Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap untuk wanita iblis
Di sebuah gudang tua yang terisolasi di pinggiran kota, lampu gantung yang bergoyang menciptakan bayangan yang menakutkan di dinding. Seorang wanita dengan rambut berantakan dan tangan terikat kursi tampak meronta. Ia adalah Eva, sang residivis licik yang gagal menuntaskan misi terakhirnya di ICU.
Riko, tangan kanan Kevin yang bertubuh kekar, berdiri tegak saat pintu gudang terbuka. Evan melangkah masuk dengan aura dingin yang menusuk, diikuti oleh Kevin yang membawa sebuah map hitam.
"Tuan, ini dia 'tikus' kecil kita. Hampir saja ia menyeberang ke Merak jika tim kami tidak menghadangnya di gerbang tol," lapor Riko sambil menarik kasar penutup mata Eva.
Eva mengerjapkan mata, menatap Evan dengan tatapan menantang namun tersirat ketakutan. "Kalian tidak punya hak menahan ku! Lepaskan aku atau..."
"Atau apa, Eva?" potong Kevin dengan nada tenang namun mematikan. "Residivis kasus penipuan, baru sebulan menghirup udara bebas, dan sekarang mencoba melakukan percobaan pembunuhan terencana? Kau tahu berapa lama kau akan membusuk di sel kali ini?"
Evan mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan Eva. "Siska mengirim mu untuk membunuh Jaka. Tapi Jaka masih hidup. Dan sekarang, pilihanmu hanya dua: bekerja sama denganku untuk menjebak Siska, atau kau yang akan menanggung semua dosanya sendirian."
Eva menelan ludah. Ia tahu Siska bukan tipe orang yang akan menolongnya jika ia tertangkap. "Apa... apa yang kalian inginkan?"
"Hanya sedikit sandiwara," jawab Evan dengan senyum sinis.
Sementara itu, di sebuah klub malam yang bising, Siska tertawa lepas. Di tangannya terdapat segelas wiski mahal. Ia baru saja menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal yang menyatakan bahwa 'pekerjaan di ICU selesai'.
"Akhirnya! Jaka sudah tidak ada, dan rahasia itu mati bersamanya," seru Siska di tengah dentuman musik. Ia merayakan 'kemenangannya' hingga kehilangan kesadaran diri.
Tepat pukul satu dini hari, dengan langkah sempoyongan dan pandangan yang mengabur, Siska berjalan menuju area parkir yang sepi. Angin malam yang dingin menusuk tulang, namun alkohol di tubuhnya membuatnya merasa tak terkalahkan. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat bayangan pria berdiri tegak di samping mobilnya.
Siska memicingkan mata. "Siapa di sana? Heh! Singkirkan mobilmu dari jalanku!"
Pria itu perlahan berbalik. Wajahnya sangat pucat di bawah sinar lampu merkuri yang remang-remang. Luka bekas jahitan akibat pukulan benda tumpul masih terlihat jelas di pelipisnya.
"J...Jaka?" bisik Siska, suaranya tercekat. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Tidak mungkin... kau sudah mati! Aku sudah membayar orang untuk menghabisi mu!"
"Dasar pembunuh..." suara Jaka terdengar berat dan bergema di telinga Siska yang sedang mabuk. "Aku akan membalas semua perbuatanmu. Tidak akan pernah aku membiarkan kamu hidup dengan tenang!"
Tanpa memberikan kesempatan Siska untuk berpikir, Jaka melangkah maju dan melingkarkan tangannya di leher Siska. Cekikan itu terasa begitu nyata dan dingin. Oksigen di paru-paru Siska menipis, ketakutan luar biasa menyerang syarafnya.
"Tolong... m...maaf..." rintih Siska sebelum akhirnya matanya memutar ke atas dan tubuhnya ambruk, pingsan di samping ban mobilnya sendiri.
Jaka segera melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Ia mengatur napasnya yang memburu karena emosi. Riko muncul dari balik pilar beton dan segera merangkul Jaka.
"Cukup, Jaka. Dia sudah pingsan. Kita harus bergerak sebelum ada orang lain yang melihat," bisik Riko. Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu dan melaju pergi meninggalkan Siska yang tergeletak tak berdaya.
Mansion Chendana.
Di ruangan kerjanya yang mewah, ponsel Evan bergetar. Sebuah pesan masuk dari Kevin.
"Misi pertama selesai. Si iblis sudah mencicipi nerakanya yang pertama. Besok pagi, teror sesungguhnya akan dimulai."
Evan menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menyesap kopi pahitnya sambil menatap foto dirinya bersama dengan Kamila dan juga Zevan, putranya di atas meja. Matanya berkilat puas.
"Siska, ini baru permulaan," gumam Evan. "Aku akan membuatmu memohon kematian sebelum hukum benar-benar menjemputmu."
.
.
Setelah memastikan rencana di lapangan berjalan mulus, Evan kembali ke kamarnya dengan langkah ringan. Beban di pundaknya seolah terangkat sebagian. Saat ia melangkah masuk ke kamar utama, suasana hening dan aroma terapi yang menenangkan menyambutnya.
Di atas ranjang besar itu, Kamila sudah tertidur pulas. Evan mendekat, menatap wajah istrinya yang damai. Ada keinginan kuat untuk mengecup kening wanita itu dan menceritakan kemenangannya malam ini, namun ia urungkan. Ia tidak ingin menyeret Kamila ke dalam sisi gelap dunianya lebih jauh lagi.
Evan pun merebahkan tubuhnya di samping Kamila. Ia sempat ragu sejenak, namun rasa rindu akan kehangatan itu menang. Perlahan, ia menarik tubuh Kamila ke dalam dekapannya. Anehnya, dalam tidurnya, Kamila justru bergerak mencari posisi nyaman dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan. Keduanya terlelap dalam diam, menyimpan perasaan yang sama-sama kuat namun terkunci rapat di balik gengsi masing-masing.
Pagi harinya, suasana di kediaman keluarga Rahadian berubah menjadi neraka. Siska terbangun di sebuah kamar rumah sakit dengan kondisi mengenaskan; rambut kusut dan mata yang merah karena kurang tidur.
"JAKA! JANGAN MENDEKAT!" jerit Siska tiba-tiba, membuat perawat yang baru masuk tersentak.
Tuan Rahadian dan Nyonya Imelda bergegas masuk ke ruangan. "Siska, tenang Nak! Ini Papa. Tidak ada siapa-siapa di sini," ucap Tuan Rahadian sambil memegang bahu putrinya.
"Dia ada di sana, Pa! Di parkiran semalam... dia mencekikku! Wajahnya pucat!" Siska meracau, tubuhnya gemetar hebat.
Ting!
Suara notifikasi ponsel Siska berbunyi. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.
"Kematian bukan akhir, Siska. Aku akan mengawasimu dari setiap sudut bayangan. Tunggu gilirannya."
Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto. Foto Siska yang sedang pingsan di parkiran semalam, diambil dari sudut yang sangat dekat.
"TIDAAAKK!" Siska melempar ponselnya hingga hancur berkeping- keping ke lantai. Ia menjambak rambutnya sendiri, terisak histeris. Ia mulai kehilangan akal sehat, tak mampu lagi membedakan apakah Jaka yang ia lihat semalam adalah hantu atau kenyataan.
Nyonya Imelda memeluk putrinya dengan tangis yang pecah. "Pa, kondisi Siska semakin parah. Dia sangat terobsesi pada Evan hingga jiwanya terguncang seperti ini. Kita harus melakukan sesuatu!"
Di sisi lain kota Jakarta, suasana di mansion Evan terasa jauh lebih tenang namun dipenuhi ketegangan yang berbeda. Evan sedang menikmati rotinya dengan senyum yang terus mengembang, sesekali ia melirik Kamila yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya suasana hatimu sedang sangat baik pagi ini, Mas?" tanya Kamila mencoba mencairkan suasana.
"Sangat baik, Kamila. Ada beberapa masalah lama yang akhirnya menemukan titik terang," jawab Evan santai.
Tepat saat itu, ponsel Evan yang tergeletak di atas meja menyala. Sebuah panggilan masuk muncul di layar. Kamila secara tidak sengaja melirik dan membaca nama kontak yang tertera: "EVA".
Wajah Kamila seketika berubah kaku. Pikirannya mulai mencurigai pada sosok wanita yang mungkin saja pernah menjadi masa lalunya atau mungkin wanita lain dalam hidup suaminya. Sebelum Kamila sempat bertanya, Evan dengan cekatan menyambar ponsel tersebut.
"Aku angkat telepon dulu sebentar. Ini penting," ucap Evan terburu-buru sambil bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Kamila terdiam, selera makannya hilang seketika. Tangannya yang memegang garpu bergetar sedikit.
'Siapa Eva? Kenapa Mas Evan terlihat begitu senang dan buru-buru?' batinnya dengan rasa sesak yang mulai menjalar di dada.
Sementara itu, di dalam ruang kerja, Evan menutup pintu rapat-rapat dan menjawab telepon dengan tawa puas.
"Bagaimana, Kevin? Berhasil?" tanya Evan.
"Sangat berhasil, Tuan. Siska sekarang berada di rumah sakit dalam kondisi depresi berat. Dia benar-benar mengira Jaka bangkit dari kubur. Eva juga sudah menjalankan perannya dengan mengirimkan teror psikologis lewat pesan singkat," lapor Kevin dari seberang telepon milik Eva.
Evan terkekeh pelan, menatap ke luar jendela dengan tatapan tajam. "Bagus. Biarkan dia merasa gila di dalam ketakutannya sendiri. Pastikan dia tidak punya waktu untuk bernapas tenang sebelum kita menyerahkannya ke polisi dengan bukti yang lengkap."
Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu, Kamila berdiri dengan perasaan hancur, salah paham mengira tawa bahagia suaminya adalah karena wanita bernama Eva tersebut.
Bersambung...
kopi untuk mu👍