NovelToon NovelToon
Bos Hyper Itu Mantanku

Bos Hyper Itu Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Kantor / CEO / Romantis / Mantan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kinamira

"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Axton menjatuhkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang di sebelah Lily, membuat Lily hendak bangkit.

"Tetap di sini!"

"Bajingan, dasar gila! Aku membencimu Axton!" Maki Lily, menepis tangan Axton, namun Axton semakin memeluknya.

"Tetap di sini, diam atau keluargamu yang merasakan akibatnya," bisik Axton penuh ancaman, membuat Lily langsung terdiam tak berkutik.

Nafas Lily berhembus berat, bola matanya berkaca-kaca. Ia membalikkan tubuh, membelakangi Axton, dan mulai menangis.

"Aku membencimu Axton! Kau gila!" ucap Lily sembari terisak kecil.

"Masih beruntung tidak memasukimu. Aku masih tau batas," balas Axton dengan santai, sembari mengusap lembut perut Lily.

Lily diam, tubuhnya gemetar, air matanya semakin mengalir deras.

Meski tidak terjadi penyatuan. Tapi, Lily tetap merasa jijik, dan marah atas perlakuan Axton.

Axton jelas merasakan bagaimana getaran tubuh Lily. Ia menarik Lily lebih rapat dengannya. "Apa aku keterlaluan?" batinnya.

"Lepaskan aku," pinta Lily dengan suara bergetar.

Axton memejamkan mata, mencium kepala belakang Lily. "Maaf. Aku tidak bisa mengontrol amarahku. Kamu benar Ly, aku masih mencintaimu, dan aku tidak terima, kamu tidak mencintai aku lagi," batin Axton merasakan penyesalan, telah memaksa Lily.

Suara pintu terbuka membuatnya membuka mata. Axton langsung menutupi tubuh Lily dengan jasnya, dan melihat siapa yang datang.

"Pak ...."

Bola mata Axton melebar melihat salah satu karyawan pria yang telah masuk. Wajahnya seketika memerah, matanya memancarkan amarah. "Keluar!" Teriaknya.

Karyawan pria itu tersentak, dan menjatuhkan map merah di tangannya. Ia sempat melirik ke arah Lily, membuat Axton seketika mengambil vas di atas meja lalu melemparkannya, hingga nyaris terkena pria itu.

"Sialan, keluar!" Teriak Axton kembali.

"Aa, maaf pak," ucap pria itu segera berlari keluar dengan jantung berdebar kencang.

Saat itu juga, Lily bangkit dari sofa, segera berlari ke toilet di ruangan itu. Axton hanya melirik melihatnya pergi.

Pria itu berkacak pinggang, dan mendengkus kesal. Ia segera memakai celananya, lalu kemejanya, dengan kemeja yang belum dikancing. Ia berjalan keluar ruangan.

"Aline!" teriaknya memanggil.

"Aline!" panggilnya lagi, yang disambut dengan suara langkah cepat.

"Ya pak," jawab Aline sembari mendekat.

Belum juga Aline berhenti, saat sampai dalam jangkauan. Axton langsung melayangkan tamparannya, membuat Aline tersungkur ke lantai dan terkejut.

Aline menyentuh pipinya, nafasnya berembus cepat menatap Axton yang tengah memakinya.

"Dari mana kau bodoh! Kenapa membiarkan laki-laki masuk di ruanganku tanpa izin!" Maki Axton membuat Aline semakin syok.

"Aku membayarnya menjadi sekertarisku yang bisa bekerja dengan baik, bodoh!" Teriak Axton lagi.

"Pak, biasanya juga tidak perlu izin," sahut Aline dengan mata berkaca-kaca menatap Axton yang pertama kalinya memakinya.

Axton menggeram, ia menarik rambut Aline hingga mau tak mau Aline berdiri.

"Pak sakit," keluh Aline.

"Berani sekali kau melawan huh?! Apa ku terlalu baik padamu selama ini huh?!" bisik Axton kemudian mencengkram leher Aline membuat Aline seketika mendongak dan memukul tangannya.

"Kau itu hanya wanita mainanku Aline, jangan menganggap dirimu tinggi. Pekerjaanmu tetap sekertarisku, dan bekerjalah dengan baik, paham!" ucap Axton penuh penekanan.

"Iya pak, iya pak," angguk Aline.

Tubuh Aline dilepaskan, dan mendorongnya ke dinding.

"Awe," keluh Aline mengusap lengannya yang terbentur.

Axton menghela nafas kasar, dengan nada suara yang sedikit turun ia memerintah. "Sekarang kau urus orang tadi. Pecat dia! Setelah itu siapkan pakaian untuk Lily. Size M dan lingkar dada 38 cup C. Aku tunggu 20 menit!"

"Iya Pak," jawab Aline cepat.

Tanpa mengatakan apapun, Axton berbalik, dan kembali ke ruangannya. Sementara Aline hanya bisa diam menatapnya dengan tatapan sedih.

"Kenapa? Kenapa pak Axton begitu?" batin Aline merasa heran.

Ia mencoba tenang, memikirkan sesuatu. Hingga tertuju pada Lily. "Wanita itu, pasti wanita itu tidak melayani Pak Axton dengan baik, jadi mood Pak Axton hancur. Dan aku jadi sasarannya juga. Sialan!" gumam Aline dengan dugaannya, tangannya mengepal, dan sorot matanya penuh amarah.

"Karenanya Pak Axton marah padaku. Bahkan memukulku!" geramnya.

Aline menghela nafas kasar, menenangkan hati, dan menepis pikirannya dulu. Saat ini ia harus melakukan tugas yang diberikan lebih dulu.

"Lily awas saja kamu nanti. Akan ada masanya aku membalasmu!" batin Aline setelah itu segera pergi dari sana.

**

Di dalam ruang kerjanya, Axton memangku wajahnya sembari menatap pintu toilet, dengan pikiran berkecamuk penuh kecemasan.

"Dulu demi mengunci Lily di hidupku. Aku juga memaksanya, merusak pertahanannya. Butuh berbulan-bulan agar dia kembali memaafkanku, barulah kita menjalani hubungan seperti ini. Apa kali ini dia juga akan marah?" batin Axton tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Ia menunggu menit demi menit pintu toilet terbuka, dengan sabar, tanpa bergerak untuk mengetuk.

Pintu toilet yang ditunggu, justru pintu utama yang terdengar mendatangkan tamu.

"Pak."

Panggilan itu membuat Axton menoleh menyadari kedatangannya, dan melihat wanita itu di ujung pintu.

"Masuk," sahut Axton menyadari Aline diam menunggu perintahnya.

Barulah Aline melangkah, dengan senyuman manis di wajahnya.

"Pak Axton sepertinya sudah baik. Aku akan menggodanya," batin Aline berjalan dengan lenggak-lenggok.

"Pak Axton ini pesanan bapak," ucap Aline meletakkan paper bag di atas meja.

Aline berjalan mendekati Axton, jemarinya yang lentik, bergerak gemulai mengusap bahunya. Namun, belum sempat ia berucap apapun. Tangannya sudah ditepis Axton.

"Pergi, lanjutkan pekerjaanmu!" usir Axton dengan tegas.

Aline langsung terdiam, melangkah mundur. Tak berani protes, mengingat Axton baru saja bersikap kasar padanya.

"Saya pergi Pak. Kalau ada apa-apa, silahkan panggil," sahut Aline terdiam beberapa saat menunggu Axton merespon.

Namun, detik-detik singkat itu, tak ada respon bahkan lirikan sedikitpun, membuatnya hanya bisa pergi dengan pasrah.

"Sebenarnya ada apa sih dengan wanita itu? Bahkan saat dia melamar pekerjaan dia langsung dilirik pak Axton. Apa yang bagus padanya?" gerutu Aline.

Belum sepenuhnya Aline pergi. Lily keluar dari toilet, membuat Aline menyempatkan menoleh.

Pandangan Lily dan Aline sempat bertemu. Aline menyinggung senyumnya dalam benaknya ia berucap. "Pak Axton tidak suka barang pribadinya di pakai. Dan wanita ini berani memakai bathrobe dan handuknya. Hm, tunggu saja kamu," batinnya.

Lily yang melihat ekspresi itu tidak menggubris dan terus berjalan tanpa ekspresi ke arah Axton.

"Aku minta pakaian," sahut Lily sembari mengulurkan tangan.

Axton meraih paper bag di sampingnya, lalu menyerahkan pada Lily. Tampak sederhana, namun respon santai Axton membuat Aline melongo heran dan kesal dalam satu waktu.

Wanita itu langsung melihat isinya. Memeriksa kelengkapan kebutuhannya.

"Nggak ada pembalutnya?" sahut Lily menatap kembali Axton.

"Oh, maaf lupa." Axton menoleh pada Aline yang masih diam memperhatikan. "Aline siapkan pembalut. Yang panjang, dan bersayap," perintahnya.

"Baik Pak," jawab Aline.

Lily menambahkan. "Hair dryer, aku butuh mengeringkan rambutku."

Axton mengangguk kembali memerintah Aline. "Aline kamu dengar kan? Siapkan, dalam sepuluh menit sudah harus sampai sini."

"Baik Pak," jawab Aline meski hatinya mulai memanas.

"Apa-apaan ini. Posisi apa yang ditempati Lily? Kenapa!!!" Jerit Aline dalam benaknya.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
teka teki nya masih terbungkus rapat, kek nasi uduk karet dua🤣🤣🤣🤣
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gemeesshh sama lily, ga mau jujurrrr
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
see maria.. masih yakin kah kamu yg ada di hati axton😒🤭
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
yg ada lily tambah jijik ax liat kamu sama ciwik2 murahan itu😒
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
rencana mu salah ax.. pertama2 tuh cari tau ada apa dgn lily di masa lalu, kedua singkirkan manusia yg kt nya ayah mu itu, karena dy biang korek eehh kerok nya😒 baru kamu kejar lagi cinta lily, bukan kamu yg memaksa lily utk tunduk sama kamu 😤😤😤
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
teka teki baru😓
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
iisshhh lanjut ga thooorr 😒🔨🔨🔨🔨
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
ada apa dgn klrga axton n masa lalu axton lily ya🤔
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
wkwkkk.. poor chloe.. senjata makan tuan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih bertanya-tanya, siapa leon🤔
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
apa ini ya, kok ambigu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!