Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
Melihat petugas kebersihan itu tewas dengan begitu mudahnya, Pharma sejenak membelakangi Paul dan Loen, seolah-olah dia sedang menikmati "karya" barunya di lantai koridor. Dia merasa sangat di atas angin, yakin bahwa Paul sudah tidak berdaya dan Loen sudah mati.
Namun, Pharma meremehkan tekad seseorang yang sudah tidak punya beban lagi.
Di belakangnya, Loen terbatuk darah.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium untuk menarik dirinya berdiri. Matanya yang merah menatap punggung Pharma dengan kebencian yang murni.
Di tangan kanan Loen, ia menggenggam sebuah penjepit medis panjang (forceps) yang ia sambar dari meja saat ia terjatuh tadi.
"Pharma..." suara Loen terdengar parau, nyaris seperti bisikan hantu.
Pharma menoleh perlahan, alisnya terangkat sedikit karena terkejut.
"Kau masih bisa bernapas, Loen? Tubuhmu benar-benar keras kepala."
Tanpa peringatan, Loen mengeluarkan teriakan kemarahan yang memecah kesunyian lab. Ia menerjang maju dengan sisa tenaganya. Pharma yang terlalu percaya diri terlambat bereaksi.
Loen berhasil menghantamkan tubuhnya ke Pharma, mendorong dokter itu hingga menabrak rak kaca berisi botol-botol kimia.
PRANG!
Kaca pecah berantakan. Loen tidak berhenti di situ; ia menusukkan penjepit medis itu ke arah bahu Pharma. Meski Pharma sempat menghindar, ujung logam tajam itu tetap merobek jas putihnya dan melukai lengannya.
"Paul! Lari!" jerit Loen sambil memiting leher Pharma dari belakang, berusaha mengunci gerakan dokter psikopat itu agar Paul punya kesempatan untuk melarikan diri atau mencari senjata.
Pharma menggeram, wajahnya yang tadi tenang kini berubah menjadi sangat marah. "Beraninya kau... menyentuhku dengan tangan kotormu!"
Pergulatan itu terjadi dengan sengit.
Loen memeluk erat tubuh Pharma, mengabaikan fakta bahwa Pharma mulai memukul perutnya dengan siku untuk melepaskan diri.
Melihat Loen yang sudah seperti perisai hidup bagi dirinya, Paul tidak membuang waktu lagi. Dengan mata yang memerah menahan sakit, ia merangkak dengan sisa tenaga terakhirnya. Jari-jarinya yang gemetar akhirnya menyentuh dinginnya logam pistol yang tadi terlempar di dekat kaki meja.
Di depannya, pemandangan itu terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Pharma, yang sudah murka karena dipiting oleh Loen, tidak lagi main-main. Ia menghujamkan pisau bedahnya berkali-kali ke tubuh Loen.
Jleb! Jleb! Jleb!
Tusukan ketiga mendarat tepat di area perut Loen, membuat asisten itu kehilangan seluruh kekuatannya. Pegangan Loen terlepas, dan tubuhnya merosot ke lantai dalam genangan darah yang semakin meluas.
"Matilah kau, pengkhianat," desis Pharma dingin.
Namun, saat Pharma berbalik untuk menghabisi Paul, ia membeku.
Laras pistol Paul sudah terarah tepat ke arahnya namun bukan ke dadanya. Paul mengarahkan senjatanya ke arah tangki gas oksigen dan bahan kimia flammabel yang berada tepat di belakang Pharma, yang tadi pecah karena hantaman rak kaca.
"Sampai jumpa di neraka, Pharma," bisik Paul.
BOOM!
Paul menarik pelatuk. Peluru melesat, memicu percikan api yang langsung menyambar kebocoran gas.
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh laboratorium bawah tanah. Gelombang panas melemparkan tubuh Pharma ke dinding seberang, sementara Paul terlempar ke arah pintu keluar
asap menggabungkan di seluruh lorong laboratorium gelap sunyi yang sekarang penuh percikan api dan gesekan darah
Paul sudah kehilangan banyak darah nya akibat luka tusukan dan di tambah ledakan dari peluru yang mengenai tabung oksigen