NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kamu Siswi SMA, Bukan Asisten Dokter!

Tersebar di seluruh grup komunikasi rumah sakit adalah foto saat Adrian sedang menahan bahu Lala di sofa dengan posisi yang terlihat sangat sangat mencurigakan bagi siapa pun yang melihatnya. Adrian nyaris melempar ponsel pintarnya ke dinding saat melihat ribuan komentar mulai bermunculan dari rekan sejawat hingga para perawat junior. Wajahnya yang biasanya seputih porselen kini berubah menjadi merah padam akibat rasa malu dan amarah yang bergejolak hebat di dalam rongga dadanya.

"Siapa yang berani mengambil foto ini secara sembunyi-sembunyi dari balik celah pintu ruangan saya?" geram Adrian sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.

Ia segera melangkah keluar ruangan dengan aura yang sangat menakutkan hingga para staf medis yang berpapasan dengannya langsung menunduk dalam-dalam. Adrian yakin bahwa pelakunya pasti tidak jauh dari lingkungan terdekatnya, atau mungkin saja ini adalah bagian dari rencana ugal-ugalan milik gadis sekolah menengah itu. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Lala sedang berdiri di depan meja pendaftaran sambil memakai sebuah papan nama buatan sendiri.

"Selamat pagi semuanya, perkenalkan aku adalah asisten pribadi Dokter Adrian yang baru, silakan antre dengan tertib ya!" seru Lala dengan suara yang melengking riang.

"Kamu siswi sekolah menengah atas, bukan asisten dokter, segera lepaskan benda konyol itu dari lehermu!" bentak Adrian yang muncul secara tiba-tiba di belakang Lala.

Lala tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan tumpukan berkas pasien yang tadi ia ambil tanpa izin dari laci pendaftaran. Ia menatap Adrian dengan wajah yang polos seolah tidak terjadi skandal apa pun yang sedang mengguncang jagat digital rumah sakit saat ini. Gadis itu justru merapikan jas laboratorium milik perawat yang ia pinjam secara sepihak dan memberikan hormat layaknya seorang prajurit kepada komandannya.

"Aku hanya ingin membantu Dokter agar tidak terlalu lelah bekerja sendirian, jadi aku memutuskan untuk magang di sini tanpa dibayar," jawab Lala sambil tersenyum lebar.

"Rumah sakit bukan tempat bermain sandiwara, kamu bisa membahayakan nyawa pasien jika terus bertindak sesuka hati seperti ini," sahut Adrian dengan nada yang sangat tajam dan menusuk.

Adrian menarik lengan baju Lala untuk membawanya menjauh dari kerumunan orang yang mulai berbisik-bisik menatap mereka dengan pandangan penuh selidik. Ia membawa Lala masuk ke dalam ruang arsip yang sepi agar bisa menginterogasi gadis itu tanpa gangguan dari telinga-telinga yang haus akan berita hangat. Di dalam ruangan yang dipenuhi bau kertas tua tersebut, Adrian menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mata bulat milik Lala.

"Lihat ini, apa kamu yang menyebarkan foto memalukan ini ke grup komunikasi rumah sakit?" tanya Adrian dengan suara yang bergetar karena menahan emosi.

"Wah, fotonya bagus sekali, kita terlihat sangat serasi seperti sedang dalam adegan film romansa yang sangat mengharukan!" seru Lala tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Kemarahan Adrian kini benar-benar sudah mencapai puncaknya hingga ia memukul pintu lemari besi di sampingnya dengan suara dentuman yang sangat keras. Lala terdiam seketika dan matanya mulai berkaca-kaca melihat kemarahan yang begitu nyata terpancar dari wajah pria yang sangat ia puja-puja itu. Ia tidak menyangka bahwa tindakannya yang dianggap hanya sekadar lelucon bisa berdampak sangat buruk bagi reputasi profesional sang dokter bedah.

"Dengarkan baik-baik, karena foto ini saya bisa dipanggil oleh dewan etik dan kehilangan izin praktik saya selamanya," desis Adrian dengan tatapan mata yang sangat dingin.

"Aku benar-benar tidak tahu kalau dampaknya akan separah itu, aku bersumpah bukan aku yang menyebarkannya!" jawab Lala dengan suara yang mulai terisak-isak sedih.

Isakan tangis Lala membuat suasana di dalam ruang arsip itu menjadi sangat mencekam dan penuh dengan tekanan perasaan yang sangat berat. Adrian membuang muka karena ia tidak sanggup melihat wajah gadis itu yang terlihat sangat hancur dan penuh dengan penyesalan yang mendalam. Logika medisnya mengatakan bahwa ia harus tetap tegas, namun nuraninya mulai goyah saat melihat bahu mungil Lala yang bergetar karena rasa takut yang luar biasa.

"Sekarang pulanglah, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah sakit ini lagi sampai masalah ini benar-benar selesai," ucap Adrian tanpa menoleh sedikit pun.

"Aku akan membereskan semuanya, aku janji akan menemukan siapa yang mengambil foto itu dan membersihkan nama Dokter!" teriak Lala sebelum ia berlari keluar sambil menyeka air mata.

Lala berlari melewati koridor rumah sakit dengan perasaan yang sangat tidak karuan sama sekali dan penuh dengan amarah kepada dirinya sendiri. Ia merasa bahwa cintanya yang gila-gilaan justru menjadi racun bagi kehidupan pria yang paling ia sayangi di dunia ini. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun sebuah rencana besar untuk menangkap sang pelaku yang sudah berani mengusik kedamaian Dokter Adrian.

Sementara itu, Adrian kembali ke ruangannya dan menemukan sebuah kamera kecil yang tersembunyi di balik pot bunga yang ada di sudut ruangan. Ia mengambil kamera tersebut dengan tangan yang gemetar dan menyadari bahwa ada orang lain yang sedang bermain-main dengan hidupnya dan hidup Lala. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kerja sambil menatap langit-langit dengan perasaan yang sangat lelah dan penuh dengan tanda-tanda keraguan.

Penuh dengan tanda-tanda keraguan adalah saat Adrian melihat sebuah rekaman video di dalam kamera tersebut yang menunjukkan sosok seseorang yang sangat ia kenal sedang tersenyum licik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!