NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Golong Gilig

Api naga yang disemburkan oleh Baru Klinting bukanlah api biasa. Ia tidak hanya membakar permukaan, tetapi memakan esensi. Tugu Pal Putih, pilar kebanggaan yang telah berdiri ratusan tahun sebagai sumbu magis Yogyakarta, kini merekah. Lapisan semen dan cat putihnya mengelupas seperti kulit ular yang ganti kulit, memperlihatkan inti batu bata yang merah membara.

Raungan dari dalam monumen itu semakin keras. Suaranya bukan suara binatang, melainkan suara gesekan ribuan batu yang saling menggerus.

"Mundur, Sekar!" teriak Pangeran Suryo, menarik tombaknya dari aspal dan melompat mundur.

DHUARR!

Tugu itu meledak.

Puing-puing batu terlempar ke segala arah, menghantam etalase toko dan gedung-gedung di sekitar perempatan. Debu kapur putih bercampur asap hitam membumbung tinggi, menutupi pandangan.

Dari tengah kepulan asap itu, sesuatu bangkit.

Sekar menutup hidungnya dengan selendang, matanya perih. Saat asap mulai menipis, ia melihat sosok itu.

Itu bukan monster laut. Itu adalah golem.

Makhluk itu tingginya hampir lima meter, terbentuk dari puing-puing Tugu yang menyatu kembali secara paksa oleh lendir hitam Poseidon. Bentuknya menyerupai manusia gemuk tanpa leher—sebuah parodi mengerikan dari bentuk asli Tugu Golong Gilig (bulat silinder) yang dulu pernah ada sebelum gempa zaman dulu.

Di dadanya, tertanam jam kota yang biasanya ada di dekat perempatan, jarumnya berputar gila berlawanan arah. Dan wajahnya... wajahnya rata, hanya ada satu lubang besar vertikal yang meneteskan cairan hitam.

"Gusti..." bisik Sekar gemetar. "Apa itu?"

"Itu Penjaga Palsu," geram Pangeran Suryo. "Poseidon tidak bisa menciptakan sesuatu dari nol di tanah ini. Jadi dia merusak apa yang sudah ada. Dia mengubah filosofi Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya rakyat dan Tuhan) menjadi penyatuan paksa antara batu dan bangkai."

Golem Tugu itu melangkah maju. DUM! Aspal jalan hancur di bawah kakinya yang besar.

Ia mengangkat tangannya yang berbentuk bongkahan beton tajam, lalu menghempaskannya ke arah mereka.

"Lari!"

Sekar dan Pangeran berpencar ke dua arah.

BRAAK!

Pukulan golem itu meleset, menghantam aspal tempat mereka berdiri tadi, menciptakan kawah sedalam satu meter. Getarannya membuat Sekar jatuh terguling.

Pangeran Suryo tidak membuang waktu. Ia berlari memutari makhluk itu, lalu melompat tinggi dengan bantuan tombaknya.

"Kembalilah jadi debu!" teriaknya.

Pangeran menusukkan Baru Klinting tepat ke punggung golem itu.

SRETT!

Mata tombak menembus batu. Tapi tidak ada efek pengeringan seperti pada ubur-ubur. Golem ini terbuat dari benda padat, bukan air. Api naga hanya membuat batu di sekitar tusukan itu meleleh sedikit, tapi golem itu tidak kesakitan.

Makhluk itu justru memutar tubuh bagian atasnya 180 derajat—sesuatu yang mustahil dilakukan manusia—dan menampar Pangeran Suryo di udara.

BUGH!

Pangeran Suryo terpental, menabrak tiang lampu merah hingga bengkok. Ia jatuh ke tanah, mengerang kesakitan. Tombaknya terlepas dari genggaman.

"Gusti!" Sekar hendak lari menolong, tapi golem itu sudah berbalik ke arahnya.

Lubang vertikal di wajahnya terbuka lebar. Dan dari sana, bukan suara raungan yang keluar, melainkan angin.

Angin hisap yang sangat kuat.

Sekar merasakan tubuhnya tertarik. Puing-puing kecil, sampah, dan potongan karang di jalanan tersedot masuk ke dalam "mulut" golem itu.

"Dia lapar..." batin Sekar panik. "Dia mau menambah massa tubuhnya!"

Sekar menancapkan kakinya ke tanah, memegang erat sebuah tonggak beton bekas pagar. Angin itu menarik kepangan rambutnya, menarik bajunya.

Di seberang jalan, Siren yang tadi menonton kini tertawa senang dari atap sebuah ruko. "Makanlah, Sayang! Bersihkan sampah-sampah kecil itu!"

Sekar melihat Pangeran Suryo yang masih terkapar, berusaha meraih tombaknya. Golem itu mengabaikan Pangeran dan fokus menyedot Sekar.

Sekar butuh pengalihan.

Ia meraba saku pinggangnya. Cambuk Kyai Pamuk.

"Ingat kata Empu Dharma," gumamnya pada diri sendiri. "Pecah konsentrasinya."

Sekar tidak melawan hisapan angin itu. Ia justru melepaskan pegangannya pada tonggak beton.

Tubuhnya melayang, tersedot cepat ke arah mulut monster itu.

"Sekar! JANGAN!" teriak Pangeran Suryo.

Saat jaraknya tinggal dua meter dari lubang hitam itu, Sekar menghentakkan tangannya.

CETAR!

Ujung cambuk Kyai Pamuk meledak tepat di dalam lubang mulut golem itu.

Ledakan sonik di ruang tertutup efeknya sepuluh kali lipat.

Kepala golem itu retak. Suara hisapan angin berhenti mendadak, digantikan oleh suara krak yang nyaring. Golem itu terhuyung ke belakang, tangannya memegangi wajahnya yang retak, bingung dan disorientasi.

Sekar jatuh berguling di aspal, lututnya lecet parah, tapi ia hidup.

"Sekarang, Gusti!" teriak Sekar. "Hancurkan kakinya! Dia tidak punya keseimbangan!"

Pangeran Suryo, yang sudah berhasil meraih tombaknya kembali, melihat peluang itu. Golem itu sedang pusing, berat tubuh bagian atasnya membuatnya goyah.

Pangeran menyalurkan seluruh sisa panas dari Merapi ke mata tombaknya. Bilah Baru Klinting berubah warna menjadi putih menyilaukan.

"Runtuhlah!"

Pangeran Suryo menebas kaki kanan golem itu dengan gerakan mendatar yang kuat.

SHIIING!

Tombak itu memotong beton dan besi tulangan seperti memotong keju panas. Kaki kanan golem itu putus di bagian lutut.

Makhluk raksasa itu kehilangan tumpuan. Tubuhnya yang berat miring, lalu jatuh menghantam bumi dengan suara yang menggetarkan seluruh kota.

BLAAAM!

Saat tubuhnya menyentuh tanah, Pangeran Suryo melompat ke atas dada golem itu—tepat di atas jam yang berputar gila.

"Waktumu habis," ucap Pangeran dingin.

Ia menghujamkan tombaknya ke tengah-tengah jam itu.

Baru Klintingmenembus mesin jam, menembus inti batu, dan melepaskan ledakan panas vulkanik ke dalam tubuh golem.

Tubuh golem itu merekah dari dalam. Cahaya oranye keluar dari retakan-retakannya. Lendir hitam yang merekatkannya menguap seketika.

Dalam satu ledakan terakhir yang sunyi, golem itu hancur menjadi tumpukan kerikil dan debu biasa. Tidak ada lagi sihir. Tidak ada lagi monster. Hanya puing bangunan.

Hening kembali menyelimuti perempatan Tugu.

Siren di atas ruko menjerit frustrasi, lalu melompat kabur ke arah selatan, menghilang di balik kegelapan hutan karang.

Sekar berjalan terpincang-pincang mendekati Pangeran Suryo yang berdiri di atas gundukan puing. Napas mereka berdua memburu.

"Sudah berakhir?" tanya Sekar.

Pangeran Suryo menggeleng. Ia menunjuk ke arah selatan. Ke arah Keraton.

"Belum. Lihat."

Sekar memandang ke arah Jalan Margo Utomo yang lurus membelah kota. Dulu, dari titik ini, orang bisa melihat garis imajiner lurus sampai ke Keraton.

Tapi sekarang, pemandangan itu tertutup.

Sebuah kubah air raksasa menutupi area Alun-Alun Utara dan Keraton. Kubah itu berwarna biru gelap, berputar pelan. Di dalamnya, kilatan-kilatan cahaya terlihat berkedip—tanda pertempuran sedang berlangsung.

"Poseidon mengisolasi Keraton," kata Pangeran Suryo, suaranya berat. "Dia ingin memenggal kepala rajanya."

Tiba-tiba, dari bekas lokasi Tugu yang hancur, sebuah berkas cahaya putih tipis memancar lurus ke atas, menembus langit malam yang ungu. Cahaya itu kecil, tapi stabil.

"Sumbu filosofinya..." gumam Sekar. "Tugunya hancur, tapi jalurnya terbuka lagi."

Pangeran Suryo tersenyum tipis. "Benar. Kita baru saja membersihkan sumbatan pipa. Energi Merapi sekarang bisa mengalir lagi ke selatan."

Ia turun dari gundukan puing, lalu menepuk bahu Sekar.

"Kerja bagus, Tukang Kebun. Sekarang kita punya tugas terakhir."

"Apa itu, Gusti?"

"Kita harus masuk ke dalam kubah air itu," Pangeran Suryo menatap tajam ke arah selatan. "Kita harus menyelamatkan Bapak saya... Sri Sultan."

Sekar menelan ludah. Masuk ke kandang singa. Atau lebih tepatnya, akuarium hiu.

"Naik apa kita ke sana, Gusti? Jalan kaki?" tanya Sekar sambil melihat kakinya yang lecet.

"Tidak," jawab Pangeran. Ia menunjuk ke arah Stasiun Tugu yang letaknya tak jauh dari situ. "Kita cari tumpangan yang lebih... nyata kali ini."

Di kejauhan, terdengar suara peluit lokomotif diesel. Bukan kereta hantu. Tapi kereta evakuasi terakhir yang mungkin tertinggal.

"Ayo," ajak Pangeran. "Sebelum air pasang naik lebih tinggi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!