NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bab 33 Laboratorium Rahasia

Pangkalan

Klik! Klak! Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki Hendra Yates bergema di lorong panjang menuju lantai paling atas Klub Moonshine. Ia berjalan sedikit terpincang, tapi senyumnya tetap lebar penuh percaya diri. Di belakangnya, Anita Lewis dan Dion Leach mengikuti dalam diam.

Suite presiden di lantai tertinggi tampak mewah , chandelier berkilau, karpet merah lembut, aroma alkohol mahal yang samar-samar menguar di udara.

Dion mengerutkan kening, matanya menelusuri sekeliling. “Tempat semewah ini... kau bilang markas rahasia?”

Hendra menoleh sambil mengusap pantatnya yang masih nyut-nyutan. “Betul, Tuan Dion! Akan kubawa kalian ke pangkalan rahasia!” katanya dengan semangat, suaranya nyaring.

Drap! tangannya meraba sisi tempat tidur, mencari tombol kecil di balik lampu. Begitu menemukannya, klik! dinding tempat televisi terpasang perlahan bergeser ke samping. Ssskkrrttt...

Dion mematung. Ia menatap Hendra dengan ekspresi datar tapi heran.

Orang ini tahu nggak, keluarga Yates dan keluarga Leach itu nggak pernah akur? batinnya. Tapi dia tetap buka rahasianya di depan mataku? Gila!

Hendra berjalan duluan ke depan dan menoleh sambil tersenyum bangga.

“Gimana, Tuan Anita?” katanya memuji, “Hebat, kan? Desainku sendiri!”

Anita hanya memandangnya dari ujung mata, lalu meneliti penampilannya dari atas ke bawah. Kemeja bunga kuning, celana putih rapi, sepatu mengilap tapi di dadanya tersemat bros bulu merak besar yang memantulkan cahaya seperti senter kecil.

Ia menghela napas pelan. Huft...

“Selalu dramatis,” gumamnya pelan.

“Lewat sini,” ujar Hendra dengan gaya pemandu wisata. “Ada tangga spiral menuju ruang bawah tanah. Itu terhubung ke blok sebelah.”

“Kenapa nggak langsung ke sana saja?” Anita bertanya datar.

Hendra menjawab mantap, “Kalau begitu, namanya bukan rahasia dong, Tuan Anita.”

Heh-heh...

Dion hanya mengangkat alis, ikut menuruni tangga sambil tetap waspada. Ia sempat berpikir akan ada sistem keamanan canggih, tapi... ternyata tidak ada.

Bahkan sandinya saja ... beep-beep! .... adalah tanggal ulang tahun Hendra sendiri.

“Serius...?” Dion bergumam tak percaya.

Setelah melalui beberapa lorong sempit dan belokan kecil, klik! pintu terakhir terbuka. Pemandangan di depan mereka membuat Dion terdiam.

Di balik ruangan tersembunyi itu berdiri kompleks penelitian supermodern , yang tampak seperti taman teknologi dengan dinding kaca, layar monitor besar, dan berbagai peralatan laboratorium yang berderet rapi.

Lampu putih menyala terang. Bzzz... suara mesin halus bergema di ruangan.

Tempat itu hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Klub Moonshine, tapi dari luar, siapa pun takkan menyangka bahwa di bawah tempat hiburan malam, tersembunyi markas ilmiah sebesar ini.

Dion mendekat ke Anita dan berbisik di telinganya, “Apa yang sebenarnya kamu ajarkan ke orang ini? Masa dia bisa sampai buat tempat kayak gini?”

Anita menoleh sekilas, suaranya rendah. “Farmasi. Dan sedikit ilmu kedokteran kuno.”

Dulu, ia memang pernah mengajar Hendra secara daring. Tapi melihat hasilnya sekarang... ia bahkan ragu apakah muridnya ini benar-benar paham dasar-dasarnya.

Dion tersenyum kecil. “Kamu pasti banyak sabarnya waktu ngajarin dia.”

Hendra yang sedang mengetik sesuatu di panel pintu tiba-tiba menoleh. Klak!

“Hei! Aku dengar kalian berbisik!” serunya, menggoda. “Kalau mau ngomongin aku, pelankan sedikit, Tuan Anita!”

Dion menahan tawa. Heh.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, pemandangan di dalam membuat keduanya terpukau.

Ruangan besar itu bersih, modern, dengan perangkat biokimia, tabung kaca, dan mesin analisis plasma berderet di sepanjang dinding. Lampu laboratorium putih menyilaukan. Fiuuung...

Anita berjalan perlahan, matanya berkeliling mengamati setiap detail.

Peralatan ini... sangat mirip dengan yang ia gunakan dulu. Hatinya terasa hangat. Ada sesuatu yang familiar sekaligus getir.

“Peralatannya bagus, Hendra,” katanya tulus.

Hendra menegakkan badan, dagunya terangkat sombong. “Tentu saja, Tuan Anita! Itu hobiku sejak dulu.”

Ia bahkan menepuk dada sambil membuat bros meraknya bergetar. Kring!

Anita hanya tersenyum kecil dan menggeleng pelan.

Sementara itu, Dion berjalan mengitari ruangan, matanya menatap heran pada berbagai produk penelitian setengah jadi di meja panjang.

Ia tidak pernah menyangka orang seperti Hendra Yates, yang terkenal flamboyan dan pemalas ternyata memiliki laboratorium sekelas ini.

“Apakah semua yang kuminta sudah disiapkan?” tanya Anita akhirnya.

Hendra menegakkan punggung, menepuk dadanya. Dug!

“Tentu saja, Tuan Anita. Semua sesuai perintah Anda!”

Anita menatap Dion, suaranya tenang tapi tegas.

“Baiklah. Sekarang, ambil sampel darah Dion.”

Clink! suara alat logam berdenting ketika Hendra menyiapkan jarum suntik dan tabung uji.

Dion tidak banyak bicara. Ia hanya menggulung lengan bajunya dan mengulurkan tangan tanpa ragu. Srek.

Jarum menembus kulitnya. Ck! Darah merah tua mengalir ke tabung transparan.

Beberapa kali proses pengambilan dilakukan. Anita bekerja cepat tapi hati-hati, matanya fokus penuh pada mikroskop dan layar analisis yang memantulkan cahaya biru lembut.

Suara mesin bip-bip-bip! dan deru halus ventilator memenuhi ruangan.

Wajah Anita semakin serius seiring waktu berlalu. Garis-garis di dahinya tampak tegang.

Hendra yang menonton menelan ludah. Glek.

“Gimana, Tuan Anita?” tanyanya akhirnya, tak tahan diam lebih lama.

Dion juga menatap Anita. Matanya dalam dan tenang, tapi di balik itu, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Dulu, ia tidak peduli pada hidup dan mati.

Namun sejak mengenal perempuan ini...

Ketakutan itu berubah.

Kini ia justru takut kehilangan kehidupan , karena ia takut kehilangan dia.

Jarum jam menunjuk pukul sebelas malam ketika Anita akhirnya berhenti. Klik.

Tangannya yang memegang tabung darah berhenti gemetar. Ia menatap hasil analisis di layar dengan pandangan dalam, seperti baru menemukan sesuatu yang penting...

Namun belum ada satu kata pun keluar dari bibirnya.

Drrr... Suara mesin berhenti perlahan.

Ruangan kembali hening, menyisakan hanya detak jantung mereka bertiga yang terasa... dug... dug... dug...

Tik... tik... tik... suara jarum jam di laboratorium bawah tanah terdengar jelas, menandai waktu yang terasa begitu lambat. Lampu putih yang terang menyorot wajah Anita yang serius saat ia menatap hasil analisis darah Dion di layar monitor. Ekspresinya mengeras.

“Ada jejak halusinogen 0 di dalam darahmu,” katanya datar, tapi sorot matanya menegang.

Hendra Yates, yang berdiri tak jauh, spontan berseru, “Halusinogen 0?!”

Nada suaranya melonjak, disusul suara Brak! ketika ia tanpa sadar menjatuhkan pipet dari tangannya.

Zat itu bukan racun sembarangan , itu halusinogen pertama yang pernah diciptakan, dan yang paling berbahaya. Setelah menyebabkan kematian dalam banyak eksperimen, senyawa itu sempat dilarang keras dan dihancurkan seluruhnya.

Dion memandangi Anita dengan dahi berkerut. “Tapi... bukankah halusinogen 0 sudah dimusnahkan bertahun-tahun lalu? Tidak pernah dipasarkan, apalagi digunakan.”

Hendra menggaruk kepalanya, tampak bingung. “Tapi Tuan bilang yang ditemukan cuma komponennya, kan? Jadi... itu bukan versi aslinya?”

Anita mengangguk perlahan, matanya masih menatap layar. “Ini versi mutasinya. Racun kronis yang berasal dari halusinogen 0, tapi telah berubah secara struktural. Tidak terlalu mematikan dalam waktu singkat... tapi berbahaya karena lambat dan sulit disembuhkan.”

Suasana menjadi hening sesaat. Hanya terdengar dengungan alat di latar.

Hendra menelan ludah. “Jadi maksudnya... belum ada penawarnya?”

Anita tak menjawab, hanya menghela napas panjang. “Aku bahkan tidak bisa mendeteksi semua komponennya. Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam darahnya.”

“Jadi...” Hendra mengangkat bahu, mencoba bercanda tapi suaranya goyah, “tahun depan di waktu yang sama, kau bakal jadi janda, ya.... ”

Plak! Plak!

Dua tamparan cepat mendarat di kepalanya dari arah berlawanan. Hendra langsung menunduk sambil meringis, “Aduh... baik-baik lah , okay aku diam...”

Dion menatap Anita. Matanya, yang semula suram karena diagnosis itu, kini sedikit berpendar.

Anita mengangkat pandangan dan menatapnya dalam. “Meski kita belum tahu cara menetralisir racunnya... aku bisa memastikan satu hal. Aku akan menjagamu tetap hidup, setidaknya sampai tahun depan.”

Dion terdiam sesaat. Lalu ia mengangguk, pelan namun tegas.

“Aku percaya padamu,” katanya lirih, penuh keyakinan.

Seketika suasana yang menegang itu mereda. Hendra memandang keduanya bergantian, lalu terkekeh kecil. “Guru memang luar biasa... siapa pun yang dengar pasti ikut yakin.”

---

Beberapa jam kemudian, mereka meninggalkan laboratorium. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, dan lorong rahasia yang tadinya mereka lalui kini tampak panjang dan sepi.

Langkah kaki mereka berirama, tap tap tap, menyusuri koridor menuju lift rahasia di bawah Klub Moonshine.

Saat tiba di atas, Anita berhenti dan menatap Hendra dengan pandangan tajam.

“Jadi, waktu itu... aku mengejarmu, memberimu obat bius, dan hampir mati karena dipukuli. Benar begitu?”

Nada suaranya datar, tapi hawa dinginnya membuat bulu kuduk berdiri.

Hendra langsung tegak, wajahnya kaku, merasakan aura membunuh yang tiba-tiba muncul dari Dion di sebelahnya. Ia menggeleng cepat. “Bukan! Waktu itu kita berdua dijebak, Guru! Ada orang lain yang memberi kita obat bius. Kau yang melukai dirimu sendiri biar cepat sadar!”

Ia menelan ludah, teringat kembali adegan mengerikan itu , suara Dug! Dug! saat Anita menabrakkan diri ke dinding, darah di pelipisnya menetes demi mengusir efek obat bius.

“Serius, aku hampir jantungan waktu itu. Kukira kau bakal bunuh diri beneran...” katanya pelan, sedikit gemetar tapi berusaha tersenyum.

Anita hanya melirik dingin.

Tak heran Hendra Yates selalu menjaga jarak dengannya , bahkan rumor yang beredar tentang dirinya membuat siapa pun gentar.

Tapi ada satu hal yang bahkan Hendra tahu, perempuan itu tak pernah takut mati.

Sambil mereka berjalan keluar dari klub, Hendra memberanikan diri bertanya, “Guru, kenapa dulu waktu di Kota F kau tak mengaku siapa dirimu? Kenapa tetap mengajariku secara daring? Kalau dari dulu bertemu langsung, mungkin sekarang aku udah jadi dokter ternama, kan?”

Anita meliriknya sekilas dan tak menjawab.

Namun Hendra malah mengangguk-angguk penuh pengertian, seolah mendapat pencerahan. “Ah, aku tahu... kau menyembunyikan identitasmu supaya bisa bikin kejutan, ya? Suatu hari nanti, biar semua orang ternganga waktu tahu siapa kau sebenarnya!”

Ia tertawa kecil, Heh-heh-heh, puas dengan kesimpulannya sendiri.

Siapa yang akan mengira kalau “Nona Tak Berguna” yang dulu diremehkan semua orang di F City ternyata adalah dokter kuno paling berbakat yang pernah dilahirkan?

---

Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang kerja Anita. Ia duduk di depan komputer, matanya fokus menatap layar sambil mengetik daftar panjang: obat, alat laboratorium, dan bahan sintetis untuk diteliti ulang.

Tok tok tok.

Pintu diketuk pelan. Seorang pembantu masuk dan menunduk sopan.

“Nyonya Leach, Nenek Anda datang berkunjung.”

Anita berhenti mengetik. “Baik, aku segera turun.”

Ia menyimpan daftar itu, lalu berjalan turun ke ruang tamu.

Begitu sampai, langkahnya terhenti sesaat. Di sana bukan hanya Nenek yang duduk anggun dengan tongkat peraknya... tapi juga Selene Lewis dan Jaccob , dua orang yang jelas tidak datang untuk sekadar berbasa-basi.

Udara di ruang tamu seolah langsung mengental.

Pertemuan itu... tidak akan jadi pertemuan yang tenang.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!