambil menerima kembali kartu pengenalnya. "Ya, saya akan langsung ke sana menemui Inspektur," ucap Frans dingin.

​Polisi itu mengangguk patuh dan memberikan jalan. "Silakan, Tuan. Hati-hati di jalan."

Sepuluh menit kemudian

Frans menghentikan mobilnya tepat di depan lobi hotel, di mana beberapa petugas polisi sudah bersiaga karena laporan awal dari pihak manajemen. Seorang inspektur mendekati Frans saat ia baru saja turun dari mobilnya yang tampak retak di bagian kaca.

​"Tuan Frans, kami menerima laporan adanya pengejaran dan penembakan di jalan raya, serta kejadian di kamar 105. Bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?" tanya polisi itu sambil menyiapkan catatan.

​Frans menatap polisi itu dengan tajam, namun tetap tenang. Sorot matanya menunjukkan wibawa yang tidak bisa dibantah. "Inspektur, mobil saya baru saja diserang oleh pihak yang tidak dikenal. Untuk kejadian di kamar 105, biarkan tim forensik kalian bekerja, tapi saya punya satu permintaan khusus."

​Frans melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar orang sekitar. "Periksa semua rekaman CCTV jalan, kumpulkan bukti peluru yang bersarang di mobil saya, tapi pastikan berita ini tidak sampai tercium oleh publik atau media. Anda tahu sendiri ini menyangkut nama besar keluarga Aditama. Kami tidak ingin ada spekulasi liar yang mengganggu stabilitas bisnis dan keamanan keluarga."

​Polisi itu terdiam sejenak, menimbang beratnya pengaruh keluarga Aditama di kota ini. Hubungan antara pihak berwajib dan keluarga konglomerat itu memang selalu berjalan secara profesional namun penuh rasa hormat.

​"Kami mengerti, Tuan Frans. Kami akan menangani penyelidikan ini secara tertutup dan segera mengamankan rekaman CCTV untuk kami tindak lanjuti secara internal," polisi itu akhirnya mengiyakan sambil memberikan hormat singkat.

Frans mengangguk puas. "Terima kasih atas kerja samanya. Laporkan setiap perkembangan langsung ke saya, bukan ke pihak lain."

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!