NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga Apartemen Ku

Ninda mendengar notifikasi dari ponselnya. Dengan cepat, notifikasi itu ia buka.

Noah:

'Apartemenmu sudah kubersihkan. Aku akan menjemputmu sekarang,'

Ninda :

'Baiklah, aku tunggu,'

Entah mengapa, beberapa hari ini ia merasa begitu bahagia.

Ninda bergegas mengganti pakaian.

"Ah, semoga aku tidak terlihat berlebihan," gumamnya sambil bercermin.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Ninda segera meraihnya dan menerima panggilan itu.

"Iya, tunggu, aku segera keluar," ucap Ninda sambil membuka jendela kamarnya dan melambai ke arah Noah yang sudah berada di dalam mobil.

Dengan langkah tergesa, Ninda meraih tas selempangnya dan bergegas keluar rumah.

"Kamu terlihat sangat cantik," ucap Noah, matanya tak berkedip sedikit pun.

Ninda hanya tersenyum menanggapi pujian itu.

"Cepat sekali," Ucap Ninda.

"Sebetulnya aku sudah dalam perjalanan saat mengirim pesan itu," jelas Noah.

"Semua orang sedang pergi."

"Kita pergi sekarang?" tanya Noah, Ninda mengangguk

"Bagaimana perasaan mu?" tanya Noah sambil tersenyum ke arah Ninda.

"Maksud Uncle?" sahut Ninda bingung.

"Bagaimana rasanya bertemu denganku lagi?" goda Noah.

"Haah," Ninda jadi salah tingkah. Noah tertawa kecil melihat reaksinya.

"Dalam waktu dekat, kau akan menjadi perempuan dewasa, pergi ke kampus, dan tinggal sendiri. Bagaimana perasaanmu?" tanya Noah, kali ini dengan nada serius.

"Hmm, aku takut," jawab Ninda pelan.

"Kenapa?" tanya Noah heran.

"Aku takut tidak bisa beradaptasi dengan orang-orang."

"Kau tahu, aku orang asing di sini," ungkap Ninda, terlihat cemas.

"Tidak akan semenakutkan itu," hibur Noah. Ninda tersenyum tipis.

"Ku harap begitu," katanya.

"Kau tahu, saat pertama kali aku ke Inggris dan bermain di EPL, aku diremehkan karena bermain di Timnas Indonesia," cerita Noah. Ninda tampak menyimak dengan serius.

"Benarkah? Kupikir orang berbakat seperti dirimu tidak akan merasakan hal seperti itu," ucap Ninda pelan.

"Mungkin akan berbeda kalau aku dari Timnas Belanda," sahut Noah sambil tersenyum.

"Mereka mengkritik permainanku tidak sebanding dengan jumlah followers-ku yang mengalahkan para pemain bagus di EPL," lanjut Noah, kali ini bercerita panjang lebar.

"Lalu, apa yang uncle lakukan dengan situasi seperti itu?" tanya Ninda penasaran.

"Aku hanya perlu membuktikan bahwa aku layak ada di tim. Aku hanya perlu bekerja keras, latihan, disiplin, dan fokus pada tujuan," jawab Noah bijak.

Tak lama kemudian, mobil berwarna hitam metalik itu memasuki basement sebuah gedung apartemen.

Kemudian, mereka berjalan beriringan menuju lift.

Dalam sekejap, pintu lift terbuka dan mereka tiba di lantai tiga. akhirnya tiba di depan pintu apartemen bernomor 77.

"Kita sudah sampai. Ini apartemenmu," kata Noah sambil menekan kode yang ada di pintu apartemen itu.

"Nanti kau bisa mengganti kodenya," tambahnya sambil membuka pintu.

"Ini terlalu mewah untuk seorang mahasiswa," komentar Ninda sambil memperhatikan sekeliling ruangan.

"Mari, kutunjukkan kamarmu," ajak Noah sambil memandu Ninda. Ninda mengikuti Noah dari belakang.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Noah. Ninda hanya terdiam, tak bisa berkata-kata.

"Ini luar biasa," akhirnya ucap Ninda.

Kemudian, Noah menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.

Noah mencoba membuka keran, namun tanpa sengaja tubuhnya malah tersiram air dari shower.

"Uncle, baju Uncle basah!" seru Ninda sedikit panik.

"Aku tidak tahu keran yang mana yang harus kau gunakan. Silakan coba sendiri," kata Noah sambil tertawa.

"Nanti saja aku mencobanya," sahut Ninda sambil tertawa melihat Noah.

Dan tiba-tiba saja.

"Eh... Eh," Tubuh Ninda Condong ke depan.

Noah segera menangkapnya, satu tangan di punggung dan satu tangan lagi pergelelangan tangaan Ninda.

Wajah Ninda mendongak ke arah Noah, Jarak mereka sangat dekat terlalu dekat. Sampai Noah bisa mendengar detak jantung Ninda begitupun sebaliknya.

Tubuh Noah Basah membuat sekujur tubuh Ninda merinding, berlahan Noah mendekat.

Namun berhasil mengendalikan diri.

"Maaf Ninda ..."

Nida hanya mengangguk tersipu.

"Eh Ninda kita liat bagian dapur," Ucap Noah buru-buru mencairkan suasana.

"Semoga kamu betah dan nyaman tinggal di sini," ucap Noah lagi.

"Uncle, bagaimana dengan baju Uncle? Kita pulang saja," kata Ninda.

"Iya, sepertinya aku harus pulang," sahut Noah sambil merapikan rambutnya yang basah.

"Ya, hanya saja, aku benar-benar sedikit khawatir kamu sendirian di tempat ini," ungkap Noah.

"Tidak perlu khawatir, aku bisa pulang sendiri" jawab Ninda sambil tersenyum.

"Kamu ikut saja ke apartemenku," ajak Noah tiba-tiba.

"Haah."

Noah hanya tertawa melihat reaksi Ninda, lalu mengajak Ninda keluar dari apartemen itu.

Setelah menutup pintu apartemen Ninda, Noah berbalik dan berjalan beberapa langkah. Ia berhenti di depan pintu yang berhadapan dengan apartemen Ninda.

"Apa kau mau berdiri saja di situ?" tanya Noah sambil mengajak Ninda masuk.

wajah Ninda tampak Syok.

"Aku akan segera kembali," kata Noah lalu meninggalkan Ninda dan masuk ke dalam kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Noah kembali dengan handuk di kepalanya.

"Uncle tinggal di sini?" tanya Ninda. Noah tersenyum dan mengangguk.

"Sebelumnya, aku tinggal di apartemen yang lebih besar," jawab Noah sambil menatap Ninda.

"Aku baru pindah satu minggu yang lalu," lanjut Noah menjelaskan.

"Kenapa Uncle pindah?" tanya Ninda sedikit gugup.

"Coba tebak, kenapa aku pindah kemari?" Noah balik bertanya, membuat Ninda semakin salah tingkah.

"Tentu saja, aku tidak tahu," jawab Ninda kikuk.

"Kamu benar-benar tidak mau tahu?" tanya Noah lagi. Ninda menggeleng dan menunduk.

"Aku ingin mengganggumu setiap hari," kata Noah dengan nada menggoda.

"Apa kau lapar?" tanya Noah tiba-tiba.

"Hah, tidak terlalu," sahut Ninda agak kaget.

"Aku akan membuatkan steak untukmu," ujarnya sambil mengambil pemanggang dan meletakkannya di atas kompor.

Ninda merasa tidak enak jika hanya berdiam diri. Ia menghampiri Noah dan membawakan dua buah piring.

"Simpan saja di situ," kata Noah sambil tersenyum.

"Kau suka matang atau setengah matang?" tanya Noah.

"Setengah matang," jawab Ninda sambil berdiri di samping Noah, memperhatikannya memasak.

"Mau makan nasi?" tanya Noah, membuat Ninda sedikit kesal.

"Apaan, sih," sahut Ninda kesal, diikuti tawa Noah.

"Kenapa kau marah mendengar kata 'nasi'?" kata Noah sambil tertawa kecil.

"Uncle sedang meledekku, kan?" tanya Ninda balik.

"Enggak, kok. Kamunya saja yang gampang marah," sahut Noah sambil membolak-balik daging di atas panggangan.

"Uncle bisa masak?" tanya Ninda sambil memperhatikan wagyu yang tampak nikmat itu.

"Bisa. Akhir-akhir ini aku mulai belajar. Soalnya, banyak perempuan yang bilang laki-laki yang bisa masak itu seksi," ungkap Noah sambil menatap Ninda dengan tatapan menggoda.

"Jadi, karena itu Uncle belajar masak?"

"Bagaimana menurutmu? Aku kelihatan seksi, tidak, kalau lagi masak?"

"Apa pendapatku penting?"

"Tentu. Aku masak hanya buat Ninda," ungkap Noah sambil meletakkan steak itu di atas piring.

Ninda tersenyum malu-malu. Ia mencoba membantu membawakan steak yang sudah disiapkan di atas meja.

"Kau minum wine?" tanya Noah. Ninda sedikit bingung harus menjawab apa.

"Tidak Uncle," jawab Ninda.

"Tapi aku mau coba," sambung Ninda.

Kemudian, Noah membawa sebotol wine dan dua buah gelas, lalu menatanya di atas meja.

"Tunggu, kita makan sambil mendengarkan lagu," kata Noah sambil meletakkan ponsel di atas meja.

1
Evi Lusiana
org luar plgi mntan atlet,mayoritas pcinta sex bebas,kasihan ninda cm d php,
Evi Lusiana
asyik psti puny tmn² yg somplak tp asyik
Evi Lusiana
asta cerdas👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!