NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Seperti Buih yang Berharap Jadi Permadani

Seminggu berlalu.

Tapi rasanya... rasanya kayak sebulan. Atau setahun. Atau... entahlah. Aruna nggak bisa ngukur waktu lagi. Semua jadi kacau sejak pesan itu dateng. Pesan yang bilang "Jauhi Dhira. Atau kamu bakal nyesel."

Aruna nggak bales pesan itu. Nggak memblokir juga. Cuma... diemin aja. Tapi pesannya nggak ilang dari kepala. Terus ada. Kayak hantu. Kayak... ancaman yang nggantung di langit-langit kamarnya tiap malem, ngintip dari balik tirai, ngikutin ke mana-mana.

*Siapa yang kirim? Nisa? Pasti Nisa kan? Atau... orang lain?*

Aruna nggak tau. Dan itu yang bikin makin... takut.

Tapi yang lebih bikin bingung...

Dhira.

Cowok itu... makin deket.

Nggak tau kenapa. Nggak tau sejak kapan. Tapi belakangan ini—seminggu terakhir ini—Dhira sering banget... muncul. Di perpustakaan, dia dateng lebih sering. Di kantin, dia duduk di meja deket meja Aruna sama Kayla—nggak sebangku, tapi deket, cukup deket buat Aruna bisa denger suara cowok itu ngobrol sama temen-temennya. Bahkan waktu pulang sekolah, dua kali—dua kali—Aruna nggak sengaja ketemu Dhira di gerbang, dan cowok itu... nawarin jalan bareng lagi.

Aruna nolak. Dengan sopan. Dengan senyum kecil yang dipaksa. "Nggak usah, aku... aku jalan sendiri aja."

Dhira cuma ngangguk. Nggak maksa. Tapi tatapannya... tatapannya kayak... bingung. Kayak ada yang mau dia tanya tapi nggak jadi.

Dan Aruna... Aruna makin bingung.

*Apa... apa dia ngerasa sesuatu? Atau aku yang terlalu berlebihan? Atau... atau ini cuma karena tugas kelompok? Cuma karena dia baik? Cuma karena...*

Aruna nggak tau.

Otaknya penuh. Sesak. Kayak ada kabut tebal yang nutupin semua logika.

Dan sekarang...

Sekarang dia duduk sendirian di taman sekolah, di bangku kayu tua yang catnya udah mengelupas, di bawah pohon mangga yang rindang. Jam istirahat kedua. Kayla lagi ikut rapat OSIS. Jadi Aruna sendirian.

Dan jurnalnya... terbuka di pangkuan.

Halaman baru. Kosong.

Pulpen di tangan kanan. Gemetar. Tangannya gemetar terus belakangan ini. Entah kenapa.

Aruna mulai nulis.

Pelan. Huruf-hurufnya miring. Berantakan. Kadang terlalu kecil. Kadang terlalu besar. Nggak rapi. Tapi... jujur.

---

*Aku tahu ini bodoh.*

*Aku tahu ini mustahil.*

*Tapi aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali dia dekat.*

Aruna berhenti. Napasnya sesak. Dia tutup mata sebentar, tarik napas dalam, keluarin pelan. Matanya panas. Jangan nangis. Jangan. Nggak di sini.

Dia lanjut nulis.

---

*Seperti berharap buih bisa menjadi permadani indah.*

*Ya... cinta ini indah. Tapi mustahil bagiku. Menggapai bintang di langit. Siapa lah diriku? Hanya insan biasa. Semua itu sungguh aku tidak mampu.*

*Salah aku juga. Karena jatuh cinta pada insan seperti dirimu yang lebih baik.*

*Seharusnya aku mencerminkan diriku sebelum tirai hati kubuka untuk mencintaimu.*

*Dhira terlalu terang untukku.*

*Aku hanya bayangan di barisan belakang.*

---

Aruna berhenti lagi.

Tangannya berhenti di tengah kalimat. Pulpennya masih nempel di kertas, tapi nggak bergerak.

Matanya... basah.

Nggak tau sejak kapan. Tapi air mata udah ngumpul di pelupuk mata, siap jatuh kapan aja.

*Kenapa... kenapa aku nangis?*

*Kenapa sakit?*

*Kenapa rasanya kayak... kayak ada yang mencekik dada?*

Aruna ngelap matanya cepet pake punggung tangan. Kasar. Sampai kulitnya agak perih. Tapi air matanya nggak berhenti. Malah makin banyak. Jatuh ke pipi. Jatuh ke jurnal. Bikin tintanya sedikit blur.

Dia tutup jurnalnya cepet. Peluk jurnal itu di dada. Erat. Kayak peluk satu-satunya temen yang ngerti.

"Astafirullah..." bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Ya Allah... kenapa aku lemah banget sih... kenapa aku... kenapa aku nggak bisa kuat..."

Angin bertiup pelan. Daun-daun mangga di atas kepalanya bergerak, gemerisik. Suara burung berkicau dari kejauhan. Tapi semua itu... jauh. Kayak Aruna ada di dunia lain. Dunia yang sunyi. Dunia yang cuma ada dia... dan rasa sakit ini.

*Aku... aku harusnya nggak jatuh cinta.*

*Aku harusnya tau diri.*

*Dhira itu... dia itu beda. Dia punya dunia sendiri. Dunia yang terang. Penuh orang. Penuh tawa. Penuh... kehidupan.*

*Dan aku? Aku cuma... cuma bayang-bayang yang duduk di pojok. Yang diem. Yang nggak penting.*

*Kenapa aku berharap dia bisa... bisa liat aku?*

*Kenapa aku berharap... aku bisa jadi seseorang yang berarti buat dia?*

Aruna nunduk makin dalam. Dahinya hampir nyentuh lutut. Napasnya pendek-pendek. Sesak.

Dan tiba-tiba...

Rintik.

Satu tetes air jatuh di punggung tangannya.

Aruna menengadah.

Langit... mendung. Kapan mendungnya? Tadi kan cerah? Tapi sekarang... awan hitam udah nutupin matahari. Gelap. Tebal.

Rintik lagi.

Dua tetes. Tiga tetes.

Hujan.

Aruna berdiri cepet. Masukkin jurnalnya ke tas dengan terburu-buru—nyaris jatuh tapi dia tangkap—terus ngeliat sekeliling. Taman sekolah mulai sepi. Anak-anak yang tadi duduk-duduk santai udah lari semua, cari tempat berteduh.

Dan hujan... makin deres.

Aruna lari. Sepatunya basah. Kaki kanannya menginjak genangan—byur—airnya menyiprat ke kaos kaki. Dingin. Tapi dia nggak peduli. Dia cuma pengen... pengen cari tempat. Tempat yang aman. Tempat yang—

Pohon mangga.

Pohon mangga besar di pojok taman, yang daunnya lebat banget, hampir kayak payung alami. Aruna lari ke sana, berdiri di bawah pohon, napasnya ngos-ngosan. Rambutnya basah—jilbabnya juga basah di bagian depan—tapi setidaknya sekarang nggak kehujanan lagi.

Dia bersandar di batang pohon, nutup mata, tarik napas.

*Alhamdulillah...*

Tapi...

Ada suara.

Suara langkah kaki.

Dari belakang pohon.

Aruna buka mata.

Noleh pelan.

Dan jantungnya... berhenti.

Dhira.

Berdiri di sisi lain pohon mangga yang sama. Berdiri dengan tangan di saku celana, seragamnya juga basah dikit di bagian bahu, rambutnya basah—berkilau kena tetesan hujan—dan wajahnya... wajahnya ngeliat Aruna.

Mata mereka bertemu.

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dan waktu... rasanya berhenti.

Aruna... lupa cara bernapas. Lagi. Untuk kesekian kalinya.

Dhira... diem. Nggak ngomong apa-apa. Cuma... natap Aruna dengan tatapan yang... Aruna nggak bisa baca. Tatapan yang... lembut? Bingung? Atau... penasaran?

*Ya Allah... kenapa dia di sini? Kenapa dia... kenapa harus dia?*

Aruna nggak bisa. Nggak bisa stay di sini. Nggak bisa liat cowok itu lebih lama lagi. Karena kalau dia stay... kalau dia liat Dhira lebih lama... dia takut... takut dia bakal nangis lagi. Di depan Dhira. Dan itu... itu memalukan.

Jadi Aruna...

Lari.

Dia keluar dari bawah pohon, masuk ke hujan lagi—deres banget sekarang—lari sekuat tenaga, nggak peduli sepatunya basah, nggak peduli bajunya basah, nggak peduli apa-apa.

Cuma lari.

Lari dari Dhira.

Lari dari perasaan ini.

Lari dari... dari dirinya sendiri.

---

Dhira berdiri di bawah pohon mangga itu.

Sendirian sekarang.

Ngeliat punggung Aruna yang menjauh, makin kecil, sampai menghilang di balik gedung sekolah.

Cowok itu... diem.

Lama.

Tangannya masih di saku celana. Tapi napasnya... berat. Dadanya... sesak.

Ada perasaan aneh yang dia nggak bisa jelasin. Perasaan yang... mengganggu. Perasaan yang bikin dia... resah.

"Kenapa... kenapa dia lari?" gumam Dhira pelan, suaranya nyaris ketelan suara hujan.

Dia ngeliat ke arah Aruna tadi lari. Ngeliat hujan yang makin deres. Ngeliat langit yang gelap.

Dan entah kenapa...

Dadanya makin sesak.

"Sialan..." bisiknya, suaranya bergetar dikit. "Apa... apa gue jatuh cinta sama gadis polos itu?"

Dia tutup mata. Tarik napas dalam. Keluarin pelan.

*Nggak mungkin. Nggak mungkin kan?*

*Cuma... cuma karena dia beda. Cuma karena dia... tenang. Cuma karena...*

Tapi hatinya bilang lain.

Hatinya bilang... ini bukan cuma "cuma". Ini... lebih dari itu.

"Aruna... tunggu..."

Dhira buka mata. Keluar dari bawah pohon. Masuk ke hujan. Lari.

Lari ke arah Aruna tadi pergi.

Kakinya cepet. Jantungnya berdebar. Napasnya ngos-ngosan. Tapi dia nggak peduli. Dia cuma pengen... pengen nyusul gadis itu. Pengen nanya. Pengen tau. Pengen—

Dhira belok di tikungan koridor.

Dan dia liat... sosok.

Sosok cewek dengan jilbab basah, berdiri di teras gedung, punggungnya menghadap Dhira.

Jilbab warna biru muda. Sama kayak Aruna.

Tingginya... mirip.

Punggungnya... mirip.

*Itu dia.*

Dhira lari mendekat. "Aruna!"

Cewek itu noleh.

Dan...

Bukan Aruna.

Cewek itu... cewek lain. Cewek kelas sebelas juga, tapi... bukan Aruna. Wajahnya beda. Matanya beda. Semuanya beda.

Cewek itu kedip-kedip, bingung. "Hah? Aruna? Emang kenapa?"

Dhira... berhenti.

Berdiri di tengah hujan, basah kuyup sekarang, napasnya masih ngos-ngosan, wajahnya... merah. Malu. Malu banget.

"A-astafirullah... maaf... salah orang..." gumam Dhira, suaranya kecil banget.

Cewek itu cuma ngangguk bingung, terus jalan pergi.

Dan Dhira... berdiri di sana.

Sendirian.

Di tengah hujan.

Basah. Dingin. Malu.

Rasanya... pengen ngubur diri hidup-hidup.

"Bodoh... bodoh banget gue..." gumamnya sambil mengelus wajahnya kasar. "Salah orang pula... astafirullah..."

Tapi... meskipun malu.

Meskipun salah orang.

Ada satu hal yang jelas sekarang.

Dia... dia beneran ngerasa sesuatu buat Aruna.

Sesuatu yang... dia nggak bisa lagi bohongin.

Dhira menengadah, ngeliat langit yang gelap, hujan yang menyembur deres ke wajahnya.

Dan dia bisik pelan:

"Aruna... kamu... kamu ngapain sih sama gue?"

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma hujan.

Cuma dingin.

Cuma... perasaan bingung yang makin gede di dadanya.

---

Sementara itu.

Aruna udah sampai di kelas. Basah kuyup. Dingin. Gemetar.

Dia duduk di bangkunya, peluk tasnya erat, nunduk dalam-dalam.

Kayla belum balik. Kelas sepi. Cuma ada Aruna sendirian.

Dan dia... nangis.

Nangis pelan. Nggak berisik. Cuma air mata yang jatuh. Jatuh ke lantai. Jatuh ke tasnya. Jatuh... tanpa henti.

*Ya Allah... kenapa sakit banget?*

*Kenapa... kenapa aku cinta sama dia?*

*Kenapa aku... kenapa aku nggak bisa berhenti?*

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma... rasa sakit yang makin dalam.

Rasa sakit yang dia tau...

Nggak akan pernah hilang.

Karena cinta ini...

Kayak buih.

Indah. Tapi rapuh.

Dan nggak akan pernah... pernah jadi permadani.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!