NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 SWMU

Uap panas memenuhi kamar mandi mewah yang dilapisi marmer putih Carrara itu, menciptakan atmosfer yang menyerupai pegunungan bersalju di tengah hiruk-pikuk kota. Bramantya membiarkan pancuran air menghujani tubuh mereka, sementara Nadia berdiri di depannya, membiarkan jemari pria itu memijat bahunya dengan lembut. Di bawah guyuran air, segala kewaspadaan yang selama ini menjadi tameng Bramantya seolah luruh bersama sabun yang membasuh kulit.

"Paman," gumam Nadia, suaranya nyaris tenggelam oleh deru air. "Apa Paman benar-benar akan pergi ke dermaga siang ini?"

Gerakan tangan Bramantya terhenti sejenak. Ia menarik Nadia ke dalam pelukannya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Nadia yang basah. "Ada pengiriman besar yang harus kupastikan sendiri keamanannya. Kenapa? Apa kau merasa kesepian jika aku pergi sebentar?"

Nadia memutar tubuhnya, menatap mata Bramantya yang kini tampak lebih teduh. Ia melingkarkan lengannya yang licin di leher pria itu. "Bukan kesepian. Aku hanya punya firasat buruk. Semalam aku bermimpi... ada badai besar di laut, dan Paman berdiri di ujung dermaga sendirian."

Bramantya terkekeh, suara tawanya memantul di dinding marmer. Ia mengusap tetesan air dari wajah Nadia. "Badai tidak akan berani mendekatiku jika mereka tahu ada gadis cantik yang menungguku pulang. Itu hanya bunga tidur, Nadia. Semuanya terkendali. Yudhistira sudah kupindahkan ke lokasi lain agar dia tidak mengacau."

Nadia tersenyum, namun di dalam hatinya, ia mencatat setiap informasi: Yudhistira sudah dipindahkan. "Paman sangat hebat dalam mengatur segalanya. Aku merasa sangat... kecil di depan kekuasaan Paman."

"Kau adalah pusat dari kekuasaanku sekarang, Sayang," balas Bramantya sebelum kembali mengecup bibir Nadia.

Setelah mandi, mereka duduk di meja makan yang terletak di balkon lantai dua, menghadap ke taman belakang yang luas. Bramantya telah memesan sarapan terbaik dari koki pribadinya. Ada omelette truffle, buah-buahan segar, dan kopi aroma Arabika yang kuat.

Bramantya tampak sibuk dengan ponselnya sejenak, wajahnya kembali mengeras saat membaca beberapa laporan bisnis, namun setiap kali ia melirik Nadia yang sedang menyesap jus jeruknya, raut wajahnya melunak seketika.

"Ada apa, Paman? Apa ada masalah di kantor?" tanya Nadia penuh perhatian.

"Hanya masalah rutin di pelabuhan. Bea cukai sedikit rewel karena ada pemeriksaan mendadak hari ini," Bramantya meletakkan ponselnya di meja dengan kasar. "Mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi."

Nadia meletakkan gelasnya perlahan. Ini adalah momen yang ia tunggu. "Pemeriksaan mendadak? Bukankah itu berbahaya untuk pengiriman Paman? Bagaimana jika mereka menemukan... sesuatu?"

Bramantya menatap Nadia intens, seolah sedang menimbang sejauh mana ia bisa mempercayai gadis ini dengan rahasia terdalamnya. Namun, rasa hangat dari ciuman pagi tadi mengalahkan insting predatornya. "Mereka tidak akan menemukan apa pun. Kontainer itu sudah diberi segel diplomatik palsu. Selama tidak ada pengkhianat di dalam organisasiku, rahasia itu akan tetap tenggelam bersama ombak."

"Pengkhianat..." Nadia mengulangi kata itu dengan nada getir. "Aku benci kata itu. Orang-orang yang tidak setia adalah pengecut."

"Tepat sekali," Bramantya mengangguk setuju. "Itulah sebabnya aku memberikan loyalitas tinggi pada mereka yang setia, dan hukuman mati bagi mereka yang berkhianat. Kau... kau tidak akan pernah mengkhianatiku, bukan?"

Nadia menjangkau tangan Bramantya di atas meja, menggenggamnya erat. Matanya menatap lurus ke dalam pupil mata Bramantya, memancarkan kejujuran palsu yang paling mematikan. "Setelah Paman memberikan dunia ini padaku, kenapa aku harus mencari tempat lain? Aku milikmu, Bramantya."

Untuk pertama kalinya, Nadia menyebut nama pria itu tanpa embel-embel "Paman". Bramantya merasa seperti baru saja mendapatkan medali kemenangan tertinggi dalam hidupnya. Ia tidak menyadari bahwa di bawah meja, tangan Nadia yang satu lagi sedang meremas kain serbetnya dengan sangat kencang, menahan rasa mual karena harus mengucapkan kalimat menjijikkan itu.

Pukul sepuluh pagi, mobil Rolls-Royce hitam milik Bramantya sudah menunggu di depan lobi kediaman Mahendra. Dua mobil pengawal bersiap di depan dan belakang. Bramantya mengenakan setelan jas berwarna biru tua yang dijahit khusus, memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan.

Nadia berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun tidur sutra yang dilapisi robe panjang. Ia tampak seperti istri yang setia mengantar suaminya berangkat berperang.

"Aku akan kembali sebelum makan malam," ucap Bramantya sembari memakai jam tangan Patek Philippe-nya. "Jika kau bosan, kau bisa menggunakan kartu kreditku untuk berbelanja, atau minta sopir mengantarmu ke galeri seni."

"Aku hanya ingin Paman kembali dengan selamat," sahut Nadia pelan.

Bramantya mendekat, memberikan ciuman perpisahan di dahi Nadia. "Jangan khawatir. Doamu adalah perisaiku."

Begitu mobil Bramantya menghilang di balik gerbang besi yang tinggi, ekspresi wajah Nadia berubah total. Kelembutan di matanya hilang, digantikan oleh kilat kebencian yang tajam sebilah belati. Ia segera berlari ke dalam kamar, mengunci pintu, dan mengambil ponsel rahasia yang ia sembunyikan di dalam lipatan kain di dalam lemari pakaian.

Ia menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Dia sudah berangkat," ucap Nadia tanpa basa-basi begitu telepon diangkat. "Dia membawa setengah dari pengawal pribadinya. Lokasi dermaga utara, gudang nomor tujuh. Pastikan polisi dan pihak bea cukai sampai di sana tepat saat kontainer itu dibuka."

"Bagaimana denganmu, Nadia?" suara di seberang telepon—seorang pria dengan nada berat—bertanya dengan nada khawatir. "Jika dia tahu ini perbuatanmu, dia tidak akan ragu membunuhmu."

Nadia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya demi sebuah dendam. "Dia tidak akan punya kesempatan untuk menyentuhku lagi. Setelah gudang itu digerebek, seluruh aset Mahendra Group akan dibekukan. Aku akan mengambil dokumen asli kepemilikan tanah ibuku di ruang kerjanya sebelum aku pergi."

"Hati-hati, Nadia. Bramantya adalah ular yang sangat licik. Jangan remehkan dia."

"Aku tidak meremehkannya," bisik Nadia sembari mematikan ponsel. "Aku hanya sedang meremukkannya dari dalam."

Nadia tahu ia hanya punya waktu sekitar dua jam sebelum kekacauan di dermaga meledak. Ia melangkah menuju ruang kerja Bramantya yang terletak di sayap timur rumah. Ruangan itu biasanya dijaga ketat, namun karena Bramantya membawa sebagian besar pengawalnya, penjagaan di dalam rumah sedikit melonggar.

Ia melewati penjaga di depan koridor dengan senyum manisnya. "Aku ingin mengambil buku bacaan yang tertinggal di dalam saat menemani Paman tadi malam," ucapnya dengan nada manja.

Penjaga itu, yang sudah melihat betapa Bramantya memuja Nadia semalam, tidak berani membantah dan membukakan pintu.

Begitu masuk, Nadia segera menuju meja kerja kayu jati yang besar. Ia mulai menggeledah laci-laci, mencari kunci brankas atau dokumen tersembunyi. Tangannya gemetar saat ia menyentuh tumpukan kertas laporan pengiriman ilegal. Di sana, ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan: sebuah map cokelat tua bertuliskan nama ibunya, Larasati.

Nadia membukanya dengan napas memburu. Di dalamnya terdapat foto-foto ibunya, surat-surat lama, dan sebuah laporan otopsi yang disembunyikan. Matanya membelalak saat membaca baris terakhir laporan itu.

Penyebab kematian: Keracunan zat kimia arsenik dosis tinggi dalam jangka panjang.

Airmata Nadia jatuh membasahi kertas itu. Selama ini Bramantya mengatakan ibunya meninggal karena depresi dan sakit jantung. Ternyata, pria itu telah meracuni ibunya secara perlahan, persis seperti apa yang pria itu katakan padanya tadi pagi: Kau benar-benar meracuniku dengan cara yang paling manis.

"Bajingan..." desis Nadia tanpa suara.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Nadia dengan cepat memasukkan map itu ke dalam tas kecilnya dan mencoba bersikap tenang. Namun, pintu terbuka lebih cepat dari yang ia duga.

Bukan pengawal yang masuk, melainkan Yudhistira. Pria itu tampak berantakan, wajahnya lebam, dan matanya memerah penuh amarah.

"Sedang mencari apa kau di sini, jalang kecil?" desis Yudhistira sembari menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Nadia mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Rencananya sedang berada di ujung tanduk. Di dermaga, Bramantya mungkin sedang dikepung, tapi di sini, Nadia justru terjebak dengan monster yang jauh lebih tidak stabil.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!