NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basket, Keringat, dan Teori Cemburu yang Gagal

SMA Garuda punya satu tradisi yang lebih sakral daripada upacara bendera: Class Meeting. Dan acara puncaknya adalah pertandingan basket antar kelas. Biasanya, ruang arsip bakal sepi karena semua orang—termasuk para hantu penunggu perpus—bakal pindah ke pinggir lapangan buat teriak-teriak nggak jelas.

Ghea sudah siap dengan bando kelinci dan sebuah handuk kecil di lehernya. Dia sebenarnya nggak bisa main basket, bahkan melempar kertas ke tempat sampah aja sering meleset. Tapi demi menghindari tumpukan laporan keuangan tahun 2012 yang baunya kayak kaos kaki lama, dia rela jadi pemandu sorak dadakan buat kelasnya.

"Ar, ayolah! Masa lo mau di sini terus?" Ghea menarik-narik ujung seragam Arlan yang masih rapi jali. "Ini Class Meeting, Ar. Robot aja butuh di-cas, masa lo nggak butuh sinar matahari sih?"

Arlan tetap bergeming di depan laptopnya. "Gue ada deadline laporan buat Pak Broto. Lagian, nonton orang masukin bola ke keranjang itu nggak efisien secara waktu."

Ghea menganga. "Nggak efisien? Ar, itu namanya sosialisasi! Itu namanya menikmati masa muda sebelum kita semua berubah jadi fosil di ruang ini!"

Ghea nggak menyerah. Dia memutar otaknya yang kapasitasnya cuma 2GB itu. "Oke, kalau lo nggak mau nonton, gimana kalau kita taruhan? Kalau kelas gue menang lawan kelas lo, lo harus traktir gue es boba di depan sekolah selama seminggu. Tapi kalau kelas lo yang menang... gue bakal ngerapiin kardus paling berdebu di pojokan tanpa ngeluh sedikit pun."

Arlan akhirnya melirik. "Semua kardus di pojok itu?"

"Iya! Semuanya! Gue bakal kerjain sambil pakai masker astronot kalau perlu!"

Arlan menutup laptopnya pelan. "Oke. Deal."

Lapangan basket SMA Garuda sudah penuh sesak. Udara di sana adalah campuran antara aroma parfum murah, keringat, dan matahari jam sepuluh pagi yang menyengat. Juna sudah ada di tengah lapangan, lagi pemanasan dengan gaya yang lebih mirip orang lagi kena encok daripada atlet.

"Ghe! Sini!" teriak Juna sambil melambai-lambai. Dia kaget liat Arlan jalan di belakang Ghea. "Lah, Pak Ketua OSIS kesambet apaan nih mau turun ke lapangan? Mau razia ukuran celana pemain basket ya?"

"Enak aja! Dia mau nonton kelas kita dibantai!" sahut Ghea semangat.

Pertandingan dimulai. Kelas Ghea (11-IPA-4) melawan kelas Arlan (11-IPA-1). Awalnya, Arlan cuma berdiri di pinggir lapangan dengan tangan di saku, mukanya datar kayak tembok beton. Tapi begitu melihat kelasnya tertinggal jauh dan pemain utamanya—si Randy—tiba-tiba terkilir, suasana jadi tegang.

"Duh, gimana nih? Randy nggak bisa lanjut!" seru anak-anak kelas IPA-1 panik.

Ghea melirik Arlan. "Tuh, Ar. Kelas lo butuh pahlawan. Apa lo cuma mau jadi penonton yang 'efisien'?"

Tanpa diduga, Arlan melepas kacamata tipisnya, menyerahkannya ke Ghea. Dia kemudian membuka kancing seragam bagian atas, memperlihatkan kaos putih di dalamnya, dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.

"Pegangin. Jangan sampai hilang," ucap Arlan pendek.

Ghea melongo sampai lalat hampir masuk ke mulutnya. "Lo... lo mau main?"

Arlan nggak jawab. Dia masuk ke lapangan, lapor ke wasit, dan dalam sekejap, aura di lapangan berubah. Si Robot Formalin itu tiba-tiba berubah jadi... beast mode.

Begitu peluit dibunyikan, Arlan merebut bola dari tangan Juna dengan gerakan yang sangat cepat. Dia mendribel bola melewati dua pemain lawan seolah-olah mereka cuma tiang jemuran. Dengan satu lompatan yang anggun, dia melakukan lay-up sempurna.

Swish! Bola masuk.

Lapangan mendadak hening selama satu detik sebelum akhirnya meledak dengan teriakan cewek-cewek.

"ARLAAAN! GILA, GANTENG BANGET!"

"PAK KETUA OSIS TERNYATA JAGO BASKET!"

"DUNIA HARUS TAHU INI!"

Ghea yang tadinya mau dukung Juna, malah ikutan loncat-loncat sambil melambai-lambaikan kacamata Arlan. "Woy, Arlan! Gila lo ya! Jangan kenceng-kenceng, ntar kacamata lo pecah di tangan gue!"

Di tengah keriuhan itu, Shinta dan gengnya berdiri di pojok lapangan dengan muka yang nggak enak dipandang. Shinta melihat Ghea yang memegang kacamata Arlan dengan perasaan iri yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Setelah pertandingan selesai (yang dimenangkan oleh kelas Arlan berkat poin-poin maut di menit terakhir), Arlan berjalan ke pinggir lapangan dengan napas yang agak memburu. Keringat membasahi kening dan kaos putihnya, membuat rambutnya yang biasanya rapi jadi sedikit berantakan.

Ghea buru-buru mendekat, menyodorkan handuk dan sebotol air dingin. "Nih, Robot. Ternyata lo punya fitur 'atlet' juga ya? Kok nggak bilang-bilang?"

Arlan mengambil botol itu, meminumnya sampai habis setengah dalam satu tegukan. "Gue cuma nggak mau kalah taruhan. Gue nggak mau liat lo makan boba gratisan terus makin berisik."

"Halah, bilang aja lo mau pamer otot di depan gue!" goda Ghea sambil menyikut lengan Arlan.

"Ghea, mending balikin kacamata gue sekarang sebelum gue beneran nggak bisa liat muka lo yang ngeledek itu," jawab Arlan, meskipun ada senyum kecil yang tersembunyi di balik botol minumnya.

Tiba-tiba, Shinta datang menerobos kerumunan. Dia membawa handuk yang lebih mahal dan minuman isotonik bermerek. "Arlan! Hebat banget tadi! Ini, aku bawain minum buat kamu. Pasti capek banget kan?"

Arlan menatap Shinta, lalu menatap botol air mineral yang sudah dia pegang (pemberian Ghea). "Makasih, Shinta. Tapi gue udah dapet minum dari Ghea."

Wajah Shinta langsung berubah jadi abu-abu. "Tapi... itu kan cuma air putih biasa. Ini lebih bagus buat elektrolit kamu, Ar."

"Air putih lebih efisien buat ngilangin haus," jawab Arlan santai, menggunakan kata favoritnya sendiri.

Ghea yang berdiri di samping Arlan hampir saja meledak tawanya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, mencoba menahan suara tawa yang bisa memicu perang dunia ketiga. "Eh, iya Shinta. Arlan kan robot, dia nggak butuh elektrolit, dia butuhnya oli mesin. Tapi air putih juga oke kok."

Shinta menyentak kakinya kesal dan pergi begitu saja.

"Lo jahat banget sih, Ar," ucap Ghea setelah Shinta jauh.

"Jahat gimana? Gue cuma jujur."

"Tapi jujur lo itu lebih perih daripada disiram cuka ke luka, tahu nggak."

Sore harinya, mereka kembali ke ruang arsip. Suasananya jadi beda. Ghea merasa ada sesuatu yang bergeser. Dia mulai menyadari kalau Arlan bukan cuma sekadar cowok kaku yang terobsesi pada aturan. Ada sisi lain dari Arlan yang menarik, yang selama ini sengaja dia sembunyikan supaya nggak dianggap lemah oleh ayahnya.

Ghea mulai mengerjakan taruhannya: membereskan kardus paling berdebu.

"Hatchi! Ar, ini isinya beneran harta karun atau cuma sampah yang dikasih status 'arsip' sih?" tanya Ghea sambil mengeluarkan sebuah bola basket tua yang sudah kempis dari dalam kardus.

Arlan berhenti mengetik. Dia melihat bola basket itu. Tatapannya mendadak berubah jadi sendu. "Itu... bola pertama gue."

Ghea berhenti bergerak. "Serius? Kok ada di sini?"

"Dulu, pas SMP, gue kapten tim basket. Tapi bokap nemu bola ini di kamar gue pas nilai ujian Matematika gue turun jadi 90. Beliau bilang basket itu cuma buang-buang waktu. Akhirnya bola ini diambil, dan gue nggak tahu kalau ternyata dibuang ke gudang sekolah ini."

Ghea terdiam. 90? Bagi Ghea, nilai 90 itu sudah seperti dapet jackpot, tapi bagi ayah Arlan, itu adalah kegagalan. Dia melihat bola kempis itu, lalu melihat Arlan.

"Ar," panggil Ghea lembut. "Sori ya. Gue nggak tahu bola ini punya cerita sedih."

Arlan menggeleng kecil. "Nggak apa-apa. Itu udah lama banget. Sekarang gue udah biasa tanpa basket."

Ghea memeluk bola kempis itu. "Nggak, Ar. Lo tadi di lapangan itu... lo kelihatan hidup banget. Jauh lebih hidup daripada pas lo lagi ngerapiin kertas-kertas ini. Lo jangan dengerin kata bokap lo seratus persen. Lo itu manusia, bukan investasi saham yang nilainya harus naik terus."

Arlan tertegun. Belum pernah ada yang berani bilang begitu padanya. Semua orang selalu menuntutnya jadi nomor satu, tapi Ghea... Ghea cuma ingin dia jadi 'hidup'.

"Ghea," suara Arlan rendah.

"Ya?"

"Makasih udah maksa gue keluar tadi."

Ghea tersenyum lebar, sampai matanya menyipit. "Sama-sama! Tapi inget ya, taruhan tetep taruhan. Besok boba rasa brown sugar dengan extra pearl harus udah ada di meja gue!"

Arlan mendengus, tapi kali ini tawanya terdengar lebih lepas. "Iya, bawel."

Malam itu, Ghea pulang dengan perasaan yang sangat ringan. Dia baru sadar, di balik debu-debu arsip ini, dia justru menemukan sisi Arlan yang paling bersinar. Tapi dia nggak tahu, kalau di rumah Arlan, sebuah pesan singkat dari Shinta baru saja masuk ke HP Ayah Arlan, berisi foto Arlan yang sedang tertawa bersama Ghea di pinggir lapangan.

Konflik yang sesungguhnya sudah mengetuk pintu rumah Arlan.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!