NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENEMUAN VAKSIN CORONA YG MENGANCAM JIWA

BAB 2

Kebanggaan dan Ancaman**

Satu minggu sebelum tragedi itu, kampus Universitas Islam Gaza dipenuhi riuh rendah para mahasiswa dan dosen. Di aula besar, spanduk besar bergambar logo universitas tergantung di langit-langit:

“Wisuda Fakultas Kedokteran – Universitas Islam Gaza 2025”

Laura Islamiyah, berseragam toga hitam dengan selempang biru, berdiri tegak di antara ratusan lulusan lain. Di wajahnya terpancar campuran kebanggaan, gugup, dan harapan.

“Anak hebat ini… akhirnya lulus juga,” bisik dr. Mahmud Yunus kepada istrinya, sambil menatap putrinya dari kursi VIP.

Anisa Putri, yang saat itu masih sepuluh tahun, duduk di samping ibunya. Ia menyalakan kamera ponsel, menangkap setiap momen. “Kakak hebat, ya Bu?” gumamnya.

Laura melangkah maju menerima ijazahnya. Sorak sorai mahasiswa dan keluarga memenuhi aula. Prof. Ibnu Qayyim, dekan fakultas kedokteran, tersenyum bangga sambil menyerahkan ijazah.

“Selamat, Laura Islamiyah,” ucapnya. “Prestasi akademikmu luar biasa. Semoga menjadi dokter yang bermanfaat bagi umat manusia.”

Laura tersenyum dan membungkuk hormat. “Terima kasih, Profesor. Saya berjanji akan mengabdikan ilmu yang saya miliki.”

Setelah prosesi wisuda selesai, Laura mengajak ayahnya ke laboratorium penelitian vaksin di kampus. Meja-meja penuh tabung reaksi, centrifuge, dan alat-alat canggih kecil memenuhi ruangan.

“Bapak… saya ingin menunjukkan sesuatu,” ujar Laura dengan semangat. Ia membuka lembar laporan penelitian dan menyalakan proyektor kecil. “Ini hasil eksperimen saya. Vaksin ini berhasil menetralkan virus corona pada sampel kultur yang saya teliti.”

Prof. Imam Al-Ghazali, guru besar bioteknologi yang ikut hadir, menatap layar. “Luar biasa, Laura. Data ini valid. Efektivitasnya tinggi, dan tidak menimbulkan reaksi samping yang berbahaya pada percobaan awal.”

Dr. Mahmud Yunus tersenyum bangga, matanya bersinar. “Anakku… ini akan menyelamatkan banyak nyawa. Dunia membutuhkan ilmuwan muda seperti kamu.”

Laura menundukkan kepala. “Alhamdulillah, Bapak. Semoga vaksin ini bisa segera diproduksi dan membantu umat manusia.”

Profesor Ibnu Qayyim menepuk pundak Laura.

“Ini pencapaian luar biasa, Laura. Selamat. Keluarga dan Palestina harus bangga.”

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, di Tel Aviv, ibu kota Isriwil. suasananya berbeda sama sekali.

Di ruang rapat berlapis kaca anti peluru, Kolonel Benjamin berdiri di depan layar besar yang menampilkan laporan intelijen. Beberapa stafnya duduk di sekeliling meja, wajah serius.

“Sumber intelijen kami mengonfirmasi,” ucap salah satu perwira, menunjuk layar. “Putri Mahmud Yunus, Laura, baru saja menyelesaikan eksperimen vaksin corona di Universitas Islam Gaza. Hasilnya disetujui oleh Profesor Ibnu Qayyim dan guru besar Imam Al-Ghazali.”

Kolonel Benjamin menatap layar dengan sorot mata dingin. “Apakah benar formula itu berhasil?”

“Ya, Kolonel. Sampel laboratorium menunjukkan netralisasi virus hampir 98%. Jika diproduksi massal, ini akan mengubah peta kesehatan dunia. Palestina dan dunia Islam akan mendapatkan keuntungan besar,” lapor perwira intelijen.

Benjamin mengerutkan dahi. “Kita tidak bisa membiarkan ini jatuh ke tangan mereka. Formula itu harus ada di tangan kita.”

Ia menoleh ke bawahannya. “Segera kumpulkan tim. Kita akan ambil vaksin itu—apapun caranya. Tidak ada toleransi.”

“Siap, Kolonel!” seru perwira-perwira lain serentak.

Di Gaza, Laura menutup laporan eksperimen dan menatap ayahnya.

“Bapak, saya akan terus mengembangkan vaksin ini. Demi umat manusia.”

Dr. Mahmud tersenyum, menyentuh bahu putrinya dengan lembut.

“Bersiaplah, Laura. Dunia tidak selalu bersahabat dengan yang unggul. Tapi ketahuilah, kebaikan akan selalu menemukan jalannya.”

Laura menatap ayahnya, tanpa sadar kata-kata itu akan menjadi doa terakhir sebelum tragedi datang.

Di Tel Aviv, Benjamin sudah merencanakan operasi. Mata dinginnya menatap peta Gaza di layar, menandai titik-titik rumah sakit, laboratorium, dan lokasi Laura. “Segera. Kita tidak boleh gagal.”

Gelapnya Kota Gaza**

Senja mulai menutup Kota Gaza. Langit memerah oleh debu dan asap. Suara sirene terdengar dari jauh, namun kali ini bukan sekadar alarm rumah sakit—ini pertanda agresi militer besar-besaran.

Di markas sementara pasukan Israel, Kolonel Benjamin berdiri di depan peta elektronik kota Gaza. Setiap titik merah di layar menunjukkan lokasi rumah sakit, laboratorium, dan kampus Universitas Islam Gaza.

“Pasukan kita siap?” tanya Benjamin, suara dingin tapi penuh otoritas.

“Siap, Kolonel,” jawab salah satu perwira intelijen. “Tim khusus sudah bergerak menuju lokasi yang ditandai. Target utama: formula vaksin milik Laura Islamiyah.”

Benjamin mengerutkan dahi. “Ingat, ini bukan sekadar operasi biasa. Formula itu harus diamankan utuh. Jangan sampai bocor ke pihak lain.”

Di sisi lain, di Universitas Islam Gaza, Laura sedang menutup lembar-lembar eksperimen di laboratorium. Suara riuh mahasiswa sudah mulai mereda. Anisa Putri duduk di kursi sambil menatap kakaknya dengan mata cemas.

“Kak, aku merasa ada yang tidak beres,” gumam Anisa.

Laura menoleh. “Tenang, Dik. Ini normal. Kota Gaza memang sedang tegang akhir-akhir ini. Tapi kita masih aman di sini… setidaknya untuk saat ini.”

Namun suara ledakan terdengar dari kejauhan—bukan satu, tapi beberapa kali berturut-turut. Kaca-kaca jendela laboratorium bergetar.

Dr. Sandi, yang baru datang untuk mengecek kondisi mereka, langsung masuk. Wajahnya tegang.

“Laura! Anisa! Kita harus keluar dari sini. Sekarang!” serunya.

Laura berlari ke samping dr. Sandi. “Apa yang terjadi, Dokter?”

“Pasukan militer Israel melakukan penetrasi ke kota. Mereka mencari kalian… dan formula vaksin itu,” jelas dr. Sandi cepat.

Di luar kampus, suara helikopter terdengar semakin dekat. Lampu sorotnya menembus malam. Tentara bersenjata penuh persenjataan modern sudah menyiapkan barikade di setiap jalan masuk kota.

Di jalanan sempit Gaza, tiga kendaraan lapis baja Israel bergerak cepat. Tentara bersenjata menuruni kendaraan, membentuk formasi menyerbu kampus.

“Segera amankan area!” teriak salah satu komandan pasukan Israel. “Tidak ada yang boleh lolos! Cari formula itu!”

Dr. Sandi menatap Laura. “Ikuti aku! Kita harus keluar lewat lorong samping. Bima dan pasukan Arhanud 14 sedang menunggu di titik evakuasi.”

Laura menggenggam tangan Anisa. “Ayo, Dik. Kita harus cepat.”

Mereka berlari melalui gang-gang sempit, diiringi suara tembakan dan ledakan dari luar.

Di sisi lain, Sertu Bima sedang menyiapkan pasukannya. Agung, Eren, Andri, dan Dimas menatap jalan yang akan mereka lindungi.

“Pasukan, dengar!” teriak Bima. “Target kita: lindungi ambulans dan warga sipil! Jangan biarkan satu pun tentara musuh mendekati mereka!”

“Siap, Sertu!” jawab mereka serentak.

Dari kejauhan, Letnan Benjamin muncul dengan dua komandan lapangan lain. Suara radio mereka bersahut-sahutan.

“Segera tangkap target!” perintah Benjamin. “Formula itu milik kita!”

Pertempuran pun pecah.

Bima dan pasukannya menghadang formasi tentara Israel. Tembakan bersahutan. Debu dan asap menutupi pandangan. Bima memberi aba-aba gerakan:

“Eren, tutup sisi kanan! Andri, geser ke kiri! Agung, beri penutup untuk ambulans!”

Dr. Sandi menuntun Laura dan Anisa melalui gang kecil, menghindari jalan utama. Namun suara ledakan dari belakang menunjukkan bahwa musuh mulai menutup jalur.

“Tahan, Dokter!” teriak Bima sambil menembak peringatan ke arah lawan. Beberapa tentara musuh terhuyung mundur.

Letnan Benjamin maju sendiri, menghadapi Bima secara langsung.

“Kamu pikir enam orang bisa menghentikan sepuluh pasukan elit Israel?” ejek Benjamin dingin.

Bima menatap lawannya, napas teratur.

“Kami bukan hanya enam orang. Kami adalah pasukan Arhanud 14. Dan kami melindungi warga sipil!”

Pertarungan fisik pecah. Bima dan Benjamin saling serang, sementara pasukan lain saling tembak jarak jauh. Ledakan granat asap menutupi pandangan lawan.

Di tengah chaos itu, dr. Sandi berhasil membawa Laura dan Anisa ke tempat tersembunyi, di balik gedung kosong.

“Lanjut lagi sedikit… kita harus sampai ke titik evakuasi,” ucapnya.

Beberapa menit kemudian, pasukan Bima berhasil menundukkan pasukan Israel di jalur mereka. Benjamin tersingkir untuk sementara, tapi tatapannya tetap dingin, penuh dendam.

Laura menatap Sandi, napasnya masih terengah. “Dokter… kita… selamat?”

Sandi mengangguk. “Ya, Laura. Tapi ini baru permulaan. Kita harus segera evakuasi ke tempat aman. Pasukan Arhanud 14 menunggumu di lokasi aman kedutaan Indonesia.”

Anisa memandang bendera merah putih yang terlihat samar di kejauhan. “Kita akan ke Indonesia, ya Kak?”

Laura mengangguk, menahan air mata.

“Iya, Dik. Kita akan aman di sana.”

Sementara itu, di Tel Aviv, Letnan Benjamin menatap layar peta Gaza, wajahnya menegang.

“Mereka selamat… tapi formula itu akan tetap menjadi target kita,” gumamnya dingin. “Operasi belum selesai.”

Di jalanan Gaza, suara sirene sirene militer dan dentuman granat tetap menggema, namun sebuah secercah harapan tetap hidup—Laura dan Anisa berada di tangan dr. Sandi dan pasukan Arhanud 14 Cirebon.

Malam itu, perang untuk vaksin belum berakhir, namun semangat manusia untuk melindungi sesama tetap menyala.

Ancaman yang Tak Terhentikan**

Malam di Gaza terasa lebih dingin, namun udara panas peperangan masih membakar setiap sudut kota. Lampu-lampu jalan sebagian mati, gedung-gedung sebagian hancur, dan sirene rumah sakit terdengar terus-menerus.

Di markas lapangan Israel, Letnan Benjamin duduk di ruang perencanaan. Layar besar menampilkan peta kota Gaza, termasuk RS Al Shifa, laboratorium Universitas Islam Gaza, dan jalur pelarian pasukan Arhanud 14.

“Formula itu masih belum di tangan kita,” ucap Benjamin dengan nada dingin. “Dan Laura Islamiyah masih bebas bergerak di Gaza. Kita tidak bisa membiarkannya berkembang lebih jauh.”

Salah satu perwira intelijen menunduk.

“Kolonel, jika kita menyerang RS sekarang, ada risiko korban sipil sangat tinggi. Tapi formula dan target utama tetap ada di sana.”

Benjamin menatap layar, matanya tajam. “Risiko? Tidak ada istilah risiko. Yang ada hanyalah tujuan. Formula itu harus kita miliki. Siapapun yang menghalangi, akan kita singkirkan.”

Beberapa tentara mencatat perintahnya. Suasana di markas menjadi hening. Benjamin melanjutkan:

“Siapkan pasukan elit. Kita serang malam ini. Fokus: neutralisasi setiap penghalang, termasuk pasukan Arhanud 14. Formula vaksin dan Laura Islamiyah harus di tangan kita—apapun caranya.”

Di sisi lain kota Gaza, RS Al Shifa masih sibuk. Lampu-lampu darurat menyala, suara sirene bersahut-sahutan.

Dr. Mahmud Yunus, Menteri Kesehatan Palestina, sedang memeriksa kondisi pasien yang baru datang dari zona perang. Meski tubuhnya lelah dan luka ringan, ia tetap sigap memerintahkan staf:

“Prioritaskan anak-anak dan perempuan. Jangan biarkan siapa pun meninggal sia-sia.”

Laura dan Anisa berada di ruang samping, sementara dr. Sandi Kurniawan menyiapkan rencana evakuasi untuk pasien kritis.

“Bapak, kita harus bersiap,” ucap Laura. “Situasi di kota semakin buruk.”

Dr. Mahmud tersenyum tipis. “Laura, ilmu yang kamu kembangkan itu sangat penting. Tapi saat ini, tugas kita adalah menyelamatkan nyawa. Itulah cara kita melayani umat manusia.”

Tiba-tiba, suara helikopter dan kendaraan berat terdengar mendekat. Lampu sorot menembus halaman rumah sakit.

“Mereka kembali!” teriak seorang perawat. “Tentara Israel sedang menyerbu!”

Dr. Mahmud segera bergerak. “Staf, lindungi pasien! Siapa pun yang menyerang, hadang mereka!”

Laura memegang tangan Anisa. “Dik, tetap di sini. Jangan keluar.”

Dr. Sandi menatap Benjamin yang muncul dari helikopter dengan pasukannya. “Kita harus evakuasi pasien sekarang!”

Namun sebelum mereka sempat bergerak, Kolonel Benjamin memerintahkan tembakan peringatan ke arah rumah sakit. Ledakan terdengar, kaca pecah, dan dinding bergetar.

Dr. Mahmud maju ke depan, berdiri tegak di antara pasien dan tentara Israel. “Ini rumah sakit! Kami menolong nyawa, bukan menyerang! Mundur sekarang!” teriaknya lantang.

Benjamin menatap dingin. “Kamu menghalangi misi kita, Yunus. Tundukkan diri atau….”

Namun sebelum kalimatnya selesai, tembakan dilepaskan. Dalam sekejap, dunia Dr. Mahmud berubah. Tubuhnya terkena peluru. Ia terjatuh di depan pasien, namun tetap mencoba menahan dan melindungi staf serta pasien di sekitarnya.

Laura menjerit. “Ayah!!!”

Anisa menutupi wajahnya, terisak. Dr. Sandi berlari menghampiri. “Jangan lihat sekarang, Laura! Kita harus selamatkan yang lain dulu!”

Benjamin menatap situasi dengan dingin. “Ambil formula itu. Jangan biarkan siapa pun melawan!”

Pasukan Arhanud 14, yang berada di luar RS, mendengar ledakan dan teriakan. Sertu Bima segera memberi aba-aba.

“Kita harus masuk sekarang! Lindungi warga sipil!”

Bima, Agung, Eren, Andri, dan Dimas menerobos jalur yang hancur, menghadapi pasukan Benjamin yang sudah masuk ke halaman RS.

Pertempuran sengit pun terjadi. Tembakan bersahut-sahutan, granat asap meledak, dan bangku-bangku serta ranjang rumah sakit menjadi perlindungan sementara.

Dr. Sandi menuntun Laura dan Anisa ke lorong samping. “Ikuti aku! Kita harus keluar dari sini!”

Namun di depan, tubuh Dr. Mahmud terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, matanya menatap Laura seakan meminta maaf karena tidak bisa lagi melindungi putrinya.

Laura menunduk, menangis. “Ayah… maafkan kami… kami akan selamatkan diri…”

Dr. Sandi menepuk pundak Laura. “Kita akan selamat, Laura. Ayahmu telah menunjukkan keberanian sejati. Kita lanjutkan perjuangannya.”

Di luar, Bima dan pasukan Arhanud 14 berhasil menahan pasukan Benjamin cukup lama untuk memberi waktu dr. Sandi membawa Laura dan Anisa keluar dari RS, menuju jalur evakuasi aman yang sudah disiapkan.

Kolonel Benjamin menatap ke arah bangunan RS yang berasap, wajahnya mengeras. “Kamu selamat kali ini… tapi tidak selamanya. Formula itu akan tetap menjadi milik kita,” gumamnya dingin.

Di lorong samping rumah sakit, Laura memeluk Anisa erat-erat, air mata membasahi pipi.

“Kita harus bertahan, Dik. Kita akan aman, dan ayah… ayah akan selalu bersama kita,” ucap Laura lirih.

Sementara itu, di udara Gaza, helikopter Arhanud 14 Cirebon mulai bergerak, membawa korban sipil dan Laura bersama Anisa ke lokasi aman Kedutaan Besar Indonesia.

Malam itu, darah telah tumpah, seorang pahlawan telah gugur, namun janji untuk melindungi dan melanjutkan perjuangan tetap hidup—di hati seorang anak, di tangan seorang dokter, dan di semangat para prajurit Arhanud 14.

Langkah Keselamatan**

Malam di Kedutaan Besar Indonesia untuk Palestina masih gelap, namun halaman kedutaan diterangi cahaya lampu sorot yang hangat. Di dalam ruang utama, Duta Besar Indonesia untuk Palestina, Pak Hendra Wicaksono, duduk menghadap dr. Sandi, Laura, Anisa, dan dr. Hadijah.

“Selamat datang, Bu Hadijah, Laura, Anisa,” ucap Pak Hendra dengan suara lembut namun tegas. “Kalian sekarang berada di tempat aman. Segala sesuatu akan kami lakukan untuk keselamatan kalian.”

Laura menunduk, matanya masih basah oleh air mata. “Terima kasih, Pak Dubes… kami tidak tahu harus ke mana lagi.”

Dr. Hadijah menggenggam tangan putrinya. “Kami kehilangan segalanya, Pak. Ayah Laura gugur mempertahankan nyawa warga sipil dan pasien rumah sakit.”

Pak Hendra menundukkan kepala sejenak. “Kami turut berduka cita atas kepergian dr. Mahmud Yunus. Beliau pahlawan bagi rakyat Palestina. Bahkan kami akan menghadiri pemakaman beliau besok, mewakili negara Indonesia.”

Dr. Sandi menatap Pak Hendra serius. “Pak Dubes… ada ancaman nyata. Kolonel Sukatahu dan pasukan Israel masih memburu Laura untuk mendapatkan formula vaksin yang ia temukan. Jika kita tetap di Gaza terlalu lama, mereka bisa menyerang kedutaan ini.”

Pak Hendra menatap dr. Sandi. “Kami sudah mendengar intelijen itu. Tapi untuk langkah selanjutnya, kita harus hati-hati. Pemakaman dr. Mahmud akan dihadiri pejabat tinggi Palestina dan jajaran Kedutaan Indonesia. Ini bisa menjadi peluang sekaligus risiko.”

Laura menatap Anisa. “Bu… kita harus pergi dari Gaza. Aku takut… takut mereka menyerang lagi.”

Dr. Hadijah mengangguk. “Betul, Dik. Kita harus aman dulu. Indonesia adalah satu-satunya tempat yang bisa menjamin itu.”

Pak Hendra menghela napas. “Kita akan mengevakuasi kalian ke Indonesia secepatnya. Kita bisa menggunakan jalur diplomatik dan pesawat khusus dari Kedutaan Besar Indonesia. Tapi sebelum itu, besok kita menghadiri pemakaman dr. Mahmud.”

Dr. Sandi menatap Laura dan ibunya. “Kalian harus siap. Pemakaman akan menjadi momen penting bagi Palestina, tapi juga berisiko jika musuh mengetahui keberadaan kalian.”

Laura menunduk. “Aku mengerti… tapi aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada ayahku.”

Pak Hendra mengangguk tegas. “Kami akan menjaga kalian. Dr. Sandi, Sertu Bima, dan pasukannya akan ikut memastikan keamanan kalian.”

Pemakaman dr. Mahmud Yunus

Keesokan harinya, halaman rumah duka dipenuhi oleh pejabat tinggi Palestina. Para pejabat berpakaian formal berdiri rapi, termasuk Dubes RI untuk Palestina, Pak Hendra, yang hadir bersama jajarannya.

Ratusan warga sipil menatap jenazah yang dibawa dari RS Al Shifa. Laura dan Anisa, mengenakan pakaian serba hitam, berjalan pelan di samping ibu mereka, dr. Hadijah.

Dr. Sandi dan pasukan Arhanud 14 Cirebon berada di sekitar, berjaga untuk memastikan tidak ada ancaman mendekat.

Salah satu perwira Palestina mendekati Pak Hendra.

“Pak Dubes, kami khawatir Kolonel Sukatahu dan pasukannya masih aktif di kota ini. Mereka bisa menyerang kapan saja untuk mengambil formula vaksin itu.”

Pak Hendra menatap jauh ke arah jalan. “Kami sudah menyiapkan jalur evakuasi darurat. Setelah upacara selesai, kalian akan dibawa ke lokasi aman Kedutaan dan kemudian dievakuasi ke Indonesia dengan pesawat diplomatik.”

Laura menunduk di dekat pusara ayahnya. “Ayah… kami akan terus melanjutkan perjuanganmu. Aku janji.”

Anisa menggenggam tangan kakaknya. “Kak… kita akan aman, kan?”

Dr. Hadijah menepuk pundak Anisa. “Ya, Sayang… kita akan segera pergi ke Indonesia. Tempat di mana kita bisa hidup tanpa takut.”

Kolonel Sukatahu dan ancaman yang terus mengintai

Di Tel Aviv, Kolonel Sukatahu menerima laporan intelijen terbaru. Wajahnya keras, matanya menatap layar monitor.

“Formula itu berada di tangan Laura Islamiyah,” ujar seorang perwira. “Dia masih di Gaza, berada di Kedutaan Indonesia.”

Sukatahu menepuk meja. “Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Segera siapkan operasi khusus. Ambil formula itu. Tidak peduli hambatan atau risiko diplomatik. Laura harus kita dapatkan!”

Seorang perwira menatapnya ragu.

“Kolonel, kedutaan Indonesia adalah wilayah diplomatik. Serangan langsung bisa menimbulkan krisis internasional.”

Sukatahu menatap tajam. “Itu risiko yang harus diambil. Formula itu lebih penting daripada politik. Kita sudah terlalu lama ketinggalan dalam penelitian ini.”

Di Gaza, ancaman itu belum terasa secara langsung, tapi dr. Sandi, Sertu Bima, dan pasukannya tetap waspada. Mereka tahu, setiap langkah Laura dan keluarganya bisa menjadi target berikutnya.

Pak Hendra menatap Laura dan dr. Hadijah.

“Kita harus segera meninggalkan Gaza setelah pemakaman. Pesawat diplomatik Indonesia siap menjemput kalian. Kalian akan aman di Indonesia.”

Laura mengangguk. “Baik, Pak Dubes. Kami siap.”

Dr. Hadijah menatap putrinya, lalu menatap dr. Sandi.

“Kita harus pergi… demi keselamatan Laura dan Anisa.”

Dr. Sandi menepuk pundak Laura. “Kita akan sampai dengan selamat. Saya jamin.”

Di langit Gaza, helikopter pasukan Arhanud 14 mulai bergerak, menandai awal perjalanan evakuasi terakhir mereka dari tanah perang menuju keselamatan di Indonesia.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!