NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 5

Di perusahaan, suasana hati Stendy sedang tidak baik-baik saja. Rodez dapat merasakan kalau Stendy sedang memikirkan Janice. 

“Tuan, rapat akan segera dimulai dalam lima menit lagi.” 

Stendy mendongakkan kepalanya setelah mendengar ucapan Rodez. Lalu mendesah pelan. 

“Baiklah,” dengan perasaan malas Stendy pun bangkit dari duduknya. 

Keduanya berjalan menuju ruang meeting. Rodez pun mulai membuka meeting pagi ini, ia menjelaskan apa saja yang akan dibahas dalam meeting pagi ini untuk membahas proyek baru mereka dalam mengembangkan sebuah produk terbaru perusahaan mereka.    Perusahaan milik keluarga Stendy adalah perusahaan yang bergerak dibidang kecantikan. Dimana perusahaan tersebut mengelola dan menciptakan produk seperti makeup, dan skincare. Di kota P, perusahaan milik keluarga Stendy sudah cukup banyak pebisnis yang mengetahui.

Selama hampir satu jam meeting dimulai, namun selama itu Rodez memperhatikan kalau Stendy hanya diam dan seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.

Benar saja, tidak lama Stendy pun bangun dari posisi duduknya dan membuat semua yang menghadiri rapat menatap  ke arahnya.

“Pimpin rapat ini Rodez. Aku ada urusan sebentar,” ucap Stendy seenaknya saja. 

Rodez hanya bisa menghela nafasnya sambil menatap punggung Stendy yang sudah meninggalkan ruangan tersebut. 

“Baiklah, kita lanjutkan meeting pagi ini.” Rodez menginstruksikan kembali pada pegawai yang menghadiri meeting tersebut. 

Sementara itu Stendy kembali ke ruangannya, lalu mengambil kunci mobil  cadangan miliknya. 

Stendy mengendarai mobilnya dan melesat cukup kencang. Di ruang meeting Rodez mendapat laporan dari anak buahnya yang memang selalu berjaga untuk menjaga Stendy dari jarak yang tidak terlalu dekat. 

Senyum Rodez terlihat sinis, ketika anak buahnya kembali memberi kabar kalau mobil yang dikendarai Stendy saat ini sedang menuju villa milik pria itu. 

“Apa kau mulai gelisah tentang keberadaan Janice, Stendy?” monolog Rodez dalam hatinya. 

Di villa Janice baru saja tiba, ia pun langsung menuju kamarnya. Tubuhnya sudah mulai lengket, ia pun segera mandi. 

Stendy baru memasuki kawasan villa. Bibi Jane cukup terkejut saat melihat tuannya sudah kembali. 

“Tuan sudah kembali. Apakah ada yang tertinggal?” tanya bibi Jane. 

“Apa Janice sudah pulang?” bukannya menjawab pertanyaan bibi Jane, Stendy malah balik bertanya. 

“Ah, itu, Nona sedang di kamarnya. Mungkin dia sedang mandi,” jawab bibi Jane yang sedikit heran dengan tuannya itu. 

Karena tidak biasanya Stendy tiba-tiba pulang dan langsung mencari Janice. Perasaan bibi Jane sudah tidak karuan saat melihat Stendy sudah naik ke lantai atas. 

“Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apapun dengan Nona Janice da Tuan Stendy.” 

Stendy mengetuk pintu kamar Janice berkali-kali, namun tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya pria itu membuka pintu kamar dan masuk  tanpa izin. Stendy dapat mendengar suara gemericik air dari dalam.kamar mandi, ketika ia sudah masuk ke dalam kamar Janice. 

Stendy menutup pintu kamar dan dengan santai duduk di sofa sambil menunggu Janice keluar dari kamar mandi. 

Tidak lama pintu kamar mandi pun terbuka, Stendy yang sedang fokus ke layar ponselnya pun mendongak dan mengerutkan alisnya saat mendengar suara lirih Janice yang sedang bersenandung. Suaranya begitu dalam dan merdu merasuk dalam relung hatinya. Sehingga tanpa sadar Stendy terus memperhatikan Janice yang masih belum menyadari keberadaannya. 

“Aaakkkhhh….,” teriak Janice setelah menyadari keberadaannya Stendy. 

Matanya membulat, Janice terlihat begitu terkejut. Bahkan kedua tangannya menyilang di depan dada. Stendy yang sejak tadi melihat tubuh Janice hanya berbalut handuk pun hanya bisa diam. Bahkan tenggorokannya terasa sulit untuk sekedar meneguk salivanya. Ini pertama kalinya Stendy memperhatikan lekuk tubuh Janice, dan Stendy juga baru menyadari kalau kulit Janice terlihat begitu putih. 

“Kau…” Janice menunjuk ke arah Stendy. 

“Sedang apa kau di sini?” Janice kembali bersuara. 

Wajahnya masih sama seperti awal saat dirinya begitu terkejut. Stendy mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berdehem kecil.  Setelah merasa cukup menguasai dirinya, Stendy pun bangkit dari sofa dan mendekat ke arah Janice. Tatapannya begitu dalam dan membuat Janice mulai waspada. 

“Keluarlah Stendy, aku ingin memakai pakaianku!” Janice yang berhasil menguasai dirinya pun segera mengusir Stendy. 

Perkataan Janice membuat Stendy diam dan mengerutkan dahinya. Bukan biasanya Janice akan menggatal dan mencoba merayu pria itu. Stendy sangat ingat sekali, kalau Janice dahulu sangat menginginkan mereka berhubungan intim sebelum adanya pernikahan. Tapi mengapa sekarang wanita itu tidak melakukannya lagi.

Dengan tatapan memicing, Stendy terus berjalan pelan ke arah Janice. "Kau…” 

“Keluar!” bentak Janice sebelum pria itu dekat dengannya.

Ekspresi wajah Stendy langsung berubah. Rahangnya mengeras menahan emosi, tangannya pun terkepal kuat. Amarah dan rasa kesal terhadap Janice yang sejak tadi pagi, kembali memuncak. Dengan cepat Stendy berjalan mendekati Janice. Lalu menarik tubuh wanita itu, agar lebih dekat dengannya. 

“Lepas!” Janice mencoba memberontak, namun tenaga Stendy lebih kuat dari dirinya. 

“Diam!” Stendy pun tidak mau kalah dengan Janice. 

Tubuh Janice seketika membeku saat melihat tatapan Stendy yang begitu tajam. Stendy mengerutkan dahinya saat melihat sorot mata Janice yang berbeda. Namun, bukan itu yang kini ada di benaknya. Ia harus bertanya secara detail tentang kepergian Janice tadi pagi yang tanpa izin darinya. Stendy mendekatkan wajahnya, membuat Janice perlahan memundurkan kepalanya. Namun, Stendy langsung menahan kepala Janice. Tatapan keduanya pun bertemu. Sampai akhirnya tatapan Stendy beralih pada bibir ranum Janice. Pria itu kembali meneguk salivanya dengan kasar. 

“Tadi pagi kamu pergi kemana, hmm?” tanya Stendy dengan suara yang begitu serak.

Aura dinginnya begitu kuat, membuat Janice sedikit takut. Namun, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melawan rasa takutnya. Maka dari itu, saat ini ia pun memberanikan diri untuk menatap tajam ke arah Stendy. 

“Sejak kapan kamu mengurusi hidupku? Bukankah itu tidak penting bagimu?” 

Janice membalikkan pertanyaan pada Stendy dan membuat pria itu cukup tercengang mendengarnya. Apalagi ketika Stendy kembali melihat tatapan Janice, yang seakan wanita itu sedang menantang dirinya. Kening Stendy kembali berkerut saat melihat senyuman sinis di bibir Janice. 

“Bukankah aku tidak terlalu penting di dalam hidupmu, Tuan Stendy?” 

Stendy semakin mengerutkan alisnya mendengar ucapan Janice. Apalagi panggilan Janice kepadanya, benar-benar sangat mengejutkan. Kemana panggilan yang biasa Janice ucapkan untuk Stendy. Pria itu masih menatap mata Janice, dan kali ini Stendy dapat melihat tatapan penuh kekecewaan dan kebencian di mata Janice. 

“Apa maksudmu? Mengapa kamu seperti ini, Janice?” tanya Stendy yang belum menyadari perubahan dalam diri Janice. 

Stendy hanya berpikir kalau Janice sedang mencari perhatiannya. Jadi dia tidak berpikir, kalau wanita itu sedang membenci dirinya. 

“Aku rasa kau cukup pintar untuk memahami apa yang barusan aku katakan. Memang benar kenyataan, kan? Kalau aku bukanlah orang yang penting di dalam hidupmu,” Janice tersenyum menyeringai. 

Stendy reflek melepaskan genggamannya pada  lengan Janice. Tatapan tidak lepas dari Janice, entah hanya perasaannya saja atau memang Janice saat ini sangat berbeda dari biasanya. 

“Sepertinya kau sedang tidak mood hari ini.  Sebaiknya kau istirahat, dan tidak perlu beraktivitas keluar,” ucap Stendy seperti sebuah perintah. 

Stendy mengecup kening Janice, lalu berpindah ke pipi dan kemudian pria itu hendak mencium bibir Janice. Namun, wanita itu memiringkan wajahnya, sehingga Stendy hanya mencium udara. Dahi Stendy mengernyit dan menatap Janice dengan tatapan bingung. 

“Ada apa? Bukankah kamu paling suka kalau aku menciummu?” tanya Stendy. 

Janice tersenyum miris di dalam hatinya. Ia pun mendongak dan tatapan keduanya kembali bertemu. 

“Aku sedang tidak mood. Bukankah tadi kamu mengatakan begitu?” Janice membalikkan ucapan Stendy dan itu membuat Stendy semakin tidak suka. 

Stendy mendesah kasar. “Baiklah, istirahatlah.” Stendy kembali mengusap pipi Janice dan tersenyum tipis. 

Janice tertawa miris, jika dulu dirinya mungkin akan mematuhi apa yang dikatakan Stendy. Namun, kini berbeda. Janice merasa dirinya telah terlahir kembali dan diberi kesempatan untuk menyadari serta memperbaiki semuanya. Ya, walaupun sedikit terlambat. Setidaknya dirinya sebentar lagi akan lepas dari pria yang dulu pernah dicintainya. 

“Ya, kau benar. Aku memang butuh istirahat. Jadi lebih baik kau cepat keluar dari kamar ini,” sahut Janice yang kembali mengusir Stendy. 

Stendy mengatupkan bibir dengan rahang sedikit mengeras. Entah mengapa dirinya masih sangat kesal akan semua ucapan Janice yang sangat berbeda hari ini. 

Tanpa berkata-kata lagi, Stendy pun meninggal kamar Janice. 

Baaam… 

Janice memejamkan matanya saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras oleh Stendy. Jenice mendesah kasar, dan dengan perasaan kesal ia pun segera mengunci pintu kamarnya, dan memakai  pakaiannya. 

Janice mengeluarkan koper miliknya, kemudian mengeluarkan seluruh pakaian dan barang berharga miliknya. Sore ini ia memutuskan untuk pindah ke apartemen miliknya. Ia ingat kalau ini hari Rabu, jadi bibi Jane hanya bekerja sampai pukul 4 sore. Setelah bibi Jane kembali ke villa utama milik keluarga Canet. Saat itulah Janice meninggalkan villa milik Stendy. 

Semuanya sudah Janice rencanakan bersama kedua sahabatnya, dan juga Rodez. Malam nanti, ia akan mendatangi kedua orang tua Stendy sesuai rencananya. 

Janice menatap koper yang sudah siap dibawanya. Dalam hatinya ia berharap, agar semua rencana yang sudah tersusun rapi akan berhasil. 

Di saat dirinya sedang melamun, sebuah notifikasi di ponselnya terdengar. Janice segera mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirim oleh Rodez. Sebuah file berisi beberapa gambar yang diminta olehnya pada Rodez. Janice tersenyum melihat hasilnya. Lalu Rodez kembali mengirimkan pesan pada Janice. 

[Aku akan memberikan file cetaknya. Kamu jadi pindah ke apartemenmu?] 

[Ya, jadi. Aku sudah bersiap dan tinggal menunggu Bibi Jane kembali ke villa utama] 

Janice mengakhiri percakapan pesan mereka berdua. Lalu ia pun memilih menaruh kembali koper di dekat lemari. Kemudian ia pun kembali meraih ponselnya dan membuka file foto dan video yang barusan dikirim oleh Rodez. Tangannya bergetar, dadanya pun terasa sesak setelah melihat semua adegan di dalam video dan beberapa foto Stendy bersama Harisa. 

Air mata Janice sudah tidak bisa terbendung lagi. Tangannya memukul dada kirinya terus-terusan, karena rasa sesak yang melandanya. 

“Ya Tuhan…,” lirihnya dengan air mata yang berlinang. 

Janice melempar begitu saja ponselnya ke kasur. Kedua tangannya menutup wajahnya, sungguh ia tidak sanggup melanjutkan menonton video tersebut. Kamar itu pun seketika dipenuhi tangisan Janice. 

Butuh beberapa menit untuk membuat Janice menghentikan tangisnya. Setelah dirasa cukup tenang ia pun kembali mencuci wajahnya, dan setelah memoles wajahnya dengan make up tipis. 

Saat turun ke bawah, ia tidak menemukan Stendy. Janice tidak mempermasalahkan keberadaan pria itu. Justru itu sangat bagus baginya, karena memang dirinya enggan bertemu dengan Stendy saat ini. Mungkin Stendy sudah pergi dan sedang bersama Harisa, pikir Janice. 

Dengan santai Janice berjalan menuju dapur dan mengambil buah apel, lalu menggigitnya. Tidak lupa ia mengambil segelas air putih, dan berjalan menuju taman belakang. Bibi Jane sepertinya sedang sibuk di ruang laundry. Janice duduk di kursi sambil menikmati apel yang dibawanya tadi.

“Apa suasana hatimu sudah lebih baik?” 

Janice hampir tersedak mendengar suara Stendy. Ia pun menoleh dan mendapati Stendy sudah berdiri di belakangnya. Janice mendengus kesal, lalu memilih mengabaikan keberadaan Stendy. 

Melihat Janice sedang mengabaikan dirinya, Stendy pun langsung duduk di samping Janice. Bahkan ia merebut apel yang hampir setengah digigit Janice. 

“Hei!” Janice pun memekik dan menatap kesal pada Stendy. 

“Itu bekas gigitanku. Bukankah kau tidak suka mengambil barang bekas orang?” sindir Janice yang membuat Stendy menatap tajam ke arahnya. 

Janice langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Nyatanya tatapan Stendy masih mampu membuat dirinya takut. 

Stendy menatap apel milik Janice, bahkan ia sudah menggigit apel tersebut tepat di bagian bekas gigitan Janice. Ia tersenyum tipis, dan kembali menggigit apel tersebut tanpa mempedulikan sindiran Janice untuk dirinya. 

Janice yang melihat itu pun kembali mendengus kesal. Lalu tiba-tiba ponsel Stendy berbunyi. Pria itu pun segera mengambil ponselnya dari saku celananya. 

Janice sempat melirik sekilas kearah ponsel Stendy. Karena jarak keduanya cukup dekat, jadi Janice tahu siapa yang sedang  menghubungi Stendy. Hatinya tertawa miris saat melihat Stendy langsung bangkit dari duduknya untuk menerima telepon dari Harisa. 

“Halo,” 

“Stendy, bisakah kamu datang ke apartemenku?” 

Suara Harisa di seberang sana terdengar begitu manja dan sedikit bergetar. 

“Apakah ada masalah?” tanya Stendy yang mulai terlihat panik. 

“Tidak ada, hanya…” 

“Barusan Papa menghubungiku, katanya dia ingin menjodohkan ku kembali dengan anak teman Papa. Kalau aku menolak, maka…” 

“Aku akan segera ke sana. Tunggu aku, jangan berbuat macam-macam,” 

Stendy terlihat begitu gelisah, ia pun segera mematikan ponselnya. Saat berbalik badan, tatapannya bertemu dengan tatapan Janice. Ada rasa bersalah pada wanita yang statusnya masih menjadi kekasihnya itu. 

“Aku ada urusan, jadi…” 

Janice langsung memotong ucapan Stendy dan sedikit menyindir pria itu, dia berkata. “Pergi saja. Bukankah tadi sudah aku katakan, kalau aku ini tidaklah penting di dalam hidupmu. Jadi tidak perlu kamu pikirkan,”  

Stendy terdiam mendengar ucapan Janice. “Jujur saja aku tidak tahu apa  maksudmu berkata seperti itu, Janice. Tapi, untuk saat ini aku minta maaf jika sudah membuatmu kesal. Aku harus mengurus sesuatu. Aku akan segera kembali,” ujar Stendy yang mencoba untuk menenangkan Janice. 

Janice melipat kedua tangannya di depan dada, dan duduk dengan satu kaki kiri yang bertumpu di kaki kanannya. 

“Lalu kenapa kamu malah masih diam di situ? Bukankah urusanmu itu lebih penting?” 

Stendy baru tersadar, ia menggigit bibirnya. Entah mengapa perasaannya begitu bimbang untuk meninggalkan Janice sendirian. Akan tetapi, ada seseorang yang juga membuatnya merasa gelisah. Stendy mengeraskan rahangnya sambil meremas ponselnya. 

“Aku akan kembali,” kata Stendy yang akhirnya memilih untuk menemui Harisa. 

Janice mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan yang masih tertuju pada punggung Stendy yang berlalu meninggalkannya. 

“Terulang lagi. Kamu meninggalkan aku hanya untuk wanita yang kau cintai. Maka jangan salahkan aku yang memilih untuk pergi dari hidupmu,” gumam Janice dengan mata yang sudah mulai memerah.

Ia pun segera menengadahkan wajahnya dan menatap ke atas, agar air matanya tidak kembali keluar. 

Stendy langsung menekan kode kunci pintu apartemen milik Harisa. Saat masuk ia memanggil nama wanita yang masih dicintainya itu. 

“Harisa,” Stendy langsung memeluk wanita itu yang sedang meringkuk di sofa. 

“Stendy, aku takut kalau Papa akan…” 

“Sssttt, sudahlah. Tenangkan dirimu, aku ada disini.” Stendy berusaha menenangkan Harisa. 

Cukup lama Stendy memeluk sambil menenangkan perasaan Harisa. Ia juga menghubungi Owen untuk mengecek kondisi wanita itu. Stendy hanya takut, kalau Harisa mengalami ketakutan yang berlebih-lebihan dan berakibat fatal pada kesehatannya. 

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu hanya perlu istirahat dan tenangkan pikiranmu, Harisa. Untuk masalah orang tuamu nanti kami akan bantu bicarakan,” ucap Owen setelah memeriksa kondisi wanita itu. 

“Sudah aku katakan, bukan. Kalau kamu harus tetap tenang,” Stendy ikut membenarkan apa yang dikatakan Owen. 

Harisa menundukkan wajahnya. “Iya, maaf sudah membuat kalian khawatir  terhadapku.” 

Stendy tersenyum dan menggenggam tangan Harisa. “Aku akan selalu ada untukmu. Begitupun juga dengan Owen dan Yohan,” kata Stendy untuk menenangkan Harisa. 

Harisa tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, karena kamu dan yang lainnya selalu ada untukku dan selalu membuat aku tenang.  Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi kerasnya sifat Papaku,” jawab Harisa. 

“Kamu tenang saja, Harisa. Apalagi Stendy masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu terhadapmu, benar kan, Stendy?” ucap Owen sambil melirik ke arah Stendy dan membuat Harisa semakin berbunga-bunga. 

Wanita itu tersenyum lembut pada Stendy, sementara itu hati kecil Stendy merasakan keraguan dalam dirinya. Sebab saat itu pula dirinya memikirkan sikap Janice yang mulai berubah.

Harisa yang melihat Stendy hanya diam tanpa berkomentar apapun. Wanita itu pun melingkarkan tangannya di lengan Stendy dan membuat pria itu tersadar, lalu tersenyum. 

Owen sendiri pun merasa aneh dengan sikap Stendy yang tidak biasanya. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!