Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andreas Sang Penguasa
Setiap langkah Tasya terasa berat. Ia tak lagi berjalan bersama teman-temannya—hanya dua pria berbadan tegap yang setia mengikuti dari belakang. Tatapan-tatapan menguar di sepanjang lorong kampus saat ia melintas, puluhan pasang mata menilainya tanpa sungkan. Beberapa mahasiswi yang sejak lama tak menyukainya mulai mencibir, bahkan tak sedikit yang melontarkan sindiran halus, cukup pelan untuk menyakitkan.
Dua pria itu tak bergeming. Mereka terus mengekor di belakang Tasya hingga ia masuk ke dalam kelas.
“Don, lo lihat Nina?” tanya Tasya begitu duduk di ruang mata kuliah Penelitian.
“Dari semalem gue nggak lihat Nina di kostan, Sya,” jawab Donna sambil menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.
Rasa curiga perlahan merambat di benak Tasya. Nina sulit dihubungi, dan di saat bersamaan, Dimas juga tak terlihat di kelas. Padahal mata kuliah ini terlalu penting untuk dilewatkan—berkaitan langsung dengan kelanjutan pengolahan data berikutnya. Sembilan puluh menit berlalu. Dosen pun meninggalkan ruangan, menyisakan Tasya yang masih duduk sendiri, ponsel tergenggam erat di tangannya.
“Na, please lo jawab gue. Jangan block nomor gue,” ketik Tasya, lalu mengirimkan pesan singkat itu.
Namun bukan Nina yang membalas.
“Non Tasya, sekarang sudah waktunya kembali ke apartemen karena ada jadwal pengolahan data skripsi,” tulis Gaudy, asisten pribadinya.
“Bawel lo!” balas Tasya singkat.
“Gue punya jadwal sendiri, jadi lo nggak perlu banyak ngatur,” lanjutnya.
“Non Tasya,” panggil salah satu anak buah Andreas sambil mengangkat ponsel. Di layar terpampang nama Bos Andreas.
Tasya berdecak kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Halo, Pi.”
“Tasya, hari ini papi udah siapin tim buat ngolah data biar skripsi kamu cepat selesai,” ujar Andreas tegas dan singkat. “Kamu harus ikutin arahan Gaudy. Papi udah bayar mahal dia buat jadi asisten pribadi kamu.”
Tasya menggeleng pelan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti semua perkataan Andreas. Selama beberapa hari terakhir, rasa sepi menekan dadanya. Dimas dan Nina sama-sama menghilang tanpa kabar.
Hari demi hari berlalu dengan berat. Tasya seolah menjadi putri dalam sangkar—segala fasilitas memang dikembalikan, tetapi setiap langkahnya tetap terikat jadwal yang disusun Gaudy.
DING!!
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Lantai 11, kamar 1103."
“Siapa ini?” balas Tasya.
Pesan itu hanya dibaca. Tak ada jawaban sama sekali. Awalnya Tasya mengabaikannya, menganggap itu ulah orang iseng. Namun rasa penasaran akhirnya menang. Ia memberanikan diri untuk keluar kamar.
“Maaf, Non. Mau pergi ke mana?” tanya Gaudy dengan sigap, sambil menahan langkahnya.
“Gue mau ketemu temen gue di lantai 11,” jawab Tasya ketus.
Gaudy langsung mengambil ponselnya, mengecek ke bagian manajemen untuk memastikan siapa yang menempati kamar 1103.
“Baik, Pak. Kalau begitu, saya sampaikan ke Non Tasya,” ucap Gaudy setelah menutup panggilan.
“Saya siapkan laptop dan bahan materi yang akan dibahas dengan Pak Sasongko,” lanjutnya sambil membawa laptop serta makalah yang sudah disiapkan tim Andreas.
“Brengsek… ternyata bandot tua itu yang ngirim pesan,” gumam Tasya. Diam-diam, ia memasukkan cairan merica ke dalam tasnya—sekadar berjaga-jaga jika Pak Sasongko berani macam-macam.
Sesampainya di lantai 11, dua pria itu berdiri di depan pintu kamar, lalu mempersilakan Tasya menekan bel.
“Siapa?” teriak seorang pria dari dalam.
Tasya terkesiap mendengar suara itu.
“I-ini saya, Tasya, Pak,” sahutnya.
Pintu pun terbuka perlahan. Dua anak buah Andreas hanya mengangguk, lalu mempersilakan Tasya masuk tanpa mengecek ke dalam kamar.
Mata Tasya langsung terbelalak. Di balik pintu, Nina sudah berdiri, siap menyambutnya.
“Akh!” teriak Tasya spontan karena senang.
“Non Tasya,” salah satu anak buah Andreas mengetuk pintu dengan keras.
“Ma-maaf, Pak. Saya nggak sengaja nginjek ballpoint,” alasan Tasya cepat. Ia membuka pintu sedikit, lalu memperlihatkan ballpoint miliknya yang sengaja dipatahkan. Salah satu dari mereka hanya mengangguk, lalu membiarkan Tasya melanjutkan aktivitasnya.
“Sya… sorry. Gue harus pergi tanpa pamitan,” bisik Nina sambil memeluk Tasya erat. Ia lalu menarik Tasya ke depan pintu kamar.
Di sana, Dimas sudah menunggu, membawa dua makalah yang telah ia selesaikan dengan kemampuannya sendiri.
Tangan Tasya tiba-tiba mendarat di pipi Dimas.
“Lo berani-beraninya laporin kelakuan gue ke bokap!” bisiknya tajam sambil mencengkeram kerah baju Dimas.
“Sya, lo salah paham!” Nina cepat menyelinap ke tengah, berusaha menenangkan Tasya sebelum emosinya semakin tak terkendali.
3 HARI SEBELUMNYA
Malam itu, saat Dimas sedang menyeduh kopi di rooftop, sebuah pesan masuk dari Nina.
“Dim, anak buah bokapnya si Tasya udah ada di depan kamar lo.”
“Lo ikutin kemauan mereka. Gue bakal bawa Tasya ke taman kota,” balas Dimas singkat.
Tak lama setelah itu, ponsel Nina berdering. Panggilan video masuk—dari Ivone dan Andreas. Keduanya muncul di layar dengan raut dingin, seolah siap menghakimi.
“Tante sudah percaya kamu sepenuhnya, Nina,” ujar Ivone lebih dulu. “Sekarang kenapa kamu bisa-bisanya mengkhianati kepercayaan kami?”
“Ma-maaf, Tante. Aku sudah berusaha ngingetin Tasya, tapi apa daya, Tante, aku—”
“Ah, kalian ini sama saja,” potong Ivone cepat, nadanya meninggi.
“Tante akan cari Dimas sampai dapat,” lanjut Ivone tajam, “dan kami akan masukkan dia ke penjara kalau masih berani dekat-dekat dengan Tasya.”
Ivone menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Mulai sekarang, kamu jauhi Tasya. Besok Om akan ke kampus untuk minta Pak Sasongko mengubah partner penelitian Tasya.”
Tanpa menunggu jawaban, panggilan itu diputus.
Dengan tangan gemetar, Nina segera menceritakan semuanya kepada Dimas lewat WhatsApp. Saat itu, Dimas sedang berada di Kampung R-17 bersama Tasya.
Pesan dari Nina langsung diteruskan Dimas kepada Raka. Setelah itu, ia sengaja meminta anak buahnya mengambil foto dirinya dan Tasya yang tengah duduk bersama di kampung tersebut, lalu mengirimkannya kepada Andreas—sebuah pesan tanpa kata.
Keesokan harinya, sebuah pesan masuk dari Raka.
“Hari ini Adibrata mau ketemu lo di taman.”
Siang itu, Dimas berangkat bersama Nina menemui Andreas. Pria itu sudah duduk di taman, ditemani empat orang pengawal dan Raka yang berdiri tak jauh darinya.
“Selamat siang, Pak Adibrata,” sapa Dimas tenang sambil mengulurkan tangan.
Pria berusia lima puluh dua tahun itu menatap Dimas dengan wajah kusut. Tak ada senyum sedikit pun.
“Saya tahu siapa kamu, Dimas,” ucap Andreas sambil bangkit dari bangkunya. “Mulai sekarang, jauhi Tasya, atau—”
“Jangan pernah ganggu adik gue, Andreas!” Raka memotong cepat.
“Kali ini lo ada di wilayah gue,” lanjut Raka dingin. “Dan ingat, tangan kotor ini masih jadi saksi bisu semua kelakuan lo.”
Andreas hanya menaikkan sudut bibirnya, lalu menepuk bahu Raka seolah meremehkan.
“Kalian memang pantas berada dalam satu kelompok,” ujarnya, sebelum melangkah pergi.
Namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Nina.
“Nina, Om perlu kamu untuk menemui Pak Sasongko di kampus.”
Dimas mengangguk kecil, memberi isyarat agar Nina tak menolak. Dengan langkah berat, Nina mengikuti Andreas masuk ke dalam mobil menuju kampus.
Sesampainya di sana, Andreas dan Nina langsung menemui Pak Sasongko di ruang dosen.
“Selamat siang, Pak Sasongko. Saya orang tua Tasya Andarini,” sapa Andreas sambil mengulurkan tangan.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Andreas?” tanya Sasongko sambil menurunkan kacamatanya, menatap wajah Andreas lebih saksama.
“Saya to the point saja,” ujar Andreas. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.
“Putri saya tidak ingin lagi menjadi bagian dari kelompok saudara Dimas Ramadhan. Jadi mulai hari ini, Anda bisa mencoretnya dari daftar penelitian bersama.”
Amplop itu didorong perlahan ke arah Sasongko.
Dosen tua itu mengamati amplop tersebut, lalu membukanya. Di dalamnya, terselip segepok uang seratus ribuan yang masih rapi, terikat tali bank swasta.
Andreas tersenyum tipis, yakin.
“Anda mau menyuap saya?” tanya Sasongko datar.
“Ini hanya buah tangan untuk Bapak yang sudah mau mengakomodasi keinginan saya,” jawab Andreas tanpa ragu.
Sasongko menghela napas pendek.
“Kalau begitu, sampaikan pada putri Anda. Jika dia tidak mau lagi menuruti aturan saya, dia bisa pindah kampus atau menunggu sampai saya diganti oleh dosen pembimbing lain.”
Ia meletakkan kembali amplop itu di atas meja, lalu mengambil ponselnya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
“Bapak memanggil saya?” tanya Iwan, Ketua Jurusan.
“Bapak ini ingin saya membatalkan keputusan saudari Tasya untuk meneliti bersama saudara Dimas,” ujar Sasongko sambil melirik Andreas. “Apa sampeyan bisa bantu?”
“Maaf, Pak,” jawab Iwan tenang. “Untuk kebijakan itu, sudah saya serahkan kepada masing-masing dosen. Jadi kalau putri Bapak tidak berkenan, dia bisa menunggu sidang tahun depan atau mengambil cuti terlebih dahulu.”
Tatapan Iwan tertuju lurus pada Andreas—tegas, tanpa ruang tawar.
POV END