NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kamar Nomor 101

Sosok pria misterius itu terus mendekat dan mengunci seluruh pergerakan tubuh Anindira di bawah dekapan yang sangat protektif. Anindira merasakan berat tubuh yang asing menindihnya namun ia tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk sekadar mendorongnya menjauh. Kesadarannya timbul dan tenggelam seperti lilin yang tertiup angin kencang di tengah malam yang sangat sunyi.

Hanya suara detak jantung yang beradu cepat dan deru napas yang memburu memenuhi seluruh penjuru ruangan kamar nomor 101. Anindira merintih pelan saat tangan besar pria itu membelai wajahnya dengan sentuhan yang terasa sangat panas membakar kulit. Seluruh dunianya benar-benar menghilang saat kegelapan total akhirnya menariknya ke dalam dasar jurang yang paling dalam.

"Tolong hentikan semua ini," gumam Anindira dengan suara yang nyaris tidak terdengar lagi sebelum ia benar-benar pingsan.

Cahaya matahari pagi yang sangat terik mulai menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang tidak tertutup dengan rapat. Sinar itu menusuk langsung ke arah kelopak mata Anindira hingga ia terpaksa mengerang menahan rasa sakit di kepalanya. Ia mencoba menggerakkan lengannya namun seluruh otot di tubuhnya terasa sangat kaku dan nyeri luar biasa.

Anindira membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya berada di bawah selimut putih yang sudah sangat berantakan. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa ia sendirian di dalam kamar mewah yang sangat luas itu. Ia menatap ke sisi ranjang yang kosong namun masih menyisakan bekas lekukan tubuh seseorang di sana.

"Ke mana pria itu pergi?" tanya Anindira pada kesunyian yang mencekam dengan suara yang sangat gemetar.

Ia segera bangkit duduk namun rasa perih yang asing di bagian bawah tubuhnya membuatnya kembali terjatuh di atas bantal. Air mata seketika tumpah membasahi pipinya saat ingatan samar tentang malam tadi mulai muncul satu-persatu di kepalanya. Anindira memeluk tubuhnya sendiri yang hanya terbungkus kain sprei sambil terisak menahan rasa malu yang sangat besar.

Pandangan matanya yang buram karena air mata tidak sengaja menangkap sesuatu yang berkilau di atas meja nakas. Ia mengulurkan tangannya yang masih lemas untuk mengambil sebuah benda logam berukir indah yang tergeletak di sana. Benda itu adalah sebuah kancing kemeja berwarna perak yang memiliki simbol keluarga yang sangat berkuasa.

"Aku harus segera pergi dari tempat terkutuk ini sebelum ada orang lain yang datang," bisik Anindira sambil mencoba berdiri dengan kaki yang goyah.

Ia memungut gaun pesta miliknya yang sudah sobek di beberapa bagian dan berserakan di atas karpet bulu yang dingin. Dengan tangan yang terus gemetar hebat, ia mencoba mengenakan pakaian itu kembali untuk menutupi kehancurannya. Anindira menatap bayangan dirinya di cermin besar dan nyaris tidak mengenali sosok wanita yang terlihat sangat berantakan itu.

Rambutnya yang panjang terlihat sangat kusut dan matanya nampak bengkak karena terlalu banyak menangis sejak semalam. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar seolah ingin melenyapkan semua jejak kejadian buruk tersebut. Anindira melangkah menuju pintu keluar kamar nomor 101 dengan perasaan was-was yang sangat hebat di dalam dadanya.

"Jangan biarkan ayah tahu tentang semua ini atau dia akan membunuhku," gumamnya sambil menempelkan telinga ke arah pintu kayu yang kokoh.

Setelah merasa suasana di luar cukup aman, ia membuka pintu sedikit dan segera menyelinap keluar menuju arah tangga darurat. Ia menghindari lift karena takut akan bertemu dengan teman-teman atau kerabat yang mungkin masih berada di hotel tersebut. Anindira berlari menyusuri lorong panjang dengan sisa tenaga yang masih ia miliki meskipun tubuhnya terasa sangat lemas.

Setiap langkah yang ia ambil memicu rasa nyeri yang terus mengingatkannya pada malam yang telah merenggut segalanya. Ia terus memegang kancing perak di dalam kepalan tangannya sebagai satu-satunya bukti atas penghinaan yang ia terima. Harapan untuk masa depan yang cerah setelah kelulusan kini terasa seperti mimpi kosong yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Anindira sampai di lobi hotel yang masih nampak sepi dan segera memesan taksi dengan suara yang terdengar sangat parau. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di dalam kendaraan agar sang sopir tidak melihat wajahnya yang penuh dengan luka batin. Pikirannya terus berputar memikirkan alasan apa yang harus ia berikan kepada keluarganya saat sampai di rumah nanti.

"Semoga saja Sarah tidak mengatakan apa pun kepada ayah," doa Anindira dengan penuh ketakutan di sepanjang perjalanan pulang.

Taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah megah milik keluarganya yang nampak sangat tenang di pagi hari yang cerah. Anindira keluar dari mobil dan berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa memancing perhatian. Ia masuk melalui pintu samping dan berharap bisa langsung menuju kamarnya tanpa terlihat oleh siapa pun di rumah itu.

Namun langkah kakinya terhenti seketika saat melihat sosok ayahnya sudah duduk di ruang tamu dengan wajah yang sangat gelap. Di samping ayahnya, Sarah berdiri dengan wajah yang pura-pura cemas namun matanya memancarkan kepuasan yang sangat dalam. Anindira merasa kakinya membeku di lantai saat menyadari bahwa rahasia besarnya mungkin sudah tidak lagi menjadi sebuah rahasia.

Pria misterius yang bersamanya semalam ternyata meninggalkan sebuah jejak permanen di dalam rahim Anindira tanpa ia sadari.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!